Malam turun seperti pintu kafe yang terbuka. Aroma kopi menyeruak dan menyapa dengan janji kehangatan. Ketika tangan memeluk cangkir, hati terasa lebih ringan...
Rindu tak perlu berteriak untuk menjadi nyata.
Namun cahaya bulan adalah rindu itu sendiri. Menyentuh tanpa sengaja dan tidak berharap sebuah imbalan atau sebentuk hati yang disebut cinta.
Kamu tahu kapan rasa rindu itu jatuh seperti kelopak cahaya bulan yang jatuh di dadaku?
Saat aku jatuh hati pada kalimat, "Rindu adalah jarak yang diciptakan oleh pikiran, bukan meteran."
Stop!
Jika kamu berpikir aku langsung jatuh cinta padamu. Ada banyak proses untuk mencapai kalimat itu. Aku bukan anak remaja yang baru pertamakali mengenal cinta. Bahkan, berkali-kali aku merasakan mati setelah memaknai kata 'I Love You' jauh lebih pedih daripada kata 'Kita putus'.
Lebih tepatnya, kamu menarik perhatianku.
Benarkah? Hanya menarik perhatian?
Aku sedikit ragu. Karena aku selalu kagum dengan apapun yang kamu ceritakan di berandamu. Kamu seperti sedang 'Sell oneself', membuka isi kepalamu yang selalu berisik, perasaanmu yang rapuh tapi berusaha tegar, keimananmu yang dibangun oleh pondasi yang kokoh.
Aku seperti sedang membaca proposal yang sedang kamu presentasikan. Kamu percaya diri, tapi dalam hati kamu gugup setengah mati. Kamu seolah menolak, tapi tidak ingin menjauh.
Ada jeruji besi yang menahanmu untuk bergerak bebas, ada tali yang mengekangmu untuk terbang seperti burung dan berkicau dengan riang.
Hey, bro!
Aku hanya bisa membaca, berempati dan berharap kamu baik-baik saja.
Ada keajaiban saat pikiran saling terhubung. Beberapa perasaan memang sangat sulit diungkapkan dengan kata-kata. Beberapa emosi sudah ada sebelum bahasa. Keheningan bukan berarti kekosongan
—tapi kedalaman
Lalu bagaimana dengan aku? Apa kamu tertarik denganku?
Baiklah kuberitahu tentangku...
Aku lebih suka menunggu dalam diam.
Aku mencintai segala tenang dan sederhana.
Mendengar kalimat sederhana yang tidak terlalu rumit, seperti anda memasuki rumah dengan kehangatan yang pas dan aroma masakan ibu yang baru saja matang.
Seperti jalan tanpa alas kaki, duduk diam sambil membaca, menyulam, dan mendengarkan cerita.
Dan, sesekali menceritakan diri sendiri.
Setiap senja menjelang malam, kita berbincang tentang kopi.
Mendengarkan music random dan metalica.
Cukup musikku saja yang keras, kalimat sastra mu jangan.
Mungkin sesekali kita bicara serius,
Tentang harga-harga yang semakin berganti bukan meninggi
Menyusun karya, dengan kesabaran dan wawasan yang banyak.
Hari itu...
Dimana percakapan gaduh kita di bilik sunyi
Kamu membunyikan lonceng perpustakaan di kepalaku.
Akan tetapi,
Lagi-lagi keadaan membuatku sadar,
Melepaskan berarti menyadari bahwa beberapa orang hanya boleh dijadikan sejarah
Bukan bagian dari takdir.
Dan, saat ini aku sedang merindukanmu...
🌹🌹🌹