---
Judul: Mereka yang Tidak Pernah Paling Keras
Hello, Reader—
cerita ini bukan tentang yang paling kuat,
tapi tentang mereka yang bertahan dengan caranya sendiri.
Happy reading 🤍
---
Cheryl selalu berjalan setengah langkah di belakang.
Bukan karena ia lambat, tapi karena ia tidak ingin mendahului. Rambutnya dikepang rapi dua, tubuhnya paling kecil di antara mereka bertiga, dan tasnya selalu terlihat kebesaran. Ia yang paling muda—dan mungkin karena itu, paling sering mengalah.
Narime berjalan paling depan.
Headphone besar bertengger di lehernya, kadang menutup telinga, kadang hanya jadi peringatan: jangan ganggu. Wajahnya datar, langkahnya santai, tapi sikunya selalu refleks terangkat kalau ada orang yang berjalan terlalu dekat dengan Cheryl atau Lani. Ia yang paling tua, paling tenang, dan paling protektif—meski tak pernah mengakuinya.
Lani berjalan di tengah.
Tinggi, bahu tegap, rambutnya kadang dikuncir, kadang dibiarkan terurai. Senyumnya manis—jenis senyum yang membuat orang lengah sebelum sadar mereka sedang disindir. Lani sarkas, tengil, dan sering bertingkah sebelas dua belas dengan Narime. Bedanya, Lani tertawa saat melakukannya.
Mereka tidak pernah berencana menjadi dekat.
Awalnya hanya kebetulan duduk sebangku. Lalu kebetulan pulang searah. Lalu kebetulan membela satu sama lain di saat yang tidak kebetulan sama sekali.
Hari itu, hujan turun tiba-tiba.
Sekolah ribut, lorong penuh suara, sepatu basah, dan keluhan yang bertabrakan. Cheryl berdiri canggung di depan loker, memeluk bukunya.
“Aku… payungku ketinggalan,” katanya pelan.
Narime menghela napas, melepas headphone, lalu meletakkannya di tas. “Kenapa kamu selalu lupa hal penting?”
Cheryl menunduk. “Maaf.”
“Dia bukan lupa,” Lani menyela santai. “Dia kebanyakan mikir orang lain.”
Narime mendengus. “Sama aja.”
Mereka berjalan di bawah satu payung. Terlalu sempit. Terlalu dekat. Tapi tidak ada yang mengeluh.
Cheryl kebasahan paling dulu. Narime memiringkan payung ke arahnya tanpa berkata apa-apa. Lani memperhatikan itu dari sudut mata, lalu tersenyum kecil—senyum yang tidak disindirkan.
Di halte, mereka menunggu bus sambil diam.
“Besok aku pindah kelas,” kata Cheryl tiba-tiba.
Narime langsung menoleh. “Apa?”
Lani mengangkat alis. “Sejak kapan?”
Cheryl memainkan ujung bajunya. “Tadi wali kelas bilang. Katanya… aku lebih cocok di kelas lain.”
Narime tertawa pendek. Bukan lucu—tajam. “Atau mereka cuma nggak mau repot.”
Cheryl terkejut. “Nggak apa-apa kok. Aku ngerti.”
“Jangan ngerti terus,” kata Lani, suaranya lembut tapi menusuk. “Kadang orang salah, bukan kamu.”
Bus datang. Mereka naik tanpa bicara lagi.
Hari-hari berikutnya terasa janggal.
Cheryl duduk di kelas baru, sendirian. Ia sabar. Selalu sabar. Tapi kesabaran pun punya batas—dan batas itu terasa saat ia makan siang sendiri, mendengar tawa dari meja yang dulu jadi miliknya.
Sementara itu, Narime duduk di kelas dengan satu bangku kosong di belakangnya. Ia tidak mendengarkan musik hari itu.
Lani, yang biasanya cerewet, jadi pendiam.
“Kenapa rasanya kayak ada yang kurang?” gumam Lani.
Narime tidak menjawab. Tapi ia tahu.
Sore itu, mereka menemui Cheryl di perpustakaan. Gadis kecil itu tersenyum seperti biasa.
“Kalian kok ke sini?”
Narime langsung duduk di depannya. “Kamu baik-baik saja?”
Cheryl mengangguk. “Iya.”
Lani bersandar di rak buku. “Itu jawaban aman atau jujur?”
