Hujan deras mengguyur hutan lebat di pinggiran kota kecil itu, menciptakan simfoni gemuruh yang seolah menelan segala suara. Udara malam Oktober yang dingin menusuk tulang, dan kabut tipis mulai menyelimuti pepohonan tinggi yang menjulang seperti penjaga gelap.
Christian Davies, seorang arsitek berusia 35 tahun dengan tubuh atletis, rambut hitam pendek yang rapi, dan mata biru yang biasanya penuh ketegasan, telah merencanakan akhir pekan ini sebagai pelarian romantis. Bersamanya adalah Ami Sienna, tunangannya yang berusia 32 tahun, seorang seniman dengan rambut panjang bergelombang berwarna kastanye dan senyum hangat yang selalu mampu meluluhkan hati siapa pun. Mereka menyewa sebuah pondok kayu terpencil di tengah hutan, jauh dari sinyal ponsel dan keramaian kota, berharap menemukan kedamaian di antara keheningan alam.
Malam itu, setelah makan malam sederhana—steak panggang dengan kentang bakar dan segelas anggur merah—mereka duduk di depan perapian yang menyala-nyala. Api menari-nari, memantulkan cahaya oranye pada dinding kayu yang usang. Christian memeluk Ami dari belakang, mencium lehernya lembut, menghirup aroma vanila dari parfumnya. "Ini adalah malam yang kita butuhkan, sayang," bisik Ami sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Christian. Ia mengangguk, merasa ketegangan pekerjaannya mulai luruh. Tapi ketenangan itu rapuh, seperti gelembung sabun yang siap pecah.
Tiba-tiba, ketukan pelan terdengar dari pintu depan. Christian mengerutkan kening, melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 11 malam. "Siapa yang datang jam segini?" gumamnya sambil bangkit. Ami menoleh, wajahnya sedikit pucat di bawah cahaya api. "Mungkin orang tersesat karena hujan," katanya, meski suaranya terdengar ragu. Christian mendekati pintu, mengintip melalui celah kecil di tirai. Di teras yang basah, seorang wanita muda berdiri di bawah payung hitam lusuh, rambutnya menetes air hujan. Matanya tersembunyi di balik bayangan, tapi posturnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang tersesat.
Christian membuka pintu sedikit, angin dingin menyusup masuk. "Ya? Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya. Wanita itu menatapnya dengan mata kosong. "Apakah Tamara ada di sini?" suaranya datar, tanpa nada emosi, seperti robot yang membaca skrip. Christian menggelengkan kepala. "Tidak, kami baru menyewa pondok ini untuk akhir pekan. Mungkin salah alamat." Wanita itu mengangguk pelan, tapi tatapannya menyusuri ruangan di belakang Christian, seolah mencari sesuatu yang tersembunyi. Ia berbalik dan pergi tanpa kata lagi, langkahnya lenyap ditelan kegelapan. Christian menutup pintu, merasa bulu kuduknya merinding. "Orang aneh," katanya pada Ami saat kembali ke ruang tamu. Ami tersenyum tipis, mencoba mengabaikannya. "Mungkin cuma salah orang."
Beberapa menit kemudian, ketukan kembali terdengar—lebih keras, lebih mendesak. Christian bangkit lagi, tapi kali ini tak ada siapa-siapa di luar. Hanya angin yang menderu dan daun-daun basah yang bergoyang. Ia mengunci pintu rapat, tapi tiba-tiba listrik padam. Ruangan tenggelam dalam kegelapan pekat, hanya diterangi cahaya redup dari perapian yang mulai meredup. Ami berteriak pelan, "Christian! Apa yang terjadi?" Ia meraih ponselnya dari meja, tapi layar menunjukkan "Tidak Ada Sinyal". Christian meraih senter dari laci dapur, hatinya mulai berdegup kencang. "Mungkin badai merusak kabel listrik. Tunggu di sini, aku cek sekring."
Sebelum ia sempat bergerak, pintu belakang rumah pecah dengan suara dentuman keras. Kaca berhamburan, dan tiga sosok bertopeng menyusup masuk seperti hantu dari kegelapan. Yang pertama, seorang wanita dengan topeng boneka porselen retak, mata di baliknya berkilat ganas. Yang kedua, pria bertubuh kekar dengan topeng binatang liar, giginya menyeringai palsu. Yang ketiga, pria kurus dengan topeng polos tanpa fitur, hanya lubang hitam untuk mata dan mulut. Mereka tak bicara, hanya bergerak dengan koordinasi mengerikan, seperti predator yang telah berburu bersama selama bertahun-tahun.
Christian berusaha melindungi Ami, meraih kursi kayu terdekat sebagai senjata, tapi pria bertopeng binatang menendang perutnya dengan keras, membuatnya terjatuh dan kehabisan napas. Ami berteriak, mencoba lari ke kamar tidur, tapi wanita bertopeng boneka menangkap rambutnya dan menariknya ke belakang. Dalam sekejap, mereka mengikat Christian dan Ami di kursi ruang tamu, tangan dan kaki terikat erat dengan tali nilon yang menggigit kulit. Darah mulai menetes dari hidung Christian yang memar. "Kenapa kalian lakukan ini? Kami tak punya apa-apa!" jerit Christian, suaranya penuh amarah dan ketakutan. Para psikopat itu tak menjawab. Mereka hanya berdiri di depan korban mereka, bernapas pelan, seolah menikmati aroma ketakutan yang memenuhi ruangan.
