Setelah memanjatkan doa untuk ayah tercinta. Aska dan ibunya Rahma menabur kelopak mawar merah diatas pusara sang ayah. Rahma berdiri sambil menggandeng tangan mungil sang anak. Mereka berjalan menjauhi area pemakaman menuju sebuah mobil hitam yang terparkir di pinggir jalan dekat pintu masuk pemakaman.
Mobil itu berjalan membawa mereka ke sebuah panti asuhan Budi Utomo. Tempat yang sering mereka berdua kunjungi. Tempat yang dibangun khusus oleh suami Rahma dulu ketika masih hidup. Beliau ingin memberikan tempat berteduh dan tempat dimana anak anak yatim piatu dapat merasakan curahan kasih sayang dari para pengasuh disana menggantikan cinta dan kasih dari kedua orang tua mereka yang harus mereka dapatkan.
Kedatangan mereka langsung di sambut hangat oleh anak anak panti asuhan. Anak anak itu sudah Aska anggap seperti keluarga sendiri. Rahma memberikan uang saku kepada mereka satu persatu untuk uang jajan mereka selama seminggu. Nanti seminggu lagi Rahma akan datang memberikan mereka uang saku lagi. Setelah sibuk dengan anak anak, Rahma gantian memberikan sebuah amplop berisi uang pada pengurus panti demi keperluan panti asuhan. Rahma mengobrol ngobrol sebentar dengan para pengurus lalu memanggil Aska yang sedang bermain dengan anak anak panti untuk mengajak anak itu pergi.
Semua teman temannya itu akan berjejer di depan panti lalu melambai lambai ke arah mobil Rahma. Aska membalas lambaian tangan mereka seraya melongok dari jendela mobil yang terbuka lebar. Aska kembali duduk dengan tegap di kursinya setelah bangunan tua namun masih terawat itu menghilang dari pandangan bocah lima tahun itu.
Bocah itu mendongak menghadap ke samping dimana ibunya tengah menyetir.
Rahma menjulurkan tangannya mengusap rambut hitam nan halus itu dengan lembut.
"Nanti seminggu lagi kita bakal ke panti lagi loh Sayang. Memang Aska belum puas mainnya tadi? Apa mau balik lagi kesana?" Bocah bermata belok itu menggeleng.
"Aska mau ikut Bunda kerja, Bunda kan udah janji sama Aska mau ajak Aska pergi ke kantor Ayah."
Rahma tersenyum mencium kening sang anak lalu kembali fokus menyetir. Perjalanan yang tidak memakan waktu lama itu membawa mereka ke tempat yang mereka tuju. Gedung yang tidak terlalu besar namun mampu memberikan lowongan pekerjaan yang nyaman dengan gaji yang sesuai untuk 30 karyawannya.
Sebelum turun Aska menyentuh lengan ibunya seraya menengadahkan telapak tangannya ke atas. Rahma heran apa maksud dari putranya itu. Ah mungkin anaknya haus karena memang cuaca sangat terik sekali. Wanita itu langsung memberi sebotol air mineral yang belum di buka ke atas tangan mungil anaknya. Aska bingung. Niatnya ingin meminta uang tapi ibunya malah memberinya air mineral. Setelah berpikir sebentar Aska segera turun dari mobil mendahului Rahma. Bocah itu berlari kecil dengan kaki pendeknya ke pinggir jalan depan kantor sang ayah.
"Hei Sayang mau kemana? Jangan jauh jauh dari Bunda Sayang!" Teriak Rahma yang sudah turun dari mobilnya untuk mengejar Aska. Namun beliau urungkan ketika Aska berhenti di dekat seorang bapak bapak berjenggot putih berbaju lusuh compang camping. Bapak itu duduk di trotoar pinggir jalan dan terlihat kelelahan serta kepanasan.
"Kek ini buat Kakek." ucap Aska seraya menyerahkan botol mineral yang ia bawa tadi. Kakek itu menerimanya dan segera membuka tutup botol itu lalu menenggak air didalamnya hingga habis.
"Kakek haus banget ya?"
