Dendam Kesumat Sampai Alam Kubur: Awal Mula Petaka
Bab I: Tatapan Penuh Benci
Desa Sukamaju, sebuah tempat yang seharusnya damai, menyimpan sisi gelap di balik keramahan semu warganya. Di sana hiduplah Sekar, gadis yatim piatu yang sederhana. Kecantikannya yang alami, ditambah dengan sifatnya yang pendiam dan rajin, justru menjadi sasaran empuk bagi tiga pemuda desa yang terkenal bengal: Andi, Budi, dan Rian.
Andi, anak kepala desa, selalu merasa paling berkuasa. Ia sering melemparkan tatapan merendahkan pada Sekar, disusul bisikan-bisikan kotor bersama Budi dan Rian saat Sekar lewat.
"Lihat gadis kampung itu, pura-pura suci," ejek Andi suatu sore di warung kopi.
"Cepat atau lambat, dia akan jadi santapan kita," sahut Budi sambil tertawa cabul.
Rian hanya menyeringai, membayangkan hal-hal buruk yang bisa mereka lakukan pada Sekar.
Awalnya hanya ejekan, dorongan, dan bisikan-bisikan yang merendahkan. Saat Sekar berjalan pulang dari pasar, mereka akan sengaja mencegatnya, menarik keranjang belanjaannya hingga isinya tumpah, lalu tertawa terbahak-bahak melihat Sekar memunguti barang-barangnya dengan mata berkaca-kaca. Warga lain? Mereka hanya menunduk atau pura-pura tidak melihat. Tak ada yang berani berurusan dengan Andi dan kroninya.
Puncaknya terjadi dua minggu sebelum kejadian tragis itu. Sekar menolak ajakan Andi untuk berkencan. Penolakan itu dianggap sebagai penghinaan besar. Dendam dan harga diri Andi terusik. Ia bersumpah akan membuat Sekar menyesal.
Bab II: Malam di Kebun Jagung
Rencana busuk itu disusun di sebuah gubuk kosong di tepi hutan. Mata Andi berkilat penuh amarah dan nafsu. "Kita akan beri dia pelajaran," katanya, disambut anggukan setuju oleh Budi dan Rian.
Malam naas itu, Sekar baru saja pulang dari rumah bibinya, melewati jalan setapak di tepi kebun jagung yang gelap. Bulan tertutup awan, hanya ada samar-samar cahaya obor dari kejauhan. Tiba-tiba, tiga bayangan besar muncul dari balik pepohonan.
Sekar terkejut dan mencoba lari, namun Andi dengan sigap menangkap pergelangan tangannya. "Mau ke mana, manis? Kita baru saja akan bersenang-senang," bisiknya, suaranya dipenuhi ancaman.
Ketakutan mencekik Sekar. Ia berteriak, meronta, memohon ampun, tapi tidak ada yang mendengarnya. Kebun jagung yang tinggi dan lebat menelan suara pilunya. Di bawah tatapan bintang yang samar dan bisikan angin malam, mereka melakukan perbuatan keji itu.
Sekar merasa tubuhnya remuk, jiwanya terkoyak. Saat mereka meninggalkannya tergeletak sendirian di tanah, dingin dan kotor, hanya ada kehampaan dan rasa jijik yang tersisa di hatinya.
Bab III: Tali dan Kehampaan
Sekar berhasil merangkak pulang ke rumahnya yang sepi. Di cermin, ia melihat pantulan dirinya yang hancur. Tubuhnya penuh luka lebam, pakaiannya robek, dan matanya kosong. Ia sudah mati rasa.
Keesokan harinya, bukannya simpati, Sekar justru menerima penghakiman. Ibu-ibu berbisik di pengajian, bapak-bapak menatapnya dengan tatapan jijik. "Dia sudah kotor," kata seorang tetangga. "Pantas saja," sahut yang lain. Bahkan bibinya pun tak sanggup menatapnya, malu dengan aib yang menimpa Sekar.
Keadilan tidak berpihak padanya. Kepala desa, ayah Andi, dengan cepat menutupi kasus ini. Uang berbicara. Sekar hanya bisa menelan ludah pahit, merasa dirinya tak punya tempat lagi di dunia ini.
