Di kampung itu ada satu aturan yang tak pernah ditulis, tapi selalu dipatuhi:
Saat azan magrib berkumandang, jangan ada yang menoleh ke belakang.
Raka baru pindah ke rumah neneknya di ujung desa. Rumah tua itu menghadap kebun pisang dan berbatasan langsung dengan jalan tanah merah. Setiap sore, suasananya sunyi—terlalu sunyi.
“Kalau magrib, masuk rumah. Tutup pintu. Jangan lihat keluar,” pesan neneknya singkat.
Raka mengangguk, meski tidak benar-benar paham.
Sore ketiga, hujan turun gerimis. Langit menghitam lebih cepat dari biasanya. Raka masih di teras saat azan magrib mulai terdengar—sayup, seperti datang dari jauh… dan dekat sekaligus.
Saat ia hendak masuk, ada suara memanggil namanya.
“Raaaka…”
Suaranya lembut. Terlalu lembut untuk hujan dan senja.
Raka berhenti. Dadanya terasa sesak. Ia teringat pesan neneknya, tapi rasa penasaran lebih kuat. Suara itu terdengar lagi, kali ini tepat di belakangnya.
“Raka… kamu lupa pulang.”
Bau tanah basah bercampur sesuatu yang amis menyusup ke hidungnya.
Perlahan, tanpa sadar, Raka menoleh.
Di belakangnya berdiri sosok perempuan berambut panjang, wajahnya tertutup bayangan. Kakinya… tidak menyentuh tanah. Senyumnya lebar, terlalu lebar, seolah wajahnya ditarik paksa.
Azan terhenti.
Sunyi.
Perempuan itu mendekat tanpa melangkah.
“Sekarang kamu lihat aku,” bisiknya. “Berarti… kamu ikut aku.”
Raka ingin berteriak, tapi suaranya hilang. Dunia di sekitarnya terasa menjauh, seperti ditelan kabut.
Tiba-tiba, pintu rumah terbuka keras.
Nenek menarik Raka masuk dan menutup pintu dengan cepat. Ia membaca sesuatu dengan suara gemetar. Dari luar, terdengar ketukan pelan… satu… dua… tiga…
Lalu suara tawa, lirih dan panjang.
Keesokan paginya, Raka terbangun di kamarnya. Semua tampak normal.
Tapi sejak hari itu, setiap magrib tiba, ia selalu mendengar seseorang memanggil namanya—
dari dalam rumah.
Padahal…
ia tinggal sendirian.