Langit sore itu tampak kelabu, seperti enggan memberi cahaya. Hujan baru saja reda, meninggalkan aroma tanah basah yang meresap di udara. Mobil berhenti di depan rumah tua bercat krem pudar, dengan pagar besi yang berkarat di ujungnya. Di dalam mobil, Leka menatap bangunan itu lama, seolah-olah waktu berhenti di antara detik napasnya.
“Ini rumahnya?” tanya Ardan pelan, menoleh pada istrinya yang duduk di kursi sebelah.
Leka tidak langsung menjawab. Matanya masih terpaku pada jendela rumah yang tertutup rapat. “Iya,” katanya akhirnya, nyaris berbisik. “Rumah waktu Mama masih ada.”
Ardan mengangguk, mencoba tersenyum meski wajahnya ikut diliputi rasa canggung. Ini pertama kalinya ia datang ke rumah masa kecil Leka. Setelah mereka menikah tiga bulan lalu, Leka jarang sekali bicara soal keluarganya. Ia hanya menyebut bahwa ibunya sudah meninggal, tanpa banyak penjelasan.
“Aku cuma mau lihat sebentar,” kata Leka sambil membuka pintu mobil. “Nanti kita pulang lagi.”
Ardan mengikuti langkahnya, menutup payung yang tadi digunakan. Udara dingin menyentuh kulit, membawa wangi lembap khas rumah lama. Kunci berkarat di tangan Leka sedikit macet saat diputar. Ketika pintu akhirnya terbuka, suara engsel yang berderit pelan seperti menyambut sesuatu yang sudah lama ditinggalkan.
***
Ruang tamu itu masih sama. Dindingnya dihiasi foto lama yang berdebu, kursi rotan di sudut, dan rak kecil tempat jam dinding tua tergantung di atasnya. Jarumnya berhenti di angka lima. Leka menatap jam itu tanpa bergerak, seperti seseorang yang baru saja bertemu dengan hantu masa lalunya.
“Masih ada jamnya,” gumam Ardan, melangkah pelan. “Masih bisa diperbaiki, sepertinya.”
Suara itu membuat Leka tersentak kecil. “Jangan,” katanya cepat. “Biarkan saja.”
Ardan menoleh. “Kenapa? Sayang kalau dibiarkan rusak. Aku bisa bantu nyalakan lagi—”
“Ardan, tolong,” potong Leka, kali ini nadanya lebih keras dari biasanya. “Jangan nyalakan jam itu.”
Keheningan turun tiba-tiba. Hanya suara hujan sisa yang menetes dari genteng. Ardan menatap wajah istrinya yang memucat. Ia ingin bertanya, tapi menahan diri. Leka memeluk dirinya sendiri, matanya tak lepas dari jam itu. Seolah-olah benda itu hidup, dan setiap jarumnya menyimpan sesuatu yang ingin ia lupakan.
***
Mereka menghabiskan sore dengan membersihkan sedikit debu dan menutup jendela bocor. Ardan beberapa kali mencoba mencairkan suasana—bercanda soal laba-laba yang “mungkin punya KTP rumah ini”, atau menawarkan teh hangat. Tapi Leka tetap diam. Ia hanya menatap kosong ke arah jendela, seolah pikirannya jauh di tempat lain.
Baru menjelang malam, suara lembutnya terdengar, hampir tenggelam oleh suara hujan di luar. “Jam itu…” katanya pelan. “Terakhir berdentang waktu Mama meninggal.”
Ardan berhenti merapikan kertas di meja. Ia menoleh pelan, memastikan ia tak salah dengar.“Maksudmu?” tanyanya, hati-hati.
Leka duduk di lantai, lututnya ditekuk, tangan meremas ujung sweater yang sudah agak lusuh. “Waktu itu aku masih SMA,” ujarnya. “Aku baru pulang dari les. Hujan juga, kayak sekarang.”
Ia menarik napas panjang, lalu menatap lantai yang berdebu. “Jam itu berdentang dua belas kali, pas tengah malam. Suaranya keras banget. Aku sempat marah karena aku lagi ngerjain tugas, tapi pas aku mau turun buat matiin, bel rumah bunyi. Polisi datang.”
