Hari pernikahan itu datang seperti hujan yang turun tanpa pernah diminta. Langit cerah, tamu tersenyum, musik mengalun lembut—namun hati Raka kosong. Di sampingnya berdiri Ayu, perempuan yang kini sah menjadi istrinya, tapi tak pernah benar-benar ia kenal, apalagi cintai.
Perjodohan itu diputuskan dalam satu malam oleh dua keluarga yang takut kehilangan nama baik dan harta. Raka dan Ayu hanya diminta mengangguk. Tidak ada pertanyaan tentang perasaan, tidak ada ruang untuk penolakan.
Di rumah baru mereka, keheningan menjadi teman paling setia. Mereka berbicara seperlunya: soal makan, jadwal, dan kewajiban. Tidak ada tawa, tidak ada cerita sebelum tidur. Ayu sering menatap jendela, seolah berharap hidupnya masih bisa berbelok arah. Raka lebih sering diam, menelan kecewa yang tak tahu harus dilampiaskan ke mana.
Malam-malam terasa panjang. Mereka hidup di bawah atap yang sama, namun seperti dua orang asing yang dipaksa berbagi takdir. Bukan kebencian yang tumbuh, melainkan kehampaan.
Suatu hari, Ayu berkata pelan,
“Kita mungkin tidak saling mencintai, tapi aku tidak ingin saling menyakiti.”
Raka mengangguk. Itu pertama kalinya mereka sepakat tentang sesuatu.
Sejak saat itu, mereka menjalani pernikahan sebagai kerja sama, bukan kisah cinta. Tidak bahagia, tapi berusaha adil. Tidak hangat, tapi juga tidak kejam. Mereka belajar menerima bahwa tidak semua pernikahan lahir dari cinta—sebagian hanya lahir dari keterpaksaan.
Dan di balik senyum yang mereka tunjukkan pada dunia, tersimpan kenyataan pahit: dua hati yang terikat, tanpa pernah benar-benar memilih.