Alya selalu percaya bahwa rindu punya bunyi.
Bukan suara yang keras, bukan pula jeritan. Rindu baginya seperti notifikasi kecil yang muncul di sudut layar, diam-diam tapi konsisten. Kadang berbunyi di tengah malam, kadang muncul saat ia sedang tertawa bersama teman-temannya, lalu tiba-tiba dadanya terasa kosong.
Pagi itu, Alya duduk di bangku paling belakang kelas XII IPA 2. Buku matematika terbuka, pena di tangannya bergerak tanpa benar-benar menulis. Matanya lebih sering melirik ponsel yang ia sembunyikan di bawah meja.
Nama itu belum muncul.
Raka.
Pacarnya. LDR. Tiga tahun. Tidak pernah bertemu.
Kalau orang lain mendengarnya, mereka akan tertawa kecil atau mengernyitkan dahi. Hubungan macam apa yang tidak pernah bertatap muka selama itu? Alya sendiri tidak tahu cara menjelaskannya. Ia hanya tahu satu hal. Setiap kali dunia terasa terlalu ramai, Raka selalu menjadi tempatnya pulang.
Bahkan hanya lewat suara.
Getaran kecil akhirnya terasa. Alya menahan senyum.
Raka:
“Udah sampai sekolah?”
Alya membalas cepat.
Alya:
“Udah. Kamu belum tidur ya?”
Beberapa detik berlalu.
Biasanya Raka langsung menjawab dengan cerita panjang tentang kerja malamnya di kafe, tentang pelanggan yang ribut, tentang dosen yang tidak kenal ampun. Tapi kali ini jawabannya singkat.
Raka:
“Belum. Biasa.”
Alya mengerutkan kening.
Ada jeda yang tidak biasa. Ada nada yang tidak tertulis.
Ia menatap layar lebih lama, seolah bisa membaca sesuatu di balik kata-kata itu. Tiga tahun membuat Alya hafal kebiasaan Raka. Hafal ritmenya. Hafal diamnya.
Dan pagi itu, diam Raka terasa berbeda.
---
Raka duduk di kursi kayu kamar kosnya yang sempit. Matahari pagi menembus jendela kecil, memantul di tumpukan buku kuliah dan seragam kerja yang tergantung di dinding. Ia belum tidur sama sekali.
Di meja, sebuah ransel hitam tergeletak setengah terbuka. Di dalamnya ada baju ganti, charger, headset, dan satu benda yang membuat jantungnya berdebar setiap kali melihatnya.
Secarik kertas dengan tulisan tangan rapi.
Alamat sekolah Alya.
Alamat rumah Alya.
Ia melipat kertas itu, memasukkannya ke dompet, lalu menghela napas panjang.
Tiga tahun.
Tiga tahun ia mengenal Alya lewat teks dan suara. Lewat keluhan kecil tentang tugas sekolah, lewat tawa saat mereka membahas anime yang sama-sama mereka tonton tengah malam.
Mereka bertemu pertama kali di forum anime online. Obrolan mereka dimulai dari debat kecil soal ending anime favorit, lalu merambat ke topik hidup. Tanpa sadar, hari-hari Raka mulai diisi oleh nama Alya.
Ia tahu hubungan ini tidak mudah. Ia mahasiswa semester lima, nyambi kerja malam. Alya masih siswi SMA yang hidupnya dipenuhi jadwal pelajaran dan ekskul. Jarak mereka ratusan kilometer.
Tapi setiap kali Raka ingin menyerah, suara Alya selalu menariknya kembali.
Sekarang, ia ingin menjadikannya nyata.
Tanpa pemberitahuan. Tanpa drama.
Sebuah kejutan.
---
Alya mulai yakin ada sesuatu yang disembunyikan Raka ketika dua hari berturut-turut Raka menghilang lebih lama dari biasanya. Bukan tidak membalas sama sekali, tapi jawaban-jawabannya pendek. Terpotong. Seolah pikirannya sedang berada di tempat lain.
Naluri kecil Alya bergetar.
Ia duduk di kamar, memeluk bantal, membuka kembali chat lama mereka. Membaca ulang pesan pertama, panggilan pertama, pertengkaran kecil yang berakhir dengan tawa.
“Jangan-jangan…” gumamnya.
Alya tersenyum sendiri.
Kalau dugaannya benar, maka ia tidak ingin merusaknya. Ia justru ingin menambahkan sedikit warna.
Ia mulai berpura-pura tidak curiga. Tetap bercerita tentang sekolah, tentang ujian, tentang betapa lelahnya ia belajar. Bahkan ia menambahkan drama kecil.
Alya:
“Kayaknya aku masuk siang besok, Kak. Capek banget.”