Suaranya mulai bergetar. “Kecelakaan. Mobil Mama… tergelincir di tikungan sebelum jembatan. Mereka bilang dia meninggal di tempat.”
Ardan terpaku. Ia tak tahu harus berkata apa. Kata-kata seperti “turut berduka” atau “aku ikut sedih” terasa tidak cukup. Ia mendekat perlahan, lalu duduk di samping Leka tanpa bicara.
Leka melanjutkan, matanya tetap kosong. “Sejak itu, aku nggak bisa dengar suara jam berdentang. Aku kira cuma sementara. Tapi setiap kali dengar jam dinding, atau bel yang nadanya mirip, aku—” ia menelan ludah, berusaha menahan air mata. “Aku ngerasa mau mati rasanya, Dan. Dada aku nyesek banget. Nafasku kayak ditarik paksa. Dunia jadi kabur, kayak aku bukan di sini lagi.”
Hening sejenak. Hanya suara hujan dan detak samar dari jam tangan Ardan di meja.
Ardan menatapnya lama. Ia akhirnya berkata pelan, “Kamu nggak pernah cerita soal ini.”
Leka tersenyum getir. “Aku nggak pernah bisa. Setiap mau cerita, rasanya kayak ngebuka pintu yang udah dikunci rapat, dan aku takut nggak bisa nutup lagi.”
“Makanya kamu nggak mau ke rumah ini selama ini?”
Leka mengangguk, menatap ke arah ruang tamu tempat jam itu tergantung. “Aku takut jam itu masih bisa berdentang. Aku takut kalau aku denger lagi… Mama bakal pergi untuk kedua kalinya.”
Ardan diam beberapa detik, lalu menunduk sedikit, mencoba menangkap pandangannya. “Lek… kamu tahu kan, jam itu cuma benda. Dia nggak bisa nyakitin kamu.”
“Aku tahu,” jawab Leka cepat, dengan suara serak. “Tapi otakku tahu, hatiku nggak. Setiap kali dengar suara kayak gitu, aku balik lagi ke malam itu. Semua bau, warna, suaranya… muncul lagi. Aku masih di sana.”
Ardan menatap istrinya dalam diam, lalu mengulurkan tangan, menggenggam tangan Leka yang dingin. Genggaman itu kecil, rapuh, tapi ada sesuatu yang menghangat di antara mereka. Ia mengelus punggung tangan itu pelan, sebelum berkata, “Kamu nggak perlu pura-pura kuat di depan aku. Aku nggak bakal pergi cuma karena kamu punya masa lalu yang berat.”
Leka menunduk, bahunya bergetar. “Aku takut kamu kasihan. Aku nggak mau dikasihani, Dan.”
“Siapa bilang aku kasihan?” Ardan tersenyum tipis, suaranya rendah tapi tegas. “Aku cuma… pengen ngerti. Kalau aku bisa bantu kamu berdamai sama jam itu, sama malam itu, aku mau. Bukan karena aku kasihan, tapi karena aku cinta sama kamu.”
Leka terdiam lama. Bibirnya bergetar, air mata menetes tanpa ia sadari. Ia memejamkan mata, lalu berkata lirih, “Aku capek banget, Dan. Aku pikir udah sembuh, tapi ternyata belum.”
Ardan menarik napas pelan, lalu mendekat lebih dekat. “Nggak apa-apa kalau belum sembuh. Kadang yang penting itu bukan cepet pulih, tapi punya tempat buat berhenti sebentar.”
Ia tersenyum kecil. “Kalau kamu mau, biar rumah ini jadi tempat kamu berhenti, bukan tempat kamu takut.”
Leka menatapnya, dan untuk pertama kalinya hari itu, ia mengangguk kecil. “Boleh aku duduk di sini sebentar?”
Ardan mengangguk. “Aku juga.”
Mereka berdua diam, hanya mendengar hujan dan bunyi dedaunan di luar. Genggaman tangan mereka tetap, hangat di antara dingin malam, seolah waktu tak lagi menakutkan, hanya berhenti sebentar untuk memberi ruang bagi dua hati yang mulai belajar memahami luka yang sama.
