Bau kemenyan dan bunga tujuh rupa masih menempel di setiap serat gorden ruang tengah. Sudah hari ketujuh sejak Tanya Utami (Tami) dikubur, dan Hadi Pramono menyadari bahwa ia menghabiskan waktu seminggu penuh bukan untuk merenungkan kepergian sang istri, melainkan untuk menghitung. Bukan menghitung hari-hari tanpa Tami, melainkan menghitung angka nol yang seharusnya segera pindah dari rekening perusahaan asuransi ke rekeningnya. Sebanyak dua belas miliar rupiah. Angka itu terasa begitu padat, begitu nyata, hingga membuat lubang kekosongan yang ditinggalkan Tami terasa jauh lebih kecil, sekadar titik hitam yang bisa diabaikan.
Hadi duduk di sofa beludru biru navy yang dulu dipilih Tami... 'sebuah pemborosan' pikirnya, karena harganya setara dengan tiga bulan cicilan mobil_ sambil menyalakan laptop. Jemarinya menari-nari di atas tombol refresh kotak masuk email. Keheningan rumah terasa berat, hanya dipecah oleh suara pendingin ruangan yang mendesah lelah, seperti kerongkongan tua yang harus terus dipaksa bekerja di tengah panas Jakarta yang brutal.
“Datanglah,” bisik Hadi, matanya menyipit, memandangi logo SureLife Assurance yang terpampang di sisi layar, “Kau berutang padaku, Mami!”
Tami adalah panggilan sayang yang sudah lama mereka lupakan cara mengucapkannya dengan tulus. Dalam lima tahun terakhir pernikahan mereka, panggilan itu lebih sering menjadi awalan untuk serangkaian keluhan atau sekadar penanda bahwa salah satu dari mereka membutuhkan korek api atau remot TV.
Email itu akhirnya muncul. Judulnya steril dan kaku: Pembaruan Klaim Polis Jiwa No. JLS-044-Tami-W. Jantung Hadi berdetak lebih cepat. Bukan karena rindu atau duka, tetapi karena adrenalin murni seorang penjudi yang melihat mesin slotnya mulai berputar. Dia menarik napas panjang, menahan aroma parsel duka cita yang terlalu manis, lalu meng-klik...
Hadi membaca cepat. Terima kasih atas pengajuan klaim Anda. Kami telah menyelesaikan Penilaian Kualitas Hidup Digital berdasarkan Klausul Eksklusif Bahagia Abadi (KEBA) yang tertera pada Polis JLS-044-Tami-W. Kami menyesal memberitahukan bahwa klaim Anda DITOLAK.
Ditolak. Kata itu menampar Hadi seperti lap basah. Ditolak?! Ini bukan asuransi mobil yang lecet, ini asuransi jiwa! Tami sudah mati, itu adalah bukti fisik paling konklusif bahwa polis harus cair. Kematian adalah 100% peristiwa yang dipertanggungkan. Dia memiringkan kepalanya, berpikir mungkin ini hanya kesalahan birokrasi, atau salah ketik.
Dia membaca ulang, lebih lambat, membiarkan setiap kata dingin itu meresap ke dalam sumsumnya. Baris demi baris, matanya meluncur ke bagian penjelasan yang diketik dalam font Times New Roman 11pt yang terasa kejam.
Dasar penolakan: Klausul Eksklusif Bahagia Abadi (KEBA) mensyaratkan bahwa mendiang Tertanggung harus menunjukkan Skor Kebahagiaan Digital rata-rata (SKD) sebesar 95% atau lebih, selama 36 bulan terakhir masa pertanggungan. Dengan kata lain, data digital yang terintegrasi (log sentimen media sosial, riwayat transaksi, pola tidur, dan log detak jantung) tidak boleh menunjukkan penderitaan terukur yang melebihi ambang batas 5% secara kumulatif.
Hasil audit kami menunjukkan SKD Nyonya Tami Wardhana adalah 88.5%. Ini berarti, terdapat defisit kebahagiaan sebesar 6.5%, yang secara teknis, membatalkan seluruh kewajiban pembayaran polis.
Hadi tertawa. Tawa kering yang tidak mengandung kegembiraan sedikitpun, seperti bunyi daun kering yang terinjak. Ini lelucon. Komedi gelap yang sedang ia bintangi sendirian. Tami, bahkan setelah mati, masih bisa menyulitkannya. Bukan hanya mati, tapi mati dalam keadaan tidak bahagia secara digital.
