Kisah petualangan yang bikin lari berhamburan
Penulis: Lili Aksara.
Dimas, Mawar, Zidan, dan Alya adalah 4 remaja yang saling sahabatan.
Tapi, mereka ini pada koplak semua.
Di antara mereka, Zidan lah yang paling banyak ide.
Tapi, kadang idenya ini malah sesat, dan bikin sahabatnya yang lain kelimpungan.
Sore itu, senja sudah tampak menggantung di langit kampung.
Anak-anak berlari riang, sesekali tertawa karena hal konyol.
Di sebuah warung kopi milik Bu Marni, Dimas dan teman-temannya sedang duduk santai, ditemani segelas kopi dan juga gorengan.
"War, kamu itu lagi apa sih? Dari tadi sama HP terus," ucap Alya kesal.
"Lagi nonton video horor tahu, kamu sih nggak update, Al," jawab Mawar.
"Horor kok ditonton, di datengin kuntilanak baru tahu rasa kamu," ucap Alya.
Mawar hanya tertawa mendengar ucapan Alya.
"Eh, tapi ngomongin soal horor, emang sekarang itu banyak loh yang bikin konten dateng ke tempat angker," ucap Dimas.
"Ahaaa, aku ada ide, guys!" seru Zidan.
"Ide apa? Palingan sesat," ucap Alya.
"Dih, matamu itu, Al. Ya nggak lah, justru ini tuh bisa bikin kita banyak duit," jawab Zidan kesal.
"Ya udah, ide apaan emang?" tanya Alya.
"Gini lo, guys. Jadi, kita bikin konten horor juga. Nanti, kita pergi ke tempat angker, sambil bawa kamera, terus kita live," ucap Zidan.
"Wah, boleh juga ide kamu ini, Dan, itu malah bagus," ucap Dimas.
Di antara mereka, Dimas lah yang sudah memiliki akun youtube, dengan jumlah subscriber yang lumayan.
Dan tentu saja, akun itu sudah bisa melakukan livestreaming, jadi tenang saja.
"Eh, tapi, kan kita nggak punya alat-alatnya, guys," ucap Mawar.
"Gampang itu, nanti aku minjem sama omku, dia punya kamera buat ngonten," kata Zidan.
"Oh, okelah. Terus, kita mau bikin konten di mana?" tanya Alya.
"Saranku di gowa seribu gelap aja. Konon katanya, goa itu banyak penunggunya. Dan para warga nganggep goa itu sakral, bahkan sering di kasih sajen juga. Itu goa juga lumayan deket dari kampung kita, ada di hutan belakang desa," usul Dimas.
Memang benar. Tak jauh dari desa tempat kampung Dimas dan kawan-kawannya, terdapat sebuah hutan.
Hutan itu tidak angker, banyak warga yang sering mencari kayu di sana, entah untuk kayu bakar, atau untuk hal lain.
Tapi, jauh didalam hutan, di antara rimbunnya pepohonan, tersembunyi sebuah goa.
Konon katanya, goa itu sudah ada sejak ratusan tahun lalu.
Para penduduk desa, terutamanya yang masih begitu kental dengan hal mistis, percaya bahwa di goa itu, ada makhluk halus yang tak boleh diganggu.
Sebenarnya, anak-anak itu tak mempercayai mitos tersebut.
Dan pikir mereka, jika mereka jadi membuat konten di sana, mungkin mereka akan bisa mengungkap misteri di gowa itu.
***Adzan telah berkumandang dari speaker masjid yang berada tak jauh dari warung Bu Marni.
Saat itu, Bu Marni yang sedang duduk santai, segera beranjak bangkit kala mendengar suara adzan magrib.
"Heh, sana pergi kalian. Aku mau salat, mending kalian salat juga," ucap bu Marni.
"Siap, Bu, ini kita mau pergi kok," jawab Mawar.
Segera saja, keempat anak muda itu berjalan ke rumahnya masing-masing.
Rumah mereka saling berdekatan, jadi pulang pun 1 arah.
Namun, saat itu mereka pulang dengan terburu-buru.
Karena hari sudah magrib, matahari juga telah tenggelam, kembali ke peraduan.
Dan tentu saja, mereka takut juga akan dimarahi orang tuanya karena pulang terlambat.
