Sembilan tahun yang lalu, saat Alea menjadi anak sebatang kara tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mengaku sebagai teman baik almarhum ibunya.
Alea kecil yang tidak tau apa-apa, dia menerima tawaran laki-laki itu untuk ikut hidup bersamanya. Berharap dia punya tempat tinggal, perlindungan dan kasih sayang keluarga lagi.
Harapan Alea terkabul. Apalagi laki-laki itu menganggap Alea sebagai anaknya. Alea dengan senang hati menerima laki-laki yang bernama Darius itu sebagai ayahnya. Dia senang sekali pada akhirnya dia bisa memanggil seseorang yang menjadi ayahnya meski angkat sekalipun.
Karena selama ini dia tidak tau siapa ayahnya dan ada dimana.
Hidup Alea begitu terjamin. Tinggal di rumah besar dengan fasilitas mewah. Apapun yang dia inginkan pasti Darius kabulkan.
Sampai tak terasa dia telah menikmati kemewahan ini sampai di usia delapan belas tahun.
Kini Alea menjelma menjadi gadis yang sangat cantik.
Perlakuan Alea masih sama, layaknya anak pada ayahnya. Dia tak segan bermanja-manja pada Darius.
Alea pikir sikap manis dan perhatian Darius padanya adalah bentuk kasih sayang ayah pada anaknya. Namun ternyata salah. Semakin hari perhatian Darius semakin aneh. Perhatian Darius terlihat seperti seorang laki-laki dewasa kepada lawan jenisnya.
Yang dulu sering mengecup kening Alea kecil, kini malah bibir yang menjadi sasarannya.
Bukan sekedar kecupan. Namun lumatan yang membuat dada Alea berdebar. Ada perasaan aneh yang Alea yang rasakan. Pikirnya, ini bukan ranah anak kecil lagi. Ada sorot yang aneh di mata Darius ketika mencium dirinya.
"Daddy, kenapa lakuin ini?" Tanya Alea ketika ia mendapatkan ciuman Darius.
Darius hanya tersenyum seraya mengusap bibir basah Alea dengan ibu jarinya. "Hanya bentuk cinta dan kasih sayang Daddy padamu, baby."
Meski terdengar tidak memuaskan, Alea hanya mengangguk mengerti. Dia menerima kembali semua perlakuan Darius yang terasa lebih aneh lagi. Semakin di terima, semakin bergetar hatinya.
Kini bukan perasaan anak pada ayah lagi yang Alea rasakan. Ada perasaan berbunga yang sulit ia jabarkan ketika berdekatan dengan sang Daddy. Kerinduan yang memuncah ketika saling berjauhan.
Perlakuan Darius semakin berani, dia mencium dan mencumbu anak gadisnya. Buku dongeng yang menjadi pengantar tidur dulu saat Alea kecil, kini tergantikan dengan cumbuan Darius yang mematikan.
Sampai malam ulang tahun Alea yang ke delapan belas tahun, Darius memberi kejutan sebuah kalung mahal berinisial A untuk Alea. Alea begitu terharu dan mengucapkan terimakasih. Dia memeluk Darius dan berkata, "Sudah banyak yang Daddy berikan untuk Alea. Alea sampai tidak tau bagaimana caranya membalas semua kebaikan Daddy."
Alea menatap haru Darius. Laki-laki yang selama ini menjadi tempat tinggalnya. Dia berjanji pada dirinya suatu saat dia akan membalas kebaikan sang Daddy ini.
Darius menatap dalam mata Alea, "Kamu ingin membalasnya?"
Alea mengangguk mantap tanpa ragu. Tanpa di tanya pun dari dulu Alea sudah bertekad untuk ini. patkan tubuh arena tanpa Darius, Alea tidak bisa membayangkan hidupnya akan seperti apa. Mungkin terlunta-lunta di jalanan atau paling untung dia berakhir di panti asuhan.
"Kamu tidak perlu repot-repot membalasnya. Tapi.... Apa Daddy boleh minta sesuatu?" Darius menatap dalam Alea.
"Boleh Dadd. Daddy minta apa? Selama Alea mampu, akan Alea berikan." Jawab Alea cepat tersenyum manis ke arah sang Daddy.
Darius terdiam sejenak sebelum akhirnya tangannya menyentuh area intim Alea yang membuat tubuhnya menegang seketika. "Daddy ingin ini. Maukah kamu memberikan selaput dara ini untuk Daddy?"
Bisik Darius di telinga Alea. Tenggorokan Alea tercekat. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Darius. Apalagi tangan kekar sang Daddy mengusap halus permukaan area intimnya di balik pakaiannya. Rasa aneh tiba-tiba menjalar di tubuh Alea.