Dia berdiri mendadak. Sofa beludru itu berdecit. Ia mondar-mandir diantara sofa dan meja marmer. Dua belas miliar bergantung pada 6.5% penderitaan yang Tami simpan di awan digital. Siapa yang pernah membuat polis semacam ini? Tentu saja Tami. Tami selalu menyukai hal-hal eksklusif, hal-hal yang tidak masuk akal, hal-hal yang mengklaim menawarkan ketenangan pikiran paling futuristik.
Hadi meraih ponselnya. Jari-jarinya gemetar, mencari nama kontak: Gunawan. Pak Gunawan, sang agen asuransi, wajahnya selalu datar seperti lembaran kertas A4 yang baru difotokopi. Ia menekan tombol panggil. Dua kali nada sambung, lalu suara bariton yang terlalu tenang terdengar.
“Ya, Pak Hadi?”
“Gunawan, saya baru saja mendapat email. Apa-apaan ini 88.5%?! Maksudmu, Tami harus mati sambil tersenyum ke kamera Instagramnya agar polis ini cair?” tanya Hadi, suaranya naik dua oktaf.
Gunawan menghela napas, napas yang terdengar terukur, seolah-olah ia sudah menghitung jumlah udara yang diizinkan untuk dikeluarkan dalam setiap interaksi profesional, “Kami turut berduka, Pak. Namun, klausulnya sangat jelas. Kami menjamin kehidupan, bukan hanya kematian. Tami memilih polis Vivere Felix, polis yang menuntut bukti kebahagiaan terverifikasi!”
“Verifikasi apa? Dia depresi, Pak Gunawan! Saya bisa bilang dia depresi! Dia minum obat tidur setiap malam selama dua tahun terakhir!” Hadi menjeda, menyadari ia baru saja memberikan bukti kontra-produktif.
Gunawan mencatat, suara ketukan keyboard terdengar pelan, “Justru itu, Pak. Log tidur Nyonya Tami menunjukkan rata-rata hanya 4 jam 12 menit per malam. Itu sangat mempengaruhi SKD-nya. Kami juga memiliki log sentimen dari feed media sosialnya. Meskipun foto-foto yang diunggah terlihat ceria, algoritma kami mendeteksi konsentrasi kata negatif yang signifikan dalam kolom komentar, postingan yang diarsipkan, dan, yang paling penting, log pencarian pribadinya. Penderitaan digital terdeteksi melalui pola belanja yang kompulsif antara jam 2 hingga 4 pagi.”
Hadi menyenderkan punggungnya ke dinding, pandangannya kosong menatap foto pernikahan mereka yang tergantung miring. Foto yang diambil empat tahun lalu, dimana Tami tersenyum dengan rahang yang tegang, dan Hadi berusaha keras terlihat seperti pria yang baru saja memenangkan lotre, padahal ia hanya menandatangani kontrak sewa rumah.
Ya, Tami sering depresi. Pernikahan mereka seperti dua jalur kereta api yang berjalan paralel—tidak pernah bertemu, hanya saling menyaksikan saat melewatinya. Tami mengisi hari-harinya dengan yoga panas, anjing kecil yang cemas, dan berbelanja tas mahal. Hadi mengisi hari-harinya dengan pekerjaan, pekerjaan, dan menjauh dari Tami.
“Dengar, Gunawan,” kata Hadi, kini suaranya kembali datar, pragmatis. Kejutannya sudah berlalu, digantikan oleh perhitungan dingin, “Apa yang harus saya lakukan untuk menaikkan skor 6.5% itu? Tami sudah meninggal. Dia tidak bisa tiba-tiba mengunggah foto dirinya sedang tertawa terbahak-bahak di Pulau Dewata, kan?!”
“Tentu saja tidak, Pak Hadi. Data sudah terkunci, dienkripsi, dan diverifikasi oleh pihak ketiga,” jawab Gunawan cepat, “Namun, ada satu pengecualian kecil dalam klausul. Jika Anda sebagai ahli waris dapat menyediakan bukti naratif dan digital yang belum dimasukkan, bukti yang secara definitif dan mutlak menunjukkan Momen Kebahagiaan Puncak yang dapat mengimbangi defisit 6.5% tersebut, kami akan melakukan peninjauan ulang!”
“Momen Kebahagiaan Puncak?”