Cheryl ragu. “Dua-duanya.”
Narime mengepalkan tangan. “Kamu nggak harus selalu kuat.”
Cheryl menatapnya. Lama. “Aku tahu. Tapi kalau aku nggak sabar, siapa lagi?”
Kalimat itu membuat udara berubah berat.
Narime berdiri. “Mulai sekarang, kami.”
Lani mengangguk. “Kamu boleh capek.”
Cheryl tersenyum—kali ini berbeda. Lebih rapuh. Lebih nyata.
Hari kelulusan tiba lebih cepat dari yang mereka kira.
Foto-foto diambil. Nama dipanggil. Tepuk tangan menggema. Cheryl berdiri di antara Narime dan Lani, tubuhnya kecil tapi langkahnya mantap.
“Kita bakal sibuk nanti,” kata Cheryl pelan.
Narime menyampirkan headphone ke leher Cheryl. “Kalau dunia berisik, pakai ini.”
Lani tertawa. “Kalau dunia nyebelin, aku yang ribut.”
Cheryl menggenggam tangan mereka. “Kalau aku capek… aku bilang.”
Mereka tidak berjanji akan selalu bersama.
Mereka hanya sepakat satu hal—
tidak akan saling menghilang tanpa pamit.
---
Ada yang bertahan dengan kesabaran.
Ada yang dengan perlindungan.
Ada yang dengan tawa dan sarkas.
Dan kadang, itu sudah cukup.
TBC, Reader 🌙
---
✍️ Catatan Penulis
Cerita ini tentang remaja yang tidak sempurna, tidak selalu benar, tapi belajar berbagi beban. Tentang yang paling muda yang terlalu cepat dewasa, yang paling tua yang lupa menjaga diri sendiri, dan yang terlihat ringan tapi paling peka.
❓ Pertanyaan untuk Pembaca:
1. Kamu paling relate dengan Cheryl, Narime, atau Lani?
2. Apakah sabar selalu berarti kuat?
3. Siapa orang yang membuatmu merasa boleh capek?
---
Ini lanjutan cerpen yang sama, tidak mengulang cerita, tapi maju setelah kelulusan dan pakai sudut pandang berbeda.
Aku mulai dari POV Narime, karena sudut pandangnya paling kontras dan emosinya lebih terpendam.panjang dan pelan-pelan mengikat.
---
Lanjutan Cerpen
Sudut Pandang: Narime
Hello, Reader—
kalau sebelumnya cerita berjalan dari luar,
kali ini kita masuk ke kepala seseorang yang jarang bicara jujur.
Happy reading 🤍
---
Aku tidak suka perpisahan.
Bukan karena aku sentimentil. Tapi karena perpisahan selalu datang dengan asumsi:
semuanya akan baik-baik saja.
Padahal tidak selalu begitu.
Hari setelah kelulusan terasa aneh. Tidak ada seragam, tidak ada bel masuk, tidak ada alasan untuk berjalan bertiga ke sekolah. Aku duduk di kamar, headphone menutupi telinga, musik diputar terlalu keras—bukan untuk dinikmati, tapi untuk menahan pikiran.
Cheryl akan masuk sekolah baru.
Lani sibuk daftar kampus.
Dan aku… seharusnya baik-baik saja.
Aku paling tua. Seharusnya paling siap.
Tapi setiap kali aku lihat kursi kosong di halte, tanganku refleks mengencang. Aku benci kebiasaan tubuh yang masih berharap rutinitas lama kembali.
Ponselku bergetar.
Cheryl:
Kak, aku nyasar.
Aku langsung berdiri.
“Alamat?” ketikku cepat.
Beberapa menit kemudian aku sudah di luar rumah, jaket dilempar asal, headphone masih menggantung di leher. Aku menemukan Cheryl di seberang jalan besar, berdiri dengan tas ransel yang hampir lebih besar dari tubuhnya.
“Kamu kenapa nyebrang sendirian?” tanyaku, nada suaraku lebih keras dari niatku.
Cheryl terkejut. “Aku kira jalannya lurus…”
“Kamu selalu kira semuanya lurus,” gumamku.
Aku menggenggam pergelangan tangannya—tidak keras, tapi pasti—dan menuntunnya menyeberang. Di tengah jalan, aku sadar sesuatu: aku masih melakukan ini. Menjaga jarak aman. Menghitung risiko. Untuk orang yang bahkan tidak satu sekolah lagi denganku.
