Setelah mengetahui yang sebenarnya, Alea bersikap biasa saja seperti biasanya. Tidak ada perubahan dalam sikap Alea yang akan membuat Darius curiga kepadanya. Alea akan mengimbangi sandiwara Darius yang selalu bersikap manis.
Meski Alea ingin segera menghentikan sandiwara ini, tapi ia mencoba bertahan sampai waktu yang telah ia tentukan. Alea selalu ceria dan bermanja-manja pada Darius seperti biasanya.
Di sisa waktunya bersama Darius, Alea ingin mengisi semuanya dengan hal-hal yang indah.
Seperti pagi ini, laki-laki itu sudah siap dengan pakaian kerjanya. Dia menghampiri Alea yang masih meringkuk di bawah selimut. "Pagi, sayang. Bangunlah, kamu harus siap-siap untuk berangkat kuliah."
Darius mengecup lembut kening Alea. Alea menggeliat, perlahan kelopak matanya terbuka dan terpampang lah wajah tampan Darius yang terlihat segar.
Darius melabuhkan kecupan selamat pagi di bibir Alea. Alea menerimanya lalu gadis itu menahan tengkuk sang Daddy untuk memperdalam ciumannya.
Tangan Alea mengelus rahang Darius, lalu turun hendak membuka kancing kemeja sang Daddy. Namun Darius segera menahannya. "Daddy ada rapat penting pagi ini."
Alea sedikit kecewa lantas dia berkata, "Alea kangen Daddy."
Dia begitu merindukan sentuhan Darius, meski tau Darius sejahat itu tapi Alea menginginkannya. Entah karena hormon kehamilannya atau memang dia semurahan itu jika menyangkut Darius. Mungkin Darius menganggap Alea sama saja seperti ibunya yang katanya murahan itu.
"Tidak bisa, sayang. Daddy bisa terlambat. Lain kali saja ya!"
Penolakan ini membuat hati Alea terasa nyeri. Selama ini Darius lebih dominan meminta. Tapi saat Alea menginginkannya saat ini, laki-laki justru tak berminat. Entah karena sibuk atau memang ada hal lain.
Darius mengecup kening Alea kembali dan ia langsung pergi dengan terburu-buru. Entah ada rapat penting apa sampai laki-laki itu melewatkan sarapannya juga.
Alea bangkit dari ranjang. Di kamar mandi, dia kembali menumpahkan isi perutnya. Untung saja Darius tidak ada. Jadi dia tidak tau apa yang terjadi pada Alea saat ini.
Alea melewati harinya seperti biasa.
Sore hari dia tiba-tiba menginginkan sesuatu. Alea mengetik sebuah pesan di hapenya. Meminta di belikan oleh-oleh jus jeruk segar pada Darius dan sebuah martabak manis. Entah kenapa tiba-tiba saja dia begitu ngiler ketika membayangkannya.
Pesan terkirim dan Darius hanya membacanya. Tak ada balasan dari laki-laki itu. Sebegitu sibuknya kah dia?
Saat malam, Darius datang kembali ke rumah. Alea menyambut kedatangannya di depan pintu dengan tersenyum. Tak sabar untuk menerima pesanannya. Namun senyumannya luntur ketika Alea melihat Darius pulang dengan seorang wanita cantik.
Tinggi, putih, cantik dan terlihat dewasa. Berbeda dengan dirinya yang cantik imut. Maklu saja, dia anak remaja berusia delapan belas tahun.
Darius terlihat serasi beriringan dengan wanita itu.
"Daddy..."
Suara Alea memecah keheningan malam. Dia melihat Daddynya yang terlihat datar.
"Alea ya?"
Sapa wanita itu mengulurkan tangannya. Alea menerimanya dan memperkenalkan dirinya sebagai anak angkat Darius.
"Selena. Teman dekat Daddy mu."
Ucapnya membuat Alea melebarkan matanya.
Jadi ini yang namanya Selena?
Wanita yang Alea dengar sebagai kekasih Darius. Tapi kenapa dia bilang hanya teman dekat Daddy-nya saja ?
Apa dia juga ikut bersandiwara bersama mereka?
Darius mengantar Selena ke kamar tamu yang sudah ia siapkan. Benar-benar sudah di siapkan dengan matang, pkir Alea.
"Darius terimakasih untuk hari ini. Kamu udah repot-repot menjemput ku di bandara tadi pagi. Dan sekarang kamu malah memberi aku tumpangan."
