Aku berlari menuju sebuah kedai dipinggir jalan. Bulan September ini cuaca mulai mendung. Hujan mulai turun meskipun tidak deras amat. Kadang pagi ini cerah dan nanti sore hujan sampai malam.
Buruknya, pagi tadi aku lupa membawa payung. Buru-buru ke kampus, pikiranku hanya dipenuhi jadwal kuliah dan tugas yang belum selesai. Jadilah sore ini aku pulang ke kos sambil membiarkan hujan membasahi rambut dan tas punggungku. Dari kampus ke kos butuh lebih dari lima belas menit jika berjalan kaki.
Banyak yang bertanya kenapa aku memilih kos sejauh ini, padahal di sekitar kampus berjajar bangunan kos yang lebih layak. Jawabannya sederhana, murah. Seratus lima puluh ribu rupiah per bulan,harga yang terasa seperti kompromi antara kebutuhan dan keterpaksaan.
Aku berhenti sejenak di kedai itu, berdiri di bawah atap seng yang sudah berkarat. Bau gorengan bercampur dengan aroma tanah basah. Aku menghela napas, menunggu hujan sedikit reda, meski tahu pada akhirnya aku tetap harus berjalan. Setelah merasa cukup, aku kembali melangkah, sepatu ketsku kini terasa berat oleh air.
Kosku berdiri di ujung gang sempit. Dindingnya kusam, catnya mengelupas di beberapa bagian. Pintu kayu itu berderit saat kubuka, menyambutku dengan kesunyian yang sudah akrab. Aku menutup pintu, meletakkan tas di sudut ruangan, lalu menatap bajuku yang basah kuyup. Dingin mulai merayap ke tulang.
Aku segera membersihkan diri. Air dari kamar mandi kecil itu mengalir dingin, membuat tubuhku sedikit menggigil, tapi juga terasa menenangkan. Seolah semua lelah dan sisa hujan ikut luruh bersama air yang jatuh ke lantai semen. Setelah berganti pakaian kering, aku mengelap rambut seadanya dengan handuk tipis.
Aku lalu merebahkan diri di atas kasur tipis yang kubawa dari rumah.
Kasur itu tidak empuk, bahkan pegasnya kadang terasa menusuk punggung. Tapi di sanalah aku beristirahat, menatap langit-langit yang mulai menguning. Suara hujan di luar terdengar lebih jelas sekarang, memukul atap seng kos dengan ritme pelan.
Aku memejamkan mata sejenak, membiarkan tubuhku benar-benar diam.
Tak lama, perutku berbunyi, mengingatkan bahwa sejak siang aku belum makan apa-apa. Aku bangkit, menyalakan kompor kecil di sudut ruangan. Beras kutakar seadanya, lalu kumasukkan ke dalam rice cooker tua yang sering mogok. Aku duduk di lantai menunggu nasi matang, sambil menatap jendela kecil tempat cahaya lampu jalan menyelinap masuk.
Setelah makan, aku membersihkan piring lalu duduk di tepi kasur. Suasana mendadak terasa sepi. Hujan di luar masih turun, kali ini lebih pelan, seperti menemani malam yang sunyi. Tanganku meraih ponsel tua di samping bantal. Sudah beberapa hari aku tidak menelepon rumah. Entah kenapa, rasa rindu selalu datang diam-diam seperti ini.
Aku menekan nomor yang sudah kuhafal di luar kepala.
“Hallo, Mak…”
“Hallo, Nang… gimana kabarmu di sana? Sehat-sehat kau?” suara mamak terdengar hangat, dengan logat Batak yang selalu membuat dadaku terasa sesak oleh rindu.
“Sehat, Mak. Orang mamak sehat?” tanyaku sambil merebahkan punggung ke dinding.
“Sehatlah, Nak. Hujan di sini deras kali dari siang. Gitulah kampung kita, kadang hujan kadang panas terik. Terhalang jadi orang mamak yang kerja ke ladang,” ucapnya, terdengar sedikit lelah tapi tetap berusaha ceria.
Aku tersenyum kecil meski mamak tak bisa melihat. “Iya, Mak. Di sini juga hujan. Tadi pulang kuliah aku kehujanan, lupa bawa payung.”
“Alah… kenapa nggak hati-hati kau, Nang,” katanya khawatir. “Masih adanya uangmu di sana, kan? Jangan kau paksa-paksa diri.”
Aku terdiam sejenak. Pertanyaan itu selalu datang, dan selalu membuatku menelan ludah. “Masih ada, Mak. Cukup-cukuplah untuk makan,” jawabku, meski sebenarnya aku harus benar-benar mengatur setiap rupiah.
“Syukurlah kalau begitu,” katanya. “Yang penting kau sehat dan kuliahmu jalan. Jangan mikirkan kami di sini. Bapakmu juga sehat, cuma akhir-akhir ini cepat capek.”
Dadaku terasa menghangat sekaligus perih. Aku menatap lantai semen yang dingin, membayangkan wajah mamak dan bapak di kampung, rumah kayu sederhana, suara jangkrik malam, dan lampu kuning yang temaram.
“Iya, Mak. Aku belajar yang rajin. Doakan aku ya,” ucapku pelan.
Pasti, Nang. Tiap habis shalat, nama kau selalu mamak sebut,” jawabnya lembut. “Sudah, istirahatlah kau. Jangan tidur larut-larut.”
“Iya, Mak. Salam buat Bapak.”
