Di sebuah desa pesisir di pantai Timur Jawa, ada dua orang yang selalu dianggap "berbeda" oleh masyarakat sekitar: Lintang, seorang perempuan yang memilih untuk tidak menikah dan fokus mengelola usaha perikanan yang diwarisi dari ayahnya, dan Bara, seorang laki-laki yang lebih suka menghabiskan waktu membuat kerajinan tangan daripada bekerja sebagai nelayan seperti kebanyakan pria di desa.
Masyarakat sering mengucapkan kata-kata tidak menyenangkan. "Kenapa seorang perempuan mengelola kapal? Seharusnya dia mencari suami dan merumah tangga," ujar seorang ibu-ibu di pasar. "Bara tidak seperti laki-laki lain – selalu sibuk dengan kain dan benang," cela seorang bapak-bapak saat melihatnya membuat anyaman rotan.
Meskipun hidup dalam tekanan norma masyarakat, Lintang dan Bara menemukan hubungan yang dalam saat mereka bekerja sama membuat kerajinan dari kulit ikan yang tidak terjual dan anyaman rotan. Lintang memberikan ide tentang bentuk produk yang menarik, sementara Bara menguasai teknik pembuatannya dengan tangan yang terampil.
"Aku merasa bebas ketika bersama kamu," ujar Lintang saat mereka sedang menyelesaikan pesanan kerajinan untuk toko di kota. "Kamu tidak pernah menuntut aku untuk jadi seperti perempuan lain."
Bara tersenyum lembut, mengusap rambut yang sedikit berantakan karena debu rotan. "Kamu juga tidak pernah melihatku sebagai orang yang aneh. Kamu melihat apa yang bisa kulakukan, bukan apa yang seharusnya kulakukan."
Perasaan mereka tumbuh perlahan, bukan cinta yang dijadikan perhatian publik atau diikat oleh tradisi pernikahan yang mereka rasa tidak cocok. Mereka memilih untuk hidup berdampingan sebagai pasangan yang saling mendukung, tanpa harus mengikuti pola yang telah ditetapkan oleh orang lain. Lintang tetap mengelola usaha perikanannya dengan sukses, sementara Bara membuka kelas kerajinan tangan yang diikuti oleh anak-anak muda desa – baik laki-laki maupun perempuan.
Saat sebuah badai besar menghantam desa dan merusak banyak kapal nelayan, Lintang dan Bara bekerja sama mengumpulkan bantuan dan mengajak masyarakat membuat kerajinan untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Mereka membuktikan bahwa kebahagiaan dan cinta tidak selalu harus mengikuti norma yang sama untuk semua orang.
Melihat kontribusi mereka, masyarakat mulai berubah pandang. Tak ada lagi omongan tentang apa yang "seharusnya" dilakukan oleh laki-laki atau perempuan, atau bagaimana bentuk cinta dan hubungan harusnya. Di pantai yang sama tempat mereka dulu dipermalukan, kini banyak orang yang datang untuk belajar dari mereka – bukan hanya tentang membuat kerajinan atau mengelola usaha, tapi juga tentang memiliki keberanian untuk hidup sesuai dengan hati nurani sendiri.
"Kita tidak perlu sama dengan orang lain untuk dianggap benar," kata Lintang saat mereka sedang menikmati matahari terbenam di tepi pantai, tangan mereka saling bergenggam tanpa perlu rasa malu. Bara mengangguk, "Cinta yang sejati adalah ketika kita bisa menerima satu sama lain apa adanya, tanpa syarat dan tanpa norma yang membatasi."