Lorong itu disebut Lorong Merah bukan karena cat temboknya, melainkan karena lampu jalan tua yang selalu menyala redup kemerahan setiap malam. Siang hari tampak biasa, tapi saat malam turun, udara di sana terasa berat—seolah menyimpan rahasia yang tak pernah selesai.
Dulu, Raka pernah tinggal di ujung lorong itu. Ia anak pendiam, sering diledek, sering disalahkan atas hal-hal yang tak ia lakukan. Suatu malam, sebuah kejadian memalukan membuatnya pergi dari Lorong Merah tanpa pamit. Tidak ada yang mencarinya. Tidak ada yang peduli.
Tahun berlalu.
Kini, satu per satu penghuni lorong mulai merasa ada yang berubah. Pintu rumah sering diketuk tanpa ada siapa pun di luar. Lampu merah berkedip seperti memberi isyarat. Cermin memantulkan bayangan yang bukan milik pemiliknya.
Mereka mulai mendengar bisikan nama mereka sendiri—nama yang dulu mereka ucapkan dengan ejekan.
“Ini cuma perasaan,” kata mereka.
Tapi Lorong Merah tidak pernah lupa.
Suatu malam hujan, seorang warga menemukan pesan tertulis di dinding lorong:
“Aku kembali bukan untuk meminta maaf.”
Tak ada wajah yang muncul. Tak ada sosok yang bisa ditunjuk. Namun rasa bersalah tumbuh di dada mereka yang dulu tertawa paling keras.
Dendam itu tidak menyerang tubuh.
Ia menyerang ingatan.
Memaksa mereka mengingat semua yang pernah mereka lakukan—dan menanggungnya sendiri.
Sejak malam itu, Lorong Merah kembali sunyi. Lampu merah padam untuk pertama kalinya.
Dan Raka?
Entah ia benar-benar kembali…
Atau Lorong Merah hanya memutuskan untuk membalas.