“Ya. Kenangan yang paling kuat, paling bahagia, yang entah bagaimana, luput dari sensor digital kami. Misalnya, sebuah surat cinta yang baru ditemukan, atau_ dan ini yang paling kami sukai... sekumpulan foto liburan yang belum sempat diunggah ke media sosial karena terlalu intim untuk publik. Foto-foto yang harus menunjukkan keintiman, kepuasan, dan... mohon maaf jika saya harus mengatakannya 'kehidupan ranjang yang sehat'. Data kebahagiaan non-digital yang bisa kami digitalisasi!”
Hadi memejamkan mata. Kenangan mereka? Kenangan terkuat yang ia miliki adalah saat Tami melempar vas bunga ke arahnya karena ia lupa membeli kopi favorit Tami. Kenangan bahagia yang luput dari sensor digital? Itu karena memang tidak ada yang perlu luput. Kebahagiaan mereka hanya sebatas postingan yang dipaksakan di Instagram untuk menjaga reputasi sosial.
“Baik,” kata Hadi. Suara seraknya kini mengandung sedikit tekad. Bukan tekad seorang duda yang ingin menghormati mendiang istrinya, melainkan tekad seorang insinyur yang menghadapi masalah pemrograman yang rumit, “Jadi, saya harus memalsukan kebahagiaan istri saya yang sudah meninggal demi mendapatkan dua belas miliar?”
Terdengar Gunawan berdeham di seberang telepon, “Kami lebih suka menyebutnya... Pak, ‘merekonstruksi realitas digital yang terlewatkan.’ Saya akan mengirimkan daftar persyaratan data yang harus Anda sediakan. Saya akan menunggunya, Pak Hadi. Dan saya ingatkan, kami memiliki tim forensik digital yang sangat mumpuni. Jangan coba-coba memalsukan tanggal metadata!”
Hadi memutuskan sambungan tanpa mengucapkan selamat tinggal. Dia menatap laptopnya. Layar itu memantulkan wajahnya yang tampak pucat dan lelah. Dibalik kelelahan itu, ada kilatan ide yang dingin dan brilian. Tentu saja, Gunawan. Dia tidak akan memalsukan tanggal metadata. Itu terlalu bodoh. Hadi adalah seorang ahli manipulasi data, dia bekerja di bidang keamanan siber. Dia tahu cara memanipulasi jejak digital jauh lebih baik daripada tim forensik SureLife Assurance. Tami ingin kebahagiaan digital? Dia akan memberikannya. Dia akan memproduksi kebahagiaan terbesar yang pernah ada, kebahagiaan yang begitu bombastis hingga bisa menenggelamkan 6.5% kesedihan, dan bahkan mungkin, 65% kesedihan yang sesungguhnya.
Tugas pertama: membuat Tami terlihat seperti wanita paling dicintai di dunia, dimulai dengan tiga foto lama yang paling tidak jelas di album awan mereka.
Tiga foto buram itu menjadi medan pertempuran pertama Hadi. Foto-foto yang diambil lima tahun lalu di sebuah pantai yang sepi, saat mereka baru menikah, dan ironisnya, saat kebahagiaan mereka mulai menguap. Wajah Tami disana tampak lelah, senyumnya tipis. Hadi menghabiskan tiga hari untuk memolesnya. Dia tidak hanya memperbaiki resolusi; dia menyuntikkan kehangatan. Melalui perangkat lunak restorasi gambar berbasis A.I., Hadi menggeser fokus, memindahkan sumber cahaya, dan yang paling krusial, ia mengubah mikro-ekspresi Tami. Mata yang tadinya mencerminkan kecemasan kini sedikit menyipit karena tawa. Bibir yang tadinya menegang kini melengkung keatas, seolah terkejut karena momen intim yang tiba-tiba tertangkap kamera. Tiga foto tersebut diunggah ke sebuah server awan pribadi yang diatur seolah-olah baru saja diakses dari hard drive usang yang ditemukan di gudang!"
Proyek itu berkembang menjadi operasi rekonstruksi realitas berskala penuh. Hadi menciptakan dua 'liburan tersembunyi' baru: perjalanan mendaki Bromo yang tidak pernah terjadi dan akhir pekan romantis di Bali yang hanya ada dalam brosur. Untuk Bromo, Hadi membeli stok foto berkualitas tinggi dari pegunungan berpasir dan menggunakan teknik deepfake yang halus untuk menanamkan bayangan Tami dan dirinya, memastikan komposisi cahayanya identik. Ia menuliskan 'entri jurnal' Tami, mencetak digital pada template kertas kuno, lalu memotretnya dengan iPhone lama Tami (yang untungnya tidak pernah ia reset). Isinya penuh dengan deskripsi rinci tentang 'dinginnya pagi yang dihangatkan oleh pelukan Hadi' semua omong kosong romantis yang ia baca di cerpen-cerpen populer, dipadukan dengan istilah teknis internal yang hanya Tami dan dia yang tahu, sebagai bukti otentisitas.
