Nadia, si tomboy yang ramah namun lebih akrab dengan bola ketimbang lipstik, adalah jantung persahabatan di SMA Harapan Negeri. Bersama Nisa, si lembut dan penyabar, serta Nino, si cuek yang baik hati, mereka tak terpisahkan. Nadia dan Nino sering bertengkar—sehingga sering disangka pasangan—tapi di hati Nadia, pertengkaran itu telah menumbuhkan benih cinta.
Tiga tahun persahabatan itu indah, sampai hari kelulusan tiba. Kebahagiaan mendadak berubah menjadi kepedihan saat Nadia mendengar kabar: Nino dan Nisa akan bertunangan. Dengan senyum palsu dan hati yang hancur, Nadia mengucapkan selamat. Malam itu juga, ia mengambil keputusan drastis. Ia meninggalkan kota, menghindari mereka, dan memulai hidup baru.
Di kota baru, Nadia bertransformasi. Ia kuliah arsitektur, perlahan meninggalkan sisi tomboynya, tumbuh menjadi wanita dewasa yang lebih teratur. Suatu sore di kafe, takdir mempertemukannya dengan Alexander (Alex), seorang pria tinggi, rapi, dan pemilik perusahaan konstruksi terkenal.
Alex terkesan dengan Nadia si arsitek muda. Kerja sama mereka berlanjut menjadi kedekatan pribadi. Setelah beberapa tahun, Alex melamar. Nadia terkejut. "Aku belum siap," jawabnya jujur, "masih ada masa lalu yang belum selesai." Alex hanya tersenyum, "Aku akan menunggu sampai kau siap membuka hati."
Beberapa waktu kemudian, Nadia tak sengaja melihat berita: Nino dan Nisa merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga. Luka lama kembali menganga. Nadia menangis histeris di karaoke, mabuk, dan berteriak, "Aku masih mencintai Nino meskipun sudah dilamar orang lain!"
Tanpa ia sadari, Nino berada di sana dan mendengar semuanya. Tak lama, Alex datang menjemput atas panggilan teman Nadia. Ia bertemu Nino, dan mengenali sebagai rekan bisnis dari perusahaan ekspor-impor. Alex tanpa ragu menggendong Nadia yang mabuk dan membawanya pergi. Nino hanya bisa melihat punggung mereka, berdoa agar Nadia segera melupakannya dan menemukan kebahagiaan.
Lima tahun berlalu dalam perjuangan Nadia melupakan Nino. Ia akhirnya mencoba membuka hati untuk Alex. Namun, tiba-tiba seorang wanita datang ke kantor dan menuduhnya sebagai pelakor, merebut tunangan Alex. Alex segera datang dan mengklarifikasi, "Dia memang tunanganku 10 tahun yang lalu, tapi dia sudah selingkuh dan hamil anak orang lain. Sekarang aku mencintai wanita lain." Permintaan maaf Alex membuat Nadia kembali ragu.
Setelah satu setengah tahun penantian sabar Alex, Nadia akhirnya menerima lamarannya. Mereka resmi bertunangan.
Di sebuah pesta ulang tahun pengusaha, Nadia bertemu Nino dan Nisa lagi. Nisa antusias dan penasaran mengapa Nadia menghilang. Nadia beralasan mendapat beasiswa universitas impian dan sibuk bekerja sama dengan Alex.
Nino lantas meminta bicara berdua. "Aku tidak sengaja mendengar di karaoke—aku tahu kamu masih mencintai aku," katanya.
Nadia terkejut namun berupaya setenang mungkin. "Mungkin salah dengar. Aku sudah bertunangan dengan Alex, lho." Nino melihat kebohongan di mata Nadia, tetapi hanya bisa berkata, "Oke deh, selamat ya."
Keraguan kembali menyelimuti Nadia, tetapi tekadnya lebih kuat. Ia berjanji akan mengikhlaskan dan mencintai Alex sepenuh hati.
Beberapa bulan kemudian, mereka menikah dalam upacara sederhana. Pada ulang tahun pernikahan kedua, kebahagiaan mereka memuncak: Nadia hamil anak Alex. Berita tentang Nino dan Nisa tidak lagi mengganggunya. Ia hanya berdoa untuk kebahagiaan mereka.
"Terima kasih dunia telah mengajarkanku cara mengikhlaskan, bukan melupakan. Mengikhlaskan jauh lebih baik—mencintai seseorang tidak salah, tapi tidak harus memilikinya," bisik Nadia sambil tersenyum ke arah Alex. "Terima kasih juga suamiku, yang sabar menungguku. Sekarang dan selamanya, aku akan mencintaimu sampai akhir hayatku."