"Hehe iya Nak. Terima kasih banyak ya Nak."
"Iya Kek." Kryucuk kryucuk kryucuk perut sang kakek berbunyi. Raut wajah kakek itu meringis menahan sakit di perutnya. Aska baru ingat disakunya masih ada uang pemberian Bundanya saat dipanti tadi. Ia ikut mengantri seperti temannya yang lain hanya untuk seru seruan tapi bundanya malah benar benar memberinya uang juga seperti yang lain. Aska merogoh saku celana mencari uang seratus ribunya.
"Ini Kek buat beli makanan." Aska menyaut tangan kakek itu lalu memaksa memberikan uang itu di genggaman tangan kakek yang sudah kriput dan menghitam karena kotor. Seraya kembali berlari menuju Rahma yang masih memperhatikan mereka tak jauh darinya. Kakek itu ingin menyusul Aska untuk mengembalikan uang yang bagi kakek itu sangat besar. Namun Rahma langsung mengatupkan kedua tangannya bermaksud memohon agar kakek itu menerimanya. Sejurus kemudian kakek itu langsung membungkuk bungkukkan tubuhnya berkali kali bermaksud mengucap terima kasih yang teramat besar. Sambil menangis haru kakek itu melakukan sujud syukur diatas trotoar.
Rahma dan Aska kembali melanjutkan niatnya masuk ke dalam kantor. Para karyawan yang tahu kehadiran mereka langsung memberi salam. Dengan senyum mengembang diwajah keriput nan legam itu Kakek yang entah siapa itu namanya memandang Rahma dan Aska sesaat. Kakek itu pun tiba tiba menghilang saar Rahma dan Aska sudah benar benar masuk ke dalam kantor.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Aska sudah tumbuh besar. Sekarang anak itu sudah bersekolah dasar. Di sekolahnya ia termasuk anak yang pintar. Dua tahun dia bersekolah SD Aska selalu masuk tiga besar. Namun ia belum pernah merasakan peringkat satu. Meski Aska sudah belajar dengan tekun tapi dia selalu kalah dengan temannya yang lebih pintar. Malam itu Aska nampak terduduk lesu dikursi meja belajarnya. Besok dia akan melakukan ujian semester untuk kenaikan kelas tiga. Tapi Aska tiba tiba ngedown karena ia merasa sudah berusaha keras tapi tidak pernah mendapat peringkat satu.
Rahma mendekati anaknya seraya duduk dipinggiran ranjang. Menatap sang anak yang nampak malas malasan membaca buku.
"Aska kenapa kok loyo gitu? Belajarnya yang benar dong Sayang. Nanti kalau gak niat gitu belajarnya peringkatnya turun loh."
"Ah biarin."
"Kok biarin. Katanya mau jadi dokter kok belajarnya malesan malesan. Gimana mau pinter kalau gitu."
"Percuma Bunda, Aska udah capek belajar tapi Aska gak pernah peringkat satu!" Aska merajuk sambil bersedekap.
"Mungkin Aska gak pernah doa sama Alloh biar bisa dapat peringkat satu."
"Sudah dong Bunda, Aska selalu berdoa kok setiap habis sholat minta sama Alloh biar Aska dapet peringkat satu, tapi kenapa ya Bun gak pernah terkabul?"
"Eiii jangan putus asa ya Sayang, kata pak ustad orang putus asa itu temannya setan loh. Aska mau jadi temannya setan?" Bocah itu menggeleng cepat seraya berkata.
"Gak mau Bun, temannya Aska udah banyak. Jangan ditambahin setan! Setan itu jahat terus jelek!" Tutur Aska menggebu gebu karena sering menonton video di internet tentang film film berbau setan setan di hape temannya yang bertampang seram dan suka menakut nakuti orang jadi ia menganggap setan seperti itu. Jahat dan jelek.
Rahma pun tertawa sambil menyemangati anaknya agar tidak putus asa. Setelah menstransfer semangat booster lewat ciuman di ubun ubun, Rahma segera ke luar kamar tidak ingin mengganggu anaknya belajar.