“Kak Narime,” katanya pelan saat kami sampai. “Kamu marah?”
Aku melepas tangannya. “Tidak.”
“Kamu bohong.”
Aku mendengus. “Aku kesal. Beda.”
Cheryl tersenyum kecil. “Makasih udah dateng.”
Aku tidak menjawab. Kalau aku menjawab, aku takut terdengar terlalu jujur.
Kami duduk di bangku taman. Angin sore berembus pelan. Cheryl membuka tasnya, mengeluarkan buku catatan baru.
“Aku takut,” katanya tiba-tiba.
Aku menoleh. “Takut apa?”
“Takut nggak sepintar yang orang harapkan. Takut nggak sesabar yang mereka kira.”
Aku terdiam.
Aku ingin bilang: kamu tidak harus jadi apa-apa.
Tapi aku tahu—dunia tidak bekerja seperti itu.
“Kamu tahu kenapa aku selalu pakai headphone?” tanyaku.
Cheryl menggeleng.
“Biar aku bisa memilih suara mana yang masuk.” Aku menatapnya. “Kamu juga boleh begitu. Kamu nggak wajib dengerin semua ekspektasi orang.”
Cheryl menatapku lama. Matanya berkaca-kaca.
“Aku seneng punya kakak kayak kamu,” katanya.
Dadaku menghangat—dan itu membuatku tidak nyaman.
“Kamu punya,” jawabku datar. “Dan kamu nggak boleh ngilang.”
Cheryl mengangguk cepat. “Nggak akan.”
Ponselku berbunyi lagi.
Lani:
Kalian di mana? Jangan bilang jalan berdua tanpa aku.
Aku tersenyum tipis.
“Dia masih sama,” gumamku.
Cheryl tertawa kecil. “Syukurlah.”
Aku berdiri. “Ayo. Kita jemput dia. Biar lengkap.”
Cheryl berdiri di sampingku, langkahnya kecil tapi mantap.
Dan saat kami berjalan, aku sadar satu hal yang tidak pernah kuakui sebelumnya—
aku tidak protektif karena aku kuat,
aku protektif karena aku takut kehilangan.
---
Ada orang yang menjaga dari depan.
Ada yang menjaga dari belakang.
Dan ada yang menjaga dengan tetap tinggal, meski tidak diminta.
---
Ini lanjutan langsung dari bagian Narime, waktu yang sama, tapi sekarang masuk ke kepala Lani—yang kelihatannya santai, sarkas, dan cerewet…
padahal justru yang paling sering nangis sendirian.
---
Lanjutan Cerpen
Sudut Pandang: Lani
Kalau aku jujur—
aku paling benci kata “nanti juga terbiasa.”
Siapa pun yang pertama kali bilang itu pasti belum pernah kehilangan rutinitas yang ia pikir akan bertahan selamanya.
Setelah lulus, semua orang sibuk pura-pura dewasa. Aku? Aku sibuk pura-pura santai.
Chat grup kami sekarang isinya jadwal, bukan keluhan.
Bukan cerita receh.
Bukan foto halte bus yang sama.
Aku yang paling banyak kirim stiker. Karena kalau aku berhenti bercanda, seseorang akan sadar aku takut.
Ponselku bergetar.
Narime:
Udah siap? Kita jemput kamu.
Ah, iya. Aku lupa—aku bukan sendirian.
Aku berdiri di depan rumah, menunggu mereka datang. Tangan di saku jaket, kaki menendang batu kecil berkali-kali. Kalau orang lihat dari jauh, mungkin aku kelihatan cuek.
Padahal kepalaku ribut.
Kalau nanti kita sibuk masing-masing, masih bakal begini nggak ya?
Kalau aku berubah, mereka masih mau aku?
Motor berhenti. Narime turun duluan, wajah datar seperti biasa. Cheryl di belakangnya, melambai berlebihan seolah kami sudah tidak bertemu bertahun-tahun.
“Kalian lama,” kataku.
Narime mengangkat alis. “Baru lima menit.”
“Lima menit itu lama kalau nunggu sendirian.”
Cheryl cekikikan. “Lani lebay.”
“Dan kamu polos,” balasku cepat.