***Zidan tiba di rumahnya saat adzan telah usai.
Pemuda itu mencopot sandal, lalu menyimpannya sembarang.
Tok, tok, tok.
Di ketuknya pintu berwarna kuning itu.
"Assalamualaikum!" seru Zidan.
Ceklek.
Seorang wanita paruh baya keluar menyambut sang putra yang baru saja pulang.
Wanita itu memakai mukena putih.
Tak ada wajah ramah, tak ada senyum yang ditunjukan.
Saat melihat tatapan emaknya yang begitu tajam, Zidan merasa merinding.
"Kamana wae maneh teh, magrib karek balik," ucap Mak Sari emosi.
"Ya maaf atuh, Mak, Zidan teh telat uih," jawab Zidan.
"Nggeus, kaditu gera salat, bisi kaburu akhir. Lain tatadi balik teh," ucap Mak Sari seraya berlalu masuk ke dalam rumah.
Ketika di luar, Zidan dan kawan-kawannya memang sering menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, yang super Indo deh pokoknya.
Tapi kalau di rumah, ya lain lagi ceritanya.
Dengan langkah buru-buru, Zidan beranjak ke kamar mandi, untuk membersihkan diri dan mengambil air wudu.
***Usai melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim, Zidan menemui Mak Sari di dapur.
"Mak, ari si amang aya eweuh di imahna?" tanya Zidan.
Yang ia maksud adalah omnya, yang bernama Ali.
"Mau apa kamu nanyakeun si amang? Nya aya mereun," jawab Mak Sari.
"Abi rek nginyeum kamera, Mak, rek ngonten jeng babaturan," jawab Zidan.
"Awas maneh tong ngalakukeun nu teu baleg," ucap Mak Sari.
"Siap, Mak, moal atuh," jawab Zidan.
"Sana makan dulu, Zidan!" perintah Mak Sari.
"Iya, Mak," jawab Zidan sembari mengangguk.
Zidan segera beranjak bangkit, untuk mengambil nasi, karena pemuda itu ingin segera pergi ke rumah omnya.
Sambal, ikan asin, dan tahu goreng, itulah menu yang dimasak oleh mak Sari.
Kalau menunya begitu, tentu pasti ada lalapannya juga.
Meski menu tersebut sederhana saja, tapi Zidan tetap memakannya dengan nikmat dan lahap.
Zidan terlahir dari keluarga yang sederhana.
Sehari-hari, mak Sari bekerja menjadi buruh cuci dengan upah yang tak seberapa.
Tapi, meski begitu, mak Sari tetap mensyukuri hidupnya.
Menurut mak Sari, asalkan ia dan keluarganya bisa makan, maka itu tak masalah.
***Selesai makan, Zidan berpamitan pada mak Sari untuk pergi menemui omnya.
"Abi pamit nya, Mak, bade ka bumi mang Ali," pamit Zidan pada sang emak.
"Enya, hati-hati," jawab mak Sari.
"Assalamualaikum," ucap Zidan sembari menyalami tangan mak Sari.
"Waalaikumsalam,"
***Udara dingin khas malam hari menyambut Zidan kala pemuda itu keluar dari rumahnya.
Kampung tampak cukup sepi.
Tapi tetap saja, ada beberapa warga yang masih duduk di teras rumahnya.
Semilir angin menggoyangkan dedaunan ketika Zidan melintas.
Kala itu, jam baru menunjukkan pukul 18.40.
Belum terlalu malam. Tapi, meski begitu, Zidan merasakan hawa yang tidak enak saat ia melewati sebuah pohon beringin tua di sebelah pemakaman.
Untuk ke rumah omnya, Zidan memang harus melewati sebuah pemakaman kampung.
Sebenarnya, yang seram itu justru bukan kuburannya, tapi sebuah pohon beringin yang berada di samping gerbang pemakaman tersebut.
Konon, para warga sering melihat bayangan putih ketika melewati pohon itu.
"Hihihi, mau ke mana kamu, manusia?"
Deg.
Jantung Zidan berdetak lebih keras saat pemuda itu mendengar suara cekikikan yang seperti mengejek dirinya.
Zidan segera mempercepat langkahnya.