Malam sudah berganti pagi. Saatnya Rahma dan Aska pergi. Sebelum pergi bekerja beliau harus mengantarkan putranya bersekolah. Di jalan menuju ke sekolah Aska, mereka harus melewati lampu merah. Mobil mereka pun berhenti. Di sebrang kiri jalan ada terdapat masjid Agung yang besar nan megah. Saat itu banyak orang orang berkumpul di masjid itu tengah mendengarkan seorang ustad berceramah.
Aska segera membuka jendela mobil di sampingnya agar bisa melihat kerumunan itu lebih jelas. Ia melihat seorang kakek tua memakai baju serba putih, berjenggot putih, dan bersorban putih tengah duduk di atas mimbar sambil memegang pengeras suara. Suara dari pengeras suara itu melengking jelas ke penjuru tempat di sekitarnya sampai dimana mobil Rahma berada.
Kemudian lampu berubah hijau. Rahma kembali melajukan mobilnya, lama lama suara pak ustad yang berceramah dari pengeras suara itu menjadi samar samar dan menghilang. Namun ada satu kalimat yang masih nyantol dipikiran bocah itu. Menggema di telinganya dan selalu terngiang ngiang di pikirannya.
"Obatilah penyakitmu dengan sedekah, dan hilangkanlah kesulitan kesulitan dan musibah dengan sedekah."
Kalimat yang berulang ulang terucap dipikirannya. Memahami makna dari kalimat itu. Lalu Aska mencoba bertanya pada Bundanya sebelum ia turun dari mobil karena memang Aska sudah sampai di sekolahannya.
"Bunda, apa sih maksud kata kata obatilah penyakitmu dengan sedekah, dan hilangkanlah kesulitan kesulitan dan musibah dengan sedekah?" Rahma pun mengerti kenapa anaknya bertanya seperti itu. Karena memang tadi beliau juga sempat mendengar pak ustad ceramah dari masjid Agung tadi. Rahma pun segera menjawab sesuai dengan kemampuan putranya menanggapi.
"Bukankah sekarang Aska lagi kesulitan belajar biar dapat peringkat satu?"
"Iya Bunda terus apa hubungannya?"
"Coba kamu minta kemudahan sama Alloh supaya bisa dapetin apa yang kamu mau, lewat sedekah. Tapi harus tulus dan ikhlas ya Sayang, gak boleh sombong dan pamer!"
"Apa langsung terkabul Bunda?"
"Kamu harus coba terus, dibarengi dengan usaha belajar yang giat. Jika sudah mendapat apa yang kamu mau, jangan Berhenti sedekah, karena Alloh lebih suka orang yang beramal baik terus menerus meski sedikit daripada banyak tapi hanya sekali dua kali."
Bel masuk berbunyi, padahal Aska masih ingin tanya banyak pada Bundanya mengenai sedekah. Namun ia terpaksa turun karena waktunya masuk untuk mengikuti ulangan sudah tiba. Setelah menyalami bundanya seraya berucap salam, Aska berlari memasuki kelasnya.
Apa yang diucapkan Bundanya waktu di jalan itu Aska mulai praktekan. Ia hampir tidak pernah jajan di sekolah karena uang sakunya selalu ia sedekahkan untuk orang lain. Tentu saja hal itu tanpa sepengetahuan orang lain termasuk Rahma. Jika diberi uang saku lebih dia juga akan menyisihkan lalu disimpan untuk nanti dibagikan pada temannya di panti.
Hasil pengumuman telah dibagikan. Aska nampak bersorak gembira di kelasnya. Ia naik kelas dengan nilai yang hampir mendekati sempurna. Tentu saja peringkat satu sudah ia raih. Setelah berucap syukur berulang kali ia segera pulang bersama pak sopir. Karena Rahma akhir akhir ini terlihat tidak enak badan jadi tidak bisa antar jemput Aska lagi. Mungkin karena kesibukannya bekerja sambil mengurus Aska membuat Bundanya jadi kelelahan.
"Bunda, aku dapet peringkat satu." teriaknya sambil berlari memeluk sang Bunda yang tengah berbaring disofa sambil membaca buku. Rahma pun langsung menangkap tubuh anaknya mendekap kepelukannya.
