Di sebuah ruang besar bernama Majelis Dunia, negara-negara hadir dalam wujud manusia. Mereka tidak hanya membawa bendera di wajah, tetapi juga sejarah panjang di pundak mereka.
Indonesia duduk tenang, mengenakan pakaian sederhana dengan senyum ramah. Di sebelahnya, Malaysia melipat tangan, tampak waspada namun sopan. Tak jauh dari sana, Jepang berdiri tegak dengan sikap disiplin, sementara Amerika bersandar santai di kursinya, penuh percaya diri.
Hari itu, dunia sedang tidak baik-baik saja.
Sebuah konflik besar mengancam keseimbangan—bukan perang senjata, melainkan krisis kepercayaan. Negara-negara saling menyalahkan, suara mulai meninggi, dan meja perundingan terasa semakin panas.
“Apa gunanya pertemuan ini kalau tidak ada yang mau mendengar?” gumam Indonesia, suaranya pelan namun tegas.
Kata-kata itu membuat ruangan hening.
Indonesia berdiri. “Kita semua punya masa lalu. Ada yang kelam, ada yang membanggakan. Tapi kalau kita terus terjebak di sana, masa depan tidak akan pernah terbentuk.”
Jepang menoleh, matanya serius. “Aku setuju. Kesalahan harus diingat, tapi bukan untuk mengulang kebencian.”
Malaysia mengangguk perlahan. “Perselisihan memang ada, tapi kita juga bertetangga. Tidak mungkin saling membelakangi selamanya.”
Bahkan Amerika, yang biasanya santai, kali ini duduk lebih tegak. “Oke… mungkin sudah saatnya berhenti saling menuding.”
Satu per satu, negara lain mulai berbicara. Bukan untuk menyalahkan, tapi untuk memperbaiki.
Di akhir pertemuan, tidak semua masalah selesai. Namun satu hal berubah: mereka kembali saling mendengar.
Indonesia menatap bendera-bendera yang berkibar di luar jendela. Dunia memang rumit, pikirnya. Tapi selama masih ada yang percaya pada dialog, harapan tidak akan pernah benar-benar hilang.
Dan di persimpangan dunia itu, sebuah janji diam-diam terikat:
untuk mencoba menjadi lebih baik—bersama.