CATATAN: BERISI GORE YANG MUNGKIN MEMBUAT MU TIDAK NYAMAN. BISA ANDA SKIP.
"A... Apa ini," kata leo yang baru masuk rumah, masih didepan pintu. Melihat bercak darah yang panjang.
Leo yang tidak tahu apapun cuma bisa diam. Memproses situasi yang dia lihat didalam otak nya apa yang terjadi dengan rumahnya.
Leo memberanikan diri untuk memastikan apakah itu darah atau bukan. Dia jongkok perlahan sedikit ragu, jantungnya berdegup sedikit tidak setabil. Dia menyentuh bercak merah seperti darah nya yang berada didepan pintu menggunakan Jari telunjuknya.
Leo mencium pelan.
Berfikir.
Lalu dia terdiam sesaat.
"Ini. Beneran darah?... Kenapa bisa dirumah ku..."Dia mulai bangkit pelan menatap bercak darah nya yang ternyata jejaknya panjang sampe dapur yang nyambung ke ruang tamu.
Leo masih belum gerak, menelan ludah tanpa sadar. Ragu.
Dia menghela nafas panjang lalu menghembuskan nafasnya.
Walaupun ragu leo akhirnya memberanikan dirinya untuk memeriksa jejak bercak darah nya.
Dia mulai memeriksa dari dapur.
Langkah kaki nya terdengar jelas oleh leo sendiri.
Hening.
Hening yang membuat leo takut dari pada tenang.
Pikiran nya tidak tenang, dia mulai berfikir aneh-aneh.
Cahaya bulan yang terang jatuh tepat diatas rak piring.
Leo menyalakan lampu. Dapurnya masih terlihat normal, tidak ada yang aneh-aneh, piring-piring tertata rapih ditepat nya, begitu pula pisaunya, alat masak lainnya.
Yang ada hanya jejak bercak darah yang panjang sampe rak piring lalu berbelok. Leo melihat nya lalu menoleh. Jejak itu mengarah ke ruang tamu.
Leo tidak langsung ke sana. Dia masih mencoba berfikir positif, Leo tenangkan lah dirimu, ini pasti cuma cairan seperti di darah, kan?
Tidak membantu.
Leo terus menerus berfikir positif.
Tapi percuma.
karena situasinya yang tidak membantu untuk berfikir positif.
Leo menelan ludah dengan kasar. Tangan nya gemetar lebih jelas.
Dia melangkah pergi ke ruang tamu dengan langkah yang berat dan pelan, jantungnya berdetak tidak karuan. Dia bisa merasakan nya.
Dia menyalakan lampu. Ruang tamu yang tadinya gelap menjadi terang.
Leo melihat dengan seksama ke ruang tamu.
Tidak ada yang aneh.
Meja normal tidak ada hal aneh.
Bangku-bangku dan sofa masih berjejer rapih. Tv juga masih ada.
Ruang masih normal. Kecuali jejak darah yang membekas dilantai.
Leo melihat jejak yang mengarah ke pojok ruangan berhenti di sebuah karung yang di senderkan ke dinding. Bagian bawah nya merah yang membekas .
Leo menyipitkan matanya."?... Aku tidak ingat pernah meletakkan karung disana... Sial aku tidak suka ini."
Leo masih gemetar, ritme nafasnya tidak stabil. Degup jantungnya masih berisik. Keheningan dirumah leo yang biasa menenangkan justru sekarang membuat nya tidak nyaman.
Dia takut.
Leo mau memeriksa karung itu, langkah nya berat, tertahan.
Dia takut.
Pikiran nya udah kacau.
Dia tertawa kecil. Tidak ada yang lucu. Dan tidak ada yang bisa ditertawakan. Leo hanya tertawa pasrah dengan apa yang akan dia lihat.
Dengan langkah yang berat. Leo berjalan mengarah ke karungnya. Pelan. Perlahan. Dan berharap itu hanya berisi sesuatu yang normal.
Leo menatap karung putih yang cukup besar. Dia perlahan membuka ikatan nya. Pelan. Ragu dan takut.
Dia menelan ludah keras-keras. Ada kesalahan kecil saat dia akan membuka karena tangan nya gemetar. Tidak bisa fokus.
Ikatannya berhasil leo buka. Dia membuka karungnya.
Pelan.
Isi didalam karung ada sebuah daging dipotong kecil-kecil, darah nya masih segar, dibaliknya ada satu tangan manusia yang sudah tidak ada kulit nya. Dan diatas daging kecil-kecilnya ada kepala manusia yang secara kebetulan atau sudah diposisi kan. Menghadap ke muka leo saat melihat. Masih bau darah dan bola matanya keluar setengah melotot.
