Claudia Jayandra tidak pernah menyangka koridor SMA Semesta pukul enam pagi bisa terasa begitu mengintimidasi.
Suasana sunyi yang biasanya menenangkan, kini justru membuat setiap langkah kakinya terdengar seperti dentum martil yang memekakkan telinga. Ia datang lebih awal bukan karena jadwal piket yang membosankan, tumpukan tugas yang belum usai, atau hukuman dari guru kesiswaan, melainkan demi satu misi rahasia mendebarkan baginya.
Claudia berjalan dengan waspada, tetapi ia berusaha sebisa mungkin tetap terlihat santai agar tidak mengundang kecurigaan jika tiba-tiba berpapasan dengan siapa pun. Tangannya mencengkeram erat tali tas selempangnya, jantungnya berpacu seirama dengan derap langkahnya yang terburu-buru.
Ia menarik napas panjang untuk menenangkan diri saat akhirnya sampai di area loker khusus siswa. Matanya dengan teliti meneliti satu per satu papan nama yang tertempel di pintu-pintu logam tersebut.
Setelah menemukan nama yang dicarinya, Claudia dengan gerakan cepat membuka ritsleting tasnya. Jemarinya merogoh ke dalam, mengeluarkan sebuah kado kecil.
Sebelum beraksi, ia menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan keadaan benar-benar aman dari penglihatan orang lain. Namun, tepat saat jemarinya baru saja hendak menyentuh pintu loker target, sebuah suara serak tiba-tiba memecah kesunyian koridor.
"Pagi, Neng Claudia."
Claudia tersentak hebat hingga hampir menjatuhkan kado di tangannya. Jantungnya serasa melompat ke tenggorokan. Entah datang dari mana, seorang petugas kebersihan sudah berdiri tepat di sampingnya sambil memegang sapu. Dalam kepanikan yang luar biasa, Claudia secara refleks menyelipkan kado kecil itu ke lubang loker di sebelah target aslinya. Ia segera memegang dadanya yang berdegup kencang dan memasang senyum kaku yang terlihat sangat dipaksakan.
"Pa ... pagi juga, Pakde," balasnya pendek, berusaha keras menetralisir kegugupannya yang memuncak. Tanpa menunggu balasan lebih lanjut atau sekadar berbasa-basi untuk mencairkan suasana, Claudia segera memutar tubuh dan melangkah seribu meninggalkan area loker itu.
Claudia memutuskan untuk segera menuju kantin. Ia merasa butuh asupan makanan untuk menenangkan debaran jantungnya yang masih menggila. Lagipula, bel masuk sekolah masih cukup lama.
Perjalanannya kembali terhambat saat ia harus melewati sebuah koridor utama yang mendadak penuh sesak oleh kerumunan siswa yang berkerumun.
Rasa penasaran membawanya menerobos kerumunan itu. Dengan sedikit usaha dan beberapa kali, ia berhasil berdiri di barisan paling depan.
Di sana, di tengah lingkaran manusia yang menonton dengan antusias, tampak Siska Hapsari—salah satu gadis paling populer di SMA Semesta—berdiri dengan wajah memerah karena kombinasi rasa malu dan harap.
Siska tengah menyatakan perasaannya di depan umum. "Jadi, Jendra, maukah kamu menjadi pacarku dan berkencan denganku sepulang sekolah nanti?" tanyanya untuk kedua kalinya dengan suara bergetar.
Target yang mendapat serangan cinta itu adalah pemuda yang kini tengah bersandar santai di dinding: Jendra Gunawan.
Jendra hanya menatap Siska dengan tatapan malas, seolah adegan ini hanyalah rutinitas membosankan baginya.
Di barisan depan, Claudia mendengus pelan. Ia tidak tertarik sedikit pun menyaksikan drama murahan yang menurutnya terlalu berlebihan ini.
Claudia memutuskan untuk berjalan terus melewati Jendra dan Siska.
Saat bayangan Claudia melintas tepat di hadapannya, Jendra tiba-tiba menegakkan badannya. Mata tajam Jendra menangkap sosok gadis itu yang berjalan begitu santai dan acuh di tengah kegaduhan.
