Malam itu, ia kembali. Bukan sebagai badai yang mengobrak-abrik tidurku, melainkan sebagai gerimis yang lembut dan samar, persis seperti yang selalu kurindukan di tengah kemarau. Mimpi itu bukanlah ruang gaduh yang dipenuhi jerit perpisahan, melainkan jeda yang hening, di mana waktu mundur ke masa yang tak pernah benar-benar kutinggalkan. Kami tinggal serumah, menjalani rutinitas yang dulu terasa biasa saja, namun kini menjadi monumen kehangatan yang sunyi.
Aku melihatnya di dapur, tempat cahaya lampu neon selalu memantul redup di atas meja marmer. Ia memelihara dua ekor anjing kecil, bulu cokelat mereka basah oleh tetesan gerimis yang nakal dari atap seng. Ia tampak sibuk menyiapkan makanan anjing di dalam wadah kaleng, gerakannya teratur, efisien, dan tanpa perlu dipikirkan, seperti gerakan hati yang sudah hafal betul apa yang harus dilakukan.
Lalu, ia menoleh ke arah tembok belakang rumah. Tembok itu, yang sudah lama berdiri, tampak kusam dan agak lembab, menyimpan keheningan yang tebal. “Aku ingin membongkar tembok itu,” katanya tiba-tiba, tanpa memandangku. Aku terdiam sejenak. Suara itu, intonasi itu, adalah suara yang sudah kucari dalam banyak keheningan sejak kami berpisah. “Untuk apa?” tanyaku, meski aku merasa sudah tahu jawabannya.
Ia akhirnya menoleh, sepasang mata cokelatnya menatapku dengan ketenangan yang membingungkan. “Supaya bisa lebih dekat dengan mereka. Anjing-anjing ini. Biar mereka punya halaman yang lebih luas.”
Aku hanya mengangguk. Kupikir, membongkar tembok yang berlumut itu adalah hal yang paling logis yang harus dilakukan malam itu. Di dalam mimpiku, suara palu mulai terdengar, berdentum keras, namun terasa jauh, seperti gema dari masa lalu. Aku tahu, mungkin tembok yang ingin ia bongkar bukan hanya tembok fisik rumah itu.
Tembok itu adalah jarak yang terlanjur membatu, waktu yang sudah mengeras menjadi dinding di antara kami. Itu adalah semua hal yang tak terkatakan, yang kini menghalangi jalan menuju keakraban yang pernah kami miliki.
Kami berbicara, tetapi pembicaraan kami seolah berada di atas lapisan es yang sangat tipis. Kalimat-kalimat kami biasa saja, tentang pekerjaan, tentang cuaca, tentang rencana makan malam. Ia tenang, setenang danau di pagi hari, sementara aku, aku merasa canggung, gugup, seperti orang yang tiba-tiba dihadapkan lagi pada musim dingin yang pernah membuatnya jatuh sakit.
Tidak ada pertengkaran. Tidak ada lagi kebutuhan untuk saling menyalahkan atau mencari penjelasan atas apa yang telah terjadi. Perpisahan kami dulu telah meninggalkan ruang hampa, sebuah vakum yang kini diisi oleh udara yang menggantung.
Dan aku, dengan kesadaran penuh yang hanya bisa dimiliki di dalam mimpi, sadar betul bahwa yang paling sulit bukanlah melupakan kenangan, tetapi berhadapan dengan seseorang yang sudah berhasil melupakan lebih dulu, meninggalkanmu sendirian di belakang garis awal.
Panggung mimpi bergeser, dan aku terseret ke dalam realitas distopia yang terasa begitu akrab: kantor. Anehnya, kami bekerja di kantor yang sama. Ia ada di lantai lima, di bagian yang berbeda, di bawah bayang-bayang lampu yang sama. Atasanku, seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal, memanggilku ke mejanya.
“Ada berkas penting. Berkas persetujuan yang harus ditandatangani segera olehnya,” katanya, menunjuk pada berkas berwarna camel yang tebal di atas meja. “Tolong kamu saja yang urus. Pastikan ia tanda tangan sebelum pukul empat.”
Hatiku bimbang. Aku hampir menolak, mencari alasan, sakit perut, pusing, atau janji temu yang mendadak. Namun, kata-kata itu tercekat di tenggorokan. Akhirnya, aku hanya mengangguk, menerima berkas itu seolah menerima hukuman yang sudah kuduga. Entah di dunia nyata atau bahkan di dalam mimpi pun, kehidupan tetap menugaskan kita untuk menghadapi hal-hal yang belum selesai, yang belum kita relakan untuk menjadi kenangan semata.
