Pagi itu, di stasiun kota kecil kelahiranku.
"Bayu!" Suara itu terdengar jelas di telingaku. Sepasang suami istri yang sudah tidak muda lagi terlihat melambaikan tangannya ke arahku. Kulitnya mulai keriput, rambutnya mulai banyak yang memutih. Garis bibirku melengkung sempurna melihat kehadiran mereka. Itu adalah nenek dan kakek yang datang menyambut kedatangan ku.
Aku setengah berlari mendekati mereka yang sudah lama tak ku jumpai. Tangan kuraih. Kujabat lalu kucium sebagai tanda bakti.
"Sehat, Nak?" Tanya kakekku.
"Sehat, Kek," jawabku.
Kami lantas pergi meninggalkan tempat itu. Menuju mobil milik kakek yang terparkir di sana lalu menuju kediaman mereka. Sepanjang jalan obrolan obrolan kecil terlontar. Mulai dari bertanya kabar hingga menceritakan tentang kehidupan kakek dan nenek di kampung. Aku hanya menjawab dan mendengar seperlunya. Sedangkan pandangan mataku sejak tadi terarah ke luar jendela mobil.
Suasana kampung ini tak banyak berubah. Ladang, sawah, dan pepohonan nan hijau masih mendominasi di sepanjang sudut jalan yang kulewati. Meskipun ada beberapa bangunan baru yang dulu belum ada, namun tetap saja tak bisa melunturkan suasana tenang dan damainya kampung tempatku dulu dilahirkan, dibesarkan, dan disekolahkan hingga lulus SMP. Sebelum akhirnya aku pergi meninggalkan kampung itu setelah ayah ditugaskan di luar kota oleh perusahaan tempatnya bekerja.
Mobil terus berjalan. Sesekali aku membuka ponselku. Melihat room chat yang berisi pesanku untuk seseorang yang sejak tadi belum dibalas. Mantan teman SMP yang hingga detik ini masih sering berbagi kabar denganku. Arum namanya. Gadis cantik langganan juara kelas yang sejak dulu aku kagumi.
Ya, Arum adalah salah satu alasanku kembali ke kampung ini. Selain ingin menemui kakek dan nenekku, aku juga ingin menemui gadis pujaanku ini. Aku ingin melepas rindu padanya. Sekaligus mengutarakan perasaanku selama ini. Sebuah perasaan yang bertahun tahun kupendam. Karena aku yang terlalu malu dan cukup pengecut pada saat itu. Aku yang hanya orang biasa, merasa tak pantas untuk bersanding dengan Arum yang pintar dan berada itu.
Kini, setelah aku menyelesaikan pendidikanku dan mendapatkan pekerjaan yang layak, aku bertekad memberanikan diri untuk menemui Arum. Mengatakan apa yang kurasakan sekaligus melamar gadis anak salah satu orang yang cukup terpandang di kampung ini.
Kurang lebih sepuluh tahun kami berpisah, nyatanya hingga saat ini komunikasi diantara kami masih berjalan dengan baik. Kami masih sering bertanya kabar, bahkan kadang berbincang melalui pesan di beberapa malam. Arum adalah gadis yang ramah. Walaupun dia anak orang berada, tapi ia tidak pernah sombong. Itulah salah satu alasan mengapa aku begitu mengaguminya. Karena kesederhanaannya dan budi pekertinya.
---
Waktu berjalan dengan semestinya. Sehari setelah aku tiba di kampung halamanku, pagi ini, aku sudah bersiap di depan cermin. Celana panjang, kaos hitam berkerah di bagian leher, serta jam tangan yang bisa dibilang cukup mahal di kantongku pun sudah terpasang dengan sempurna. Rambut sudah kusisir dengan rapi. Wangi maskulin juga sudah menyeruak dari sekujur badanku. Rasa percaya diriku naik. Aku sudah siap bertemu Arum hari ini.
Aku membuka lagi room chatku dengannya. Sejak kemarin, dia belum membalas pesanku. Padahal aku ingin mengabarkan bahwa aku sudah berada di kampung ini.
Ah, mungkin dia sedang sibuk. Dia kan memang begitu. Sering ilang-ilangan kalau di chat. Tak apa, anggap saja ini sebagai kejutan. Dia pasti akan terkejut melihat kedatanganku nanti.