Alea yang mengikuti mereka berdua terkejut mendengarnya. Jadi pagi tyang arius cepat-cepat pergi karena ingin menjemput wanita itu. Bukan karena ada rapat penting. Alea benar-benar merasa di bohongi setengah mati.
"Tidak apa. Kebetulan tadi pagi aku sedikit tidak ada kerjaan. Istirahatlah."
Selena masuk ke dalam kamarnya.
Begitu juga dengan Darius, laki-laki itu berbalik badan hendak menuju kamarnya. Di lihatnya Alea yang masih berdiri di belakangnya.
"Kembalilah ke kamarmu!" Darius berucap datar.
Alea mengangguk lalu berjalan ke kamarnya tanpa sepatah katapun.
Darius mengikuti langkah Alea menuju lantai atas. Namun dia tidak masuk kamar yang sama dengan alea. Mungkin karena ada Selena gumam Alea dalam hati.
"Daddy.."
Langkah Darius terhenti ketika hendak membuka pintu kamarnya.
"Pesanan Alea mana?"
Darius terlihat mengingat sesuatu. Lalu tiba-tiba ia menepuk jidatnya seolah-olah benar-benar lupa. "Daddy lupa. Besok lagi ya!"
"Tapi Alea mau sekarang. Alea kepengen banget makan itu."
Alea tiba-tiba ngotot. Dia memaksa Darius untuk keluar rumah malam ini juga bersamanya. Namun keinginan Alea saat ini tidak di kabulkan begitu saja oleh Darius.
"Sudah malam Alea. Tidur sekarang juga!"
Suaranya sedikit meninggi tidak seperti biasanya. Alea terkejut di tempat. Lalu diq masuk ke dalam kamarnya tanpa bicara apapun lagi.
Alea kembali tidur dengan hati yang berkeping-keping. Dia tidak bisa apa-apa hanya selain menurut kepada Darius.
Pagi menyapa, akhir-akhir ini Alea malas sekali bangun pagi. Dia merapatkan selimutnya agar tidurnya kembali nyenyak.
Namun suara ketukan pintu kamar terdengar. Alea dengan malas bangun dan beranjak dari kasurnya. Dia membuka pintu dan melihat siapa yang datang mengunjungi kamarnya.
"Tante..."
Selena berdiri di epan kamar nya dengan penampilannya yang terlihat rapi.
"Aku bukan tante mu dan belum setua itu untuk di panggil tante."
Bu
Meski usianya sudah memasuki 30 tahun, tapi Selena tidak terima di panggil Tante oleh anak seusia Alea. Alea hanya lebih muda beberapa tahun darinya. Mungkin sebutan kakak lebih enak di dengar daripada Tante.
"Cepat bangu. Anak gadis tidak baik bangun siang, apalagi di rumah orang."
Ucapnya sinis kepada Alea. Ada rasa nyeri di hati Alea.
Ya, ini bukan rumahnya. Dia hanya menumpang di rumah ini dan ia tidak pantas untuk seenaknya. Alea menatap Selena dalam. Wanita ini berbeda sekali saat berhadapan dengannya seorang diri dan saat bersama Darius.
"Selena, apa dia sudah bangun? Cepat kembali!"
Suara Darius terdengar di lantai bawah. Laki-laki itu bahkan tidak membangunkannya seperti biasa. Dia malah menyuruh Selena untuk membangunkan Alea.
"Sudah Dar... Alea membersihkan diri dulu." Jawab Selena berteriak.
"Cepat mandi. Jangan membuat Darius menunggu. Siapa memang kamu ini?"
Umpat Selena yang langsung pergi meninggalkan Alea.
Tak ingin mereka menunggu lebih lama, Alea segera membersihkan diri dan berkumpul bersama di meja makan.
Alea duduk berhadapan dengan Selena. Wanita itu mengambilkan sarapan dengan telaten untuk Darius seperti seorang istri yang telah melayani suaminya.
Alea menghiraukan mereka. Dia fokus pada makanannya sendiri.
"Kenapa hanya makan buah? Ini sarapannya banyak Alea."
Suara Selena menghentikan kunyahan Alea. Akhir-akhir ini Alea tidak bisa sarapan pagi. Kalau bukan buah atau sayur rebus.
Alea merasa mual jika harus di paksa sarapan nasi, roti ataupun yang lainnya.
"Tidak apa-apa Tante. Alea hanya lagi diet saja." Ucapnya beralasan.