"Alhamdulillah ya Sayang keinginanmu sudah terkabul. Apa kamu senang sekarang?
"Aska senang dong Bun. Boleh gak Bun kalau Aska teraktir makan Ayam geprek yang enak buat semua teman teman Aska di panti?"
"Tentu boleh Sayang, biar nanti pak sopir yang anterin kamu beli ayam gepreknya ya nanti Nak?" Aska mengerti saat ini bundanya tidak bisa menemaninya lagi. Bundanya masih pucat, ia tidak mau merepotkan bundanya yang lagi sakit. Biar sampai bundanya sehat lagi baru dia akan meminta bundanya yang mengantarkan keman mana seperti dulu.
Hari terus berganti, usia Aska pun semakin bertambah bahkan sekarang ia sudah naik ke kelas enam. Namun bundanya tidak ada kemajuan. Malah beliau semakin sering keluar masuk rumah sakit. Karena saat ini Aska sudah cukup besar untuk mengerti Bundanya sedang sakit apa. Yaitu penyakit yang sulit diobati kangker darah stadium tiga.
Bocah ceria dan aktif itu lama kelamaan berubah menjadi sedikit pendiam. Ia selalu memikirkan keadaan bundanya. Pagi tu Aska terkejut karena Bundanya terlihat sangat pucat dan tidak mau bangun. Dia memanggil pembantu dan pak sopir agar segera membawa ibunya ke rumah sakit. Bahkan sudah dibujuk oleh para pembantu untuk berangkat sekolah Aska, tetap bersikukuh ingin ikut Bundanya ke rumah sakit.
Aska menggenggam tangan Rahma erat. Air matanya masih merembes mili melewati pipinya. Namun mulutnya bungkam tak berucap sepatah kata pun sejak Bundanya di masukan ke dalam ruangan penuh alat alat medis itu.
Waktu untuk menjenguk pasien sudah habis, seorang dokter mengajak Aska untuk keluar dari ruangan itu. Pak sopir sudah menjemputnya untuk kembali pulang ke rumah. Di tengah jalan Ia melihat seorang Kakek kakek tengah di jambret di pinggir jalan. Kasihan sekali. Kakek itu sampai jatuh tersungkur ke aspal karena ingin mengejar tukang jambret yang mengambil dompetnya. Herannya tidak ada satu pun orang yang mau membantu kakek itu. Aska berinisiatif membantu lalu menyuruh pak sopir untuk berhenti.
Aska membantu kakek itu berdiri. Pak sopir ingin mengejar penjambret itu namun sudah berhasil kabur. Aska melihat kakek itu membawa ransel pakaian bersamanya.
"Kakek mau kemana?"
"Kakek ingin pulang kampung Nak. Tapi penjambret itu mencuri semua uang Kakek. Jadi Kakek tidak punya ongkos lagi." Balas si kakek sedih , kantung matanya semakin mengkirut ketika kakek itu menundukan wajahnya kebawah. Aska lalu meminta bantuan pada pak sopirnya untuk meminjaminya uang. Aska ingin sekali membantu kakek itu.
"Paman, pinjami aku uang. Biar Bunda yang ganti uangnya Paman nanti." Pak sopir juga tidak tega melihat kakek itu jadi ia pun meminjami Aska uang 300 ribu dari dompetnya. Aska langsung saja memberikan uang itu pada Kakek malang itu. Awalnya beliau menolak tapi Aska sangat memaksa terpaksa kakek itu menerimanya. Sebelum Aska bersama pak sopir kembali pulang. Kakek itu meraih lengan aska seraya berucap.
Terima kasih Nak. Semoga kebaikanmu di balas oleh Alloh SWT. Semoga penyakit penyakit yang ibumu derita segera diangkat oleh Alloh juga."
