Malam itu dingin. Gerimis mengguyur bumi sejak siang. Hingga kini belum juga berhenti. Aku duduk di bangku teras kamar kost ku. Berbalut selimut, ditemani secangkir kopi, serta sebuah ponsel yang menampilkan room chat ku dengan Zayyan.
"Kalau aku pulang, kita ketemuan, ya!" tulis ku di kolom chat.
"Lihat nanti, ya," balas Zayyan.
"Ih, kamu. Sekarang sombong banget. Apa mentang-mentang udah punya gandengan baru, makanya takut ketemuan sama aku?" ledekku.
"Enggak..." balas Zayyan singkat. Aku mengerucutkan bibirku membaca balasan sesingkat itu.
"Bilang aja sama pacarmu. Aku nggak ada niat gangguin hubungan kalian, kok. Aku cuma mau menjalin hubungan baik aja sama kamu dan keluarga. Nggak lebih," balasku.
"Aku seneng, kok, bisa kenal sama kamu. Bisa dekat sama keluargamu. Aku tahu kamu sudah punya pacar, aku sumpah nggak punya niatan apapun selain menjalin hubungan baik sama kamu dan keluarga. Karena bisa mengenal kamu dan keluarga kamu yang baik dan sangat sederhana itu berkah buatku," lanjut ku menjelaskan maksud hatiku yang sampai saat ini tak pernah mencoba menjauh dari Zayyan meskipun kami sudah putus setahun lalu.
"Iya. Aku paham. Maaf, ya, kalau mungkin kamu merasa kita nggak seakrab dulu. Aku harap kamu maklum, karena ada hati yang harus aku jaga," balasnya sedikit membuatku getir.
"Iya, nggak apa-apa," balasku lagi. "Ya udah. Aku mau istirahat. Udah malam. Besuk perjalanan jauh."
"Oke."
Berbalas pesan pun berakhir. Aku meletakkan ponselku. Alih-alih tidur dan istirahat seperti kataku pada Zayyan, aku justru termenung. Menatap air hujan yang turun rintik-rintik sambil termenung.
Zayyan, mantan terindahku. Kami menjalin hubungan asmara dua tahun lamanya sejak di bangku SMA. Namun cinta itu harus rela kami karamkan atas kesepakatan bersama dengan alasan jarak.
Aku melanjutkan kuliahku ke kota seberang, sedangkan Zayyan yang berasal dari keluarga kurang mampu memilih berhenti menuntut ilmu dan mulai bekerja di salah satu toko retail di kota kelahiran kami.
Putus rupanya tidak menjadi alasan bagi kami untuk tidak lagi saling berkomunikasi. Hubungan asmara yang cukup lama, kedekatan yang sudah terjalin bahkan sampai ranah keluarga masing masing, membuat kami masih saling terhubung satu sama lain. Meskipun kini Zayyan sudah punya pasangan baru, itu tidak membuatku berhenti bertanya kabar dengannya. Bukan karena masih berharap. Walaupun sedikit-sedikit iya, sih. Hehehe. Tapi lebih daripada itu, aku senang mengenal laki laki itu. Dia terlalu baik untuk dijauhi.
Zayyan adalah pemuda sederhana yang sederhana. Namun kesederhanaan itulah yang membuatku tak mampu melupakan dia hingga saat ini. Aku memang tak berharap banyak untuk kembali menjadi pacarnya. Karena menjadi sahabatnya pun itu sudah cukup untukku.
Hari semakin gelap. Hujan tak kunjung reda. Aku memilih untuk masuk ke kamarku. Bersiap tidur di samping tas besar yang besuk akan kubawa. Aku harus secepatnya tidur. Agar aku tidak terlambat dan bisa bertemu Zayyan lebih cepat pula. Karena pertemuan dengannya adalah salah satu pertemuan yang kunantikan.
....
Hari berganti. Aku pulang ke kota kelahiranku. Sepanjang perjalanan rasanya sudah tidak sabar bertemu dengan orang-orang yang ku sayang. Sebenarnya ini bukan kali pertama aku pulang kampung setelah menempuh pendidikan di kota orang. Setiap libur semester aku selalu menyempatkan diri untuk pulang kampung. Tapi entahlah, kembali ke kota asal memang selalu menyenangkan itu.
Waktu terus berjalan. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dari siang, kini saat jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, aku akhirnya sampai di kotaku. Ayah sudang menungguku di terminal. Dengan menggunakan motor matic lawasnya, ayah menjemput ku. Kami pun pulang ke rumah bersama-sama menggunakan motor butut itu.
Sepuluh menit perjalanan menggunakan motor, kami pun tiba di rumah kami.
"Mana tas mu, biar ayah bawa masuk," ucap ayahku setelah memarkirkan kendaraannya tepat di samping rumah.
"Berat, Yah," ucapku.
"Nggak apa-apa!" jawabnya. Ia pun kemudian membawa tas ku masuk ke dalam rumah. Sedangkan aku mengikutinya dari belakang. Namun sebelum aku tiba di depan rumah, tiba-tiba fokus mataku tertuju pada sosok yang berdiri jauh di sana. Di ujung jalan.