Tidak mungkin ia mengatakan alasan yang sebenarnya.
"Sudah kecil begini masih ingin diet. Jangan terlalu ekstrim Alea! Kalau nanti sakit, Darius lagi yang repot."
Alea menatap Darius yang hanya diam saja. "Tante tenang saja, Alea gak akan ngerepotin Daddy lagi." Ucap Alea mantap penuh arti. Dia memang bertekad untuk pergi dari hidup Darius sebelum laki-laki itu membuangnya.
Perdebatan kecil itu terhenti tatkala Darius membuka suara. Tidak sopan katanya jika makan sambil bicara.
Darius telah berangkat ke kantornya. Selena masih betah di rumah Darius, katanya nanti siang dia baru akan pulang ke rumahnya.
"Terlalu nyaman itu tidak baik. Apalagi kamu berdiri di atas sesuatu yang bukan milikmu."
Tiba-tiba suara Selena mengganggu Alea yang sedang menyiram bunga di taman. Wanita itu begitu berani jika tidak ada Darius di antara mereka. Alea diam, malas menanggapi wanita dewasa ini.
"Hehhh bocah, dengar! Kau pikir Darius tulus memperlakukanmu dengan baik?" Tanya selena nyalang melihat Alea yang diam saja.
"Aku tau."
"Tau??"
"Ya aku tau semua maksud Daddy dan siapa kamu baginya." Alea menghentikan pekerjaannya dan menatap Selena yang terlihat sedikit terkejut. Sejauh apa gadis kecil ini mengetahui kehidupan Darius.
"Memangnya siapa aku?" Tanya Selena memastikan. Sejauh mana gadis kecil ini mengetahui kehidupan Darius.
"Kekasih Daddy." Jawab Alea cepat.
Selena tersenyum miring, tanpa dia kasih tau ternyata Alea sudah tau semuanya. Selena tau apa yang Darius dan gadis kecil ini lakukan di belakangnya. Namun dia bisa memaafkan Darius dan akan memastikan jika Alea benar-benar akan di buang oleh kekasihnya itu.
"Siap-siap kamu pergi dari rumah ini. Karena Darius akan segera membuang benalu sepertimu di rumah ini. Dan akan ku pastikan itu."
Selena pergi meninggalkan Alea seorang diri. Mendengar lagi kata Darius akan membuangnya membuat dia kembali sedih. Alea tau pasti itu terjadi. Namun sebelum itu, Alea sendiri yang akan segera pergi meninggalkan Darius.
Mood Alea benar-benar hancur sejak tau kebenaran itu. Dia berusaha menekan kesedihannya untuk terlihat baik-baik saja. Sekali lagi dia ingin menarik perhatian Darius dan berbagi kisah indah lagi.
Malam ketika Darius sudah ada di rumah. Laki-laki itu masih begitu sibuk meski di rumah sekalipun. Dia masih mengerjakan beberapa pekerjaan yang tak kunjung usai.
"Daddy... Alea ingin nasi goreng buatan Daddy." Tiba-tiba Alea mendatanginya dan bermanja pada Darius. Akhir-akhir ini Alea kerap minta sesuatu yang harus langsung di lakukan Darius. Mungkin ngidam pikirnya.
"Daddy sibuk, kamu minta buatkan pada pelayan saja."
"Tapi Alea pengen Daddy yang buatkan langsung." Alea kukuh dan itu membuat Darius kesal.
"Jangan kekanakan Lea. Kamu tidak lihat Daddy sedang apa?" Bentak Darius membuat Alea kaget.
Mungkin ini kali pertamanya laki-laki itu membentaknya. Semakin kesini sikap Darius semakin bertolak belakang dengan sebelumnya.
"Iya dad.. maaf sudah mengganggu." Lirih Alea langsung pergi meninggalkan Darius.
Saat di balik pintu, Alea bisa mendengar ada panggilan masuk ke ponsel Darius. Laki-laki itu bicara dengan sesekali menyebut nama Selena.
Alea segera pergi ke kamarnya. Dan tak lama kemudian suara mobil Darius terdengar keluar dari rumah mereka.
Entah ada hal apa yang terjadi. Darius sampai rela meninggalkan kesibukannya demi Selena itu. Berbeda dengan keinginannya tadi yang di abaikan oleh Darius.
Hati Alea remuk lagi mendapati semua itu.