Raka membaca pesan itu dengan wajah tegang. Ia mencatat waktu masuk sekolah Alya. Ia tidak menyadari bahwa Alya sedang mengamatinya dengan penuh kesenangan.
Alya tertawa kecil.
“Ketahuan,” bisiknya.
---
Hari keberangkatan Raka datang dengan perasaan campur aduk. Ia naik bus pagi dengan ransel di punggung dan jantung yang tidak berhenti berdebar. Di kursi dekat jendela, ia menatap jalan yang terus berubah.
Bagaimana kalau Alya kecewa?
Bagaimana kalau ia berbeda dari bayangan Alya?
Bagaimana kalau semua ini justru merusak hubungan mereka?
Pertanyaan-pertanyaan itu bergantian memenuhi kepalanya.
Ia membuka ponsel, melihat foto profil Alya. Foto sederhana, senyum kecil, mata yang selalu terlihat hangat. Raka menutup mata.
“Aku ke sana bukan untuk sempurna,” gumamnya.
“Aku ke sana karena rindu.”
---
Pagi itu, Alya berdiri lebih lama di depan cermin. Seragam SMA-nya terpasang rapi, rambutnya diikat sederhana. Ia tidak berdandan berlebihan. Ia ingin terlihat seperti dirinya sendiri.
Ibunya memanggil dari dapur, Alya menjawab sambil mengambil tas.
“Bu, aku berangkat ya.”
Ia keluar rumah dengan langkah ringan, tapi jantungnya berlari lebih cepat. Ia tidak langsung menuju sekolah. Ia berbelok ke arah halte kecil di seberang jalan.
Dan di sanalah ia melihatnya.
Seorang pria berdiri canggung, memegang ponsel, sesekali menatap papan nama sekolah, lalu melihat sekeliling seperti orang yang takut salah tempat. Jaket hitamnya sedikit kebesaran, ranselnya tampak berat.
Raka.
Alya menahan napas.
Ini dia.
Ia berjalan pelan, mendekat dari belakang.
“Permisi,” katanya lembut.
Raka menoleh.
Waktu seperti berhenti.
Wajah yang selama ini hanya ia bayangkan kini ada di hadapannya. Mata itu. Suara napas itu. Nyata.
“Alya…?” suaranya bergetar.
Alya tersenyum, menahan tawa.
“Kok Kakak tahu nama aku?”
Raka terdiam. Detik berikutnya, ia menyadari sesuatu. Wajahnya memerah.
“Kamu tahu,” katanya pelan.
Alya tertawa. Tawa yang selama ini hanya terdengar lewat headset kini memenuhi udara pagi.
“Sedikit,” jawabnya. “Lagakmu aneh banget di chat.”
Raka ikut tertawa, lega bercampur malu.
“Aku pengen ngasih kejutan.”
“Kejutannya berhasil,” kata Alya. “Aku cuma nambahin level.”
Mereka berdiri canggung beberapa detik, lalu tertawa lagi. Tidak ada pelukan besar. Tidak ada adegan dramatis. Hanya dua orang yang akhirnya berdiri di koordinat yang sama.
---
Hari itu mereka sepakat bolos dari dunia masing-masing.
Mereka berjalan menyusuri trotoar, membeli minuman dingin, duduk di taman kota. Alya bercerita tentang tekanan kelas tiga, tentang mimpi kuliah. Raka mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali menimpali.
Raka bercerita tentang kerja malamnya, tentang bagaimana ia sering tertidur di bus, tentang mimpi-mimpi kecil yang ia simpan.
Mereka tertawa saat menyadari betapa canggungnya mereka saat pertama kali berjalan berdampingan. Bahu mereka sesekali bersentuhan, lalu sama-sama menjauh, lalu tertawa lagi.
Sebagai sesama otaku, obrolan mereka mengalir tanpa hambatan. Mereka masuk ke toko anime kecil, menelusuri rak-rak figure, berdiskusi panjang tentang karakter favorit.
“Kamu persis kayak di chat,” kata Raka tiba-tiba.
Alya menoleh.
“Bukannya kamu juga?”
Raka tersenyum.
“Malah lebih baik.”
Alya menunduk, pipinya memanas.
---
Sore itu, Alya mengajak Raka pulang ke rumahnya.
“Aku mau kenalin ke orang tua,” katanya sederhana.
Raka terdiam sejenak. Jantungnya kembali berpacu. Tapi ia mengangguk.
Rumah Alya terasa hangat. Ibunya menyambut dengan senyum sopan, ayahnya lebih pendiam. Pertanyaan datang perlahan, seperti ombak kecil yang terus mengetuk.