Telepon kututup perlahan. Aku menarik napas panjang, menahan rasa rindu yang menggumpal di dada. Di kos sempit ini, di tengah hujan dan malam yang dingin, suara mamak barusan terasa seperti selimut—sederhana, tapi cukup menghangatkan hati untuk membuatku bertahan satu hari lagi.
Bulan November datang tanpa banyak basa-basi. Hujan turun hampir setiap hari, seolah langit tak lagi memberi jeda. Pagi, siang, bahkan malam, suara air yang jatuh ke atap seng kos menjadi lagu pengantar waktu. Jalanan becek, sepatu tak pernah benar-benar kering, dan udara dingin makin sering menyusup ke sela-sela pakaian.
Aku belajar dari kejadian bulan lalu. Suatu sore, sepulang kuliah, aku menyempatkan diri berhenti di kios kecil dekat pasar. Di sana tergantung berbagai payung dengan warna mencolok. Aku memilih satu yang paling murah, payung kecil berwarna biru tua, kainnya tipis dan gagangnya terasa ringan, seakan bisa patah jika angin bertiup kencang. Tapi tak apa. Yang penting bisa melindungiku dari hujan.
Sejak hari itu, payung kecil itu selalu masuk ke dalam tasku. Kadang tak terpakai, kadang justru jadi penyelamat saat hujan turun tiba-tiba di tengah jalan. Meski sering bocor di bagian ujungnya, aku tetap menggenggamnya erat sambil berjalan cepat menuju kos. Air hujan tetap mengenai celana dan sepatuku, tapi setidaknya kepalaku tak lagi kuyup seperti dulu.
Suatu malam, setelah hujan turun tanpa henti sejak sore, aku duduk di tepi kasur sambil membuka ponsel. Layar menyala, menampilkan berita-berita yang lewat begitu saja di beranda. Hingga satu judul membuat napasku seketika tercekat.
Banjir melanda beberapa desa di wilayah…
Jantungku berdegup kencang. Tanganku gemetar saat membaca nama daerah yang disebutkan. Itu kampungku.
Aku tersentak berdiri. Berita itu menyebutkan hujan deras sejak dua hari terakhir menyebabkan sungai meluap, air merendam rumah warga, dan sebagian harus mengungsi. Kepalaku mendadak penuh oleh bayangan rumah kayu itu, ladang tempat mamak biasa bekerja, dan jalan tanah yang pasti kini berubah menjadi sungai kecil.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung menekan nomor mamak.
Satu kali.
Tak tersambung.
Aku mencoba lagi, kali ini lebih lama menempelkan ponsel ke telinga. Nada panggil terdengar, lalu terputus. Tidak aktif.
“Mak…” gumamku pelan, suaraku nyaris hilang.
Aku duduk kembali di kasur, lututku terasa lemas. Ponsel kugenggam erat, jempolku terus menekan ulang nomor yang sama, berharap kali ini suara mamak akan muncul di seberang sana. Namun layar hanya menampilkan pesan yang sama tidak dapat dihubungi.
Hujan di luar terdengar semakin deras. Atap seng kos berisik dipukul air, seolah menertawakan kepanikanku. Di ruang sempit itu, aku merasa sangat jauh. Jauh dari kampung, jauh dari orang tuaku, dan tak berdaya menghadapi ketakutan yang tiba-tiba tumbuh.
Aku menatap ponsel dengan mata berkaca-kaca, berdoa dalam hati semoga mamak dan bapak baik-baik saja. Untuk pertama kalinya sejak merantau, aku benar-benar merasa takut kehilangan, dan tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu, di bawah hujan yang tak kunjung berhenti.
Empat hari berlalu seperti mimpi buruk yang terlalu panjang. Setiap hari aku hidup dalam cemas, ponsel tak pernah jauh dari genggaman. Setiap getar kecil membuat jantungku berdegup keras, berharap itu kabar dari rumah. Tapi yang datang hanya hujan dan sunyi.
Sampai sore itu, di tengah suara gerimis yang tak lagi asing, ponselku akhirnya bergetar. Sebuah pesan suara masuk. Dari nomor mamak.
Tanganku gemetar saat membukanya. Dadaku terasa sesak, aku berharap mendengar suara mamak, tapi yang terdengar justru suara bapak. Suaranya berat, sedikit serak, seperti menahan banyak hal.
Aku mendengarkan.
“Halo, Nang… sudah tahu kau kabar itu. Jangan khawatirkan orang bapak di sini. Sudah mengungsi kami ke kebun. Tenanglah kau, Nang. Uangmu pun sudah bapak kirim, seratus dulu ya, Nang.”
Pesan suara itu berakhir. Layar ponsel kembali gelap.
Saat itu juga, aku tak mampu menahan apa pun lagi. Tangisku pecah. Tubuhku gemetar, napasku tersengal, air mata jatuh tanpa bisa kuhentikan. Aku menutup mulut dengan tangan, tapi isak itu tetap lolos, memenuhi kamar kos sempit yang dingin dan sunyi.
Aku menangis histeris, bukan hanya karena takut, tapi juga karena lega. Mereka masih ada. Mereka selamat. Bahkan di tengah banjir dan kesulitan, bapak masih memikirkan aku, masih mengirimkan uang meski aku tahu keadaan mereka pasti jauh lebih sulit.
Aku memeluk ponsel itu erat, seolah dengan begitu aku bisa memeluk bapak dan mamak dari jarak yang begitu jauh. Di antara tangis dan hujan yang kembali turun di luar, aku berjanji dalam hati: semua lelah ini, semua kekurangan ini, akan kuterima. Asal suatu hari nanti, aku bisa pulang membawa kabar baik—bahwa pengorbanan mereka tidak sia-sia.