Seperti biasa, setiap setelah Asar. Anak-anak di kampung kami pergi mengaji. Begitupun setelah Subuh dan Magrib.
Tiba-tiba, suara tegas namun penuh rayuan terdengar. "Dek Anjani cantik! Cepet banget jalannya, tungguin Aa dong!" Dia Muhammad As-Syakir, hanya dua tahun lebih tua dariku. Tapi aku selalu sebal dengannya! karna kebiasaan sedari kecil tidak pernah ia tinggalkan.
"Malu tau A! Diliatin sama ibu-ibu juga!" Aku berjalan semakin cepat menuju rumah.
"Assalamualaikum!" Setelah mengucap salam Umma membuka pintu. Lalu aku kucium tangannya dengan takzim.
"Wa'alaikumsallam Sallam, Sudah pulang? Abi mana, tidak barengan pulangnya?" Uma melihat kebelakang, malah A Syakir yang nongol dari balik pohon.
"Kenapa kamu berdiri disitu?" Antara memanggil dan juga tidak aneh.
"Assalamualaikum Uma!" A Syakir mencium punggung tangan Uma. "Wa'alaikumsallam salam."
"Abi masih di madrasah Uma! karna masih ada yang di tes hafalan! Mungkin sebentar lagi pulang." Uma pun mengerti.
"Saya pamit dulu Uma, udah sore juga." A Syakir pamit dengan sopan mengucap salam.
A Syakir buru-buru pulang pasti takut dengan Abi, dasar Cemen.
Uma menggeleng sambil terkekeh membuatku keheranan. "Masih saja anak itu mengikuti kamu dengan panggilan gombal?" sindir Uma sambil masuk kedalam.
"Sebel tau Uma, masa tiap pulang ngaji A Syakir selalu ngikutin sambil teriak-teriak manggil Ade cantik, Ade manis, imut aku sampe geli Uma!" bukannya marah, Uma malah terkekeh. Beda dengan Abi, ia pasti akan melotot.
Beberapa hari kemudian, A Syakir memberi kabar, jika ia akan pergi mondok diluar daerah.
Tentu saja aku senang dan merasa sedikit lega, akhirnya bebanku sedikit terangkat, aku bahkan mengabadikan wajahnya yang muram.
Namun ternyata, kesenangan itu tidak bertahan lama, hanya bertahan selama dua hari. Selebihnya..
Serasa ada yang kurang, hilang ataukah hampa, aku tidak tau ini perasaan apa.
Setiap perasaan itu datang, aku selalu berusaha menepis. mengalihkan fikiran dengan hal lain.
Sampai dua tahun berlalu, tidak ada satupun kabar darinya. Ia bagai ditelan bumi.
"Kamu sudah siapkan semuanya?" aku mengangguk, membenarkan pertanyaan Abi. besok aku akan pergi menuju pondok pesantren yang sudah Abi pilihkan untukku menimba ilmu.
Uma mengusap kepalaku dengan penuh kelembutan. "Nanti, disana yang betahnya, semangat cari ilmunya, Akhlak dan adab yang sudah kamu fahami di pake dan ditambah lagi ..." Uma dan Abi, menasehati ku dan memberi pemahaman.
Sesampainya di pondok, tiap hari tanpa henti aku dan teman-temanku hilir mudik ke madrasah, subuh, pagi, siang, sore sampai malam, kami semua menimba ilmu. Sampai tidak ada waktu untuk memikirkan hal lain, kecuali rindu rumah.
Sampai tidak terasa, Enam tahun telah berlalu dan akupun telah melaksanakan wisuda. Kini waktunya aku pulang ke kampung halaman.
Uma tersenyum lembut, sambil memperhatikan aku yang meletakan dua gelas teh hangat diatas meja.
"Masyaallah, putri Umi sekarang sudah makin besar, makin dewasa. Biasanya pulang hanya setahun dua kali, sekarang kamu kembali lagi kerumah! Gimana rasanya?"
"Sekarang malah rindu pondok Uma." benar saja, biasanya jam-jam pagi seperti ini, aku dan seluruh temanku tengah mengaji.
"Kalau sudah tiada baru terasa, bahwa kehadirannya, sungguh berharga." Abi malah bersenandung menyanyikan lagu Roma irama.
Sebenarnya, Abi bukan orang kaku dan pemarah, ia justru sangat lembut, penyayang dan penuh perhatian namun ia sangat tegas. Begitulah Abi dimataku.
"Apakah, ada seseorang yang memiliki arti tersendiri disana?" Abi mengelus kepalaku.
"Tidak ada Abi, hanya teman-teman dan waktu-waktu yang kami habiskan saja, bagiku semuanya sepesial." Aku menjawab dengan senyuman.
"Baiklah jika begitu. Mulai Malam setelah magrib, kamu amalkan ilmu yang kamu dapat di pondok! bantu Abi mengajar di madrasah." Akupun menyanggupinya.
Adzan magrib berkumandang, akupun sudah duduk diatas sajadah. Mendengar suara adzan yang merdu, "Siapa yang adzan?" aku bergumam sendiri.
"Kamu kenal orang nya!" tiba-tiba aku terkejut dengan suara yang berbisik di telingaku.
"Astaghfirullah, Hanum. Kamu bikin aku kaget!" karna sebelumnya tidak ada siapa-siapa.
