"Meong ... meong ... meong."
Seekor anak kucing terjerembab di selokan yang kotor dan mampet.
"Kena!" seru Grace diiringi senyum lebar. "Kamu kenapa ada di sana makhluk mungil, kemana ibumu?" tanyanya dengan suara berbisik merdu.
Kepala kucing itu merebah di telapak tangan Gracia. "Meong... " suara lirih manja dengan tatapan memohon pertolongan, ada kaca-kaca yang menyelimuti mata indah kucing itu.
"Oh, sayang... tentu aku akan menolong mu, sebentar... !" ucapnya semangat, lalu Gracia mengeluarkan handuk kecil bekas keringatnya sehabis latihan menari.
"Kamu akan aman dan hangat di sini." Grace memeluk tubuh mungil itu lalu bergegas pulang ke rumah.
Brak!
Suara meja ditampar.
Dari kaca jendela depan rumahnya, Gracia bisa melihat ketegangan menyelimuti ruang keluarga.
"Papa tidak akan memberikan kamu uang lagi, Kay! Kamu sudah keterlaluan, pergi!!" usir ayahnya.
"Ayah! Jangan gegabah... Kamu sedang emosi, jangan usir anakku," teriak bunda meraung sambil memeluk Kaylendra yang hendak beranjak pergi.
"Biar aku pergi, Bun. Sudah lama aku muak dengan semua ini! Kalian kaya, tapi sangat pelit dan pilih kasih!"
"Jangan, nak! Ayah hanya emosi, biarkan emosi Ayah dan kamu mereda. Ayo bunda antar kamu ke kamar," bujuk bunda.
Kaylendra menepis tangan bundanya, lalu bergegas menaiki anak tangga.
Dengan tubuh bergetar Gracia membuka pintu. Kedua orangtuanya menoleh ke arah Gracia. Wajah sang ayah seketika berubah manis menyambut kedatangan putri kesayangannya.
Begitulah Ayah Kevin bersikap, selalu pilih kasih!
Dia sangat tegas dan keras pada Kaylendra, dan melunak saat menghadapi Gracia.
"Gadis Ayah pulang! Apa yang kamu bawa, Nak? Sini duduk sayang, ceritakan bagaimana hari pertama kuliah, apa ada senior yang nakal dan mengganggu kamu?" rentetan tanya dengan sikap yang lembut memanjakannya.
Gracia duduk di samping ayahnya sambil menunjukkan anak kucing yang ia temukan di jalan. "Ayah, apa yang terjadi? Kenapa Ayah bertengkar dengan abang?"
"Jangan pedulikan abangmu, dia anak yang tidak berguna!" gerutu Kevin.
Di ujung anak tangga, Kay mendengar semuanya. Tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Wajahnya mengeras dengan gigi geraham mengunci hingga tulang rahangnya terlihat menonjol.
Satu bulan setelah kejadian itu...
"Abang, bisakah aku bicara?" tanya Gracia hati-hati, karena setelah kejadian itu, Kaylendra jadi pendiam dan lebih sering mengurung diri di kamar.
"Masuklah, pintu mana pun di rumah ini selalu terbuka untukmu, bukan?" tanyanya dengan senyum manis tanpa Grace sadari kalimat itu adalah kalimat sarkas yang keluar dari hati yang dingin. "Adikku tersayang... " imbuhnya dengan nada dingin dan tatapan mata yang sulit Gracia artikan.
Gracia membalas senyum Kay dengan tulus. Ia duduk di samping Kay bergelayut manja. Satu tangannya menggendong Keyni, anak kucing yang ia temukan waktu itu.
"Abang," panggilnya manja.
"Hem," jawab Kay sambil mengelus bulu anak kucing.
"Aku punya teman baru di kampus, namanya Merry, tapi dia aneh. Sering menyendiri, selalu membawa benda tajam, dan selalu memakai masker. Kata orang, dia anak p e m b u n u h. Papanya di penjara karena kasus mutilasi, mereka bilang jika papanya Skizofrenia maka bisa saja penyakit itu menurun padanya. Tapi aku kasian dia dijauhi teman satu kampus, sering dibully dan mendapat perlakuan tidak adil di kelas."
Kay melingkarkan lengannya ke bahu Gracia. "Kamu anak yang baik, lembut, apa hatimu gelisah melihat ketidakadilan itu?" tanyanya.
Garcia mengangguk dengan wajah merengut manja, tanda ia merasakan ketidaknyamanan dengan kondisi Merry.
"Kenapa kamu masih bertanya pada abang? Lakukan kebaikan itu dimana pun kamu berada. Temani dia, jangan pedulikan omongan orang lain, dia berhak mendapatkan rasa aman, beri dia kesempatan baru, bahwa sekalipun dia anak seorang kriminal, dia berhak bahagia. Beri kasih sayang tulus seorang sahabat. Hanya saja ... kamu harus pintar membawa diri, itu saja kuncinya."
Gracia tersenyum puas, seolah batu besar baru saja terangkat dari dadanya. "Abangku memang terbaik! Aku sayang abang... Muach!" kecupan bertubi-tubi mendarat di pipi Kaylendra.
"Sudah sana kamu bau asem!" usir Kay sambil mendorong tubuh Gracia.
Gracia berlari keluar kamar saat Kay akan melemparkan handuk lehernya. Di balik pintu yang tidak terlihat 'mata polos' Gracia, Kaylendra menyeringai dengan sorot mata gelap.
"Jebakan pertama berjalan, permainan akan dimulai, Grace. Setelah tahun baru, ku pastikan tidak akan ada lagi putri manja menyebalkan di rumah ini," ucap Kay dengan senyum sinis.
