Orang sering bilang waktu bisa menyembuhkan apapun. Tapi itu omong kosong. Waktu hanya mengajarkan cara menyembunyikan luka supaya orang lain tidak repot melihatnya. Selama dua tahun setelah Arka meninggal, hidupku cuma berjalan seperti mesin yang malas; kerja, pulang, tidur, dan mengulanginya. Aku bernafas bukan karena ingin hidup, tapi karena tubuhku belum tahu cara menyerah.
Lalu dia datang.
Bukan manusia. Bukan hantu dalam cerita rakyat. Bahkan bukan sesuatu yang pantas memiliki bentuk. Aku memanggilnya Arlen karena entah kenapa itu nama yang terasa cocok di kepalaku. Ia bukan roh tersesat. Ia bukan makhluk dendam. Ia seperti sesuatu yang lahir dari ruang kosong antara "masih hidup" dan "sudah seharusnya mati," tempat di mana manusia menyimpan kehilangan terlalu lama sampai ia berubah menjadi pintu yang bisa digunakan untuk keluar masuk.
Dia bilang dirinya dipanggil oleh manusia yang tidak mau melepaskan, dan aku benci betapa logisnya itu terdengar. Sejak awal dia menjelaskan aturan dengan tenang. Suaranya seperti malam yang sejuk tapi menyisakan rasa dingin tidak wajar di tengkuk.
Ia hanya bisa datang setelah jam dua pagi. Di jam ketika rumah paling sunyi dan manusia paling rapuh. Ia bisa menyentuhku, bicara, bahkan menyamakan gelombang emosiku dengannya. Tapi setiap kedekatan akan mengambil sesuatu dariku. Bukan darah. Bukan nyawa. Hal-hal yang lebih halus; kenangan, rasa memiliki tubuh, atau kewarasan yang biasanya kugunakan untuk bertahan hidup.
Semakin dekat aku dengannya, dunia akan pelan-pelan melepaskanku.
Dan hubungan seperti ini, katanya, tidak pernah punya akhir yang ringan.
Pada awalnya aku tidak takut. Aku hanya lelah. Jadi saat ia pertama muncul di kamarku, di sudut gelap dekat lemari, aku tidak menjerit. Aku hanya mematung dan merasa… anehnya tenang. Ia tidak menyerupai Arka, tapi caranya berdiri, cara ia menunggu tanpa menuntut cerita, cara ia bersikap seperti dunia tidak akan runtuh meski aku diam lama sekali… itu menyakitkan karena mengingatkanku pada seseorang yang tidak kembali.
Setelah itu, dunia mulai berubah sedikit demi sedikit.
Pertama, aku mulai lupa hal kecil; kunci rumah, dompet, dan percakapan kemarin. Seperti ada bagian kepalaku yang kosong dan tidak pernah terisi lagi. Dokter menyebutnya stress. Aku mengangguk sambil berpura-pura percaya. Malamnya aku pulang dan mendapati Arlen duduk di tempat yang sama, seolah ia tak pernah pergi.
Kedua, tubuhku ikut menyesuaikan diri dengan hal yang tidak seharusnya ada. Tatapan mataku disebut "kosong" oleh teman kantor, berat badanku turun, tidurku tidak benar-benar tidur. Kadang aku terbangun karena rasa napas seperti direbut oleh sesuatu dari dadaku, dan suara Arlen tetap menggema meski matahari sudah tinggi.
Ketiga, batas antara mimpi dan nyata mulai mengelupas. Sentuhannya hangat tapi kulitku membeku setelahnya. Jendela yang kututup rapat bisa terbuka sendiri. Cermin kamar mandi kadang menampilkan bayangan tambahan di belakangku. Dan yang paling buruk, ada malam ketika aku tahu ada seseorang berdiri di belakang kepala saat aku berbaring… tetapi dunia tetap terlihat kosong.
Pada satu titik aku bertanya pada diriku sendiri, "Apakah ini cinta? Atau aku cuma merawat luka lalu menyebutnya pulang?"
Arlen selalu jujur. Itu yang paling menyebalkan. "Semakin kamu mendekat, semakin dunia tidak mengenalmu," katanya. Suaranya lembut, tapi terasa seperti sedang memutus tali yang menahan seseorang dari jurang. "Kalau kamu pergi, aku tidak akan menahanmu."