"Kamu si, ngelamun apa terlalu menghayati? Sampe gak sadar aku datang." Hanum teman masa kecilku malah terkekeh. "Coba tebak, siapa yang adzan?"
"Mana kutau, orang gak keliatan." karna terhalang hijab.
Adzan pun selesai dan kami pun berdoa. Lalu berdiri untuk solat sunah qobla magrib. "A Syakir!" sempat-sempatnya Hanum berbisik sebelum solat.
Tunggu dulu, siapa?
gara-gara perkataan Hanum barusan, aku jadi tidak khusyuk.
Sampai selesai solat ba'da magrib, akupun mulai mengajar membantu Abi. Ternyata anak-anak Ikhwan diajari A Syakir.
Diam-diam, aku curi-curi pandang dengan ujung mataku. Meneliti setiap inci wajah A Syakir. Semakin putih, wajahnya lebih tegas, Alisnya tebal, Matanya tajam, hidungnya mancung, senyumnya tetap manis seperti dulu, namun versi dewasa.
Entah mengapa ada getaran asing yang hadir. Kesal juga, karna A Syakir malah tidak sedikitpun melihat ke arahku. "Astaghfirullah apa yang aku fikiran." Aku menggeleng.
"Kakak kenapa, bacaan ku salah?" tanya Halwa, anak yang sedang setor bacaan Qur'an. Aku sampai tidak fokus. "Bukan apa-apa, leher kakak cuma pegal." kataku beralasan.
Selesai solat Isya, akupun kembali kerumah. Namun diperjalanan, aku melihat A Syakir tengah menggendong bayi. 'Apa dia sudah menikah dan punya anak?' serasa ada yang patah, tapi aku tidak tau apa, aku mempercepat langkah menuju rumah.
Setelah sedikit berbincang dengan Uma dan Abi, lalu muroja'ah (mengingat hafalan) di kamar. Akupun merebahkan diri. Namun sayang kantuk tak kunjung datang. Aku malah berguling-guling tidak tentu arah. Aku memutuskan membaca Al-Qur'an, sampai tertidur bersandar pada kepala ranjang.
Beberapa hari ini tidak ada kegiatan selain mengajar, sebisa mungkin aku menghindar dari A Syakir.
"Assalamualaikum." Mendengar salam, aku langsung bergegas membuka pintu.
"Wa'alaikumsallam salam." Siapa yang menyangka jika A Syakir yang bertamu.
"Abinya ada?" Semua murid Abi memang memanggilnya Abi, jadi tidak heran.
"Abi di ladang, jika ingin bertemu insyaallah Dzuhur pulang, jika ingin cepat-cepat silahkan pergi ke ladang!" Jawabanku seperti dulu, dingin dan cuek.
"Baiklah jika begitu, Aa titip saja ini!" A Syakir menyerahkan kantong hitam, entah apa isinya. "baiklah, akan saya sampaikan nanti."
"Ah, tunggu sebentar!" Dia terlihat sedikit berlari keluar pagar entah mencari apa, namun tidak lama ia kembali lagi.
"Ini!" Ia menyerahkan beberapa tangkai bunga yang sudah pasti ia petik dari halaman rumahku sendiri, bunga mawar yang setiap pagi ku siram.
"Ini untuk kamu De!" Aku tidak mengambilnya. "Dasar lelaki buaya, kenapa kau memberiku bunga dan lagi.. Ah," aku bahkan tidak bisa berkata apa-apa, perkataan itu hanya sampai tenggorokan dan aku hanya membeku ditempat.
Karna aku hanya diam saja, ia menyelipkan bunga itu kedalam tas hitam, sebelum ia pergi dan mengucap salam. Aku hanya bisa menggigit bibirku.
Setelah malam tiba, aku menanyakan pada Abi, apa isi tas hitam itu?. Tidak ada yang special, hanya makanan dari Pak RW yang di titipkan pada Syakir. Katanya.
"Dulu Syakir anak yang nakal dan suka ngejar-ngejar kamu." Entah kenapa Abi malah terkekeh membahas anak itu. "Setelah menetap di Kairo ia jadi banyak berubah." Kairo, aku bahkan baru tau sekarang.
"Anak itu sudah dewasa, kapnya dia akan menikah."
Tidurku kembali tidak nyaman, karna mengingat perkataan Abi, aku tidak berani banyak bertanya, meski hati dan pikiranku tengah ramai sekarang. Namun aku tau satu hal.
Ngaji subuh telah usai, akupun kembali kerumah, namun di perjalanan pulang, panggilan yang tidak asing kembali terdengar.
"Ade mais, lucu banget si." Merasa tidak asing, akupun berbalik, entah keberanian dari mana, aku menarik sorban A Syakir.
Aku tidak sadar dengan sekitar. "De kita mau kemana?" aku tetap menarik sorban A Syakir.
"Ke KUA!"
"Aa belum mapan de!"
"Nunggu mapan kelamaan, sambil berjalan aja!"
"Aa belum siapin mas kawin!"
"Semampunya aja!"
"Aa belum siap .."
"Nunggu siap, keburu diembat orang! Lagian, siapa suruh, bikin baper dari dulu!"
Syakir malah terkekeh.
Ia tidak ingin menjelaskan apa-apa lagi. Hanya pasrah.
Cerpen ini saya dedikasikan untuk 'RUMAH MENULIS'