"Shhtt," suruh Yulliana dengan jari telunjuk di depan bibir pada gadis di belakangnya. Ia Mengintip pelan dari balik tembok, memastikan keadaan aman.
"Ayo!" Yulliana kemudian berjalan lebih dulu dengan sebuah pistol tergenggam kuat di tangannya.
Langkah mereka bergerak cepat menyusuri lorong dengan lampu yang sesekali berkedip. Yulliana berhenti tepat di dekat pintu, telapak tangannya terangkat memberi isyarat dengan punggung menempel ke dinding. Ia mulai membungkuk, matanya menyipit melihat jalan dari balik celah pintu yang sedikit terbuka.
Kreh...
Iris matanya membesar, menatap sekumpulan daging busuk seukuran kucing dewasa. "Neira mundur," bisik Yulliana memberi instruksi.
Neira mengangguk, perlahan-lahan ia mulai sedikit melangkah mundur. Yulliana lalu berbalik, berjalan pelan mendekati Neira. "Ayo, lebih baik kita ambil jalan satunya," ajak Yulliana, mulai berjalan kembali.
Mereka terus melangkah, menyusuri lorong-lorong yang sebagian tak mendapat cahaya. Cat-cat merah tampak berserakan, serta bau amis yang tak mengenakan, meninggalkan jejak kehidupan di lantai yang mereka lalui. Suara geraman serta napas jelas kian terdengar dekat. Mengisi hati dan pikiran dengan kecemasan akan bahaya yang sewaktu-waktu akan melahap mereka.
Kini mereka sudah sampai ke sebuah ruangan, dimana ada generator besar yang menyalurkan listrik ke setiap sudut ruangan dan lorong. "Harusnya kita sebentar lagi akan sampai ke ruang operator keamanan," ucap Yulliana menatap anak yang harus ia jaga, dadanya sedikit terangkat saat mendapati jalan yang kosong di depannya.
Suara mulai mereda, mengurangi ketegangan telinga. Mereka mulai masuk ke sebuah ruangan dengan pintu yang masih kokoh, dan dapat dikunci dari dalam.
Ruangan itu masih utuh, meninggalkan beberapa kertas berserakan di dekat monitor yang masih menyala. "Neira, kamu duduk di sana, ya," titahnya, Neira mengangguk lalu berjalan ke kursi samping loker.
"Ah, sial, mereka semua menghalangi semua jalan keluar," umpat Yulliana memukul keras meja karena frustasi melihat makhluk menjijikkan itu berjalan kesana-kemari bak serangga berkaki delapan. Meski begitu, matanya terus mencari celah di antara tangkapan layar kamera CCTV sembari memainkan keyboard dan mouse di sana. Menghasilkan bunyi bak alunan musik tanpa nada.
Ia terus fokus melihat, hingga suara kecil nan lembut membuatnya berhenti sejenak. "Kak Yullia?" panggil Neira pelan. Yulliana berjalan menghampirinya, sedikit menunduk menatap wajah gadis kecil itu.
"Iya, ada apa Neira?" tanya Yulliana lirih, sembari tersenyum padanya. Tidak dapat dipungkiri, bahwa dirinya pun takut akan bayangan kematian yang selalu menghantuinya.
"Kak, apa aku jadi beban buat Kakak?" tanyanya dengan kepala menunduk. Yulliana sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut gadis yang ia jaga, tangannya terlihat bergetar dengan suara napas yang terisak. "Aku tahu, tapi setidaknya Kakak tak perlu memendamnya, jika itu memang yang Kakak rasakan selama ini."
Dada Yulliana terasa sesak, dengan genggaman lembut ia meraih kedua telapak tangan Neira. Mengusapnya lembut, meski tak dapat menghilangkan kegundahan hatinya.
"Tidak perlu merasa seperti itu, lagian Kakak sudah berjanji pada Abangmu untuk terus menjaga kamu," ucapnya sembari menatap Neira sendu, kemudian mendekapnya, berharap Neira akan merasa tenang.
"Jadi, Kakak tak mungkin terbebani dengan kehadiran kamu," lanjutnya, membelai pelan rambut Neira. "Udah, tidak apa-apa, yang terpenting kita harus keluar dari sini dulu."