Siang itu Alea mengirim pesan pada Darius jika dirinya akan pergi jalan6dan menginap di rumah salah satu temannya. Alea begitu kesepian di rumahnya karena Darius jarang ada di rumah. Mungkin laki-laki itu tengah sibuk mempersiapkan ulang tahun perusahaannya.
"Ingat besok malam ulangtahun perusahaan Daddy. Kamu harus datang. Daddy ada kejutan untukmu." Jawaban pesan Darius.
"Alea tahu. Alea juga ada kejutan buat Daddy. Jadi Alea boleh menginap kan?"
"Iya."
Jawaban singkat itu membuat Alea bernafas lega.
Alea memindai seluruh isi kamarnya. Kamar yang beberapa tahun ini menjadi tempat tinggalnya. Kenangan indah bersama Darius berputar dalam bayangannya. Saat Alea kecil di temani Darius karena ketakutan tidur sendirian..
Saat ia sebesar ini dan menghabiskan malam yang penuh gairah.
Sebelum di campakkan, Alea akan pergi duluan. Karena itu akan sangat menyakitkan.
Tidak ingin menimbulkan kecurigaan, tidak banyak yang Alea bawa pergi. Hanya tas gendong kecil yang berisi beberapa helai pakaian.
Alea menaiki sebuah taksi online. Sebelum benar-benar pergi, dia mendatangi kantor sang Daddy. Dia menatap dari jendela mobil gedung yang menjulang tinggi. Berharap ada Darius di sana dan ia bisa melihat untuk yang terkahir kalinya.
Dan harapan Alea terkabul. Darius keluar dari gedung perusahaannya. Namun dia tidak sendiri, tentu bersama Selena yang bergelayut manja di lengannya.
Alea tersenyum miris. Benar, dirinya tidak seberharga itu di hati Darius. Harusnya dirinya tidak terbuai oleh semua perlakuan Darius selama ini. Dia bukan siapa-siapa. Dan tak akan sebanding dengan Selena.
"Selamat tinggal Daddy. Ini kali terakhirku melihatmu."
Alea menghapus air matanya yang jatuh membasahi pipinya.
Alea memilih pergi saat ini juga di saat Darius lengah. Semoga saja dia tidak mengetahui kepergiannya saat ini. Alea tidak ingin berlama-lama lagi. Dia tidak akan menepati janjinya untuk menghadiri ulangtahun perusahaan Darius. Mesti katanya dia akan mendapatkan sebuah kejutan dari Darius. Tapi Alea tidak berminat sama sekali. Karena ia tahu kejutan apa yang ia akan dapatkan. Kejutan itu bukan sesuatu yang menyenangkan bagi Alea, tapi itu sngt menyakitkan.
Masih ingat di benak Alea percakapan Darius bersama dua teman lainnya satu Minggu yang lalu, dia akan melamar Selena tepat di hari ulangtahun perusahaannya. Dan akan membuang Alea ke jalanan atau mungkin laki-laki itu akan menjualnya ke mami Rosita pemilik salah satu club di kotanya sesuai saran dari kedua temannya. Bahkan mereka bicara terang-terangan ingin mencicipi tubuh Alea.
Percakapan itu benar-benar membuatnya terluka dan terhinakan.
Sampai waktu ulangtahun perusahaan tiba Darius tidak pulang ke rumah dan ia tak tau jika Alea tidak kembali ke rumah lagi.
Darius tengah sibuk menerima para tamu yang merupakan relasi bisnisnya. Sesekali dia melihat ke sana kemari mencari seseorang.
Alea.. dia sedang menunggu kehadirannya. Acara sudah mau di mulai tapi belum terlihat kedatangannya sama sekali.
"Darius ada apa?"
Selena menghampiri Darius yang tengah sibuk dengan ponselnya. Dia berulang kali menghubungi Alea namun tak kunjung mendapat jawaban.
"Tidak apa. Hanya ada sesuatu yang tertinggal. Masuklah!"
Selena tidak banyak bicara, dia segera kembali ke dalam dan menyapa tamu kembali.
Darius sampai kesal sendiri kenapa anak itu tidak mengangkat panggilannya.
Dia beralih menelpon telpon rumah berharap pelayan di rumahnya memberi kabar tentang Alea.
"Maaf tuan, sejak kemarin Nona Alea tidak pulang ke rumah." Begitu kata pelayan di rumahnya.
Darius ingat, kemarin Alea minta izin menginap di rumah temannya, Linda.
