Di sebuah hutan yang hanya muncul ketika bulan purnama menyentuh puncak langit, terdapat kerajaan kecil para fairy bernama Moon Flower. Pohon-pohon di sana berkilau seperti kristal, dan setiap embun yang jatuh berubah menjadi mutiara kecil.
Di tengah kerajaan itu, hiduplah seorang fairy muda bernama Mayra Aurelia Calista, yang memiliki sayap berwarna pink dengan ujung bercahaya emas bersinar. Namun, berbeda dengan fairy lain, Aurelia tidak bisa mengeluarkan cahaya dari hatinya. Ia sering merasa dirinya tidak cukup berharga untuk menjaga hutan.
Suatu malam, ketika kabut gelap mulai merayap dari luar hutan, para fairy panik. Kabut itu memakan cahaya, membuat bunga layu dan sungai kehilangan kilau. Dewi penjaga hutan berkata, “Hanya cahaya murni dari hati yang bisa mengusir kegelapan.”
Mayra, meski ragu, melangkah maju. Ia menutup mata, mengingat semua momen kecil: tawa sahabatnya, kelembutan angin, dan rasa syukur atas kehidupan. Tiba-tiba, dari dadanya memancar cahaya lembut, bukan terang menyilaukan, melainkan hangat dan menenangkan.
Kabut pun perlahan menghilang, digantikan oleh ribuan bunga yang bermekaran serentak. Para fairy bersorak, dan Dewi penjaga berkata, “Cahaya sejati bukanlah yang paling terang, melainkan yang paling tulus.”
Sejak malam itu, Mayra dikenal sebagai Fairy Hati Bintang, pelindung Kerajaan Moon Flower yang mengajarkan bahwa kekuatan terbesar lahir dari keberanian menerima diri sendiri.