Kami berjalan bertiga. Langkah kami tidak lagi sinkron, tapi masih berdampingan. Aku melirik Narime—cara dia jalan sedikit lebih depan, refleks melirik ke belakang tiap beberapa detik.
Protektifnya nggak pernah libur.
“Kamu mau kuliah jauh?” tanyaku tiba-tiba ke Cheryl.
Cheryl mengangguk ragu. “Mungkin.”
“Oh.” Aku menelan ludah. “Keren.”
Padahal yang ingin kukatakan: jangan.
Narime menoleh ke aku. “Kamu kenapa?”
“Apa? Nggak kenapa-napa.” Aku tersenyum lebar. “Aku baik-baik aja. Shocked?”
Narime mendengus. “Kamu bohong lagi.”
“Aku jago bohong.”
“Justru itu masalahnya.”
Aku berhenti jalan.
“Eh,” kataku. “Kenapa sekarang jadi sesi jujur-jujuran? Kita bukan di film indie.”
Cheryl ikut berhenti. “Kak Lani…”
Aku menarik napas panjang. Udara terasa terlalu sesak untuk sore yang cerah.
“Aku capek jadi yang paling rame,” kataku akhirnya. “Karena kalau aku diam, aku ngerasa… nggak ada yang bakal perhatiin.”
Sunyi.
Narime tidak langsung bicara. Dan anehnya, aku bersyukur.
Cheryl mendekat, ragu-ragu, lalu memeluk lenganku. “Aku perhatiin.”
Aku menertawakannya, tapi mataku panas. “Iya, iya.”
Narime berdiri di depanku. Tidak memeluk. Tidak menasehati.
“Kamu nggak harus lucu biar kami stay,” katanya pelan. “Kami tinggal bukan karena kamu rame.”
Aku mendengus. “Ih, kamu kok tiba-tiba pinter ngomong.”
“Aku belajar.”
Dadaku rasanya mau pecah.
“Aku takut,” kataku cepat, sebelum aku berubah pikiran. “Takut kita jadi orang asing yang sok kenal kalau ketemu lagi.”
Cheryl menggeleng keras. “Nggak!”
Narime menatapku tajam. “Lani. Dengarkan aku.”
Aku menatap balik.
“Kita bisa berubah,” lanjutnya. “Kita bahkan pasti berubah. Tapi kamu bukan fase. Kamu rumah.”
Air mata akhirnya jatuh. Sial.
“Jangan bilang gitu,” gumamku. “Nanti aku nangis.”
“Aku tahu.”
Aku mengusap wajah kasar. “Aku benci momen dewasa.”
Cheryl tersenyum. “Aku juga.”
Kami berdiri lagi. Kali ini, aku yang berjalan di tengah.
Dan untuk pertama kalinya sejak kelulusan,
aku tidak bercanda untuk bertahan—
aku bercanda karena aku tidak sendirian.
---
Ada orang yang kuat dalam diam.
Ada yang kuat dalam tawa.
Dan ada yang kuat karena akhirnya berani jujur.
---
Ini lanjutan langsung, waktu yang sama, tanpa mengulang cerita, tapi sekarang masuk ke hati Cheryl—yang paling muda, paling sabar, dan paling sering mengecilkan diri sendiri.
---
Lanjutan Cerpen
Sudut Pandang: Cheryl
Aku selalu berjalan setengah langkah di belakang mereka.
Bukan karena kakiku lebih pendek—
tapi karena aku terbiasa memastikan semua orang aman dulu, baru aku.
Sore ini anginnya lembut. Matahari jatuh pelan ke balik bangunan. Aku memegang ujung kepangku, menggulungnya tanpa sadar. Kebiasaan lama kalau aku gugup.
Aku mendengar Lani menangis tadi.
Aku mendengar Narime bicara dengan suara yang jarang ia pakai.
Dan aku… diam.
Aku sering begitu.
Bukan karena tidak punya perasaan,
tapi karena aku takut kalau perasaanku terlalu kecil untuk didengar.
Kami kembali berjalan. Lani di tengah. Aku di kanan. Narime di kiri. Formasi yang aneh—biasanya aku di tengah. Biasanya aku yang diapit.
Aku melirik mereka satu per satu.
Lani mengusap wajahnya cepat-cepat, pura-pura tidak apa-apa. Tapi langkahnya melambat. Aku tahu tanda itu. Kalau dia sedang ingin ditunggu, bukan ditanya.
