Namaku Yoko.
Aku siswa kelas dua di sebuah SMK swasta elit—setidaknya begitu kata brosur sekolah itu.
Bangunannya tinggi, lantainya mengilap, dan seragamnya mahal.
Tapi tak ada yang tahu, di balik gerbang itu aku dihancurkan setiap hari.
Perundungan tidak memilih jam.
Saat pelajaran, saat istirahat, bahkan saat aku hanya berjalan menuju toilet.
Kakak kelas, adik kelas, teman sekelas semuanya seolah sepakat menjadikanku sasaran.
Aku tak pernah melawan.
Suaraku kecil, punggungku selalu menunduk, dan aku terlalu lelah untuk membela diri.
Kupikir rumah akan menjadi tempat aman.
Aku salah.
Begitu pintu rumah mewah itu terbuka, air dingin disiramkan ke wajahku.
Tubuhku kaget, napasku tercekat.
Anak itu anak dari istri kedua ayahku tertawa kecil.
Aku berusaha bangkit dan berjalan menuju kamarku, tapi sebuah gelas kaca melayang dan menghantam kepalaku.
Hangat.
Basah.
Darah.
Kesabaranku runtuh.
Aku memukul wajahnya.
Tangisnya memanggil ayah dan ibu tiri.
Mereka datang, memeluknya, mengelus kepalanya.
Aku mencoba bicara.
Menjelaskan.
Tapi kata-kataku seperti debu—tak dianggap ada.
Ikat pinggang mendarat di tubuhku.
Sekali.
Dua kali.
Berkali-kali.
Ludah ayahku mengenai wajahku sebelum aku diseret masuk ke kamar.
Kamarku bukan kamar.
Itu gudang.
Debu, perabotan rusak, bau lembap. Aku tidur di atas kardus dengan selimut berjamur.
Luka cambuk terasa perih di setiap gerakan.
Aku mengelap ludah di wajahku dan duduk memeluk lutut, menangis tanpa suara.
Satu tahun.
Sudah satu tahun aku bertahan dalam siklus yang sama.
Suatu malam, mataku tertuju pada silet cukur jenggot. Tanganku gemetar.
Aku ingin hidup—tapi aku juga sangat lelah.
Pada akhirnya, silet itu tetap di tempatnya.
Aku takut mati, dan entah kenapa… masih ingin bernapas.
Ketukan pelan terdengar di pintu.
Pembantu rumah tangga itu masuk diam-diam.
Ia tersenyum kecil, memberiku makanan hangat dan beberapa lilin.
Dari tasnya, ia mengeluarkan buku-buku PR sekolahku.
PR milik mereka yang merundungku.
Amarah mendidih.
Aku melempar buku-buku itu.
Aku tahu, jika tidak kukerjakan, besok aku akan menjadi samsak tinju dan sasaran kata-kata kotor.
Aku memungut kembali buku-buku itu dari kolong perabotan.
Tanganku tak sengaja menyenggol meja.
Semuanya runtuh dan menimpaku.
Aku terjebak di ruang sempit, napas sesak, tapi tubuhku selamat.
Dengan susah payah aku merangkak keluar.
Saat itulah aku melihatnya.
Sebuah lemari besar, usang, penuh debu.
Aku membukanya perlahan.
Di dalamnya, sepuluh rak buku, tersusun rapi.
Buku pelajaran.
Novel.
Filsafat.
Psikologi.
Bahkan buku-buku tua dengan catatan tangan di pinggir halamannya.
Aku berdiri terpaku.
Untuk pertama kalinya, di ruangan yang selama ini hanya menyimpan penderitaanku…
aku menemukan sesuatu yang menunggu untuk dibuka.
Dan malam itu, di antara luka dan debu,
aku membuka buku pertama
dan tanpa kusadari, membuka pintu lain dalam diriku yang selama ini terkunci.
Aku menarik buku paling atas di rak paling kanan.
Begitu kubuka, aku terdiam.
Itu catatan harian kakekku—dimulai sejak ia berusia lima tahun.
Tulisan tangannya tegas, dingin, tapi jujur.
Ia menulis tentang rasa lapar, kekerasan, kemiskinan, dan dunia yang tak pernah ramah.
Aku membaca tanpa sadar waktu. Hingga pukul sepuluh malam, lampu kamar dimatikan oleh istri tiri ayahku.
Aku menyalakan lilin pemberian pembantu.
Dalam gelap, bayangan huruf menari di dinding.
Aku terus membaca sampai mataku terpejam.
Keesokan paginya, pembantu membangunkanku.