"Sayang... Bagaimana, boleh kan?" Bisik halus Darius terdengar sensual di telinga Alea.
Laki-laki itu mengecup tipis-tipis pipi dan daun telinga Alea. Membuat gadis delapan belas tahun itu semakin membeku di tempatnya.
"T-tapi Dadd!"
Selama ini Alea memang menerima semua perlakuan Darius yang tak biasa. Dia menerima cumbuan Darius yang sampai pada area intimnya.
Namun Alea belum mengizinkan Darius untuk mengambil sesuatu yang paling berharga darinya. Dia ingin memberikannya nanti pada laki-laki yang menjadi suaminya. Alea juga berharap Darius yang menjadi ayah angkatnya akan menjadi suaminya dan menikahinya walau dari waktu dekat sekalipun. Biarlah ia menikah muda, tapi Alea memberikannya di dalam status yang sah.
"Kamu ingin membalas semua kebaikan Daddykan?"
"Hmmm." Gumam Alea di tengah rasa yang menghantam aliran darahnya. Tangan Darius tak berpindah sedikitpun dari area intinya.
"Cukup dengan ini kamu membalasnya, sayang. Daddy mohon." Ucap Darius menatap Alea penuh damba.
Alea tidak tega melihat tatapan itu. Tatapan penuh damba dan hasrat yang tertahan. Alea dilema. Dia ingin membalas semua kebaikan sang Daddy. Tapi.... Apakah ini saatnya?
Apakah ini benar-benar saat yang tepat untuk menyerahkan kehormatannya pada sang Daddy. Sebagai bentuk balas Budi dan mungkin bentuk cinta darinya.
Cukup lama Alea berpikir. Sampai akhirnya dia mengangguk mengiyakan permintaan Darius. "Lakukanlah Dadd! Tubuh dan hatiku hanya untuk Daddy." Ucapnya tersenyum.
Hati Darius senangnya bukan main. Dia tersenyum dan mengecup sayang kening Alea. "Terimakasih sayang. Sungguh, Daddy sudah tak sabar ingin memasukimu."
Ucap Darius berat dengan hasrat yang sudah tak tertahan lagi.
Darius mulai melancarkan aksinya. Dia mencumbu mesra Alea dengan menyentuh setiap titik sensitif tubunya. Akhirnya setelah lama menahan diri, Darius mendapatkan tubuh Alea sepenuhnya malam ini.
Malam ulang tahun Alea yang ke delapan belas, menjadi sejarah untuk Alea dimana dia menyerahkan kehormatannya untuk laki-laki yang selama ini telah merawatnya.
Semakin hari hubungan keduanya semakin hangat. Tiada hari tanpa penyatuan. Alea yang terbuai begitu mudah menerima sentuhan Darius yang memabukkan. Darius begitu pandai memanjakan tubuh Alea, hingga gadis itu tak bisa menolak setiap sentuhannya. Terkadang saat berjauhan pun, Alea merindu dan teransang. Dan begitu bertemu dia tak sungkan untuk memulai.
Alea tidak ingat lagi dengan statusnya yang belum di nikahi. Pikirnya dia yakin akan bersama Darius selamanya. Alea terlalu nyaman dengan kehidupannya bersama Darius. Dia yakin Darius laki-laki yang baik yang akan mempertahankannya.
Sudah enam bulan keduanya hidup bagai pasangan suami istri sungguhan walaupun usianya terpaut jauh. Harmonis dan begitu hangat di ranjang. Mereka melakukannya setiap hari sampai Alea lupa kapan dia terakhir datang bulan.
Di pagi hari ada yang aneh di tubuh Alea. Ada dorongan kuat dari perutnya ketika ia bangun tidut. Alea berlari ke kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya.
Dia menyandarkan tubuhnya yang terasa lemas ke tembok. Hatinya bertanya-tanya, "ada apa dengan ku?".
Alea membersihkan dirinya terlebih dahulu. Dia kembali ke ranjangnya dan mengingat sesuatu. Di lihatnya dengan cepat tanggal di ponselnya. Benar... Dia ternyata sudah telat dua Minggu.
Alea membekap mulutnya seraya sebelah tangannya menyentuh perutnya. Apa jangan-jangan dia sudah hadir?"
Tak ingin menerka-nerka, Alea segera pergi ke apotik terdekat untuk membeli alas tes kehamilan. Dia segera kembali ke rumah dan tanpa menunggu lagi dia segera mengetesnya.