***
Malam turun perlahan. Mereka tidur di kamar tamu yang dulu milik Leka. Tapi Leka tak bisa benar-benar memejamkan mata. Ia terjaga, mendengar detak pelan jam tangan Ardan di meja, dan suara hujan di luar. Napasnya terasa berat; pikirannya tak berhenti memutar kenangan yang seharusnya terkubur.
Jam di ruang tamu masih diam. Tapi entah kenapa, Leka bisa mendengarnya berdentang dalam kepala, berulang, dua belas kali, seperti gema yang tak berakhir.
Ia bangkit dari tempat tidur, berjalan tanpa alas kaki ke ruang tamu. Lampu kecil di pojok ruangan menyala samar. Jam dinding itu masih tergantung di tempat yang sama. Di bawahnya, ada foto ibunya yang tersenyum lembut.
Leka menatap foto itu lama. “Ma,” bisiknya. “Aku masih di sini. Tapi kenapa rasanya waktu nggak jalan?”
Dentang kecil tiba-tiba terdengar.
Satu. Dua. Tiga.
Leka membeku. Ia menatap jam itu, padahal jarumnya masih mati. Tapi suara itu nyata di telinganya. Detak yang membesar, berdentang lebih keras, seperti pukulan di dada.
Napasnya mulai tersengal. Jantungnya berdetak tak beraturan, cepat, sakit. Dentang keempat datang, lalu kelima, dan dunia di sekitarnya mulai kabur.
“Aku nggak mau… jangan sekarang…” suaranya bergetar, hampir seperti anak kecil yang memohon. Tapi dentang keenam datang lebih keras, menembus telinganya seperti palu.
Leka menutup telinga, berjongkok di lantai, dan berteriak. “BERHENTI! Berhenti, tolong berhenti!”
Tangisnya pecah. Ia menunduk, memegangi kepala, tubuhnya gemetar hebat. “Ma… jangan pergi lagi… jangan tinggalin aku sendirian…”
Ardan, yang terbangun karena suara itu, berlari dari kamar. “Leka! Astaga, Leka!” Ia segera menghampiri, melihat istrinya terjatuh di lantai, wajahnya pucat, mata liar, napas tersengal seperti habis berlari jauh.
“Leka, lihat aku,” katanya panik tapi lembut, mencoba meraih bahu Leka. Tapi Leka menepisnya, menjerit lagi. “JANGAN SENTUH AKU!”
Suara itu membuat dada Ardan seolah diremas. Ia mundur setengah langkah, lalu menunduk, mencoba menahan air matanya sendiri. “Oke… aku nggak akan nyentuh kamu, Lek. Aku cuma di sini, ya? Denger aku, aku di sini…”
Leka menggeleng keras, menatap jam di dinding yang kini berdetak makin cepat, atau setidaknya begitu yang ia dengar.
“Dia bunyi, Dan… jamnya bunyi… dua belas… dua belas kali…”
Ardan menatap jam itu, masih mati, tak bergerak sedikit pun. Ia berlutut perlahan di depan istrinya, lalu mendekat cukup untuk meraih tangannya tanpa memaksa.
“Leka… jamnya nggak bunyi, Sayang. Itu cuma di kepalamu. Kamu nggak salah, kamu cuma ketakutan. Tapi kamu aman sekarang, ya? Aku di sini, denger?”
Napas Leka makin berat. Matanya mencari-cari sesuatu, seperti tak tahu ia ada di mana. “Aku— aku nggak bisa napas…”
Ardan cepat mendekat, menaruh kedua tangannya di pipi Leka. “Oke, pelan-pelan, Lek. Tarik napas, ya. Bareng aku.”
Ia menarik napas dalam, menatap mata Leka yang berair. “Sekali lagi. Tarik napas… buang pelan…”
Leka mencoba mengikuti, tapi bahunya bergetar. Air mata terus jatuh. Ia meremas tangan Ardan seolah hidupnya tergantung di sana.
“Ardan…” suaranya nyaris hilang. “Aku takut banget…”
Ardan menelan ludah. Ia mendekap Leka erat, mengabaikan tubuh yang menolak di awal. “Aku tahu… aku tahu kamu takut. Tapi aku nggak akan ninggalin kamu.”