Apa Alea masih berada di sana. Katanya dia tidak pulang seharian ini. Tiba-tiba rasa gelisah menghantui hatinya.
Darius mengabaikan sejenak tentang Alea saat pemandu acara sudah memulai acara tersebut.
Darius memberi sebuah sambutan hangat sebagai pemilik perusahaan.
Saat dia duduk di kursinya kembali, asistennya mendekat dan menyerahkan sebuah ponsel. Darius segera mengambilnya dan mendengar ucapan di seberang sana, "maaf om Darius, Alea batal menemuiku kemarin. Mungkin dia di rumah."
Tangan Darius menggenggam erat ponselnya. Dia tiba-tiba kesal dan ingin marah. Kemana anak itu? Kenapa dia jadi tiba-tiba menghilang seperti ini.
Saat pemandu acara mengabarkan jika Darius punya kejutan untuk Selena dan di persilahkan untuk naik ke panggung, laki-laki itu malah pergi berlari keluar. Darius mengabaikan semua persiapan yang akan melamar kekasihnya tersebut.
Lamaran ini semata-mata hanya untuk mematahkan hati Alea. Namun karena dia tak kunjung datang, Darius menundanya.
Semua tamu yang tadinya bersorak kini malah terdiam, bingung dan lalu bisik-bisik mulai terdengar. Apa yang terjadi? Kenapa Darius malah meninggalkan pestanya.
Begitu juga dengan Selena. Dia merasa malu karena Darius pergi dan mengabaikannya begitu saja.
Mengabaikan pesta yang berlangsung, Darius mendatangi rumah Linda. Dia takut kalau Linda hanya berbohong dan menyembunyikan Alea.
"Serius om... Alea gak kesini. Lihat, ini pesan terakhir Alea kemarin."
Darius membaca pesan Alea. Dan benar pada pesan itu Alea meminta maaf jika tidak jadi datang menginap.
Darius kembali ke rumahnya. Mungkin gadis itu sudah pulang dan lupa akan pesta malam ini.
Darius segera berlari menuju kamar Alea seraya ponselnya melakukan panggilan ke nomor Alea. Suara dering terdengar di kamar Alea. Darius sedikit lega, pasti gadis itu sudah ada di kamarnya. Namun begitu pintu kamar terbuka, kosong dan hanya nada dering ponsel Alea yang mengisi kamar itu.
"Alea..."
Darius berteriak memanggil namanya. Dia mengecek setiap sudut kamar Alea namun tak ada jejak Alea sedikitpun.
Darius frustasi dan menyugar rambutnya kasar. Dia seperti di permainkan Oleh Alea. Ketika ia hendak mematahkan hati gadis itu, Alea malah hilang begitu saja.
"Brengsek... Siapa dia dia berani melakukan ini padaku. Sampai aku menemukan mu jangan harap kau selamat jalang kecil." Umpat Darius kejam.
Alea hanya gadis biasa yang ia pungut untuk ajang balas dendam atas kesalahan ibu Alea.
Darius benci ibu Alea karena dulu dia telah membuat Darius jatuh cinta dan patah hati berat. Ibu Alea merendahkannya dan memilih lelaki yang mapan.
Di tengah kekalutannya, pandangan Darius jatuh pada selembar kertas di atas tumpukan buku. Darius mengambil dan segera membacanya.
"Hai Daddy...
Terimakasih atas semua yang telah Daddy berikan padaku. Daddy sudah Sudi menampung dan memberi makan Alea. Awalnya, Alea pikir Daddy benar-benar tulus merawat Alea. Menjadi ayah yang baik buat Alea. Alea senang karena pada akhirnya Alea bisa merasakan kasih sayang seorang ayah. Alea tidak tau siapa ayah Alea. Ibu bilang, ayahku bukan manusia. Binatang lebih baik dari padanya. Aku tidak ingin tau lebih jelas seperti apa ayahku. Karena aku takut akan membuka luka lama ibu dan menyakiti perasaanku sendiri.
Daddy ayah yang baik buat Alea, meski pada akhirnya Daddy juga yang membuat Alea terpaksa dewasa. Alea tidak menyesal telah memberikan semua yang ada pada diri Alea. Sesuai kesepakatan, Alea memberikannya karena ingin membalas semua kebaikan Daddy. Bagi Daddy mungkin hanya balas Budi, tapi bagi Alea itu tanda cinta Alea juga untuk Daddy.