Tentangan itu ada. Tentang jarak. Tentang usia. Tentang masa depan.
Raka menjawab sejujurnya. Ia tidak menjual mimpi kosong. Ia hanya mengatakan bahwa ia sedang berusaha. Bahwa ia ingin menjadi tempat pulang yang layak.
Alya duduk di sampingnya, tangannya menggenggam ujung bajunya. Diam tapi tegas.
Keheningan menyelimuti ruang tamu.
Akhirnya ayah Alya menghela napas panjang.
“Kita lihat saja nanti,” katanya.
Bukan persetujuan penuh. Tapi bukan penolakan.
Itu cukup.
---
Malam datang dengan cepat.
Alya dan Raka duduk di teras rumah, menatap langit. Angin malam membawa ketenangan yang tidak bisa digantikan layar ponsel.
“Besok aku pulang,” kata Raka pelan.
Alya mengangguk. Dadanya terasa penuh, tapi tidak sesak.
“Kita sudah janji,” katanya.
Raka menoleh.
“Aku bakal ke kota ini. Setelah lulus kuliah. Aku nggak mau kamu nunggu terlalu lama.”
Alya tersenyum, matanya berkaca.
“Aku nggak minta cepat. Aku cuma minta nyata.”
Raka menggenggam tangannya.
Malam itu mereka tidak berbicara banyak. Mereka hanya duduk, berdampingan, menikmati keberadaan satu sama lain.
---
Keesokan harinya, perpisahan terasa berbeda.
Tidak ada tangis berlebihan. Tidak ada drama. Alya melambaikan tangan saat bus Raka pergi, dengan senyum yang lebih kuat dari sebelumnya.
Karena kini, jarak bukan lagi lubang kosong.
Ia adalah jalan yang sudah pernah dilalui.
Dan Alya tahu, sejauh apa pun Raka melangkah, ia tahu alamat pulangnya.
Bernama Alya.
Dan bagi Alya, alamat pulang itu juga punya nama.
Raka.
---
Setelah Raka kembali ke kotanya, hari-hari Alya terasa aneh. Bukan sepi, tapi berbeda. Seolah dunia yang dulu hanya berbentuk layar kini meninggalkan jejak nyata di sekelilingnya.
Meja belajar Alya masih sama. Buku-buku ujian masih menumpuk. Tetapi ada satu hal yang berubah. Rindu tidak lagi abstrak.
Rindu kini punya wajah, suara napas, dan cara Raka menunduk saat tertawa.
Mereka kembali pada rutinitas lama. Chat. Telepon. Video call. Namun percakapan mereka tak lagi sekadar tentang hari ini. Kini selalu ada kata nanti di setiap akhir kalimat.
“Nanti kalau kamu kuliah.” “Nanti kalau aku sudah pindah kerja.” “Nanti kalau kita nggak LDR lagi.”
Suatu malam, Alya menatap layar laptopnya lebih lama dari biasanya. Di tab browser, terbuka halaman universitas tempat Raka kuliah. Ia membaca satu per satu jurusan, biaya, syarat pendaftaran.
Dan di situlah benih konflik mulai tumbuh.
“Aku mau kuliah di kota kamu.”
Kalimat itu meluncur begitu saja di telepon, tanpa persiapan panjang.
Di seberang sana, Raka terdiam.
“Alya…” suaranya rendah. “Itu jauh.”
“Aku tahu.”
“Kota ini keras. Aku aja masih jungkir balik.”
“Aku juga capek nunggu,” jawab Alya pelan.
Bukan nada memaksa. Lebih seperti pengakuan jujur.
Raka menghela napas. Ia bahagia, tentu saja. Tapi ia juga takut. Takut Alya mengorbankan terlalu banyak hanya untuk mendekatinya.
“Kita pikir pelan-pelan ya,” katanya akhirnya.
Alya mengangguk, meski Raka tidak bisa melihatnya.
---
Masalah sesungguhnya datang dari rumah.
Alya mengutarakan niatnya saat makan malam. Dengan suara tenang, meski jantungnya berisik.
“Alya mau daftar kuliah di luar kota. Kota Raka.”
Sendok ibunya berhenti bergerak. Ayahnya mengangkat wajah.
“Kenapa harus ke sana?” tanya ayahnya.
Alya menelan ludah.
“Karena universitasnya bagus. Dan… karena aku sudah punya tujuan.”
Hening.
Ibunya menggeleng pelan.
“Kamu perempuan. Masih muda. LDR saja sudah berisiko, apalagi menyusul.”
“Alya nggak menyusul,” jawabnya cepat. “Alya melangkah.”
Ayahnya meletakkan sendok. Suaranya tegas.