Siksaan dimulai secara perlahan, seperti ritual sadis yang dirancang untuk memperpanjang penderitaan. Wanita bertopeng boneka mendekati Ami terlebih dahulu, meraih pisau kecil dari saku mantelnya yang basah. Ia menyentuh ujung pisau ke leher Ami, menggoresnya perlahan dari bawah telinga hingga tulang selangka. Luka itu tak dalam, hanya cukup untuk membuka kulit dan membuat darah merembes keluar seperti air mata merah. Ami menjerit, tubuhnya menggeliat dalam ikatan. "Tolong... jangan!" mohonnya, air mata membasahi wajahnya. Wanita itu tertawa pelan di balik topeng, suaranya seperti bisikan angin dingin. "Karena kami suka mendengar jeritanmu."
Pria bertopeng binatang bergabung, mengambil pisau lebih besar dari tas mereka. Ia menusuk paha Ami dengan gerakan cepat, pisau menembus daging hingga dalam, menyentuh otot dan mungkin urat darah. Ami meraung kesakitan, darah menyembur keluar dari luka, membasahi celana jeansnya yang robek. Ia mencoba menarik kakinya, tapi ikatan membuatnya tak bisa bergerak. Darah mengalir deras ke lantai, membentuk genangan hitam di bawah cahaya perapian yang redup. "Christian... tolong aku..." bisik Ami lemah, wajahnya semakin pucat karena kehilangan darah.
Belum puas, pria bertopeng polos mengeluarkan obeng panjang dari kotak peralatan yang mereka bawa. Ia mendekati Ami dari samping, menekan ujung obeng ke pinggangnya, tepat di atas pinggul. Perlahan, ia memutar dan mendorongnya masuk, seperti sedang mengebor kayu. Ami menjerit lebih keras, suaranya pecah menjadi isak tangis. Luka itu dalam, merobek jaringan lunak, dan darah mulai mengalir deras dari sisi tubuhnya. "Kenapa... kenapa kalian..." gumam Ami, napasnya tersengal. Para psikopat bergantian, seolah bermain permainan maut. Wanita bertopeng boneka menusuk bahu Ami dengan jarum panjang, memutarnya untuk memperbesar luka. Pria bertopeng binatang menambahkan tusukan di perut bawah, pisau masuk setengah jalan sebelum ditarik keluar dengan kasar, membuat darah menyembur lagi.
Christian menyaksikan semuanya dengan mata terbelalak, tubuhnya gemetar karena amarah dan ketakutan. Ia dipukul berulang kali—jari-jarinya dipatahkan, pipinya memar—tapi penyiksaan utama ditujukan pada Ami, seolah mereka ingin menghancurkan jiwanya melalui penderitaan wanita yang dicintainya. Ami semakin lemah, darahnya mengalir deras dari lusinan luka tusukan: leher yang tergores, paha yang robek dalam, pinggang yang dibor obeng, bahu yang berlubang, dan perut yang berdarah. Tubuhnya mulai dingin, napasnya pendek-pendek, dan ia hampir tak berdaya, hanya mampu mengeluarkan erangan samar.
Di saat Ami berada di ambang kematian, tubuhnya lunglai dan mata setengah terpejam karena kehilangan darah yang berlebihan, ia dikejutkan oleh suara gesekan tali yang terlepas. Christian, yang seharusnya terikat di kursi sebelahnya, tiba-tiba berdiri dengan bebas, ikatannya sudah terurai sempurna. Ami memaksakan diri untuk menoleh, matanya melebar karena keterkejutan. Christian menyeringai lebar ke arahnya, senyum itu bukan senyum pelindung yang biasa ia kenal, melainkan senyum ganas penuh kegelapan, seperti predator yang akhirnya menunjukkan wajah aslinya. Para psikopat bertopeng mundur selangkah, seolah menunggu perintah dari pemimpin mereka.
Ami sudah tak dapat berkata-kata lagi, mulutnya terbuka tapi hanya darah yang menetes keluar, bukan kata-kata. Ternyata, Christian adalah dalang di balik semuanya—ia yang menyewa para psikopat ini, yang merencanakan malam horor ini sebagai bagian dari permainan sadisnya untuk menghilangkan Ami, mungkin karena rahasia masa lalu atau sekadar nafsu gelap yang tak terkendali. "Kau pikir aku mencintaimu?" bisik Christian dengan suara dingin, mendekati Ami sambil meraih pisau dari tangan wanita bertopeng boneka. Ami hanya bisa menatapnya dengan mata penuh pengkhianatan dan keputusasaan.
Dengan sadisnya, Christian menusuk leher Ami hingga dalam, pisau menembus tenggorokan dan urat nadi utama. Darah menyembur seperti air mancur, membasahi wajah Christian yang masih menyeringai. Ia memutar pisau itu sebentar untuk memperbesar rasa sakit, lalu mencabutnya dengan keras, membuat luka menganga lebar. Ami tersedak darahnya sendiri, tubuhnya kejang sesaat sebelum lunglai sepenuhnya, napasnya berhenti, dan matanya terpejam selamanya dalam kengerian terakhir.
Christian menatap mayat Ami sejenak, lalu berbalik ke para psikopat. "Bagus kerja kalian," katanya pelan, sebelum menyuruh mereka membersihkan jejak. Ia keluar dari pondok dengan tenang, meninggalkan hutan itu sebagai satu-satunya saksi bisu. Polisi nantinya akan menemukan pondok yang terbakar habis, tanpa jejak korban atau pelaku—kecuali cerita samar tentang seorang pria yang selamat, yang sebenarnya adalah monster yang merencanakan segalanya. Christian melanjutkan hidupnya di kota, mencari korban berikutnya, karena baginya, kegelapan bukanlah ancaman, melainkan rumah.
Terinspirasi dari film "The Strangers"