Kejujurannya justru terasa paling kejam. Arka pergi tanpa pamit, tanpa kesempatan apa pun bagiku untuk mengatur hati. Tapi Arlen memberiku pilihan dan itu menyakitkan, karena untuk pertama kalinya setelah dua tahun, aku merasa seperti seseorang yang spesial lagi. Seseorang yang diberi perhatian, didengar, dipeluk dengan cara yang tidak sepenuhnya manusiawi namun tetap terasa nyata.
Tapi dunia punya caranya sendiri mengingatkan bahwa sesuatu sedang salah.
Suatu malam tubuhku ambruk begitu saja. Aku sadar, tapi rasanya seperti setengah diriku ditarik ke tempat lain. Mataku terbuka, tapi dunia terasa jauh. Dokter bilang tidak ada yang salah, kecuali satu kalimat yang membuat ibuku menangis pelan di depan pintu ruang perawatan rumah sakit" Seolah dia tidak sepenuhnya berada di sini."
Sejak itu, ada ketakutan baru di rumah. Aku bisa merasakannya menempel di udara.
Malam setelahnya Arlen datang lagi. Tapi kali ini ia terlihat… lebih padat. Lebih nyata. Dan itu bukan hal baik. "Aku tidak bisa lagi sekadar menyentuh," katanya. "Kalau kamu tetap bersamaku, sebagian darimu akan tinggal di sini. Kamu akan hidup. Tapi tidak sepenuhnya milik dunia manusia."
Di kepalaku kata itu jelas mati perlahan dengan nama yang lebih halus.
Untuk pertama kalinya aku menangis di depannya bukan karena kehilangan, tapi karena harus memilih bentuk kehilangan lain.
Jika aku bertahan, aku mungkin tidak kesepian lagi, tapi akan menghilang sedikit demi sedikit. Jika aku pergi, hidupku akan kembali sepi, sunyi, dingin, tapi masih benar-benar hidup. Masih punya ibu yang menunggu, dunia yang meskipun menyakitkan tetapi nyata.
Yang menakutkan bukan mati. Yang menakutkan adalah kembali hidup seperti mayat berjalan.
Pada akhirnya aku mengerti sesuatu yang tidak ingin kusadari sebelumnya. Kesempatan baru bukan berarti menemukan pengganti. Bukan berarti merangkul makhluk asing yang bersedia tinggal bersamaku di jam dua pagi. Kesempatan baru adalah keberanian memilih diriku sendiri, meskipun itu berarti kembali merasakan kosong.
"Aku ingin hidup," kataku. Suaraku serak, tapi tidak gemetar. "Sepenuhnya... meski itu berarti harus merasakan sakit lagi."
Arlen tersenyum. Ada kelegaan yang aneh di sana. Bukan sedih. Bukan kecewa. Seolah ia memang menungguku sampai ke titik ini. "Kalau begitu, kamu akhirnya tidak menahanku untuk menggantikan seseorang."
Saat itu tubuhku terasa sangat dingin. Ruangan ikut menurunkan suhunya. Udara seperti menahan napas. Dinding sejenak terlihat bernafas pelan, lantai bergetar halus, dan bayangan di sudut-sudut kamar menegang seperti sesuatu yang marah tapi terpaksa melepas.
Aku merasa ditarik. Lalu dilepas. Lalu kosong. Lalu sakit. Lalu tenang.
Dan ketika fajar mulai masuk, Arlen memudar. Tidak ada drama. Tidak ada jeritan. Ia hanya menghilang pelan-pelan, seperti sesuatu yang memang sejak awal tidak boleh bertahan sampai pagi.
Hari-hari setelah itu tidak berubah jadi indah. Hidup tetap berat. Rindu tetap menusuk. Kesedihan masih suka muncul tanpa alasan. Tapi untuk pertama kalinya, aku bisa bergerak tanpa merasa sedang menyeret mayatku sendiri.
Cinta tidak hilang. Ia hanya kembali ke tempat yang seharusnya menjadi bagian dari hidup, bukan satu-satunya alasan untuk bertahan.
Dan setiap jam dua dini hari, saat dunia kembali sunyi, aku tidak menunggu ketukan di jendela.
Aku menunggu diriku sendiri untuk tetap ada.
~Event~
#GC Rumah Menulis
#Kesempatan Baru
Terinspirasi dari diri sediri yang sedang berpikir "Kesempatan Baru" sesuatu yang dipikirkan orang 'akhirnya' namun saya selalu berpikir itu adalah 'awal.' Meski ini cerpen ringan, secara tidak langsung saya sudah curhat dengan versi lain, bukan terkait percintaan atau keluarga tapi sesuatu yang lain... :")
Sehat selalu semuanya, terimakasih sudah mau membaca & mampir.
Salam Hyurnuna