Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di Hutan Arunika ketika Raka, Nara, dan Bima melangkah masuk dengan ransel di punggung mereka. Mereka bukan petualang hebat, hanya tiga sahabat yang penasaran pada legenda “Cahaya Arunika” — sebuah cahaya misterius yang konon hanya muncul bagi orang-orang yang berani dan jujur.
Perjalanan mereka tidak mudah. Jalan setapak tiba-tiba menghilang, digantikan oleh akar-akar pohon raksasa. Di tengah kebingungan, mereka mendengar suara gemericik air. Dengan mengikuti suara itu, mereka menemukan sungai jernih yang menjadi penunjuk arah. Raka mengingat pesan kakeknya, “Alam selalu memberi petunjuk, asal kita mau memperhatikan.”
Saat matahari mulai turun, mereka tiba di sebuah gua kecil. Dari dalamnya, terpancar cahaya lembut berwarna keemasan. Jantung mereka berdebar. Namun sebelum masuk, mereka melihat jejak kaki hewan yang terluka. Tanpa ragu, Nara membalut luka hewan itu dengan kain dari tasnya. Seketika, cahaya di dalam gua menjadi semakin terang.
Di sanalah mereka menemukan Cahaya Arunika. Bukan berupa harta, melainkan sinar hangat yang membuat mereka merasa tenang dan berani. Suara lembut bergema, “Keberanian sejati adalah peduli dan tidak menyerah.” Cahaya itu perlahan menghilang, menyisakan kenangan yang tak terlupakan.
Mereka pulang dengan langkah ringan dan senyum lebar. Petualangan itu mengajarkan mereka bahwa perjalanan bukan tentang tujuan, melainkan tentang pilihan-pilihan baik yang kita buat di sepanjang jalan.