***
November, adalah bulan terbaik sekaligus terburuk bagi Gracia. Selama tiga bulan bersahabat dengan Merry, dia kerap mendapatkan kejanggalan yang sangat merugikannya. Tempat duduknya yang tiba-tiba ambruk saat ia duduki, pintu toilet yang terkunci dari luar, kiriman paket dengan nada ancaman.
Semua orang mengaitkan kedekatannya dengan Merry.
Semua masalah ia ceritakan pada Kay. Karena hanya Kay, yang bisa ia ajak diskusi tanpa menghakimi sahabatnya dan mengatasi semua masalah.
November juga bulan terbaik bagi Gracia. Ia semakin dekat dengan Merry, sahabat yang selalu mendukungnya. Merry pencinta binatang, ia kerap main ke rumahnya sekaligus mengajak Keyni main bersama dengan belasan kucing anggora milik Merry.
Suatu malam, Gracia dibuat kalang kabut karena Keyni hilang dari kamarnya. Ia mencari ke semua sudut rumah. Satu keluarga dibuat panik dan sibuk membantu mencari Keyni.
Dari arah pintu gudang, Kaylendra menggendong tubuh mungil Keyni yang sudah menjadi delapan bagian.
"Adik... kamu harus ikhlaskan dia," ucap Kay dengan wajah sendu.
"Argk! Tidaaakk... !" Gracia histeris melihat makhluk tidak berdaya itu sudah menjadi beberapa bagian.
"Abang menemukan ini," ungkapnya sambil menyodorkan jepit rambut dan sebilah benda tajam yang berkilat. "Apa dia yang melakukannya? Begitu juga kejadian sebelumnya?"
Jepit rambut itu ... jepit rambut couple yang Gracia dan Merry miliki. Mereka membelinya di pasar malam, sebagai tanda persahabatan.
Gracia berteriak, meraung dengan dada bergetar. Tangannya gemetar menyentuh bilah tajam yang berkilau dari tangan Kaylendra. Seketika tatapan Gracia menggelap, ia merampas benda itu dengan cepat. Matanya menyala penuh amarah, dadanya naik turun menahan gemuruh yang kian membuncah.
Gadis itu berlari seperti orang kesetanan. Ia melewati beberapa lorong komplek dan halte busway untuk menuju rumah sahabatnya. Di belakangnya, Kay mengejar Grace dengan wajah dingin. Ia tidak mencegah, tidak juga mendukungnya. Tapi ada senyum tipis penuh dendam di wajahnya.
"Aku yang mencincang makhluk dekil itu, Grace," gumamnya dengan nada dingin.
Tapi kalimat itu tidak tertangkap pendengaran Grace.
"Kamu tidak bisa masuk ke rumahnya tanpa ijin, Grace! Ini bahaya... Dia bisa saja sudah menyiapkan hal yang lebih gila lagi!" cegahnya dengan nada provokasi.
Grace yang sudah gelap mata semakin tertantang dengan kalimat terakhir Kay.
'Dia sudah menyiapkan hal yang lebih gila lagi'.
Kata-kata itu seolah menjadi bahan bakar bagi api emosi yang sudah menyala dalam dirinya. Gracia terbakar, dia gelap mata. Dia tidak takut! Bahkan ia berniat membawa neraka untuk Merry.
Pintu rumah Merry terbuka dari dalam. Wajah teduh Merry menyambutnya dengan senyum tulus. "Grace! Aku baru saja ingin memberi kabar gembira!" Merry memeluk tubuh Grace.
Bless!
Benda berujung lancip dan tajam itu menembus kulit dan organ dalam di tubuh Merry. Senyum tulus di wajah gadis itu meredup, matanya yang teduh menatap Grace dengan tatapan bingung dan memohon. Namun, tatapan lugu yang sedang menahan kesakitan itu dibalas Grace dengan senyuman sinis, menyeringai dan rasa puas saat cairan merah membanjiri tangannya.
Suara sirine mobil polisi menghentak kesadaran Grace. Gadis itu panik saat tubuh Merry tumbang di depannya. Tangannya yang berlumuran cairan merah gemetar.
"Jangan bergerak! Anda sudah dikepung!" teriak petugas kepolisian sambil menodongkan senjatanya.
"Abang... " lirih Grace memohon pertolongan pada Kay.
"Abang tidak bisa membantumu, Grace." Kay berpura-pura panik. "Pak Polisi, sa—saya bisa bersaksi atas kejadian ini. Di—dia yang melakukannya." Kay menunjuk grace dengan wajah ketakutan, dia berjongkok sambil meremas rambutnya sendiri, seolah baru saja mengalami trauma. "Selamatkan korban, siapapun tolong selamatkan korban!" teriak Kay.
Ambulan datang. Merry diangkat ke atas brankar. Kay menggenggam tangan Merry, "bertahanlah sayang, penderitaan kita akan berakhir setelah anak manja itu hilang dari hidup kita. Masa depan adalah milik kita," bisik Kay sambil mengecup tangan Merry.
S E L E S A I.
🌹 Cerpen ini saya persembahkan untuk event GC Rumah Menulis. Sebagai tanda terima kasih atas ilmu yang diberikan tentang Manipulator VS Innocent yang sangat bermanfaat untuk saya. Semoga saya bisa menggambarkan tokoh manipulatif dan innocent sesuai ilmu yang diberikan.
Semoga barokah ilmu yang diberikan dan kebahagiaan selalu menyertai admin dan pemberi materi 🤲🏻🙏.