Aku bukanlah seorang gadis murahan hanya karena menerima cinta seseorang yang mencintaiku. Kau tidak bisa menghakimiku dengan kata-kata seperti itu wahai orang gratisan.
.
.
.
Aku menyusuri koridor sekolahku, melihat semua teman-teman laki-laki ku yang sedang bermain bola di bawah sana. Kulihat di perpustakaan tidak ada siapapun hanya ada penjaga perpustakaan saja, aku mengunjunginya bukan berniat untuk membaca akan tetapi melepas penatku selama setengah hari ini belajar. Aku tiba disana, aku mendudukan diriku diatas kursi. Kemudian aku melipat kedua tanganku sebagai bantal untukku tidur. Dan akhirnya aku tertidur nyeyak sekali.
Ketika aku membuka mata, aku sudah berada di padang pasir. Ada seorang pangeran berkuda putih yang sedang menungguku disana. Dia tersenyum padaku sungguh manis sekali, aku terpana karena senyumannya itu. Aku berlari menghampiri pangeran tampanku. Angin yang berhembus menerpaku menambah kesan indah pada diriku. Saat aku tiba aku membalas senyumnya. Kemudian dia memangku diriku menaikanku keatas kuda putih itu, tak lama setelah aku duduk diatas punggung kuda itu dia pun naik dan kita berdua sudah menunggangi kuda putih tersebut. Dia menarik tali kekangnya untuk memberi isyarat pada si kuda segera berjalan. Dan kami berdua mulai mengelilingi padang pasir tersebut. Sungguh suasananya sangat indah sekali dan aku sangat menyukainya.
Hari sudah menjadi sore dia membawaku untuk melihat matahari terbenam, laki-laki itu memelukku dari belakang bersama-sama menikmati indahnya senja sore hari. Tak lupa angin tetap berhembus menerpa kami.
Kemudian aku merasa ada seseorang yang berusaha merusak momen indah kami. Tapi aku tak peduli, pelukannya membuatku sangat nyaman sekali.
Entah datang dari mana tiba-tiba angin berhembus sangat kencang membawa serta merta pasir yang ada di padang pasir tersebut. Aku menutup mataku dengan tangan berusaha menahan pasir tersebut agar tidak memasuki mataku. Namun ketika badai itu hilang, aku tidak lagi mendapatkan sosok sorang laki-laki tersebut dan kuda putihnya. Aku sorang diri. Betapa pilu rasanya ditinggalkan oleh orang yang aku sayangi, aku terkulai lemas dan menangis.
Saat kesepian melanda tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggilku..
"Dinara..."
"Dinara..."
"Hah.." Aku terkejut, aku terbangun dari tidurku.
"Ahk.. Ternyata semua itu hanyalah mimpi.." gumamku sendu.
Kemudian aku melirik pada orang yang sudah mengganggu tidurku. Aku ingin marah padanya, aku kesal karena mimpiku sudah dirusak olehnya. Tapi bagaimanapun aku memang salah tidak seharusnya aku tidur di jam sekolah seperti ini.
"Ada apa ?" tanyaku dengan masih malas.
Dia menjawab bahwa ada seorang laki-laki sedang mencariku dan saat ini dia menungguku di lapangan basket. Aku pun terkesiap, 'Siapa yang mencariku ?' adalah kalimat yang memenuhi otakku.
Lalu akupun mengikuti seseorang pengganggu mimpiku itu. Selama perjalanan aku bertanya kepadanya, "Siapa dia ? Apa aku pernah membuat kesalahan padanya ?" Namun dia hanya menggeleng. "Aku tak bisa menjawab pertanyaanmu, kau lihat saja nanti." Begitulah jawabnya.
Akupun kesal mendapatkan jawaban seperti itu, "Sok misterius sekali sih" gerutuanku dalam hatiku.
Tetapi meski begitu aku terus mengikutinya, dan kini kamipun sudah tiba di lapangan basket. Tidak ada siapa-siapa disana sepi sekali. Akupun meliriknya dengan tatapan marah. " Apa kau mencoba mempermainkanku ?" ucapku dengan berdecak pinggang.
"Tidak sungguh aku tidak membohongimu ?" jawabnya. Raut wajahnya sudah menunjukan ketakutan.
Sayup-sayup aku mendengar suara sebuah petikan gitar. Dan munculah seorang laki-laki tampan bintang sekolah membawa gitar. Dia bernyanyi, entah aku tidak tahu judulnya karena dia menyanyikan lagu berbahasa asing. Akan tetapi aku sangat menikmati suara merdunya itu.
Dia menghampiriku, mengelilingku dan menatapmu, sedangkan aku yang sudah terpana, merasa terhipnotis karena kehadirannya. Akupun mengikuti arahan tatapannya itu.
Sampai akhirnya dia menyudahi lagunya itu. Dia memberikan gitar itu pada seseorang yang sudah mengganggu tidurku tadi dan dia memberiku satu tangkai bunga mawar merah segar yang sedari tadi ada di saku belakang celananya.
Dia berlutut tetapi matanya tetap lekat memandang mataku. Aku terkesima dibuatnya. Kemudian dia berkata, "Dinara, aku menyukaimu. Maukah kau menjadi pacarku ?"
Seketika wajahku menjadi termenung, "Apakah dia sedang mengungkapkan perasaannya kepadaku atau dia sedang bermain-main kepadaku ?"
Aku menatapnya kembali kali ini lebih lekat daripada dirinya, melalui pandanganku aku bertanya kepadanya "Sungguh ?" hanya kata itulah yang ada dipikiranku saat ini.