Ia terus memeluknya, membiarkan Leka menjerit, menangis, lalu terisak pelan sampai suara dentang yang hanya ada di kepalanya perlahan memudar.
Sampai akhirnya, hanya tersisa isak kecil di dada Leka, dan suara hujan di luar yang kembali terdengar nyata.
Ardan tetap memeluknya, membiarkan waktu berhenti sebentar, bukan karena jam itu, tapi karena hatinya ingin memberi ruang agar luka Leka bisa bernafas untuk pertama kalinya.
***
Keesokan paginya, matahari muncul tipis. Leka bangun dengan mata bengkak, tapi napasnya lebih stabil. Ardan duduk di kursi ruang tamu, memperhatikan jam itu lagi. Ia tahu ia harus melakukan sesuatu—bukan untuk memperbaikinya, tapi untuk membantu istrinya berdamai dengan waktu yang membekukan hatinya.
“Leka,” katanya saat istrinya keluar dari kamar. “Aku tahu kamu nggak mau jam itu dinyalain lagi. Tapi aku juga tahu, kamu nggak mau terus takut sama sesuatu yang udah lewat.”
Leka menatapnya. “Aku nggak siap, Dan.”
“Aku tahu.” Ardan berdiri, mengambil kursi kecil, lalu menurunkan jam itu dari dinding. “Makanya, kita lakukan bareng-bareng. Nggak sekarang juga nggak apa-apa. Tapi jangan biarin suara itu ngontrol kamu seumur hidup.”
Ia meletakkan jam di meja, lalu membuka bagian belakangnya. Suara kecil dari pegas yang berkarat terdengar. Leka menatap dengan napas tertahan. Tangannya gemetar, tapi ia tak bisa berpaling. Jam itu tampak usang, tapi masih utuh, seperti dirinya.
“Lihat?” kata Ardan pelan. “Cuma mesin. Bukan monster.”
Leka menarik napas dalam-dalam. “Kamu nggak ngerti, Dan. Suara itu... tiap kali kudengar, rasanya kayak malam itu datang lagi. Semua... semua kembali.”
“Aku nggak akan pernah sepenuhnya ngerti,” balas Ardan lembut. “Tapi aku mau ada di sebelah kamu waktu kamu ngelaluinnya.”
***
Hari-hari berikutnya mereka habiskan di rumah itu. Setiap pagi, suara palu Ardan terdengar dari atap, diselingi bunyi kayu yang dipaku ulang dan derit tangga tua yang ia injak. Ia memperbaiki bocoran kecil yang menetes di dekat ruang tengah. Kadang, saat lelah, ia turun sambil tersenyum kecil dan berkata, “Atap ini keras kepala kayak istrinya.”
Leka tersenyum tipis mendengarnya. Meski di dadanya masih tersisa rasa berat, ada sesuatu yang berubah. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia tak lagi ingin melarikan diri. Ia mulai membuka satu per satu ruangan yang dulu ia hindari.
Ruang dapur dengan panci berdebu. Kamar depan dengan tirai kusam dan kaca retak di ujung jendela. Dan akhirnya, kamar ibunya.
Pintu kamar itu berderit pelan ketika ia dorong. Udara di dalamnya lembap dan dingin. Aroma sabun dan melati yang samar-samar tersisa membuat dadanya sesak. Semua masih sama seperti terakhir kali: sprei bermotif bunga, foto kecil di meja, dan jam kecil di pojok rak yang sudah berhenti.
Leka melangkah pelan ke arah lemari. Di rak paling bawah, ia menemukan kotak kayu kecil berwarna cokelat muda, dengan cat yang mulai mengelupas. Ia mengelus permukaannya, menghapus lapisan debu yang menempel, lalu membuka tutupnya perlahan.
Di dalamnya ada beberapa perhiasan lama: kalung mutiara, bros berbentuk bunga, dan beberapa surat yang dilipat rapi dengan pita ungu. Bau kertas tua menyeruak, hangat, getir, dan akrab. Ia duduk di tepi tempat tidur, membuka satu surat pertama. Tulisan tangan ibunya masih sama seperti dulu; runcing, rapi, dan lembut di tiap huruf.