...
"HA—?!AAAAAAA—" Teriakan leo menggema ke seluruh ruangan. Dia jatuh terduduk ke belakang mengenai sofa. Begitu dia melihat isinya .
Wajahnya langsung pucat. Matanya membesar. Dialangsung tidak bisa berkata apapun. Tidak percaya apa yang di lihat.
Tangan nya gemetar.
Nafasnya tersengal .
Leo mencoba mengatur nafasnya dengan normal. Tapi gagal.
" M-Manusia?! Apa-apa ini!"
Nada suara leo meninggi. Dia refleks bertanya, entah ke siapa.
yang menjawabnya hanya Keheningan membuat leo semakin takut.
Tap... Tap....
"Ah~... Kau Kembali tuan~."
Suara yang memecah keheningan muncul dari belakang leo.
Leo langsung cepat menoleh.
"Siapa kau?.. Kenapa kau tahu nama ku dan kenapa kau bisa ada dirumah ku!?"kata leo cepat. Dia mundur beberapa langkah. waspada.
Seorang pria berambut putih panjang, mata hitam pupil putih bulat, mengenakan jas putih yang dipenuhi bekas darah.
"Itu tidak penting. Aku disini atau tidak itu tidak penting leo~"katanya sambil tersenyum lebar."Salam aku, doctor."
Leo menyipitkan matanya. Tidak tahu harus melakukan apa. Masih takut dan tidak berani melakukan apapun.
"Jangan bercanda!.. Katakan apa mau mu berada disini,"kata leo dengan nada tinggi. Dia menunjuk ke karung."Apa... Apa itu yang kau lakuk—"
".... Stttt. Diam dulu, aku sedang mendengar nya," sela doctor cepat sambil meletakkan tangannya dikedua telinganya seolah-olah sedang mendengarkan sesuatu dengan cermat.
Doctor menatap langit-langit, memiringkan kepalanya lalu tersenyum lebar, merapatkan jari-jari tangan nya."Oh! Yang maha agung... Engkau mau memberikan Wahyu pada hamba yang tidak pantas ."
Leo menatap doctor seperti orang gila. "Apa kau gila."
"... Kah tidak mengerti leo. Dia sedang memberikan wahyu..."
Itu membuat leo semakin tidak nyaman.
"Pergi kau dari sini!... Sebenarnya apa yang kau inginkan "kata leo. Suaranya gemetar kecil.
Doctor memiringkan kepalanya ke leo. Senyum nya hilang. Jelas Terganggu.
"Kau menganggu ku sedang menerima Wahyu. Baiklah. Baiklah aku akan bilang jika itu membuat mu puas,"katanya datar.
Doctor meninggikan kepala nya lalu keduanya tangan di angkat sedikit. Dia tersenyum."Tidak kah kau merasa ada yang kurang. Tidak kah kau kau merasa ada yang aneh. Tidak beres. Ada yang sesuatu hilang yang seharusnya ada..."
Leo mengambil kaca. Mengangkat tangan tinggi, mengayun kan nya ke arah doctor, bukan terencana, hanya reflek.
"Apa yang kau maksud. Apanya yang tidak beres—?!"
Tangan leo yang memegang kacak hendak melempar nya ke arah doctor. Berhenti di udara.
Wajah leo langsung pucat.
Dia terdiam.
Ingat ada yang salah. Ada yang kurang. Ada seseorang yang seharusnya ada tapi tidak ada.
Istri nya.
"Kau... Kau... Dimana , dimana dia!? Apa kau melakukan sesuatu padanya."Suara leo meninggi yang dipenuhi ketakutan akan istri nya tidak kenapa-kenapa.
leo merasa sesak, dia menggigit bibirnya. Keringat dari pelipisnya jatuh.
Doctor melihat itu dia semakin tersenyum lebar. Jelas menikmati nya.
Itu membuat leo meledak, marah. Melempar kaca yang dia pegang, refleks.
Tidak kena.
"Ohh, kau tidak perlu khawatir dengan nya. Karena kau sudah melihat sendiri... Tadikan."
"A—?!"Sebelum leo mengselesaikan kalimatnya.
Dia langsung freeze.
Keheningan jatuh diruangan membuat terasa lebih berat.
Dia perlahan menoleh ke arah karung yang disebelah nya dengan mulut ternganga. Cukup jauh dan cukup dekat.
Sebuah cincin menggelinding dari karungnya mengarah ke leo.
"Hah?...haa... HAAAAAAAAAAAAA—!"