Neira tampak mengangguk. Lalu Yulliana lekas berdiri lagi, fokusnya beralih kembali pada monitor. Namun, saat hendak memegang keyboard, sudut matanya menangkap siluet barang. Ia melirik, melihat sebuah radio tergantung bersama tas selempang hitam di dinding ruangan.
Yulliana kemudian menghampiri dan mengambilnya. "Kuharap ini masih berfungsi," ucap Yulliana penuh harap saat memegang radio itu.
Bzzzt.
Yulliana mulai menekan tombol power dan memutar knop dekat antena. "Halo? Siapapun, tolong jawab." Tangannya terus memutar dan mengubah frekuensi, berharap seseorang menyahut. Namun, suara statis yang menyambut, meredupkan secercah cahaya di tengah kegelapan.
Degup jantung terdengar dan napas yang kian berat. Kini jalan yang ditempuh terasa buntu, Yulliana berulang kali mencoba tapi juranglah dijumpa. Menoleh ke samping, melihat Neira yang memperhatikannya, tersenyum tanpa tahu nyawanya rentan terenggut.
"...shh, halo? Ini Kapten Devin dari unit 04, Falsen. Tolong jawab kembali."
Kepala Yulliana langsung memutar cepat, mendapati suara yang membalas. "Ya, tolong Kapten," sahut Yulliana bergetar, napasnya sedikit terengah.
"Tunggu, Yulliana, apa benar ini kamu?" tanya Kapten Devin terkejut, suaranya yang berat kini berubah pelan. "Aku kira kamu tidak selamat dari ledakan pabrik itu."
"Tidak, aku masih selamat, sebab berada cukup jauh dari pusat ledakan dan skalanya yang cukup kecil," jelas Yulliana. "Akan tetapi itu, membuat Yon masuk dan... menyerang semua pengungsi."
"Apa?! Bagaimana dengan Komandan Luis?" tanya Kapten Devin, terdengar gemeretakan kecil darinya.
"Dia, sudah tewas karena menahan Yon bersama pasukannya, agar pengungsi bisa selamat. Namun, semuanya sudah terlambat, mereka tak sempat lari darisana."
"Baiklah, sekarang yang terpenting adalah keselamatan kamu, dan kini posisimu ada dimana? Dan apakah kamu sendiri di sana?"
"Aku berada di ruang operator keamanan pabrik bersama adik Riz, Neira."
"Baiklah, aku bersama unitku akan segera kesana, tapi mungkin kami tak bisa terlalu dekat sebab Yon tingkat menengah terlihat berkeliaran di dekat pabrik. Namun, kami akan mengusahakannya."
"Ya, Kapten, terima kasih."
"Iya."
"Tunggu, Kapten, sepertinya aku tahu cara agar kalian mendekat," ucap Yulliana fokus melihat layar-layar di depannya. "Bagian belakang pabrik, disana tampak hanya ada Yon tingkat rendah, dan jumlahnya sedikit. Selain itu, jarak kami ke pintu belakang juga cukup dekat. Namun..."
"Namun, kenapa?"
"Jalur itu penuh Yon, dan persentase untuk selamat pun masih kecil meski berlari cepat di sana," jelas Yulliana yang berat memutuskan, matanya melihat monitor dan Neira bergantian.
"..."
"Tapi apa tidak ada jalur lain?"
"Sayangnya itu tidak ada," jawab Yulliana putus asa.
"Baiklah, kalau begitu aku dan beberapa anggotaku akan coba menjemputmu, tapi kami mungkin tak bisa masuk terlalu jauh."
"Iya, baiklah, kalau begitu aku akan coba memperpendek jarak, agar kalian juga tak kesulitan," usul Yulliana, meski terbesit ketakutan di benaknya.
"Ya, ha ... shhh..."
"Apa yang terjadi? Sial, baterainya habis."
Bruk! Ngiiik...