Narime menyesuaikan langkah tanpa bicara. Tangannya tetap di saku, bahunya sedikit condong ke arah kami. Seperti dinding.
Aku ingin bicara.
Tapi tenggorokanku kering.
Kalau aku salah ngomong?
Kalau aku bikin suasana canggung?
Kalau suaraku terlalu kecil?
Suara kecil itu… sudah menemaniku sejak lama.
Sejak aku belajar bahwa jadi “anak baik” berarti tidak merepotkan.
Aku menarik napas.
“Kak,” kataku pelan. Suaraku hampir kalah oleh suara langkah.
Mereka berhenti.
Aku hampir mundur.
Tapi aku tidak mau.
“Aku… aku mau bilang sesuatu.”
Lani menoleh, senyum kecil muncul. “Kenapa, sayang?”
Narime menatapku. Tidak mendesak. Tidak menginterupsi.
Aku memegang kepangku lebih erat.
“Aku sering takut,” kataku. “Takut sendirian. Takut ketinggalan. Takut… jadi yang pertama ditinggal.”
Kata-kataku bergetar, tapi tidak patah.
“Aku sering pura-pura nggak apa-apa,” lanjutku. “Karena aku paling muda. Karena aku pikir aku harus kuat biar nggak nambah beban.”
Dadaku terasa ringan dan berat sekaligus.
“Tapi… aku capek.”
Sunyi turun lagi.
Kali ini aku tidak merasa kecil di dalamnya.
Lani mendekat. Tidak menyentuhku dulu. Hanya menunduk agar sejajar denganku.
“Kamu nggak pernah jadi beban,” katanya. Suaranya lembut—jarang sekali.
Narime mengangguk. “Dan kamu nggak perlu nunggu kami jatuh dulu baru jujur.”
Aku menatap sepatu.
“Aku takut kalau aku bicara, kalian pergi.”
Narime mendengus kecil. “Kami bukan pergi karena kamu bicara.”
Lani tersenyum, matanya berkaca. “Kami pergi kalau kamu berhenti percaya.”
Aku menelan ludah.
“Aku mau belajar berani,” kataku. “Walaupun suaraku kecil.”
Narime menepuk kepalaku pelan. “Keberanian nggak diukur dari volume.”
Lani memelukku. Kali ini aku tidak ragu membalasnya.
Dan untuk pertama kalinya,
aku tidak merasa seperti anak kecil yang harus dijaga.
Aku merasa seperti seseorang yang dipilih.
Kami berjalan lagi.
Kepangku terayun pelan. Tanganku tidak lagi menggenggamnya.
Aku berjalan sejajar.
Dan di dalam diriku,
anak kecil yang selama ini bersembunyi
akhirnya berani bilang:
Aku di sini. Tolong dengarkan aku.
---
Inner child tidak butuh dunia yang sempurna.
Ia hanya butuh tempat pulang yang tidak mengecilkannya.
---
Ini lanjutan langsung, gabungan POV Cheryl–Narime–Lani, nadanya perlahan turun, tidak dramatis berlebihan, tapi mengalir menuju akhir.
Belum penutup final—ini fase menyadari & menerima, sebelum benar-benar berpisah dengan hangat.
---
Lanjutan Cerpen
Gabungan Sudut Pandang
Cheryl
Kami duduk di halte yang sudah lama tidak dipakai. Catnya mengelupas, bangkunya dingin. Aku duduk di tengah, seperti dulu.
Aku menatap jalanan kosong dan berpikir:
ternyata aku bisa bicara tanpa harus menangis terlalu lama.
Tanganku terbuka di pangkuan. Tidak lagi menggenggam apa pun.
Aku menoleh ke Lani.
Dia memainkan ujung jaketnya, senyum tipis muncul dan hilang. Senyum orang yang sedang belajar menerima.
Aku ingin bilang terima kasih, tapi rasanya cukup hanya duduk.
---
Lani
Aku tidak suka halte.
Terlalu banyak kenangan menunggu sesuatu yang akhirnya tidak datang.
Tapi duduk di sini sekarang, dengan mereka berdua, rasanya berbeda.
Cheryl sudah lebih berani. Aku melihatnya dari cara dia duduk—punggungnya tegak. Matanya tidak lagi mencari izin.
Narime menatap jalan. Headphone masih di lehernya, tidak dipakai. Tanda kalau dia hadir sepenuhnya.