Maaf Daddy jika Alea lancang telah mencintai Daddy. Alea tidak pantas untuk itu. Gadis yang terlahir dari wanita terhina tidak pantas untuk berada di sisi Daddy.
Maaf juga Alea telah lancang pergi tanpa pamit. Alea takut... Takut jika Alea lebih lama lagi di sini Daddy akan benar-benar membuang Alea. Daddy ingin mencampakkan Alea kan? Bahkan Daddy akan menjual dan menjadikan Alea wanita penghibur.
Alea juga minta maaf atas nama ibu. Ibu sudah menyakiti hati Daddy berkeping-keping.
Bagi Alea, balas dendam Daddy sudah cukup menyakiti hati Alea. Karena itu Alea segera pergi.
Sebenarnya Alea punya kejutan untuk Daddy. Tapi....
Sudahlah... lupakan saja. Jaga diri baik-baik ya dad. Ada Tante Selena kekasih Daddy. Bahagia selalu.
I ♥️ you Daddy.
Darius tertegun membacanya. Alea tahu semuanya. Tapi dari mana gadis itu tau? Ada perasaan sedih menyergap hatinya. Entah menyesal karena sudah memanfaatkan kepolosan Alea, gadis polos yang tak tau apa-apa.
Satu bulan Alea telah menghilang. Sampai saat itu pula Darius belum menemukan keberadaannya.
Laki-laki itu kadang marah tidak jelas ingin melampiaskan kekesalannya pada Alea. Namun juga merindu bersamaan. Terkadang dia tidur di kamar Alea hanya untuk mengenangnya.
Seperti malam ini, Darius memasuki kamar Alea. Dia berbaring di kasurnya. Mengusap bagian kosong yang selalu di tempati Alea. Darius bangun dan menjelajahi barang-barang milik Alea. Semuanya tertata rapih. Di bukanya lemari baju Alea, masih sama hanya sedikit saja baju Alea yang tak ada.
Darius membuka laci kecil lemari Alea. Matanya menangkap kartu-kartu perbankan yang ia berikan pada Alea. Alea bahkan meninggalkannya. Tidak tau gadis itu pergi membawa uang atau tidak.
Lalu pandangan matanya tertuju pada kotak kecil, Darius mengambil dan segera membukanya. Kedua matanya membola sempurna, tangannya gemetar ketika melihat 3 benda kecil menunjukkan hasil yang sama.
Garis merah dua.
Alea hamil?
Tiba-tiba saja ingatan Darius kembali pada isi surat Alea bahwa dia punya kejutan. Apakah ini kejutannya?
Tubuh Darius melemas. Alea pergi dengan calon bayinya. Apa gadis itu akan mempertahankannya atau menggugurkannya?
Mengingat Darius pernah berkata, jika Alea hanya mainan dan tak sudi jika anaknya terlahir dari rahim Alea.
Ya, Darius ingat ucapannya itu. Saat ia berkumpul bersama dua temannya di restoran waktu itu. Darius sudah mencari tau dari mana Alea tahu semuanya. Melalui cctv, Darius tau bahwa Alea ada tidak jauh darinya pada waktu itu.
Darius menatap hujan di luar di kegelapan malam. Petir menggelegar saling menyahut. Dia teringat Alea.
Dimana dan bagaimana dia?
Alea takut petir, dan Alea tidak bisa tidur jika tidak bersamanya.
Bulan demi bulan terlewati. Alea tidak tau pergi kemana. Darius belum menemukannya sampai saat ini pun.
Harusnya dia senang karena gadis itu sudah tak bersamanya. Alea telah terluka karenanya, namun justru yang Darius rasakan bukan kepuasan.
Dia merindukan gadis kecilnya. Darius merasa sangat kehilangan melebihi kehilangannya dulu saat ibu Alea meninggalkannya. Darius merindukan gadis kecil itu. Tawanya, ceria saat bermanja-manja padanya. Darius merasa separuh dirinya hilang. Apa dia juga mencintai gadis kecil itu?
Malam ini Darius berada di luar kota karena sebuah pekerjaan. Dia memarkirkan mobilnya di pinggir. Matanya menatap penjual martabak yang terlihat ramai. Tiba-tiba ingatannya kembali pada permintaan Alea waktu itu. Apa gadis itu tengah mengidam? Ingin di belikan langsung olehnya begitupun dengan nasi goreng hasil buatan sendiri.
Rasa sesal itu kembali menghantam.