Aku lupa mengerjakan PR mereka. Aku tetap berangkat sekolah.
Aku pulang dengan tubuh penuh lebam dan wajah bengkak.
Tanpa peduli luka, aku kembali membaca.
Judul-judul buku itu menipu. Sejarah, filsafat, hukum, sosial—semuanya buku harian kakekku, hanya ditulis dalam berbagai bentuk.
Enam bulan berlalu. Kata-katanya menempel di kepalaku.
Cara berpikirnya menyatu dengan napasku.
Perlahan, aku tak lagi merasa sendirian.
Aku merasa menjadi dia.
Seolah aku bukan Yoko yang lemah,
melainkan kakekku—hidup kembali dalam tubuh muda.
Hari itu, aku mendobrak pintu gudang yang selama ini disebut kamarku.
Suara keras menggema.
Ayahku, istri tiri, adik tiri, dan beberapa pembantu berlari mendekat.
Ayahku mengangkat tongkat golf, wajahnya merah oleh amarah.
“Hemm…”
suaraku berubah.
“Anakku payah. Anak keset.”
Ayahku membeku.
Aku melangkah mendekat, memegang dagunya, menepuk pipinya pelan.
“Pergilah. Ambil cerutu.”
Tongkat golf jatuh.
Wajah ayahku pucat.
Kata-kata itu—suara itu—adalah trauma masa kecilnya.
“Ayah?” katanya gemetar.
Ia berlutut.
Menangis.
Mencium kakiku.
“Ternyata ayah masih hidup… ke mana saja ayah?”
Istri tiri menampar wajahku.
Tamparannya terhenti di udara—ayahku menahannya.
Ia menampar istrinya balik.
“Kurang ajar!” teriaknya.
“Berani melawan ayahku? Pergi! Pergi dari rumah ini!”
Istri tiri dan anaknya pergi dalam ketakutan.
Rumah itu sunyi.
Aku berdiri sendiri di tengah ruang tamu mewah yang tak pernah terasa hangat.
Ayahku masih berlutut, menangis seperti anak kecil.
Aku menatap tanganku sendiri.
Aku bukan benar-benar kakekku.
Aku juga bukan lagi Yoko yang dulu.
Aku hanyalah seseorang yang menemukan dirinya lewat penderitaan orang lain.
Malam itu, aku kembali ke kamarku—yang kini bukan lagi gudang.
Aku menutup lemari buku perlahan.
Aku tahu, kekuatan ini bukan untuk membalas dendam.
Melainkan untuk tidak lagi diinjak.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku,
aku tidur tanpa rasa takut.
Kini aku duduk di kursi paling mewah di ruangan ini.
Kulitnya asli, ukirannya dikerjakan tangan-tangan terbaik, dan meja antik di depanku bernilai lebih mahal dari seluruh hidup Yoko yang dulu.
Aku adalah kakekku.
CEO Grup YANG.
Perusahaan itu bergerak di mana-mana
properti, transportasi, elektronik, internet, pangan.
Di atas kertas, ia adalah simbol kemajuan.
Di bawahnya, ia adalah jaring laba-laba.
Aku tahu segalanya.
Nama-nama bawahan setia dan yang siap menusuk dari belakang.
Mitra yang tersenyum sambil menghitung celah.
Arus uang yang tak pernah dicatat, politik hitam yang dibungkus filantropi, dan orang-orang penting yang merasa aman karena rahasianya terkubur—padahal tidak.
Bahkan dunia bawah mengenal namaku.
Bukan sebagai Yoko.
Melainkan sebagai dia.
Ingatan ini bukan lagi bacaan.
Ia telah menjadi refleks.
Cara duduk.
Cara diam.
Cara memandang manusia seolah mereka angka.
Yoko masih ada.
Aku tahu itu.
Ia tidur di sudut pikiranku—anak SMK yang lemah, yang pernah menangis di gudang berdebu.
Ia tidak mati.
Ia hanya memilih bersembunyi, karena dunia seperti ini terlalu berat untuk hatinya.
Yang menggerakkan tubuh ini sekarang…
bukan dia.
Aku menatap pantulan diriku di kaca besar. Wajah muda, mata tua.
Reinkarnasi?
Atau sekadar warisan luka yang sempurna?
Aku tersenyum tipis.
Kakekku dulu bertahan agar hidup tidak menginjaknya.
Aku hidup agar tidak ada lagi yang berani menginjak siapa pun sepertiku.
Dan jika dunia ini kejam,
maka aku akan memahaminya
lalu mengendalikannya.
Di dalam kepalaku, Yoko terlelap.
Di luar, dunia bersiap mendengar namaku.