Tidak ada suara terompet di sini. Di Ruang 402, suara pergantian tahun bukanlah ledakan kembang api atau sorak-sorai massa yang menghitung mundur, melainkan bunyi ritmis dari mesin elektrokardiogram. Beep… beep… beep…
Stabil, namun lemah. Sebuah metronom yang menghitung sisa waktu, bukan menyambut waktu yang baru.
Bagas duduk di kursi lipat di samping ranjang, posisinya tidak berubah selama tiga jam terakhir. Tangannya menggenggam jemari Kinan yang terasa dingin dan rapuh, seolah-olah jika ia melonggarkan genggamannya sedikit saja, Kinan akan menguap menjadi debu.
Di luar jendela kaca yang besar, langit Jakarta mulai berpendar kemerahan. Kilatan cahaya dari kejauhan menandakan pesta sudah dimulai. Tapi di dalam sini, udaranya berbau antiseptik dan selimut yang terlalu sering dicuci.
"Gas..." Suara itu lirih, nyaris seperti desisan angin.
Bagas tersentak dari lamunannya dan segera mencondongkan tubuh. "Hei, aku di sini," bisik Bagas lembut, mengusap anak rambut yang menempel di dahi Kinan yang berkeringat dingin. "Haus?"
Kinan menggeleng pelan. Gerakan itu saja tampaknya membutuhkan seluruh sisa tenaganya. Matanya yang cekung menatap Bagas, lalu beralih ke jendela. "Jam... berapa?"
Bagas melirik arloji di pergelangan tangannya. "Jam sebelas lewat empat puluh. Masih ada dua puluh menit lagi."
Kinan tersenyum tipis. Sangat tipis. Bibirnya pecah-pecah dan pucat. "Kita... sampai juga ya... di penghujung tahun."
Kalimat itu sederhana, tapi menghantam dada Bagas lebih keras daripada pukulan fisik. Dokter bilang Kinan tidak akan bertahan sampai Natal. Tapi Kinan keras kepala. Dia selalu keras kepala. Dia bilang dia ingin melihat satu tahun lagi berganti, meski hanya sebatas angka di kalender.
"Kita sampai, Kin. Kamu hebat," suara Bagas bergetar. Ia menahannya mati-matian. Ia sudah berjanji tidak akan menangis malam ini. Kinan benci melihatnya menangis.
"Tahun depan..." Kinan berhenti untuk mengambil napas. Dada kurusnya naik turun dengan susah payah di balik baju pasien yang longgar. "...kamu mau ngapain?"
Pertanyaan tentang masa depan. Hal yang paling dihindari Bagas selama enam bulan terakhir. Membicarakan masa depan terasa seperti pengkhianatan, karena ia tahu masa depan itu tidak akan melibatkan Kinan di dalamnya.
"Aku nggak tahu," jawab Bagas jujur. "Mungkin kerja seperti biasa. Nabung. Benerin genteng rumah Ibu yang bocor."
Kinan menatapnya lekat. Sorot matanya sayu namun menuntut. "Bohong."
Bagas tertunduk. "Aku mau sama kamu, Kin. Resolusiku cuma itu. Bawa kamu pulang. Makan nasi goreng buatan kamu lagi. Nonton film jelek di sofa tua kita."
Tangan Kinan bergerak lemah, meremas tangan Bagas. "Itu resolusi tahun lalu, Gas. Kamu nggak bisa... ngulang harapan yang sudah kedaluwarsa."
Air mata Bagas akhirnya lolos satu tetes. Ia cepat-cepat menyekanya dengan punggung tangan, tapi Kinan melihatnya.
"Gas, dengerin aku," bisik Kinan. Napasnya mulai terdengar lebih berat, berbunyi rattle halus yang menakutkan. "Tahun baru itu... artinya lembaran baru. Kertas kosong."
"Aku nggak butuh kertas kosong kalau nggak ada kamu buat nulis bareng," potong Bagas, suaranya parau.
"Justru itu," Kinan memaksakan diri untuk berbicara lebih jelas. "Selama ini... tulisan kita selalu bareng. Halaman kita penuh coretan berdua. Tapi buku ini... bab aku sudah selesai, Gas."