Sambil menunggu alat tes kehamilan itu beraksi, jantung Alea berdetak tak karuan. Antara doa dan takut menjadi satu. Di lihatnya kembali alat itu dan garis dua pun terpampang jelas. Alea membekap mulutnya, tangis haru membasahi pipi mulusnya. Antara senang dan juga takut. Apakah Darius akan menerimanya?
Pasti...
Yakin Alea begitu. Apalagi Darius laki-laki matang yang cocok menjadi ayah. Alea sedang mengandung anaknya. Laki-laki itu pasti bahagia karena di usianya yang matang ini akan segera menjadi ayah sungguhan.
Dan dengan berita baik ini, Alea berharap Darius akan segera menikahinya.
Alea yang merasa senang mengambil ponselnya untuk mengabari Darius yang kebetulan dua hari ini sedang berada di luar kota. Namun segera dia urungkan, mengingat satu Minggu lagi ulangtahun perusaan Darius. Dan Alea pikir dia akan memberi tahunya nanti sebagai kejutan.
Alea tak sabar menunggu itu. Deg degan juga bagaimana reaksi Darius nanti. Apakah bahagia seperti dirinya atau malah sebaliknya?
Sampai hari ketiga Alea masih menunggu kepulangan Darius dari luar kota. Laki-laki itu sesekali mengirim pesan. Jika dia baik-baik saja dan pasti akan kembali pulang. Alea pun merasa sedikit tenang walaupun dia merasa aneh karena Darius tidak menerima panggilannya.
Mungkin Darius tengah sibuk pikirnya. Tidak bisa menerima panggilan Alea langsung.
Merasa bosan dan ingin melupakan kerinduannya pada Darius, Alea pergi keluar rumah ingin berjalan-jalan. Dia mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan ternama. Di belinya beberapa helai pakaian yang menurutnya bagus. Tak lupa Alea membeli sebuah gaun tidur seksi untuk menyenangkan Darius nanti.
Setelah berkeliling cuci mata, Alea mengunjungi sebuah restoran. Perutnya sudah berisik sedari tadi minta di isi.
Tanpa melepaskan masker yang menutupi setengah wajahnya, Alea duduk di salah satu kursi yang ada di restoran tersebut. Setelah memesan menu yang ia inginkan, Alea tampak fokus dengan ponselnya.
Hingga tiba-tiba, samar-samar dia mendengar percakapan salah satu di meja belakang.
Yang membuat Alea kaget, Alea mengenali salah satu dari suara itu yang tidak lain adalah Darius. Alea merapihkan maskernya dan menegakkan tubuhnya. Juga menajamkan pendengarannya demi bisa mendengar jelas obrolan itu.
"Jadi kau sudah menikmatinya?" Tanya seseorang yang entah siapa. Mungkin teman Darius, pikir Alea.
"Hmmm.. Ya begitulah." Jawab Darius cukup membuat hati Alea tiba-tiba berdenyut nyeri.
"Wahhhh luar biasa... Tidak sia-sia selama ini kau menampungnya dan memberinya makan. Bagaimana rasanya? Pasti enak sekali bukan." Ledek teman Darius yang membuat kuping dan hati Alea panas.
"Pasti lah... Daun muda. Lagi gurih-gurihnya dia." Timpal teman Darius yang lain. Seketika mereka tertawa bersama.
"Pinter banget Lo, bro. Dulu datang sok jadi pahlawan. Tapi yang sebenernya Lo lagi nyiapin dendam. Apik banget cara Lo. Gue kasih jempol seratus lah."
Tawa kembali terdengar dari tiga laki-laki itu.
Alea yang duduk di kursinya badannya bergetar. Tangannya mengepal demi menahan emosi yang tiba-tiba datang. Dia menahan diri untuk tidak melabrak tiga laki-laki dewasa itu.
Alea berusaha bertahan demi mendengar kelanjutan percakapan itu. Apa katanya, dendam?
Dendam apa yang mereka maksud?
Siapa mereka sebenarnya?
Apa dari dulu mereka tau tentang dirinya?
Alea berusaha tetap berada di tempatnya.
Apalagi saat percakapan itu berlanjut dan yang membuatnya kaget mereka membawa nama almarhum ibunya.
"Kirana murahan, matre dan peselingkuh. Dia yang salah tapi kasihan sekali anaknya jadi sasaran dendammu." Terdengar kekehan dari ketiga laki-laki dewasa itu.
"Seandainya kirana tidak melakukan hal bodoh itu, pasti kalian sudah menikah dan punya anak.Tapi ya begitulah. Tidak dapat ibunya, ya anaknya."
