Catharina berdiri di depan gedung sekolahnya "hujan lagi?" gumam kecil remaja itu
Sudah hampir tiga hari terakhir ini hujan selalu datang menjelang dirinya pulang sekolah, ini belum terlalu deras hanya gerimis ringan saja
Tapi untuk Catharina yang pulang sekolah harus jalan kaki lebih dulu ke halte bus bisa basah kuyup karena lokasinya cukup jauh "ck, nunggu lama nih kayaknya" dia berdecak kesal
"Mau pulang sama gue Rina?" suara agak berat dari arah belakangnya membuatnya menoleh
"Milan?" gumam kecil
Milano senyum sambil berjalan mendekati Catharina "gue bawa mobil hari ini, jadi lo gak akan kehujanan" berdiri di sampingnya
"Nggak usah, nanti gue ngerepotin lo lagi" jawab Catharina "ditambah lagi rumah gue gak sejalan sama rumah lo"
"Nggak papa, lagian kalau nunggu hujan reda pasti lama. Ini udah sore nanti orang tua lo khawatir lagi" gumam
Milano dan Catharina bisa dikatakan cukup dekat, mereka sama-sama anak yang berprestasi dan sering jadi perwakilan sekolah untuk Olimpiade di luar sekolah
Banyak murid-murid yang menganggap dua insan itu menjalin hubungan lantaran kedekatan mereka yang semakin hari semakin terlihat jelas.
"Eummm iya deh, maaf ya gue jadi repotin lo" menatap
Milano kembali senyum "santai aja Rin, lo kaya sama siapa aja" jawabnya pelan
Setelah itu keduanya berjalan menembus gerimis menuju parkiran dimana mobil milik Milano berada,keduanya masuk dalam mobil dan kendaraan roda empat tersebut keluar dari area sekolah perlahan-lahan
"Rina?" menatap sekilas orang yang ada di sampingnya "gue boleh tanya sesuatu sama lo?"
"Ya, mau tanya apa?" menatap Milano yang sedang fokus mengemudi
"Sebelumnya sory ya, gue gak bermaksud nakutin lo" menoleh "tapi belakangan ini gue sering lihat ada orang yang ikutin lo tiap pulang sekolah"
Catharina menoleh terkejut "l-lo serius?"
Milano mengangguk "iya, awalnya gue gak sengaja aja lihat orang itu kaya awasin lo dari jauh" menatap sekilas "tapi kok makin lama gue makin curiga sama orang itu"
"...."
Milano menoleh "Rin, lo baik-baik aja?" bertanya khawatir "apa belakangan ini lo sering ngerasa sesuatu hal yang aneh?"
Catharina menghela nafas berat "iya, gue belakangan ini memang merasa ada yang aneh" suara kecil
"Aneh gimana?"
"Ada orang misterius yang sering kasih gue barang sama gue, dia selalu taruh itu di depan rumah"
Milano mengernyit "apa aja yang dia kasih sama lo?" menoleh
"Banyak, mulai dari pernak pernik anak cewek kayak bando; gelang; atau anting yang lucu lucu gitu"
Tanpa sadar Milano mencengkram setir mobilnya "terus?"
"Masa ya, pernah tiba-tiba tengah malem dia ngirim makanan dan di note gitu katanya buat temen gue belajar. Emang sih hari itu gue lagi siapin materi buat Olimpiade"
"Dia gak kasih tau gitu siapa dia dan apa tujuannya?" Catharina menggeleng "aneh amat"
"Sejujurnya gue gak nyaman dengan semua itu dan mau ngasih tau orang misterius itu supaya stop semua, tapi gimana caranya? Kan gue gak tau dia siapa dan ada dimana" menghela nafas
"Atau jangan jangan orangnya yang belakangan ini gue lihat lagi pelakunya?" menatap
"Entahlah" gumam
Setelah itu keadaan dalam mobil hening, Milano fokus mengemudi mobil sementara Catharina menatap keluar jendela.
"Apa mau orang itu? Apa dia secret admirer nya Rina?" batin Milano
Jujur saja setelah mendengar cerita itu dia merasa tak nyaman, ada rasa takut jika temannya itu akan celaka karena orang misterius itu
•┈┈┈••✦ Part One ✦••┈┈┈•
Milano menghentikan mobil di depan sebuah rumah sederhana yang selama ini ditinggali oleh Catharina.
Rumah yang terlihat nyaman, tenang dan asri, terlihat jelas dari tanaman yang ada di sekitar rumah.