"Zayyan?" gumamku. Ya, itu seperti Zayyan. Tapi bukankah tadi ia bilang sedang berada di toko? Kami sempat berbalas pesan tadi.
Aku menyipitkan mataku, memastikan jika laki-laki itu benar-benar Zayyan. Laki-laki itu nampak tersenyum ke arahku. Ia kemudian terlihat melambaikan tangannya padaku.
Aku penasaran. Aku berniat untuk mendekatinya, namun tiba-tiba ayah memanggilku dari dalam rumah.
"Shania! Ngapain di situ? Dingin! Ayo masuk!" ucapnya.
"Iya, Yah!" jawabku sambil menoleh ke arah dalam rumah. Ketika aku kembali menoleh ke arah pria itu berdiri, laki-laki itu sudah tidak nampak lagi.
Ah, entahlah. Mungkin itu hanya perasaanku saja. Mungkin aku terlalu rindu dan tidak sabar bertemu mantan terindahku itu.
....
Pagi menjelang. Aku terbangun dari tidurku. Kulihat jam di dinding kamar itu, sudah pukul delapan pagi. Ah, aku bangun terlalu siang. Tidur ku semalam nyenyak sekali. Mungkin karena aku yang lelah akibat perjalanan jauh.
Aku memiringkan posisi tidurku. Kuraih sebuah benda pipih di atas meja sana. Membuka room chat ku dengan Zayyan. Rupanya tidak ada balasan dari pria itu. Padahal semalam aku mengirimkan pesan singkat padanya. Menanyakan perihal laki-laki yang semalam kulihat berdiri di ujung jalan. Apa itu dia. Tapi sampai detik ini Zayyan belum membuka pesan itu. Mungkin semalam ia sibuk.
Aku pun lantas bangun, lalu mandi dan keluar dari kamarku. Aku berjalan menuju dapur, lalu diam sejenak. Aku melihat di sana, ibuku nampak memasukkan beberapa liter beras ke dalam sebuah tas. Sesekali ia nampak sesenggukan sembari mengusap air matanya. Aku bingung. Aku pun berjalan mendekatinya.
"Buk, ada apa? Kok nangis?" tanyaku.
Ibu menoleh. Ia makin sesenggukan.
"Ndok, ganti bajumu. Kita ke rumah Pak Herman sekarang. Zayyan meninggal. Semalam kecelakaan!"
Duuuaarrr....
Bak tersambar petir di tengah pagi, aku terkejut bukan kepalang. Mataku seketika perih membendung air mata yang pada akhirnya jatuh tak tertahan. Dadaku sesak. Seolah jantung berhenti sepersekian detik. Aku reflek mundur lalu jatuh terduduk di lantai tanpa bisa membendung lagi tangisanku.
Aku pulang semalam. Aku seperti melihatnya semalam. Aku melihat dia tersenyum sambil melambaikan tangannya padaku semalam. Aku mengirimkan pesan untuknya semalam. Aku pulang antara lain ingin bertemu dengannya. Sesuatu yang sudah kunantikan sejak semalam.
Aku menangis tanpa henti. Tanpa riasan wajah aku datang ke rumahnya. Melihat sebuah keranda berselimut kain hijau terbujur menutupi tubuhnya. Zayyan, aku rindu. Aku ingin bertemu denganmu tapi bukan dengan cara yang seperti ini. Tak apa kita bertemu sambil kau menggandeng tangan pacarmu. Tak apa kita bertemu sambil kau memeluk pacarmu. Tak apa! Itu lebih indah daripada aku bertemu denganmu sebagai jenazah dan pelayatnya.
Cepat sekali kau pergi. Sedangkan di sini banyak sekali orang yang menangisi mu. Sebegitu cintanya kah Tuhan padamu, sampai-sampai ia memanggilmu di saat banyak mulut berucap "Tuhan, kenapa kau Setega itu pada keluarga ini? Jangan ambil anak sulungnya ini, wahai Tuhan!"
Tangisanku tak terbendung di rumah duka itu. Begitu juga para pelayat yang menjadi saksi betapa pemuda itu adalah pemuda yang baik hati, ramah, dan sopan santun. Semua merasa kehilangan. Bahkan hingga tujuh hari kematiannya pun banyak yang masih tak percaya bahwa Zayyan pergi secepat itu.
Lalu bagaimana denganku?
Ah, sudahlah. Separuh duniaku seperti runtuh. Rasanya untuk kembali menjadi Shania yang normal pun begitu sulit. Aku datang ke rumahnya, aku mendatangi makamnya, aku menyebut namanya di setiap doa, aku menyimpan semua kenangan tentangnya, bahkan hingga saat ini, setahun pasca kepergiannya.
Zayyan, dia ibarat novel yang berisi banyak pelajaran. Tentang kesederhanaan, tentang cinta, tentang kesetiaan, tentang cinta kasih terhadap keluarga, tentang bakti anak pada kedua orang tuanya. Aku pecinta novel itu, namun aku dipaksa berhenti membacanya saat aku belum selesai dengan kisahnya. Karena di lembar berikutnya, perannya di dalam sana sudah tidak ada.