Seakan dia mengerti akan arti dari tatapanku itu diapun langsung tersenyum dan berkata, " Sungguh aku sangat menyukaimu. Tolong terimalah aku, jadilah pacarku."
"Ya aku mau menjadi pacarmu" jawabku langsung tanpa mempertimbangkan hal lainnya.
Dan akhirnya kami berpacaran mulai dari detik itu juga. Aku sangat senang berpacaran dengan seorang bintang sekolah. Pintar, tampan juga populer hal itu sudah mendarah daging dalam dirinya. Dan sebelum dia menembakku aku sudah jatuh cinta padanya. Akan tetapi itu bukanlah suatu anugrah melainkan sebuah masalah.
Ternyata laki-laki tampan yang kini menjadi pacarku itu adalah mantan kakak kelasku. Mereka baru dua hari berputus dari hubungannya dan sehari kemudian laki-laki itu mengungkapkan rasa sukanya kepadaku. Apa lacur aku tahu itu ketika aku sudah menjadi pacar mantannya.
Semua teman-temannya juga teman-temanku menggunjingkan aku baik dibelakang maupun didepan ku sendiri. Tetapi aku memilih bersifat masa bodo, aku tidak ingin mendengarkan ucapan mereka. Ibarat kata 'Anjing menggonggong kapilah berlalu' itulah motivasiku.
Seiring berjalannya waktu aku semakin dekat dengan pacarku, aku sangat mencintainya begitupun dengan dia yang juga sama sangat mencintaiku.
Ah meski dua bulan kami berpacaran tapi tetap saja masih banyak orang yang membenci hubungan kami, sampai suatu hari ada salah seorang kakak kelasku yang juga teman dari pacarku berbicara padaku.
"Sungguh kamu ini wanita murahan, baru saja ditembak kamu langsung menerimanya tanpa pertimbangan dan tahu dia itu mantan pacar siapa ?"
Perkataannya membuatku geram. Aku pun marah kepadanya, kutanyakan padanya apa maksud dari perkataannya itu yang mengatakan aku wanita murahan hanya karena langsung menerimanya. Aku juga menyukainya untuk apa aku menolaknya ? Begitu perkataanku dan dia tidak menjawab apa-apa.
Aku kira masalahnya sudah sampai disini saja nyatanya tidak. Berbondong-bondong orang dengan beraninya menggunjingkan aku, mengataiku dengan kata-kata kasar pelakor, wanita murahan, tukang nyosor dan masih banyak yang lainnya.
Akhirnya akupun lelah dengan hubungan ini. Aku meminta temanku untuk segera mempertemukan aku dengan pacarku itu. Dan ya kami sudah bertemu ditempat dimana dia menyatakan perasaanya kepadaku.
Tanpa basa-basi lagi aku langsung mengatakan bahwa aku ingin putus darinya. Dia terkejut dengan keinginanku itu, dia memohon kepadaku dia tidak ingin putus dariku. Tapi aku sudah kehilangan kesabaranku. Aku tetap ingin putus darinya dan dengan berat hati diapun mengiyakan keinginanku itu. Kami sudah tidak ada hubungan lagi.
Semuanya sudah redup tidak ada lagi gosip tentangku, mereka sudah berhenti membicarakanku. Kupingku sedikit dingin dan tenang tanpa adanya perkataan-perkataan buruk dari mereka tentangku.
Sampai suatu hari salah satu temanku memberi tahuku tentang mantan pacarku itu. Ternyata dia sudah berpacaran dengan temannya yang mengataiku sebagai wanita murahan. Dan kabarnya bawa perempuan itu yang sudah menembaknya terlebih dahulu.
"Cih.." Aku berdecih dan tersenyum kecut mendengarnya. Oh jadi ini maksudmu mengataiku dan menggunjingkan aku selama ini, ternyata aku lebih baik darimu, batinku saat itu.
Tak lama aku berpapasan dengannya, tanpa ragu dan takut lagi aku menghampirinya dan setengah berbisik kepadanya, " Aku bukanlah seorang gadis murahan hanya karena menerima cinta seseorang yang mencintaiku. Kau tidak bisa menghakimiku dengan kata-kata seperti itu wahai orang gratisan." Akupun langsung pergi meninggalkannya dengan raut wajah yang sudah merah padam. Sepertinya dia benar-benar marah dengan perkataanku itu.
Setelah mengatakan itu semua tak ada kepuasan sekalipun dalam diriku hanya sedikit ketenangan saja. Hatiku sakit menerima kenyataan ini tanpa sengaja aku teringat kepada mimpiku kala sebelum aku menjadi pasangannya.
Aku sedikit tersenyum simpul mengingatnya. Mimpi itu sama seperti kehidupanku sekarang. Mungkinkah itu pertanda ? Jika saja aku tidak melepasnya untuk melindungi diriku sendiri pasti aku tidak akan pernah merasakan kesepian karena kehilangannya..
TAMAT
Hallo kakak-kakak semua ini karya cerpenku yang pertama. Semoga suka ya ! Sebelumnya di Noveltoon ini aku punya karya novel yang berjudul ABCD singkatan dari Antara Benci Cinta & Dendam.
Mengisahkan tentang cinta segi empat, dan salah seorang dari mereka dijodohkan dengan orang yang sangat dicintainya. Tapi ini adalah cinta segi empat. Tentu saja orang yang dicintainya itu tidak mencintainya. Mm.. apa kakak penasaran bagaimana akhirnya yuk baca sekarang juga. Terimakasih semuanya 👋