Kembali tawa renyah terdengar yang membuat hati Alea semakin sakit.
"Itu pun hanya untuk bersenang-senang saja kan, bro. Seorang Darius tidak mungkin menikahi anak dari wanita murahan itu. Darah nya mengalir, dan pasti anaknya juga mengikuti watak ibunya."
Kedua teman Darius itu asyik mengobrol. Darius hanya diam dan seolah apa yang di katakan mereka benar adanya.
"Jelas... Darius akan menikah dengan wanita baik-baik. Bukankah kamu sedang menunggu Selena yang akan tiba dua hari lagi?" Tanya teman Darius yang bernama Erik.
Darius mengangguk mengiyakan. Dia memang menunggu kedatangan kekasihnya yang berada di luar negeri. "Aku baru Selesai survei rumah untuknya. Selama beberapa hari pencarian, hari ini baru menemukan yang cocok sesuai seleranya."
"Wooaahhh... Keren. Seorang Darius memang tidak main-main untuk orang yang di cintainya." Sorak ke dua teman Darius.
Hati Alea makin nyeri lagi. Jadi beberapa hari ini Darius bukan keluar kota karena pekerjaan. Melainkan mencari rumah impian sang kekasih.
Mereka terus asyik mengobrol tanpa mengetahui ada Alea yang menahan tangisnya. Gadis itu mendengar semuanya. Dan ia faham apa yang terjadi. Semuanya, hidupnya memang sudah di rencanakan.
Alea berdiam sejenak demi menguasai hati dan pikirannya kembali. Rasa lapar yang memdera tadi kini hilang begitu saja. Tergantikan dengan kenyataan yang begitu pahit.
Perlahan Alea beranjak dari kursinya, tanpa menimbulkan kecurigaan orang sekitar. Dia meninggalkan restoran itu karena sudah tak tahan dengan percakapan ketiga laki-laki dewasa itu yamg melebar kemana-mana.
Sampai di rumah , Alea mengurung diri di kamar. Gadis itu menumpahkan air matanya yang sedari tadi dia tahan. Kenyataan yang begitu pahit memukul hati dan pikirannya. Dendam yang terancang dari laki-laki yang ia anggap ayah angkat yang baik.
Dendam cinta, yang ia tidak tahu kenyataannya seperti apa.
Jadi ibunya kekasih Darius dahulu?
Waktu mereka duduk di bangku kuliah.
Apa benar ibunya melakukan semua kesalahan itu, hingga membuat seorang Darius menjadi pendendam seperti itu.
Semasa hidupnya, Alea tidak pernah melihat sisi buruk ibunya. Tapi ia juga tidak pernah tahu siapa ayahnya.
Ibunya bilang mereka hanya korban dari orang tak berperasaan.
Alea tak mengerti apa maksud ucapan ibunya dahulu.
Malam pun menyapa, Alea masih betah di ranjangnya. Matanya bengkak dan sesekali mengusap pipinya kembali. Butiran air mata masih ada yang jatuh.
Dari luar terdengar deru mesin mobil. Alea tahu siapa itu. Siapa lagi kalu Darius s ayah angkat yang sudah menjadikan dirinya dewasa.
Alea berdiam diri di tempat tidur tidak seperti biasanya yang selalu menyambut kedatangan Darius.
Sampai terdengar derap langkah kaki dan pintu kamar terbuka, Alea tetap berbaring di kasurnya.
"Baby, belum tidur?"
Darius berbisik di belakang daun telinga Alea. Dia mengecup pelan rambut gadis itu.
Alea menggeleng dan sisa isak tangis terdengar membuat Darius panik dan membalikkan tubuh Aleh jadi menghadap ke arahnya. "Sayang, kenapa?"
Darius mengamati wajah sembab Alea. Cukup lama Alea menangis hingga Darius bisa melihat perubahan wajah cantik Alea.
Alea menggeleng lalu menatap dalam mata tajam Darius. Jika dia tidak mendengar semua obrolan tadi, Alea tidak akan pernah tau jika sikap Darius ini hanya pura-pura.
Darius pintar sekali memainkan dramanya. Apa yang di dengarnya tadi , jauh berbeda dengan sikap dia selama ini.
Alea hanya tersenyum tipis, lalu menunjuk layar ponselnya. "Nonton drama korea, sedih banget."
Alea bisa melihat Darius menghela nafas lega.
"Kirain kenapa. Jangan terlalu serius, baby. Itu hanya bohong."
Darius mengecup kening Alea dan melumat bibirnya.
BERSAMBUNG...