“Ayah tidak mengizinkan.”
Kalimat itu jatuh seperti palu.
Malam itu Alya menangis di kamar, memeluk bantal yang dulu menjadi saksi panggilan panjang dengan Raka. Ia menelepon, tapi suaranya pecah.
“Aku ditolak.”
Raka diam lama.
“Kita nggak usah maksa,” katanya akhirnya. “Aku nggak mau kamu ribut sama orang tua.”
Alya menggeleng meski ia tahu Raka tak melihatnya.
“Aku nggak mau menyerah sebelum berjuang.”
---
Hari-hari berikutnya Alya berubah.
Ia belajar lebih keras. Bangun lebih pagi. Pulang lebih malam. Ia menempelkan target di dinding kamarnya.
Beasiswa penuh.
Ia tahu, jika ia ingin melangkah sejauh itu, ia tidak boleh setengah-setengah. Alya mulai mengumpulkan sertifikat, mengikuti bimbingan online, membaca pengalaman penerima beasiswa.
Orang tuanya memperhatikan perubahan itu.
“Alya jadi jarang main,” kata ibunya suatu sore.
“Alya lagi ngejar mimpi,” jawabnya singkat.
Ayahnya masih dingin. Tapi diam-diam ia memperhatikan nilai Alya yang terus naik. Konsistensi yang tidak main-main.
Di sisi lain kota, Raka ikut berjuang dengan caranya sendiri. Ia menambah jam kerja. Menabung. Mengurangi nongkrong. Setiap malam, ia menunggu kabar Alya dengan doa kecil yang tak pernah ia ucapkan keras-keras.
“Kalau memang kamu ke sini,” katanya suatu malam, “aku pengen kamu datang bukan karena aku, tapi karena kamu layak.”
Alya tersenyum sambil mengusap air mata.
“Itu yang aku kejar.”
---
Hari pengumuman beasiswa datang seperti hari penghakiman.
Alya duduk di depan laptop dengan tangan gemetar. Orang tuanya ada di ruang tamu. Tidak ikut mendekat. Tidak ikut bertanya.
Ia memasukkan nomor pendaftaran.
Layar memuat beberapa detik.
Lalu satu kata muncul.
DITERIMA.
Alya menutup mulutnya. Tangisnya pecah tanpa suara. Ia menatap layar itu lama, seolah takut kata itu menghilang.
Ibunya mendekat.
“Gimana?”
Alya menoleh, matanya merah.
“Alya lolos. Beasiswa penuh.”
Ibunya terdiam. Ayahnya bangkit dari kursi.
“Universitas mana?” tanyanya.
“Universitas tempat Raka kuliah.”
Hening kembali menyelimuti rumah itu. Tapi kali ini berbeda. Tidak berat. Tidak dingin.
Ayah Alya menatap putrinya lama. Terlalu lama.
“Kamu serius,” katanya akhirnya. Bukan bertanya.
“Iya,” jawab Alya. “Dan Alya nggak main-main.”
Ayahnya menghela napas panjang.
“Kalau kamu jatuh, kamu harus bisa bangun sendiri.”
Alya mengangguk.
“Alya siap.”
Ibunya mengusap bahu Alya.
“Kalau ini jalanmu, kami nggak bisa menahan terus.”
Dan di situlah, pertahanan terakhir runtuh.
---
Malam itu Alya menelepon Raka dengan suara gemetar.
“Aku lolos.”
Di seberang sana, Raka terdiam. Lalu tertawa kecil yang terdengar seperti orang menahan tangis.
“Kamu hebat,” katanya pelan.
“Aku ke kotamu bukan sebagai beban,” lanjut Alya. “Aku datang sebagai mimpi yang diperjuangkan.”
Raka menutup mata.
“Aku tunggu kamu. Bukan sebagai pacar LDR lagi. Tapi sebagai seseorang yang berjalan di arah yang sama.”
---
Beberapa bulan kemudian, Alya berdiri di stasiun dengan koper kecil. Orang tuanya mengantar. Tidak dengan wajah cemas seperti dulu, tapi dengan kepercayaan yang matang.
Saat ia turun dari kereta di kota baru itu, Raka sudah menunggu. Tidak berlari. Tidak berteriak. Hanya berdiri dengan senyum yang tenang.
Alya melangkah mendekat.
“Kita nggak LDR lagi,” katanya.
Raka mengangguk.
“Sekarang kita sama-sama pulang.”
Dan Alya tahu, alamat pulang itu kini bukan lagi sekadar nama di layar.
Ia telah menjadi kota.
Menjadi tujuan.
Menjadi masa depan yang dipilih dengan sadar.
Bernama kamu.
---