“Thanks Milan, lo udah repot-repot muter arah cuma buat anterin gue pulang” menoleh
Milano tersenyum “sama sama Rina, gue anterin sampai masuk ya biar gak kehujanan”
Dia mengambil payung yang ada di jok belakang mobil “gak usah gapapa, gue bisa lari ke depan sana kan gak jauh juga” menatap
“Hujannya deras lo bisa sakit nanti, jangan bandel deh” jawab Milano
Tanpa menunggu lama Milano keluar dari dalam mobil dengan payung yang terbuka lalu berjalan memutari mobil
Dia membuka pintu mobil “ayo!” nada tidak terlalu keras
Catharina mengangguk singkat lalu ia keluar mobil
Kedua berjalan beriringan menuju ke area rumah dan berhenti depan pintu utama
“Eh!” Catharina cukup terkejut ketika tiba-tiba Milan merangkul pundaknya
“Biar gak basah” nada lembut lalu me lirik Catharina dan tersenyum kecil
Tok Tok Tok!
Catharina mengetuk pintu rumahnya “Ibu, Rina pulang!” agak teriak
Milano menyimpan payung yang baru digunakan setelah dilipat
Ceklek!
Pintu terbuka dari dalam “eh kamu sudah pulang nak?” dia menatap sang putri
“Iya ibu” salim “oh iya ini temennya Rina namanya Milano” menatap
“Siang bu!” menyalami punggung tngn Adelina
Adelina tersenyum “siang nak, kamu yang mengantarkan putri ibu pulang?”
“Iya, kebetulan saya hari ini bawa mobil. Daripada Rina nunggu bus di halte hujan-hujan gini” jelasnya
“Padahal rumahnya beda arah sama kita” gumam
“Ya ampun, ayo kita masuk dulu” ucap Adelina “jangan pulang hujan deras kaya gini, jalan nya licin nanti kamu kenapa-napa di tengah jalan”
Mereka memasuki rumah dan duduk di ruang keluarga, Catharina pamit ke kamar ganti baju sementara Milano mengobrol dengan Adelina
“Rasanya jauh berbeda dari rumahku sendiri, disini jauh lebih hidup tidak sepi” batin Adelino
Sepi yang Milano maksud adalah dia yang selalu ditinggal orang tuanya di rumah sampai larut malam, orang tuanya pekerja kantoran jarang ada waktu untuk dirinya.
“AAAAA….”
Adelina dan Milano terkejut ketika sama-sama mendengar suara teriakan lalu saling tatap
“Rina!”
Mereka langsung menuju arah suara teriakan Catharina berasal, kamar yg gadis itu tempati ada di lantai 2
Tok Tok Tok!
“Rina kamu baik-baik aja nak?” tanya Adelina khawatir
“...”
“Rina! Lo bisa dengar suara gue?” kali ini Milano yang bertanya
“....”
Adelina membuka pintu kamar sang putri namun tidak bisa “ada apa dengan anak itu, tidak biasanya mengunci pintu” gumam
Dia terus berusaha membuka pintu, takut pintunya seret atau apa tetapi tetap saja tidak bisa
“Bu, saya izin membuka paksa pintu ini apa boleh?” menatap
“Silahkan nak, ibu khawatir terjadi apa-apa dengan Rina”
Setelah mendapat izin Milano mulai membuka paksa pintu kamar
BRAK BRAK!
BRAK BRAK!
Setelah beberapa kali percobaan dia mencoba akhirnya pintu kamar bisa dibuka
“RINA!”
Ketika pintu terbuka perempuan itu sudah tergeletak pingsan di lantai dan jendela kamar terbuka
“Ya ampun, apa yang terjadi dengan mu nak” berlari memasuki kamar
Milano pun juga sama, dia langsung membawa Catharina dalam gedongannya dan diletakkan di tempat tidur dengan hati-hati
“Nak bangun sayang, ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba pingsan?” Adelina khawatir
“Ada yang gak beres disini” batin Milano lalu menatap sekitar
Dia berjalan menuju arah jendela yg terbuka dimana tirai bergerak gerak karena hembusan angin
“Jejak kaki?” ia mengerutkan kening menatap balkon kamar
Terlihat dengan jelas ada tapak kaki berjalan masuk, Milano mengikutinya sampai “kertas apa ini?”
Milano mengambil secarik kertas di lantai dekat meja belajar Catharina dan menatap tulisannya
“Kamu harus menjadi milikku Rina, kamu tidak boleh bersama orang lain” batin Milano
Milano meremat kertas itu dengan tatapan marah, dugaannya tidak salah jika orang ini pengagum rahasia Catharina dan sudah terobsesi dengannya.
“Gue pasti akan temuin lo sialan!” batinnya geram
•┈┈┈••✦ Part Two ✦••┈┈┈•