Darius berjalan menuju penjual martabak. Meski dia kurang suka tapi laki-laki itu ingin membelinya. Mungkin ia akan memberikannya pada orang lain nanti. Sebagai tebusan pada calon bayinya.
Darius tidak memperhatikan langkahnya. Dia fokus pada ponsel dan tiba-tiba...
Brukkk...
Tubuhnya menghantam seorang perempuan berhodie.
"M-maaf saya tidak sengaja."
Mendengar ucapan Darius, perempuan itu mendongak dan matanya sedikit bola seperti orang terkejut. Dia hanya mengangguk tanpa bersuara dan langsung buru-buru pergi.
Darius menatapnya aneh. Dia tidak bisa melihat keselurahan wajah perempuan itu karena tertutup masker. Tapi dua bola mata indahnya terasa tidak asing. Darius seperti mengenali pemilik dua bola mata itu.
Tapi siapa?
Sambil menunggu pesanannya, Darius melihat foto-foto Alea di Ponselnya. Dia tersenyum kecil melihat betapa cantiknya Alea dan betapa indah mata bulatnya itu. Seketika senyumnya surut ketika melihat bola mata indah itu.
Mata Alea begitu mirip dengan bola mata perempuan tadi. Apa jangan-jangan...
Darius berdiri dan berlari kearah perempuan tadi pergi. Namun di sana sudah tak ada siapa-siapa. Tidak tau kenapa hatinya mengatakan jika perempuan itu Alea. Tinggi badannya sama bahkan Darius ingat wangi parfum tadi sama persis dengan milik Alea.
Darius kembali ke tempatnya setelah memastikan apa yang ia cari tidak ada. Biarlah ia akan mencarinya besok lagi. Dan dia terus akan mencari sampai Alea di temukan.
Sesuai yang Darius kira, perempuan berhodie tadi adalah Alea.
Gadis itu tergesa masuk ke dalam kamar kostnya. Nafasnya terengah ketika ia menyandarkan punggungnya ke papan pintu.
"Daddy ada di sini. Sedang apa dia?"
Alea begitu kaget ketika tadi melihat Darius. Untung saja dia memakai masker. Jadi Darius tidak mengenalinya langsung. Entah laki-laki itu curiga atau tidak, yang terpenting Alea merasa terselamatkan saat ini.
Entah apa yang di lakukan laki-laki itu di sini. Apa menyangkut soal pekerjaan atau sedang mencari dirinya.
"Tidak mungkin." Alea menggeleng memikirkan itu. Dirinya tidak berarti buat darius. Jika pun laki-laki itu mencarinya, pasti hanya untuk menyiksa Alea.
Alea merebahkan dirinya di kasur lantai tipis. Ia menatap langit-langit kamar kost yang terasa pengap itu. Berbeda dengan kamar tidurnya kemarin saat di rumah Darius.
Tak apa, Alea dulu pernah merasakan hidup seperti ini. Jadi ia tidak asing lagi dengan hidup miskin.
Di rabanya perutnya yang sudah membuncit. Dua Minggu lagi hari perkiraan persalinannya. Dia merasa cemas, khawatir namun ada kebahagiaan karena Sebentar lagi bayinya akan lahir ke dunia dan menemaninya menjalani kehidupan selanjutnya.
Tiba-tiba merasa sedih, membayangkan persalinannya yang mungkin seorang diri tanpa di temani ayah dari bayinya.
"Tak apa sayang... Ada mommy yang menyayangimu. Pasti semuanya baik-baik saja."
Sudah beberapa bulan terakhir ini Alea tinggal di sebuah kota kecil. Kota yang pernah ia injaki saat liburan dulu.
Untung menyambung hidup, Alea ikut bekerja di sebuah tempat Catering makanan. Alea memang membawa sedikit tabungan dari sisa uang jajannya dari Darius. Tapi ia tetap bekerja, karena lumayan untuk tambah-tambah persalinan dan bekal setelah nanti lahiran.
"Pesanan untuk 50 orang pekerja di proyek sebelah timur."
Alea mendengarkan instruksi pemilik catering. Jaraknya lumayan dekat sekitar dua ratus meter. Jalan kaki tak sampai sepuluh menit pun sampai. Gadis itu ikut mengantar makanannya. Meskipun sudah di larang oleh pemilik catering, tapi dia bersikukuh. Katanya kehamilannya sudah masuk trimester akhir dan ia bagus banyak-banyak jalan kaki.
Alea bersama team berangkat ke lapangan proyek. Gedung 5 lantai itu sudah berdiri kokoh.