Isi surat itu sederhana: pesan cinta, doa agar Leka rajin makan, dan catatan kecil tentang resep sup kesukaannya. Namun di bagian paling bawah kotak, ia menemukan selembar kertas yang berbeda, kusut dan agak pudar. Tulisan tangan itu tergesa tapi tetap dikenalnya.
“Kalau suatu hari kamu mendengar jam berdentang lagi, jangan takut. Itu tandanya kamu masih di dunia ini, sayang. Waktu terus jalan, dan kamu juga harus.”
Leka membaca kalimat itu berkali-kali. Tangannya bergetar, bukan karena panik, tapi karena sesuatu di dalam dirinya perlahan retak, lapisan ketakutan yang akhirnya mulai terbuka. Air matanya menetes ke atas tinta pudar.
“Ma… aku denger, Ma,” bisiknya. “Jam itu masih di sini. Dan aku juga masih di sini.”
Langkah pelan terdengar di belakangnya. Ardan berdiri di ambang pintu, wajahnya lelah tapi hangat. “Kamu nemu apa?” tanyanya lembut.
Leka menunjukkan surat itu tanpa bicara. Ardan membacanya, lalu menatap istrinya dengan mata yang dalam. “Dia tahu kamu bakal baca ini suatu hari nanti,” katanya.
Leka mengangguk, menahan isak. “Dulu aku pikir dentang jam itu tanda akhir. Tapi ternyata… Mama anggap itu tanda aku masih hidup.”
Ardan tersenyum, mengusap pipinya. “Mungkin jam itu bukan musuh kamu, Lek. Mungkin dia cuma pengingat kalau kamu udah sejauh ini dan masih kuat.”
Leka menatap jam kecil di rak. Jarumnya tetap mati, tapi kali ini, ia tak lagi takut melihatnya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia menutup mata, menarik napas panjang, dan tersenyum. Dentang jam tak terdengar, tapi di dalam dadanya, waktu mulai berjalan lagi.
***
Malam ketiga, Ardan menyalakan lilin kecil di ruang tamu. Cahaya temaram menari di dinding, menyoroti jam dinding yang kini berdiri tegak setelah sekian lama dibungkam. Ia menatap Leka yang duduk diam di kursi, tangan di pangkuan, wajahnya pucat.
“Aku tahu kamu belum siap sepenuhnya,” kata Ardan lembut. “Tapi mau coba malam ini?”
Leka menelan ludah, menatap jam itu yang kini sudah diberi baterai baru. “Kalau aku takut?” suaranya nyaris tak terdengar.
“Takutnya bareng aku,” jawab Ardan, mengulurkan tangan.
Dentang pertama terdengar, pelan, tapi menggema.
Satu. Dua.
Jantung Leka berdetak cepat, tangan gemetar dalam genggaman Ardan.
Tiga. Empat. Lima.
Ia menutup mata rapat, tubuhnya menegang.
Enam. Tujuh. Delapan.
Air mata mulai menetes, namun napasnya tetap ada.
Sembilan. Sepuluh. Sebelas.
Ardan menempelkan keningnya ke kening Leka. “Kamu nggak sendiri.”
Dua belas.
Dentang terakhir menggema lembut, lalu hening. Tak ada jeritan. Tak ada panik. Hanya tangis yang perlahan berubah menjadi kelegaan.
Leka memeluk suaminya erat, bahunya bergetar. “Aku masih di sini,” bisiknya.
Ardan tersenyum kecil. “Dan jamnya juga.”
***
Keesokan harinya, cahaya matahari masuk lewat jendela besar yang dulu tertutup debu. Rumah itu terasa berbeda, tidak lagi menakutkan, tapi seperti sesuatu yang akhirnya bisa bernapas. Leka duduk di meja makan, menggambar di buku sketsanya. Di atas kertas, tergambar jam dinding tua dengan bunga kecil di sekelilingnya.
Ia tersenyum kecil. Waktu tidak pernah berhenti. Tapi mungkin, kali ini, ia bisa berjalan bersamanya.
***
“Dentang jam tak lagi berarti kehilangan. Hanya tanda bahwa aku masih hidup, melewati malam.”
—END—