"Maaf," ujar Jendra pada Siska secara datar, tepat saat Claudia mulai menghilang di belokan koridor.
Jendra segera menyampirkan tasnya ke bahu dan melangkah pergi. Tetapi, baru beberapa langkah saja, Siska sudah kembali menghadang jalannya dengan wajah keras kepala.
"Aku tidak menerima jawaban ambigu itu, Jendra!" seru Siska dengan suara lantang.
Jendra menatapnya dingin. Hembusan napas lelah keluar dari bibirnya yang tipis. "Aku tidak menerima pernyataan perasaan darimu, jadi aku harap kamu segera minggir dari jalanku," ucapnya dengan kalimat yang menusuk perasaan.
Siska terpaku, hatinya terasa sakit luar biasa mendengar penolakan sejelas itu. Namun, harga dirinya yang tinggi membuatnya masih bertahan. "Tapi ... kamu mau kan kencan denganku?" tanyanya dengan nada putus asa.
"Kalau permintaan itu aku turuti, cepat minggir dari jalanku," jawab Jendra akhirnya agar bisa segera lewat. Siska perlahan menepi, membiarkan Jendra melintas. Hatinya sedikit terobati dengan janji kencan singkat itu, meski ia tahu penolakan Jendra tadi sangatlah telak.
****
Begitu masuk ke dalam kelas, Claudia membawa sisa kegaduhan itu bersamanya. Livia Kusuma, sahabat karibnya, langsung menggeser tempat duduknya mendekat.
"Clau, aku contek PR kamu dong!" ucap Livia sambil menyengir lebar tanpa merasa berdosa. Tanpa drama panjang, Claudia menyerahkan buku tugasnya dari dalam tas.
Sembari menunggu Livia menyalin, Claudia mengeluarkan sketchbook miliknya dan mulai menggambar coretan abstrak untuk membunuh waktu.
"Clau, kamu berhasil melakukannya tadi pagi?" tanya Livia tanpa mengalihkan pandangan dari buku tugas yang sedang ia salin.
"Hmm," jawab Claudia singkat. Akhirnya, dengan suara yang sangat rendah, Claudia menjelaskan bahwa ia berhasil menaruh hadiah tersebut di loker orang yang ia sukai—tidak menceritakan yang dialaminya.
"Harusnya kamu kasih langsung, Clau," komentar Livia setelah mendengar cerita singkat itu. Claudia hanya terdiam, merasa dirinya terlalu pengecut untuk menghadapi kenyataan secara langsung.
Tak lama kemudian, Haikal masuk ke kelas dan duduk di meja depan Livia. Melihat kesempatan itu, Livia segera mencolek bahu Haikal.
"Ada apa, Liv?" tanya Haikal sambil memutar tubuhnya ke belakang.
Livia berpura-pura ingin melihat merek tas Haikal yang terlihat awet. Perhatian Claudia langsung tersentak saat melihat sebuah gantungan kunci yang tergantung di tas pemuda itu. Matanya membulat sempurna; itu bukan gantungan kunci yang ia persiapkan.
"Gantungan kunci ini ... termasuk bagian dari tas ini juga?" tanya Livia sengaja.
"Bukan, gantungan kunci ini pemberian dari orang spesial," jawab Haikal dengan senyum tulus. Claudia merasa lemas saat Haikal membisikkan sebuah rahasia bahwa ia dan Renata sebenarnya sudah bertunangan.
"Tentu, kita kan berteman. Aku dan Livia akan merahasiakan ini dari siapa pun," janji Claudia dengan senyum kecut yang ia paksakan muncul di wajahnya.
Suasana di meja itu mendadak hening dan canggung. Namun, suasana kelas kembali pecah saat langkah kaki yang santai disertai siulan ringan memasuki ruangan.
Sosok itu tak lain adalah Jendra. Dengan gaya angkuh namun menawan, ia berjalan masuk sambil mempermainkan sebuah gantungan kunci.
Untuk baca kisah selanjutnya, Silahkan baca di ;
Plafftorm Apk ; KutuBuku
Judul : Salah Target
Penulis ; Venezuella