Aku tahu jadwalnya; ia selalu menghabiskan jam istirahatnya di gereja tua dekat rumahnya. Gereja itu adalah titik jangkar kami, tempat kami dulu sering bertemu diam-diam, tempat kami mencari ketenangan dari dunia yang terlalu bising.
Aku menunggunya di sana. Hujan mulai turun, bukan lagi gerimis samar, melainkan hujan sungguhan yang membasahi halaman gereja yang dilapisi batu kali, menetes tanpa henti dari ujung genting ke atas batu nisan kecil yang ada di samping taman.
Gereja itu hening. Hanya ada suara hujan yang memukul atap dan lantai. Bau dupa yang terbakar bercampur dengan aroma udara basah, aroma yang menusuk indra dan langsung mengingatkanku pada perasaan suci yang dulu kami bagi.
Di sana, di bangku kayu yang dingin, aku merasa seperti seseorang yang sedang menunggu giliran untuk pengakuan dosa, tapi tak tahu siapa yang seharusnya mengaku, apakah dia yang harus mengakui kesalahannya meninggalkan aku, atau aku yang harus mengakui kesalahanku karena tidak pernah menahannya untuk tinggal.
Ia datang.
Langkah kakinya tenang, ia membawa map cokelat yang sama dengan berkas di tanganku. Senyumnya, senyum yang sama sekali tidak menyimpan dendam atau beban masa lalu, langsung menerangi sudut gereja yang gelap.
“Kau masih di sini?” tanyanya ringan, seolah perpisahan kami hanyalah jeda panjang dalam percakapan.
Aku mengangguk, lalu segera pura-pura menatap ke arah berkas agar tak perlu menatap matanya. Mata itu, yang bisa menelan semua penolakanku, semua kepura-puraanku.
Kami bicara seadanya. Kami bicara tentang isi dokumen, tentang cuaca yang berubah mendung, tentang pekerjaan yang menumpuk. Namun di balik semua kalimat yang kami tukar, ada jeda yang lebih panjang dari hujan di luar sana. Jeda yang menyimpan semua kata yang tidak pernah terucapkan, semua penyesalan yang terlalu besar untuk diakui. Kami bertindak seperti dua orang asing yang terperangkap dalam ingatan bersama.
Setelah ia selesai menandatangani berkas, ia menyerahkannya padaku. Jemarinya menyentuh punggung tanganku sebentar, sentuhan yang mengalirkan kejutan singkat di sarafku. Sentuhan yang terlalu akrab, terlalu familiar.
Ia menatapku sebentar, tatapan yang kini terasa benar-benar tulus dan bebas dari rasa sakit.
“Kau sibuk tidak?” tanyanya, suaranya pelan, sedikit serak karena udara dingin.
“Kenapa?”
“Bisa mengantarku membeli sesuatu. Dekat kok. Kita lewat jalan belakang rumahmu saja. Di sana ada toko kecil yang menjual barang yang kucari.”
Aku hampir tertawa. Dalam realitas yang kutinggali saat terbangun, aku tahu persis jalan belakang rumahku. Tempat itu kosong, hanya ada pagar tua yang sudah keropos, tumpukan sampah sisa bangunan, dan pohon ketapang yang berdiri sendirian. Tak pernah ada toko di sana. Jangankan toko, bahkan lampu jalan pun tak ada.
Namun entah kenapa, aku tetap setuju. Mungkin begitulah cinta lama bekerja: tidak logis, tapi sulit ditolak. Ia menarikmu masuk ke dalam ilusi yang ia ciptakan, ke dalam janji yang tak pernah bisa diwujudkan, dan kau tetap melangkah.
Kami naik motor berdua. Aku yang mengemudi, ia di belakangku. Rasanya seperti mengulang adegan penutup dari sebuah film yang dulu ingin sekali kulupakan. Kami menembus hujan yang kini terasa lebih deras. Ia diam, memelukku dengan pelukan yang longgar, tidak menuntut, hanya mencari perlindungan. Sesekali, ia menepuk pundakku pelan ketika air hujan menampar wajahnya.
Jalanan yang kami lewati becek, lampu-lampu jalan redup, dan dunia terasa seperti film hitam putih yang diputar ulang dari masa lalu kami. Setiap lubang di jalan, setiap genangan air, terasa seperti nostalgia yang menyakitkan.
Dan benar saja, di ujung jalan belakang itu, di tempat yang seharusnya kosong, di balik pagar tua dan pohon ketapang, berdirilah sebuah toko kecil.