"Jangan ngomong gitu."
"Harus," desak Kinan lembut. "Kamu harus berani buka halaman baru itu sendirian. Tulis cerita yang bagus. Jangan biarkan halamannya kosong cuma karena tintanya campur air mata."
Bagas menggeleng kuat-kuat, menenggelamkan wajahnya di sisi ranjang. Bahunya terguncang hebat. Keheningan ruangan itu pecah oleh isak tangis yang ia coba redam. Di luar sana, orang-orang bersiap menyambut kebahagiaan. Di sini, Bagas sedang dipaksa menerima kenyataan paling pahit: melepaskan separuh jiwanya.
"Berjanjilah satu hal," pinta Kinan.
Bagas mengangkat wajahnya, matanya merah dan basah. "Apa saja."
"Tahun ini... belajarlah untuk jatuh cinta lagi pada hidup. Tanpa aku."
Permintaan itu terdengar mustahil. Bagaimana mungkin ia mencintai hidup yang telah merenggut orang yang paling ia cintai? Namun melihat sorot mata Kinan yang penuh damai—sorot mata seseorang yang sudah ikhlas—Bagas tidak sanggup membantah.
Jarum jam dinding bergeser tanpa suara.
Pukul 23.59.
Cahaya di luar jendela semakin terang. Letupan-letupan kembang api mulai terlihat lebih sering, mewarnai langit malam dengan merah, hijau, dan emas. Cahayanya memantul di infus yang menetes pelan, menciptakan bayangan menari di dinding putih.
Bagas berdiri, mendekatkan wajahnya ke wajah Kinan. Ia bisa mencium aroma obat-obatan yang tajam, tapi di bawah itu semua, masih ada aroma vanilla samar dari sampo yang biasa Kinan pakai.
"Tahun sudah mau berganti, Sayang," bisik Bagas.
Kinan tidak menjawab dengan kata-kata. Matanya perlahan menutup, seolah beban di kelopak matanya sudah terlalu berat untuk ditahan. Napasnya menjadi lebih pelan. Lebih jarang.
"Selamat tahun baru, Kinan," ucap Bagas, mengecup kening istrinya lama. Menyalurkan semua rasa cinta, ketakutan, dan keputusasaannya dalam satu sentuhan itu.
Tidak ada hitungan mundur yang diteriakkan. Tidak ada "Tiga, Dua, Satu!".
Hanya ada hembusan napas panjang dari Kinan, sebuah hembusan yang terdengar sangat lega. Lalu hening.
Dada itu berhenti naik turun. Genggaman tangan itu mengendur sepenuhnya.Dan tepat saat itu, di kejauhan, langit Jakarta meledak dalam perayaan megah. Ribuan kembang api membakar angkasa, merayakan datangnya 1 Januari.
Dunia bersorak gembira. Di dalam Ruang 402, monitor EKG berbunyi panjang. Sebuah nada datar yang memekakkan telinga, membelah kesunyian, menandakan garis lurus yang tak akan pernah naik lagi.
Tiiiiiiiiiiiiit.
Bagas tidak memanggil dokter. Tidak segera menekan tombol darurat. Ia hanya berdiri di sana, di tengah cahaya kembang api yang menerangi wajah pucat Kinan yang kini tampak seperti sedang tidur nyenyak tanpa rasa sakit.
Tahun baru telah tiba tepat pada detiknya. Lembaran baru telah terhampar di hadapan Bagas. Putih, bersih, dan menakutkan.Bagas menatap kalender digital di dinding yang berkedip berganti angka.
01 JAN 00:00
"Selamat jalan, Kin," bisiknya pada kekosongan. "Aku akan mencoba menulis. Tapi izinkan aku menangis dulu di halaman pertama ini."
Di luar, dunia sedang memulai pesta.Di dalam, Bagas baru saja mengakhiri pestanya, menutup buku lama, dan berdiri gemetar di ambang pintu yang dingin, sendirian.
[GC RUMAH MENULIS]