Sudah tidak asing lagi bagi Alea melihat pemandangan seperti ini. Karena ia sudah terbiasa melihatnya bahkan lebih tinggi dari ini sekalipun.
Alea begitu semangat melakukan pekerjaannya. Dia tertawa kecil bersama teman satu teamnya. Tanpa ia sadari ada sepasang mata yang sedang mengawasinya.
Pemilik sepasang mata itu adalah Darius. Dia mengucek matanya untuk memastikan jika ia tak salah lihat. Benarkah itu Alea?
Gadis itu tak terlepas dari maskernya. Hanya saja maskernya jatuh di dagu Alea.
"Alea." Teriak Darius membuat Alea menoleh seketika.
Deg
Alea begitu terkejut begitu melihat Darius. Namun dia segera berjalan cepat menghindari Darius. Darius tidak ingin kehilangannya, dia mengejar Alea. Alea sedikit kesusahan berlari karena perut buncitnya. Dia tidak menghiraukan jalanan yang ia lewati.
"Alea.... Awasss!"
"Brak."
Tiba-tiba tubuh Alea terpental. Sebuah mobil menabrak tubuhnya. Kepala dan pangkal paha Alea bersimbah darah.
Seketika kerumunan manusia menghalangi jalan.
"Alea, sayang...."
Dengan tangan gemetar Darius memangku kepala Alea. Ringisan kecil terdengar dari mulut Alea. "D-daddy...ma-af" Ucapnya lirih lalu Alea tak sadarkan diri.
"Alea, sayang.. bertahanlah!"
Dengan kesadarannya, Darius segera membawa Alea ke rumah sakit. Dia begitu panik dan tak terasa air matanya berjatuhan. Darius memangku alea di kursi belakang. Darah segar tak henti-henti keluar dari bagian bawah tubuhnya.
Setelah lima belas menit berlalu, akhirnya mobil Darius tiba di rumah sakit. Team rumah sakit segera membawa Alea ke UGD.
"Pasien mengalami pendarahan hebat. Kami harus segera mengeluarkan bayinya. Kalau tidak, keselamatan keduanya akan terancam." Terang dokter membuat lutut Darius lemas seketika.
"Lakukan yang terbaik dok! Tolong selamatkan keduanya!" Mohon Darius pada dokter.
Para team medis segera melakukan tugasnya. Darius tidak henti-henti berdoa untuk keselamatan Alea dan bayi mereka.
Empat puluh menit kemudian, lampu operasi padam. Dokter keluar dengan menggendong seorang bayi kecil laki-laki.
Darius menatap haru bayinya. Bayi merah tampan seperti dirinya.
"Bayi anda selamat. Karena bayinya terlahir prematur, kami akan melakukan perawatan intensif untuknya." Terang dokter membuat hati Darius sedikit lega.
"Terimakasih dok... Lalu bagaimana dengan ibunya?"
Dokter menghela nafas berat membuat Darius di landa kecemasan yang luar biasa.
"Ibu Alea selamat, namun ia koma setelah mengalami pendarahan hebat, pak." Penjelasan dokter tidak membuat Darius serta Merta lega. Koma katanya. Namun ia bersyukur karena Alea masih selamat. Harapan untuk sembuh kembali pasti ada. Hanya harus terus berusaha dan doa yang banyak.
Sudah dua Minggu berlalu, namun Alea tak kunjung membuka matanya. Bayi Alden sudah ada peningkatan yang baik. Suhu tubuh yang stabil, pernapasan teratur tanpa alat bantu, dan berat badannya yang naik.
Darius bersyukur bayinya bertumbuh dengan baik. Namun ia juga masih cemas dan sedih karena belum ada perkembangan yang baik dari Alea.
"Sayang, maafkan Daddy. Berjuanglah. Ayo bangun! Alden dan Daddy membutuhkanmu."
Darius mengecup kening Alea yang pucat. Setiap hari Darius tidak berhenti mengajak Alea bicara. Berharap dia meresponnya dan cepat sadar.
Darius menyesali semuanya. Seharusnya dia tidak melakukan semua ini pada Alea. Dia sadar, dia mencintai Alea. Darius tidak sanggup melihat Alea seperti ini.
Dengan menggendong Alden, sesekali dia membiarkan Alden menangis untuk merangsang alam bawah sadar Alea. Darius berharap dengan ini, Alea cepat bangun karena ikatan ibu dan anak yang kuat.