Toko itu tua, catnya mengelupas, tapi di dalamnya ada cahaya kuning lembut yang membuatnya tampak hidup. Cahaya itu seolah menyalakan ingatan yang hampir padam, memanggil kami masuk. Aku menghentikan motor, tercengang, memandangi toko itu.
“Lihat?” katanya sambil tersenyum, senyum penuh misteri yang selalu ia miliki. “Katamu tak ada toko.”
Aku hanya mengangguk, tak mampu berkata-kata. Toko itu seakan muncul hanya untuk kami berdua, untuk membuktikan bahwa ada hal-hal yang tak bisa dijelaskan oleh logika dan peta. Hal-hal yang hanya bisa dijelaskan oleh hati yang masih mengingat, oleh kerinduan yang terlalu kuat untuk mati.
Ia turun. Sebelum masuk, ia memandangku. “Tunggu sebentar.”
Ia masuk, meninggalkan aku sendiri di luar, di bawah naungan hujan. Aku memandangi air yang turun di antara cahaya lampu jalan, yang membasahi aspal, yang membersihkan debu waktu. Aku merasa damai, entah kenapa.
Mungkin karena untuk pertama kalinya dalam mimpi ini, aku tidak ingin memilikinya kembali. Aku hanya ingin memahami. Mengapa ia masih muncul, mengapa kenangan ini masih terasa begitu nyata.
Ketika ia keluar dari toko, wajahnya tampak lebih tenang, lebih terbebaskan. Ia membawa sebuah kantong plastik kecil berwarna putih, berisi sesuatu yang tak sempat kulihat, dan juga tak kukejar untuk tahu.
Ia berdiri di bawah hujan, memandangi langit yang belum berhenti meneteskan air. Udara dingin terasa menusuk, namun ia tidak bergidik. Ia tampak nyaman, seolah hujan itu adalah rumahnya.
“Kau tahu,” katanya pelan, suaranya nyaris berbisik ditelan suara hujan. “Kadang yang hilang itu tidak benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat, bersembunyi. Menunggu kita menemukannya dalam bentuk lain.”
Ia menoleh ke arahku, senyumnya kini menyiratkan sebuah resolusi yang baru kutangkap.
Aku tak menjawab. Aku hanya menatapnya, membiarkan mata kami bertemu, tanpa ada rasa takut atau canggung lagi. Aku hanya tahu, mungkin ia benar, perasaan yang dulu kubiarkan pergi, yang kubuang, yang kusebut ‘masa lalu’ itu tidak mati. Ia hanya berdiam di tempat sunyi: di toko kecil di jalan belakang yang tak pernah ada di peta, di hujan yang jatuh pelan di malam yang dingin, di mimpi yang datang tanpa izin dan menuntut pengakuan.
Ia kembali naik ke motor, memegang pundakku dengan sedikit lebih erat. Kami berkendara kembali, menembus hujan yang kini terasa seperti tirai penutup sebuah pementasan.
Kami sampai di persimpangan jalan menuju rumahnya, dan ia turun. Ia hanya mengangguk, tersenyum, dan berbalik pergi tanpa menoleh lagi.
Aku melihatnya berjalan menjauh, bayangannya menyatu dengan kabut dan air hujan. Tidak ada janji untuk bertemu lagi, tidak ada kalimat perpisahan yang berat. Hanya kepergian yang tenang dan pasti.
Ketika ia menghilang di tikungan, aku terbangun.
Jam di dinding menunjukkan pukul tiga dini hari.
Suara hujan masih terdengar di luar jendela kamar, suara yang sama yang mengiringi kami di jalan belakang. Aku menatap atap rumah, merasakan sesuatu yang hangat sekaligus hampa menjalar di dada. Perasaan itu adalah perpaduan aneh antara kesedihan yang sudah diakui dan kelegaan yang baru ditemukan.
Aku tidak tahu apakah ia masih memelihara dua ekor anjing kecil itu, atau apakah benar di belakang rumahku ada toko kecil yang tersembunyi.
Yang kutahu hanyalah ini:
Mimpi malam itu bukanlah tentang ingin kembali ke dalam pelukan yang dulu kupunya.
Mimpi itu adalah tentang akhirnya bisa mengantar pergi dengan tenang. Itu adalah perpisahan sejati yang tidak pernah terjadi di dunia nyata, sebuah resolusi yang diberikan oleh alam bawah sadar, membebaskan kami berdua dari beban yang tak terkatakan.
Dan kini, aku bisa menutup mata, dan hanya mendengar suara hujan. Hanya hujan. Tanpa kenangan yang memaksa untuk tinggal.