Tadinya, Zidan ingin mendongakan kepalanya ke atas pohon beringin.
Namun, niat tersebut ia urungkan, karena ia sudah kepalang takut.
***Akhirnya, setelah 10 menit berperang dengan rasa takut, kini sampailah Zidan di rumah Om Ali.
Tok, tok, tok.
"Assalamualaikum!" seru Zidan.
Langkah kaki terdengar mendekati pintu.
Ceklek.
Pintu terbuka, menampakan seorang gadis manis yang tersenyum pada Zidan.
"Waalaikumsalam. Eh ada Aa Zidan. Ayo atuh masuk, A," ucap Salwa—sepupunya Zidan.
"Iya, Salwa, makasih," jawab Zidan.
Zidan pun dipersilahkan untuk duduk di kursi ruang tamu.
"Jadi ada apa, A?" tanya Salwa.
"Aa teh mau ketemu sama mang Ali," jawab Zidan
"Oh, Bapak ada di dalem, bentar biar aku panggilin," ucap Salwa.
Zidan yang mendengar itu, ia hanya mengangguk sebagai jawaban.
***Tak lama berselang, Ali datang dengan memakai sarung dan kaos oblong.
"Aya naon maneh kadieu, Jang?" tanya Ali.
"Abi rek nginjeum kamera, Mang," jawab Zidan.
"Buat apa, jangan aneh-aneh kamu," ucap Ali.
"Abi teh bade live di youtube, kudu make kamera atuh," ucap Zidan.
"Oh, ya udah, boleh, tapi awas, entong nepika ruksak," ucap Ali.
"Siap, Mang," jawab Zidan.
***Ali pun beranjak pergi ke kamarnya, laki-laki itu akan mengambilkan barang yang diinginkan oleh sang keponakan.
***"Ini barang yang kamu mau," ucap Ali sembari menyerahkan sebuah kamera pada Zidan.
Dengan senang hati, Zidan menerima kamera itu.
"Nuhun pisan, nya, Mang. Nanti aku balikin kameranya," ucap Zidan.
"Sama-sama, Jang, jagain baik-baik, ya," jawab Ali.
"Ya udah, Mang, aku pulang dulu," ucap Zidan.
"Iya, hati-hati kamu pulangnya," jawab Ali.
Setelah mengucapkan salam, Zidan kembali menapaki jalanan kampung yang sepi.
Sejujurnya ia takut, tapi ya sudahlah, lagipula tak mungkin Zidan meminta omnya untuk menemani, malulah ia.
Rasanya nggak enak. Udahlah minjam barang, eh malah minta ditemani pulang juga.
Untungnya, kali ini tak ada suara kuntilanak itu.
***Keesokan malamnya, Zidan, Dimas, Mawar, dan Alya sudah berkumpul di rumah milik Dimas.
Kenapa rumah Dimas?
Karena, di antara mereka berempat, Dimaslah yang tinggal seorang diri.
Jadi, rumahnya sering dipakai untuk mereka berkumpul.
Entah untuk ngopi, ngobrol, atau mempersiapkan sesuatu.
"Jadi gimana ini, guys, kapan kita nyalain live-nya?" tanya Alya.
"Nanti ajalah, Al, pas udah di hutan," jawab Zidan.
"Eh, kita nggak pakai mikrofon ini?" tanya Mawar.
"Nggak usah, lagian bakal kedengeran kok, soalnya kita kan berempat, nggak ada mikrofonnya," jawab Zidan.
"Oh, okelah," imbuh Mawar seraya mengangguk.
Saat itu, mereka hanya membawa senter dan pisau.
Entahlah, Alyalah yang menginginkan mereka membawa pisau, katanya untuk berjaga-jaga, kalau-kalau ada hewan buas.
***Setelah bersiap-siap, akhirnya keempat pemuda itu berjalan menembus kegelapan malam.
Saat mereka mulai mendekati hutan, Dimas, yang memang dipercaya untuk menjadi hos dari live itu, mulai berbicara.
"Halo semuanya, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Nah, guys, setelah sekian lama, akhirnya saya bisa menjumpai kalian lagi di channel ini. Nah, di live kali ini saya nggak sendirian, karena sekarang saya bersama teman-teman saya. Ini teh ada Zidan, Mawar, dan Alya. Hari ini, kita mau berpetualang," ucap Dimas.
