Di SMA Negeri 5 Surabaya, kelas 11 IPA 3 dikenal sebagai kelas yang penuh dengan siswa aktif – termasuk Nayla, yang suka menggambar di sudut buku catatannya, dan Rafi, yang selalu menjadi juara kelas tapi sering lupa membawa alat tulis.
Hari itu, Nayla sedang bersembunyi di perpustakaan sekolah untuk menyelesaikan tugas seni. Dia menggambar wajah seorang pemuda yang sedang fokus membaca – jelas itu Rafi, yang sering datang ke perpustakaan untuk belajar. Tanpa sengaja, dia menulis di bawah gambar: "Kamu mungkin tidak tahu, tapi senyummu membuat hari ku jadi lebih cerah..."
Setelah selesai, Nayla tergesa-gesa pulang karena ibunya memanggil, tanpa menyadari bahwa buku catatannya tertinggal di meja sudut. Keesokan harinya, Rafi datang ke perpustakaan dan menemukan buku itu. Dia membukanya dengan penasaran, dan ketika melihat gambar dan catatan itu, wajahnya langsung merah seperti apel.
Sampai di kelas, Rafi bingung harus bagaimana. Dia selalu melihat Nayla sebagai teman yang baik – senyumnya hangat dan tangannya lihai menggambar. Tapi sekarang, dia merasa ada sesuatu yang berbeda di hatinya. Saat Nayla masuk kelas dengan wajah khawatir, Rafi langsung menghampirinya.
"Kau cari ini kan?" tanya Rafi sambil mengeluarkan buku catatan. Nayla langsung membalik wajahnya karena malu, ingin mengambil buku itu dengan cepat tapi tangan mereka bersentuhan. Kedua-duanya jadi terdiam sejenak.
"Gambarmu sangat bagus," ujar Rafi pelan. "Dan tentang apa yang kamu tulis... aku juga merasa sama. Cuma aku tidak berani bilang karena khawatir kamu akan tertawa."
Nayla mengangkat kepalanya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, "Kenapa aku akan tertawa? Kamu selalu membantu aku saat aku kesulitan dengan matematika, kan?"
Mulai dari hari itu, mereka sering belajar bersama di perpustakaan. Rafi mengajari Nayla matematika dan fisika, sementara Nayla mengajari Rafi menggambar dan memberi tahu dia tentang makna warna dalam seni. Kadang-kadang, mereka menyisipkan catatan kecil di buku tugas satu sama lain – kadang berisi soal matematika yang lucu, kadang gambar kecil yang menggemaskan.
Pada hari ulang tahun Nayla, Rafi memberinya sebuah bingkai kayu yang dibuat tangannya sendiri, berisi gambar mereka berdua yang sedang belajar di perpustakaan. Di bawah gambar, Rafi menulis: "Senyummu bukan hanya membuat hari ku cerah – kamu membuat hidup ku jadi lebih berwarna."
Nayla tersenyum lebar dan memberikan sebuah buku gambar baru padanya, dengan catatan di halaman pertama: "Mari kita isi buku ini dengan cerita kita yang masih panjang."