Aku lantas pergi menuju kediaman Arum tanpa berpamitan pada nenek dan kakek lantaran mereka sedang berada di kebun. Menggunakan mobil kijang tua milik kakek, aku memantapkan hatiku menemui gadis cantik pujaanku. Niatku hanya satu, mengungkapkan perasaanku. Entah diterima atau tidak itu urusan belakangan. Meskipun dalam hatiku aku yakin delapan puluh sembilan persen aku pasti diterima. Hehehe...
"Assalamu'alaikum..." Ucapku seraya mengetuk pintu berbahan kayu jati itu. Beberapa kali aku mengetuk sambil mengucapkan salam, hingga seorang wanita paruh baya membukakan pintu itu untukku.
"Wa alaikumsalam. Cari siapa, ya?" Tanyanya.
"Saya mencari Arum. Saya temannya dari kota. Arum ada?"
Wanita itu diam sejenak. Menatap penampilanku dari atas sampai bawah. Lalu...
"Mbak Arum sedang kritis di rumah sakit sejak kemarin. Kanker yang bersemayam di tubuhnya semakin memburuk. Semua keluarga sudah berkumpul di sana. Entahlah, pihak keluarga bahkan sudah tidak tahu apakah Mbak Arum masih bisa tertolong atau tidak."
Bak tersambar petir di tengah hari, aku terkejut bukan kepalang. Bermodalkan saling berbalas pesan bahkan telfonan beberapa kali saat senggang, aku kira aku sudah cukup tahu banyak tentang Arum. Ternyata aku salah. Aku bahkan tidak tahu bahwa Arum mengidap penyakit ganas itu selama ini
Ia tak pernah menceritakan apapun tentang penyakitnya. Yang aku tahu selama ini ia baik baik saja. Ia selalu terlihat ceria seolah tak memiliki beban apapun. Aku benar benar terkejut. Aku tak tahu jika sejak kemarin pujaan hatiku tengah berperang melawan rasa sakit dalam dirinya.
Mobilku melaju secepat angin. Di rumah sakit, rupanya keluarga Arum sudah berkumpul di sana, menemani Arum yang terbaring lemah dengan berbagai peralatan medis yang terpasang di tubuhnya. Keluarga memberiku waktu berdua dengan Arum di ruangan itu. Sepertinya mereka juga masih mengenaliku.
"Assalamualaikum, Rum. Ini aku, Bayu. Aku pulang. Aku datang menemuimu." Aku menggenggam erat tangan itu.
"Kenapa kamu tidak pernah bilang padaku bahwa kamu sedang sakit? Hebat sekali kamu menyimpan semua ini dariku," ucapku dengan dada yang terasa sesak melihat kondisi Arum saat ini.
Aku mengeluarkan sebuah kotak cincin dari saku celanaku. Cincin yang semula ku siapkan untuk melamar gadis di hadapanku.
"Arum, aku ada di sampingmu sekarang. Aku datang untuk menyatakan perasaanku padamu."
"Arum, aku mencintaimu. Aku mengagumimu sejak kita duduk di bangku SMP."
Air mataku menetes tanpa permisi. "Senyumanmu, tawamu yang riang, tingkahmu yang ceria, kesederhanaanmu, ramah mu, sopan santun mu, semua aku suka. Aku mencintai semua yang ada padamu, Rum."
"Arum, bangun. Aku ingin melihatmu seperti yang dulu. Lawan, Rum! Lawan sakit itu! Kamu harus sembuh! Demi aku, demi keluarga dan orang orang yang menyayangimu."
Aku menggenggam erat tangan itu. Keluarga Arum yang menyaksikan adegan kami dari balik pintu ruangan itu juha nampak meneteskan air mata. Rupanya Arum juga sering bercerita tentang diriku pada keluarganya. Ia bahagia tiap kali berbalas pesan denganku. Namun ia tak berani berharap lebih. Lantaran ia sadar akan kondisi kesehatannya yang kian hari kian memburuk.
Kini, segenap rasa yang lama kupendam itu terungkap sudah. Namun sayangnya, hingga detik ini aku tak pernah mendapatkan jawaban atas pengungkapan itu. Arum pergi meninggalkan kami semua satu minggu setelah kedatanganku. Rasa cinta yang aku pupuk bertahun tahun lamanya kini terkubur bersama jasadnya. Mimpi mimpiku bersanding dengannya juga harus kukubur dalam-dalam karena nyatanya Tuhan jauh lebih menyayanginya.