Sore itu, setelah semua air matanya mengering, Sekar pergi ke gudang belakang. Ia menemukan seutas tali jemuran yang kuat. Dengan tangan gemetar, ia membuat simpul. Pikirannya kosong, kecuali satu hal: janji untuk membawa semua kepedihan ini sampai ke alam lain. Ia ingin mereka semua tahu, ia tidak akan pernah melupakan ini.
Malam itu, di bawah rembulan sabit yang menyedihkan, tubuh Sekar tergantung kaku. Wajahnya pucat, matanya terpejam, tapi di dalam hatinya, dendam itu baru saja terbangun.
Bab IV: Teriakan dari Liang Lahat
Pemakaman Sekar sepi dan tergesa-gesa. Seolah-olah warga ingin segera melupakannya. Tapi bagaimana mungkin melupakan seseorang yang jiwanya belum tenang?
Sejak malam itu, Desa Sukamaju diselimuti aura dingin yang berbeda.
* Tangisan Tengah Malam: Setiap malam, tepat pukul 02.00, tangisan pilu seorang wanita terdengar di seluruh desa. Tangisan itu bukan seperti manusia, melainkan suara dari kedalaman sumur tua, mengoyak sunyi malam. Warga mulai mengunci pintu dan jendela rapat-rapat, namun suara itu tetap menembus dinding.
* Bayangan di Jendela: Beberapa warga melaporkan melihat bayangan hitam berambut panjang di jendela rumah mereka, berdiri kaku dengan leher miring, seolah mengawasi setiap gerak-gerik mereka. Anak-anak kecil mulai demam dan sering mengigau, menyebut nama "Sekar".
Andi, Budi, dan Rian adalah yang paling menderita. Tidur mereka tidak pernah nyenyak.
* Andi: Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat wajah Sekar yang pucat, penuh luka, menatapnya dengan mata berdarah. Suara jeritan Sekar di kebun jagung terus terngiang di telinganya. Barang-barang di kamarnya sering bergerak sendiri. Suatu malam, ia terbangun dengan rasa sakit yang luar biasa di lehernya. Cermin menunjukkan bekas jeratan tali yang samar di kulitnya.
* Budi: Ia mulai paranoid, merasa selalu diawasi. Bau anyir dan busuk seperti daging membusuk selalu mengikutinya ke mana pun ia pergi. Kaca mobilnya sering berembun membentuk tulisan "PEMBUNUH". Ia mulai berbicara sendiri, menjerit ketakutan, dan mengurung diri.
* Rian: Ia melihat hal-hal paling mengerikan. Di setiap sudut gelap, ia melihat Sekar dengan gaun putihnya yang lusuh, menatapnya dengan tatapan kosong, bibirnya bergerak tanpa suara, seolah membisikkan kutukan.
Para warga yang sempat mencemooh Sekar pun tidak luput. Wanita-wanita yang bergosip mulai mendengar bisikan-bisikan mengejek di telinga mereka. Pria-pria yang menunduk saat Sekar dibully, kini merasakan hawa dingin yang menusuk setiap kali mereka melewati kebun jagung.
Bab V: Pembalasan yang Tak Terhindarkan
Satu demi satu, kehidupan para pelaku mulai hancur. Budi ditemukan gantung diri di gudangnya, persis seperti Sekar, dengan wajah yang membiru karena ketakutan yang luar biasa. Rian menjadi gila, terus-menerus menjerit-jerit meminta maaf pada Sekar, dan akhirnya meninggal karena sakit misterius di rumah sakit jiwa.
Andi, anak kepala desa, berusaha kabur. Ia tidak tahan lagi dengan teror Sekar. Tapi dendam itu lebih cepat darinya. Saat ia mengendarai mobilnya kencang di tengah malam, ia melihat bayangan Sekar melintas di depannya. Ia membanting stir, dan mobilnya menabrak pohon besar. Ketika warga menemukan jasadnya, wajah Andi menunjukkan ekspresi ketakutan yang paling mengerikan. Lehernya seperti tercekik, dan di sampingnya, sebuah boneka lusuh yang mirip Sekar tergeletak, matanya terbuka lebar menatap kosong.
Desa Sukamaju tidak pernah kembali seperti semula. Warga hidup dalam ketakutan, dihantui rasa bersalah dan penyesalan. Mereka akhirnya mengerti, bahwa dendam seseorang yang terluka begitu dalam, bisa hidup abadi, menuntut keadilan dari liang kubur.