Suara benturan keras dari balik pintu, bersamaan dengan suara melengking. "Duk-duk" pukulan keras terdengar memaksa untuk masuk. "Tolong! Tolong, Arghh!" Teriakan seseorang keras, kini memekakkan. Memacu jantung untuk bergerak lebih cepat, memberi sinyal akan bahaya.
Yulliana lalu menoleh, mendekat dan berlutut membelakangi Neira. "Ayo, naik!" titah Yulliana, keringat peluh mulai memenuhi pelipisnya. Neira lantas langsung naik, tanpa bertanya.
Ia lekas berdiri, napasnya tertahan. Sunyi, pintu terbuka perlahan, menampakkan suasana yang kacau. Dengan sigap, Yulliana langsung berjalan setengah berlari meninggalkan ruangan itu. Ia terus menyusuri lorong minim cahaya dengan paru-paru yang membeku. Keheningan menyelimuti, tapi bahaya selalu mengawasi.
Kini Yulliana melihat secercah harapan, menatap bayangan seseorang yang tampak berdiri. "Kapten!" Tangan melambai, tapi itu bukanlah dia.
"Rawwrr!" Dia berbalik, hampir menangkap mereka. Mata Yulliana terus fokus, agar tak tertipu lagi. Namun, hal tak terduga terjadi.
Bunyi kuat bak bangunan roboh terdengar dari belakang. Ia melirik, mendapati sekumpulan serangga busuk yang mengejar mereka.
"Sial!" Rahang Yulliana mengeras, napasnya terengah.
"Oy! Kesini!"
"Kapten!" Dadanya mulai ringan, melihat orang berdiri tegak memakai peralatan lengkap di ujung lorong yang berliku.
"Arel, bersiap!"
"Baik."
Yulliana berhasil melewati mereka. Dan "Boom!" sebuah granat dilempar. "Mundur!" Arahan itu langsung memundurkan pasukan yang siap menjaga Yulliana dan Neira.
"Ayo cepat!" Seseorang terlihat menunggu di ambang pintu, atas tangga. Namun, sebelum sempat sampai suara teriakan terdengar, membuat semua mata tertuju padanya.
"Arel!" Pemuda itu mengerang, menahan dan melawan Yon yang menerkam. Senjatanya terlempar, membuatnya tenggelam dalam Yon yang mengerubunginya.
"Kapten, bawalah dia." Yulliana menyerahkan Neira cepat.
"Tunggu, Yulliana!" Kapten Devin terkejut, melihat Yulliana berlari dan mengambil senapan Arel yang tergeletak di depan.
"Aku, akan menahannya. Kalian cepat pergi dari sini!"
Rat-tat-tat-tat! Ledakan itu terdengar memekakkan yang menggema di seluruh lorong. Napasnya berat, dan genggaman yang mulai panas. "Ah, pelurunya habis." Keringat dingin tampak membanjiri pelipisnya, dan mata melotot melihat gerakan Yon melambat. Namun, "Eh?" Bahunya mendadak tertarik ke belakang, dan seseorang sigap berdiri di hadapannya.
'Kapten Devin.'
"Nadra, cepat bawa dia dari sini!"
"Baik."
Kapten Devin melirik sejenak. "Maaf, Yulliana, tapi aku tak bisa membiarkanmu mati disini."
"Tunggu, Kapten!"
"Ayo, cepat!"
Yulliana langsung dibawa keluar, diseret langsung ke sebuah mobil. Mata memandang pintu yang bersuara ribut dari baliknya. "Tunggu!" Yulliana menepis keras tangan yang membawanya.
"Kenapa kalian malah meninggalkannya disana?" tanya Yulliana menatap berang Nadra.
"Ini perintah, dan kamu harusnya bersyukur diselamatkan olehnya. Jika tak karena tindakan gegabahmu, mungkin Kapten masih ada," ucap Nadra berat hati, ia berbalik meninggalkan Yulliana dalam renungan.
"Kakak," ucap Neira lirih, menghampiri.
"Jangan takut," kata Yulliana tersenyum rapuh.
"Ayo cepat naik!"
"Ayo, Neira," ajak Yulliana menggandeng Neira, meski hatinya menahannya pergi.
Tamat.
.
.
.
GC Rumah Menulis