Aspek yang paling menjijikkan adalah data intim. SureLife, melalui Gunawan, telah menuntut bukti 'kehidupan ranjang yang sehat'. Hadi adalah seorang insinyur, bukan peramal, tapi ia memiliki akses ke semua data biometrik Tami. Menggunakan server pribadinya, ia mengalirkan data tidur palsu. Malam-malam yang sebelumnya ditandai dengan detak jantung tinggi dan siklus tidur REM yang terganggu (indikator stres dan depresi) kini diganti dengan grafik yang mulus dan dalam. Ia memasukkan lonjakan endorfin palsu tepat setelah waktu tengah malam, diikuti oleh siklus tidur lelap yang panjang. Ia bahkan menyinkronkan data ini dengan riwayat penelusuran Tami, yang menunjukkan bahwa Tami menelusuri 'resep kue favorit Hadi' pukul 00:30, menyiratkan kehangatan rumah tangga setelah momen pribadi.
Hadi bekerja selama tiga minggu tanpa tidur nyenyak. Ia tidak lagi melihat Tami sebagai istrinya, atau bahkan sebagai mayat yang harus ia hormati. Tami adalah sebuah proyek. Sebuah bug yang harus diperbaiki. Setiap kali ia berhasil memalsukan senyuman atau menstabilkan detak jantung digital Tami, ia merasakan kepuasan yang dingin... kepuasan seorang peretas yang telah menjebol sistem yang seharusnya tidak bisa ditembus. Ironisnya, dalam upayanya menciptakan ilusi kebahagiaan, Hadi sendiri menjadi semakin terasing dan mati rasa.
Puncaknya adalah 'Surat Cinta yang Ditemukan'. Hadi membutuhkan sentimen emosional yang tinggi, non-digital, dan personal. Ia memalsukan sebuah surat tulisan tangan Tami yang ditujukan kepadanya, tersembunyi dibalik bingkai foto lama. Isi surat itu meluap-luap: pujian puitis, janji kesetiaan abadi, dan yang paling penting, pengakuan bahwa 'Data Kebahagiaan Digital' Tami tidak akan pernah bisa menangkap kedalaman kebahagiaan sejati mereka, karena kebahagiaan mereka terlalu besar dan personal untuk sensor.
Hadi menyadari bahwa keindahan dari kebohongan ini adalah bahwa kebohongan itu memvalidasi klausal SureLife itu sendiri. Ia menciptakan bukti bahwa Tami menyembunyikan kebahagiaannya. Hadi menggunakan tangan kirinya untuk menulis (meski ia kidal), meniru kemiringan tulisan Tami yang ia hafal dari catatan belanja selama sepuluh tahun, menambahkan sedikit getaran agar terlihat otentik. Ia lalu memfoto surat itu dengan cahaya redup, menambahkan cap waktu digital yang kredibel, dan menyematkannya diantara 400 file data lain yang ia beri label 'Tami_Happiness_Legacy_Final.zip.' Total ukuran file: 4.7 GB, kebahagiaan yang sangat padat.
Hadi mengirimkan data tersebut. Sunyi selama dua minggu. Keheningan itu lebih menakutkan daripada tuduhan. Gunawan pasti sedang membongkar setiap byte. Hadi menghabiskan hari-harinya di sofa, menatap dinding kosong. Ia telah memproduksi kehidupan Tami yang sempurna. Ia telah menghabiskan waktu lebih banyak untuk 'membahagiakan' Tami yang sudah mati daripada Tami yang masih hidup.
Telepon berdering. Nomor SureLife. Hadi menarik napas dalam-dalam, “Halo, Pak Gunawan,”
“Selamat pagi, Pak Hadi. Data Anda luar biasa. Tim kami telah selesai melakukan audit forensik. Bisakah Anda datang ke kantor kami besok pagi? Ada beberapa hal yang perlu kami konfirmasi secara langsung!” Suara Gunawan datar, tanpa emosi yang bisa dianalisis.
Keesokan harinya, Hadi duduk di ruangan SureLife yang dilapisi kaca. Meja Gunawan terbuat dari marmer hitam pekat, memantulkan lampu sorot yang dingin. Gunawan meletakkan sebuah folder tebal diantara mereka. Labelnya: KLAIM POLIS S.L. 4402 – HASIL AKHIR AUDIT DIGITAL BLISS.