Aku tersenyum kecil.
“Aneh ya,” kataku. “Dulu kita mikir dewasa itu soal pergi jauh. Ternyata soal tahu siapa yang mau kita bawa di hati.”
Cheryl mengangguk cepat.
Narime tidak bicara, tapi aku tahu dia setuju.
Aku paling ribut. Paling sarkas. Tapi kalau soal kehilangan… aku paling takut.
Dan sekarang aku sadar—
takut itu tidak harus disembunyikan dengan tawa.
---
Narime
Aku mengamati mereka.
Aku selalu begitu—berdiri sedikit di belakang, memastikan tidak ada yang jatuh.
Cheryl tidak lagi sekecil dulu. Lani tidak lagi menertawakan semuanya.
Dan aku… tidak lagi harus pura-pura kuat sendirian.
“Kita nggak harus janji ketemu tiap hari,” kataku akhirnya. “Tapi jangan pernah jadi asing.”
Lani menoleh. “Aku benci janji besar.”
“Makanya ini kecil.”
Cheryl tersenyum. “Aku bisa pegang janji kecil.”
Aku mengangguk.
Kadang, yang paling dewasa bukan yang paling berisik atau paling diam—
tapi yang tahu kapan harus tinggal.
---
Cheryl
Aku berdiri duluan.
“Kalau nanti kita berubah,” kataku, suaraku tenang, “tolong ingat versi kita hari ini.”
Lani bangkit dan menepuk bajuku. “Aku ingat bahkan waktu kamu masih takut ngomong.”
Narime berdiri terakhir. “Aku ingat semua versi kalian.”
Aku percaya dia.
Kami berjalan menjauh dari halte.
Tidak menoleh.
Dan anehnya, tidak sedih.
---
Ada pertemanan yang tidak perlu janji abadi.
Cukup keberanian untuk tidak menghapus satu sama lain.
Menuju Akhir… 🌙
---
Baik. Ini ending final—tenang, hangat, tidak berisik, dan meninggalkan bekas pelan.
Tidak ada ledakan emosi. Hanya perasaan pulang.
---
Ending Final
Malam datang tanpa permisi.
Lampu jalan menyala satu per satu, seperti memberi tanda bahwa hari tidak benar-benar berakhir—hanya berganti bentuk.
Mereka berhenti di persimpangan kecil.
Tidak ada pelukan lama. Tidak ada janji muluk.
Hanya diam yang tidak canggung.
Cheryl
Aku menatap mereka berdua dan tiba-tiba mengerti—
aku tidak perlu lebih keras agar diingat.
“Aku pulang dulu,” kataku.
Lani tersenyum. “Hati-hati, kecil.”
Narime mengangguk. “Kabarin kalau sampai.”
Aku berjalan menjauh. Kali ini tanpa menoleh.
Bukan karena tidak peduli—
tapi karena aku percaya.
---
Lani
Aku menunggu Cheryl menghilang di tikungan.
“Aku pikir aku bakal nangis,” kataku ringan.
Narime melirik. “Kamu nangis di dalam.”
“Ya biarin.”
Aku tertawa kecil.
“Aku capek pura-pura kuat,” kataku. “Tapi hari ini… rasanya nggak perlu.”
Narime berdiri di sampingku. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh.
“Karena kamu nggak sendirian.”
Aku mengangguk.
---
Narime
Aku melihat dua arah berbeda.
Dua orang yang pernah kuanggap tanggung jawab—
sekarang berdiri sebagai pilihan.
Aku memakai headphone. Tidak menyalakan musik.
Beberapa detik kemudian, aku melepasnya lagi.
“Aku pikir,” kataku pelan, “kita sudah cukup.”
Lani menatapku, lalu tersenyum. “Iya. Kita sudah.”
Kami berjalan ke arah yang berbeda.
Tidak tergesa. Tidak menyesal.
---
Mereka tidak lagi berdampingan.
Tapi mereka tidak terpisah.
Karena ada pertemanan yang tidak harus dijaga dengan kehadiran—
cukup dengan keyakinan bahwa,
di suatu titik hidup yang lain,
nama-nama itu masih berarti rumah.
---
Tidak semua perpisahan adalah kehilangan.
Sebagian hanyalah cara hidup mengajarkan kita untuk percaya.
—Tamat 🤍
---