Halo! Perkenalkan, namaku Yaya. Ini adalah kisahku—bertemu dengan dia. Seseorang yang memberiku arah, tujuan hidup yang selama ini tidak kusadari.
***
Sejak kecil aku tahu… aku selalu berbeda.
Bukan karena aku merasa istimewa, tetapi karena orang-orang memperlakukanku berbeda, seolah aku bukan bagian dari mereka. Aku cepat paham. Terlalu cepat, kata beberapa guru. Multitalenta, kata orang tua. Selalu ceria, kata teman-teman—setidaknya yang masih menyapaku.
Aku tertawa lebih sering daripada yang seharusnya. Tawa yang ringan dan mudah, seperti refleks. Agar orang-orang tidak merasa terancam oleh nilai ujianku, oleh caraku menyelesaikan soal sebelum mereka selesai membacakan pertanyaan.
Namun, ada hari-hari ketika aku duduk sendirian di bangku paling depan. Aku menoleh ke belakang—melihat kelompok-kelompok kecil terbentuk tanpa pernah memanggil namaku. Sejenak aku termenung, bertanya-tanya dalam benakku.
Apakah ada yang salah denganku?
Perlahan aku mulai mengerti. Tatapan mereka—tak ada kebencian. Mereka hanya… tidak ingin mengundangku. Seolah aku berada di dunia lain yang tak sepenuhnya bisa mereka masuki.
Aku berkata pada diriku sendiri bahwa itu tidak apa-apa. Aku punya buku. Aku punya pena. Aku punya hal-hal yang bisa kupelajari kapan saja. Namun, ketika bel pulang berbunyi, semua orang pergi membentuk kelompok dengan yang lain. Sedangkan aku—tetap sendirian.
Saat itulah aku bertemu dengannya—Artha.
Ia duduk di barisan paling belakang, dekat jendela. Tidak banyak bicara. Tidak tertawa saat orang lain tertawa. Tidak berusaha menyesuaikan diri. Wajahnya tenang, nyaris dingin, seperti seseorang yang tidak punya waktu untuk hal-hal yang tidak penting.
Aku menyapanya lebih dulu, tentu saja. Itu kebiasaanku.
“Hai. Kamu mengerti bagian ini nggak?” tanyaku, sambil menunjuk catatannya.
Ia menoleh sebentar. “Tentu saja.”
Jawabannya singkat. Tidak kasar. Tidak ramah. Aku tersenyum, tidak tersinggung. Aku sudah terbiasa dengan hal itu.
Sejak hari itu, entah bagaimana, kami sering berada di tempat yang sama. Perpustakaan. Ruang belajar. Sudut kelas yang sepi. Aku mengajaknya berdiskusi. Ia menjawab seperlunya. Tidak pernah bertanya balik, tidak pernah memuji, dan tidak pernah menunjukkan kekaguman.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa… tidak istimewa.
Aku baru menyadari ada sesuatu yang menggangguku: ia bisa menyaingiku. Bahkan, di beberapa hal, ia melampauiku. Bukan dengan kecepatan, melainkan dengan kedalaman. Ia lambat, tetapi pasti. Setiap langkahnya terarah—jelas. Setiap kesalahannya disengaja, seolah ia tahu apa yang ingin ia pelajari dari kegagalan itu.
Aku mulai sering kalah. Dan bagiku… itu sesuatu yang baru.
Aku tertawa seperti biasa. Membuat lelucon saat jawabanku salah. Mengangkat bahu seolah tidak peduli. Namun, di dalam dadaku, ada sesuatu yang mulai retak perlahan—meski aku tidak menyadarinya.
Suatu sore, kami belajar bersama lebih lama dari biasanya. Matahari sudah condong ketika aku akhirnya bertanya, tanpa bercanda.
“Kenapa kamu bisa sejauh ini?”
Ia tidak langsung menjawab. Menatap bukunya, lalu menutupnya dengan tenang.
“Karena aku memilih.”
Aku mengernyit. “Memilih?”
Ia menatapku lama. Tidak tajam. Tidak menghakimi. Tatapan yang jujur.
“Ya. Memilih arah.”
Aku tertawa kecil, refleks. “Aku juga belajar banyak hal, kok.”
Ia menggeleng pelan. Lalu mengucapkan kalimat yang menghentikan semua tawaku.
“Kamu bisa melakukan apa saja,” katanya, “tetapi kamu tidak memilih apa pun. Kamu tidak punya arah yang jelas.”
Kalimat itu terucap pelan dari bibirnya. Namun rasanya seperti menghantam dadaku dengan keras. Ada lubang yang tiba-tiba terbuka di dalam diriku. Aku tidak mampu membalas. Tidak bisa. Untuk pertama kalinya, aku tidak tahu harus tertawa seperti apa.
Aku pulang lebih cepat hari itu.
Malamnya, aku duduk di depan meja belajarku, menatap tumpukan buku yang selama ini menjadi simbol kebanggaanku. Aku menyadari sesuatu yang selama ini kuabaikan: aku belajar untuk diakui. Untuk dipuji. Untuk dianggap cukup. Aku tidak pernah bertanya pada diriku sendiri apa yang sebenarnya ingin kukejar.
Aku tidak pernah gagal karena aku tidak pernah benar-benar memilih. Aku selalu mengambil jalan yang paling aman, paling mudah, paling bisa membuat orang lain berkata, “Kamu hebat.”
Dan di situlah lubang itu berada.
Aku menjauh darinya beberapa waktu. Bukan karena marah. Bukan karena benci. Aku hanya perlu ketenangan. Aku perlu waktu untuk menerima bahwa keceriaanku selama ini adalah cara untuk bertahan, bukan tanda kebahagiaan.
Ketika aku kembali, ia tidak menyambutku dengan hangat. Ia hanya mengangguk, seperti biasa.
“Aku belum tahu tujuanku,” kataku jujur.
“Tetapi aku ingin mencoba memilih.”
Ia menatapku sejenak, lalu menggeser bukunya. Memberi sebuah ruang.
Sejak itu, kami sering belajar bersama lagi. Tidak lebih dekat ataupun lebih jauh. Tidak ada janji manis, tidak ada kata-kata romantis. Hanya usaha yang konsisten.
Aku mulai gagal. Mulai merasa ragu. Mulai berhenti tertawa saat tidak perlu. Justru karena itu, aku merasa ini lebih hidup.
Aku tidak tahu sejak kapan perasaanku berubah. Mungkin saat aku menyadari ia selalu ada, tanpa mencoba mengubahku. Mungkin saat ia mengoreksi jawabanku tanpa merendahkanku. Atau saat aku sadar bahwa ia tidak pernah melihatku sebagai anak spesial—hanya sebagai seseorang yang akhirnya mulai berjalan dan memiliki arah.
Romansa kami tidak pernah diucapkan. Ia tumbuh di sela-sela buku, di antara jejak tinta di atas kertas, di dalam sunyi yang tidak canggung.
Aku tidak lagi ingin menjadi anak yang paling pintar. Aku hanya ingin menjadi diri sendiri—lebih jujur.
Untuk pertama kalinya, aku tahu ke mana aku harus melangkah—dengan seseorang yang memilih berjalan di sampingku, bukan di belakang atau di depanku.
Kesempatan baru itu tidak datang dalam bentuk cinta yang dramatis. Ia datang sebagai penunjuk arah, memberiku keberanian untuk memilih.
Genre : Romansa, Remaja
Cerpen ini untuk Event GC Menulis