“Kami harus mengakui, Pak Hadi, bahwa Data Kebahagiaan Digital yang Bapak sediakan telah mengubah lanskap kasus ini secara drastis,” Gunawan memulai, menyilangkan tangan di depan dada, “Sebelumnya, skor DKB-Tami berada di 6.5% kesedihan. Diluar ambang batas kami. Data yang Bapak kirimkan... foto-foto intim Bromo, log tidur yang diperbaiki, jurnal-jurnal yang baru ditemukan. Hingga, yang paling kami hargai, bukti keintiman non-digital—secara kolektif telah menurunkan skor kesedihan ke angka yang... mengejutkan,”
Gunawan berhenti sejenak, tatapannya menembus Hadi. “Skor DKB-Tami yang baru, setelah dikalkulasi ulang dengan mempertimbangkan semua data otentikasi, adalah 98.4% kebahagiaan!”
Hadi merasakan aliran darahnya memanas. Kemenangan. Itu adalah angka yang sangat sempurna. Terlalu sempurna!
“Selamat, Pak Hadi. Klaim Anda disetujui!” Gunawan mengambil pena, seolah siap menandatangani dokumen miliaran dolar itu, “Namun, saya memiliki satu pertanyaan. Pertanyaan dari tim forensik kami, yang tidak memengaruhi klaim ini, tetapi hanya untuk memahami...”
“Tanyakan saja,” Hadi memotong, suaranya sedikit serak karena kelegaan yang tiba-tiba.
Gunawan membuka folder. “Surat Cinta yang Ditemukan di balik bingkai foto. Itu adalah bukti yang sangat kuat. Naskah otentik Tami, emosi yang meledak-ledak. Kami bahkan melakukan analisis linguistik dan otentikasi meta-data tulisan tangan untuk memastikannya berasal dari Tami,”
“Dan hasilnya?” Hadi menantang.
“Naskah itu adalah miliknya. Tulisan tangan otentik Tami. Namun, setelah tim linguistik kami memprosesnya, kami menemukan sebuah anomali yang sangat menarik. Nada puitis, penggunaan metafora tertentu, dan sintaksis kalimat yang sangat unik dalam surat tersebut—terutama frasa tentang 'kedalaman yang luput dari sensor' seluruhnya... 100%, identik dengan sampel keluaran dari A.I. Generatif Sastra Khusus bernama 'The Sentimentalist' sebuah program yang sangat langka dan mahal yang dikembangkan tiga tahun lalu. Program yang, berdasarkan log pembayaran lisensi, hanya dimiliki oleh dua belas orang di Indonesia!”
Jantung Hadi terasa berhenti. Darah mengering di nadinya. Gunawan tidak menuduhnya memalsukan surat itu secara fisik. Gunawan menuduhnya memalsukan emosi Tami menggunakan kecerdasan buatan, lalu menulisnya kembali dengan tangannya sendiri. Itu adalah kebohongan yang jauh lebih dalam dan mengerikan... pengakuan bahwa Hadi bahkan tidak bisa menghasilkan kalimat romantis palsu tanpa bantuan teknologi canggih.
Gunawan tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya, “Dan salah satu dari dua belas orang itu adalah Anda, Pak Hadi. Kami melihat log pengguna Anda, riwayat percobaan dan Anda menggunakan 'The Sentimentalist' secara intensif selama dua minggu terakhir untuk menghasilkan 'narasi nostalgia dan penyesalan mendalam',”
Gunawan menutup folder itu. “Jadi, Bapak menulis surat itu sendiri, memalsukan naskah Tami, tetapi kata-katanya diciptakan oleh A.I. Ini bukan hanya pemalsuan data. Ini adalah pemalsuan jiwa, yang didiktekan oleh algoritma. Sebuah karya seni, jika boleh saya katakan!”
Hadi tidak bisa berkata-kata. Ia telah begitu fokus pada manipulasi data teknis hingga ia melupakan jejak yang paling dasar: jejak kreativasinya sendiri.
“Seperti yang saya katakan, ini tidak membatalkan klaim,” Gunawan melanjutkan, suaranya kembali profesional, “Polis kami didasarkan pada kualitas data kebahagiaan yang disajikan, bukan pada asal emosi tersebut. Bapak telah menyajikan bukti bahwa Tami sangat bahagia, bahkan jika kebahagiaan itu harus diciptakan dengan bantuan milyaran byte dan A.I. Bapak memenangkan taruhan ini. Bapak telah membuktikan bahwa kebahagiaan sejati hanyalah fungsi dari input data yang sempurna!”