"Kira-kira kita mau ke mana nih, Zidan?" tanya Dimas, seraya menatap Zidan, meminta agar pemuda itu menjawabnya.
"Jadi, kita mau ke gowa seribu gelap. Katanya, gowa ini tuh serem banget," jawab Zidan.
"Iya, di gowa seribu gelap itu banyak penunggunya," ucap Mawar.
Perlahan, mulai banyak orang yang berkomentar di live, terutamanya yang menanyakan lokasi mereka.
Saat mereka mulai memasuki hutan lebih dalam, hawa yang aneh mulai terasa.
"Ih, ternyata hutan ini kalau malem serem juga, ya," ucap Alya.
"Iya, mana dingin banget lagi," sahut Mawar.
"Tenang, nggak akan ada apa-apa kok ini," ucap Zidan.
***Setelah cukup lama berjalan, akhirnya mereka melihat sebuah gowa yang tidak terlalu besar.
"Yakin ini gowanya?" tanya Alya.
"Yakinlah, kan gowa di hutan ini cuma ada satu," jawab Dimas.
"Ya udah, ayo kita masuk," ajak Zidan.
Langkah mereka mulai memasuki gowa yang gelap itu.
Untung saja, mereka membawa 2 senter untuk penerangan.
Karena sesuai dengan namanya, gowa ini sangat gelap, tak ada penerangan sedikitpun.
Awalnya, semua masih tampak aman.
Hingga, 1 suara menggelegar terdengar, membuat keempatnya terlonjak kaget.
"Wahahaha, mau apa kalian ke sini, manusia?" tanya suara itu, dengan tawanya yang menyerankan.
"Si—siapa kau?" tanya Alya dengan terbata.
"Aku? Kamu masih nanya aing saha, manusia," jawab sosok yang belum menampakan wujudnya itu.
Perlahan, kepulan asap terlihat, dan membentuk sebuah sosok mengerikan.
Itu adalah genderwo dengan mata besar, taring, dan gigi tajam.
Sontak, Alya dan Mawar berteriak ketakutan tatkala melihat rupa sosok itu.
Dimas dan juga Zidan tak bisa berkata-kata, mereka juga sangat takut.
Entah bagaimana nasib live mereka itu.
"Lariii!" teriak Dimas.
Brug!
Karena mulut gowa yang kecil, akhirnya mereka terjatuh, karena mereka berlari secara bersamaan.
"Woi, awas, sakit nih," ucap Dimas yang ketindihan tubuh Mawar.
Sontak, gadis itu buru-buru berdiri.
Sementara itu, Alya terjerembab ke tanah.
"Eits, siapa yang ngebolehin kalian pergi?" tanya genderwo.
"Maafin kita dong, pokoknya kita mau pergi," ucap Alya.
Brak!
Alya melemparkan batu yang berada di sebelahnya.
"Tentu saja sia-sia, karena batu itu menembus tubuh genderwo, dan malah mengenai Zidan.
"Anjir, ngapain kamu itu, Al," ucap Zidan emosi.
"Wahahaha, kalian pikir bisa kabur dengan mudah?" tanya genderwo.
*Ini gara-gara Zidan, sih, jadi gini kan," ucap Alya.
"Heh, kok malah nyalahin aku, kan kalian yang mau juga," jawab Zidan.
Karena genderwo yang kesal, akhirnya ia menyiramkan segelas kopi pada 4 anak muda itu.
Byur!
Dari mana kopi itu?
Tentu saja dari sesajen yang sering diberikan oleh para warga.
"Goblog, malah di siram," ucap Zidan.
Karena sudah kepalang emosi dan takut, akhirnya mereka lari kocar-kacir saling dorong supaya bisa keluar.
Sementara si genderwo masih tertawa terbahak-bahak, seolah mengejek mereka berempat.
"Lontoooong, ada setan!" teriak mereka.
Brug!
Dimas, Zidan, Alya, dan Mawar jatuh menghantam tanah, dan langsung pingsan di tempat.
Begitulah, niat awal yang ingin cari uang, eh malah berujung kaki mereka yang berhamburan, bukan uang.
Tamat.