Gunawan mendorong selembar kertas ke arah Hadi, sebuah formulir transfer bank, “Dua belas miliar rupiah akan kami transfer hari ini. Selamat, Pak Hadi. Bapak adalah pria kaya yang memiliki istri dengan skor kebahagiaan 98.4%. Sebuah warisan digital yang patut dibanggakan!”
Hadi mengambil pena dan menandatangani, tangannya gemetar. Ia telah menjual semua kejujuran yang tersisa, semua kesedihan yang otentik, demi selembar angka di layar.
Ketika Hadi bangkit hendak pergi, Gunawan memanggilnya sekali lagi, “Satu hal terakhir, Pak Hadi. Bapak sangat bersemangat memperbaiki angka 6.5% itu. Tapi tahukah Bapak? Dalam semua data yang Bapak kirimkan... foto, surat, log biometrik yang direkayasa, ada satu anomali kecil yang tidak kami laporkan. Pada log GPS ponsel Tami, tiga malam sebelum dia meninggal, dia melakukan perjalanan kecil, kurang dari lima kilometer. Perjalanan itu hanya butuh waktu sepuluh menit, dan dia berada di lokasi itu selama dua jam!”
Gunawan menunjuk ke sebuah koordinat di layar di belakangnya, “Tami duduk di depan kantor SureLife Assurance selama dua jam, pada pukul dua pagi, menatap logo kami. Dia tidak melakukan panggilan, tidak mengirim pesan. Dia hanya duduk disana. Data itu tidak memiliki nilai sentimen, jadi kami mengabaikannya,”
Hadi menatap koordinat itu. Tami datang ke kantor asuransi itu, mungkin ingin membatalkan polisnya, atau mengakui depresinya, atau mungkin hanya ingin melihat perusahaan yang memegang nilai kebahagiaannya. Namun, karena data itu pasif, sunyi, dan non-emosional, sistem SureLife mengabaikannya,
“Kami hanya melacak sentimen, Pak Hadi,” Gunawan menyimpulkan, nadanya kini hampir seperti seorang pendeta, “Dan Tami tidak menunjukkan sentimen apapun malam itu. Itu adalah momen paling otentik yang kami temukan, dan yang paling tidak berguna bagi kami. Selamat menikmati kekayaan Bapak!”
Hadi berjalan keluar dari gedung SureLife. Matahari siang terasa tajam dan ironis. Saldo banknya telah bertambah dua belas miliar rupiah. Ia adalah pria paling sukses dalam hal penipuan emosional. Ia telah mengorbankan 6.5% kesedihan Tami yang asli untuk menciptakan 98.4% kebahagiaan Tami yang palsu.
Ia pulang ke rumah yang terasa asing, tempat Tami tidak lagi hadir. Di meja samping tempat tidurnya, ia menemukan benda yang paling ia abaikan selama proses manipulasi data: bingkai foto tempat ia menyembunyikan surat cinta palsu itu. Hadi mencabut bingkai itu, melihat bagian belakangnya. Disana, dibalik lapisan karton tebal, Hadi menemukan sesuatu yang Tami tulis, bukan untuk konsumsi digital, bukan untuk dibaca A.I., dan bukan untuk asuransi.
Itu bukan surat cinta. Itu hanyalah sebuah catatan kecil, ditulis dengan cepat di selembar struk belanja lama, menggunakan pensil, dengan tulisan tangan Tami yang ceroboh dan nyata. Isinya hanya dua baris, tidak ditujukan kepada Hadi, tetapi mungkin kepada dirinya sendiri. Tami menulis:"
'Aku ingin berhenti. Bukan berhenti hidup. Hanya berhenti berpura-pura. Kopi sudah dingin. Hadi tidak akan melihat ini'.
Kata-kata itu, mentah dan menyedihkan, adalah 100% otentik. Tidak ada metafora puitis, tidak ada sintaksis A.I., tidak ada optimisme yang dipaksakan. Hanya kelelahan yang nyata dari seorang wanita yang ingin berhenti berpura-pura. Hadi meremas struk itu di tangannya, merasakan kertas yang rapuh. Ia menyadari bahwa ia baru saja menghabiskan tiga minggu memproduksi kehidupan digital yang bernilai milyaran, sementara kebenaran yang sesungguhnya tersembunyi dibalik selembar kertas receh, tak terlihat oleh sensor manapun dan tak ternilai harganya.
TAMAT