"Aamiin, terima kasih atas doanya ya Kek." Setelah dibukakan pintu oleh pak sopir Aska naik ke dalam mobil. Kembali mengangingat wajah sang kakek yang menurutnya tidak asing. Tapi entah kapan dia melihat wajah itu. Ah dia tidak tahu. Tapi yang lebih aneh dari itu adalah kenapa kakek yang entah siapa namanya dan orang mana itu tahu keadaan Bundanya. Segera saja Aska meminta pak sopir untuk kembali ke tempat kakek itu terjatuh. Dah ternyata beliau sudah tidak ada. Secepat itu Kakek itu pergi. Padahal dia belum lama pergi dari sana. Aska mematung disana, dia kembali sedih memikirkan Bundanya, Rahma.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Nampak beberapa orang berseragam putih berlari ke arah ruang rawat Rahma. Alat alat yang tersambung ke tubuh wanita itu menunjukan tanda keadaan yang buruk. Setelah ketidaksadaran Rahma membuat Aska memiliki orang tua angkat baru yaitu seorang asisten rumah tangga di rumahnya dan pak sopir. Karena merekalah yang menggantikan peran Rahma pada Aska selama rahma belum sadar.
Aska menangis meraung raung ke pelukan ibu Sumi asisten rumah tangganya. Ia tahu bahwa keadaan bundanya semakin buruk. Dokter dan para perawat menangani Rahma belum keluar keluar juga. Namun adzan dhuhur sudah berkumandang, pak sopir mengajak Aska untuk sholat berjamaah di masjid. Aska pun menurut. Ia ingin sekalian berdoa untuk kesembuhan bundanya.
Di masjid Agung itu, Aska sudah ikut merapatkan barisan sholat disamping pak sopirnya. Karena tubuh Aska yang sudah jauh lebih tinggi, ia jadi bisa melihat dari cela cela orang yang berdiri didepannya. Orang yang menjadi imam saat ini sangat mirip dengan kakek yang kena jambret tempo hari.
Kenapa wajah kakek itu sangat pasaran, sampai rasanya aska sering bertemu kakek itu. Setelah sholat usai, Aska ingin kembali ke rumah sakit melihat bagaimana keadaan ibunya. Namun ketika akan ke luar masjid ia melihat sebuah kotak amal besandar ditembok dekat pintu keluar masjid.
"Paman duluan saja, Aska ada perlu sebentar tidak lama."
Pak sopir pun menuruti kemauan majikan kecilnya itu lalu berjalan mendahuluinya untuk menuju ke mobil. Aska sudah berdiri di dekat kotak amal, mengambil uang yang ada disakunya. Memilih lembaran uang yang paling besar nominalnya. Ia memasukan uang itu lalu menengadahkan tangannya ke atas seraya berdoa.
"Ya Alloh aku bersedekah demi kesembuhan Bundaku. Angkat semua penyakitnya ya Alloh. Sudahilah rasa sakit yang Bundaku rasakan saat ini. Aamiin ya rabalalamin." Aska mengusap kedua tangan ke wajahnya untuk mengakhiri doa yang ia panjatkan. Seseorang yang tadi mengimami sholat dhuhur pun tersenyum memandang Aska yang sudah berjalan ke luar masjid.
Dalam hatinya ia berkata "Aamiin Aamiin semoga Alloh SWT mengabulkan doamu." kemudian pria bersorban putih itu menghilang begitu saja seperti angin lalu.
💨💨💨💨💨
Rahma mencium aroma wangi yang lembut dihidungnya hingga memaksa matanya untuk terbuka. Saat ini ia berada dihamparan kebun bunga berwarna warni hingga harumnya semerbak kemana mana. Cuacanya cerah namun sangat terik. Ia mencoba bangkit dengan sisa sisa kekuatan yang ia miliki. Tubuh lemah dan rapuh itu mencoba melangkah sendirian di tempat asing itu hingga tenggorokannya terasa kering dan haus. Ia butuh air untuk diminum namun ia tidak melihat ada sumber air disana. Hingga seseorang dari kejauhan datang mendekati Rahma. Pria berpakaian serba putih dengan wajah yang memancarkan keteduhan dan ketenangan membawa segelas air bening yang semerbak harum. Rahma meminun air itu sedikit tapi sudah mampu menghapus dahaganya yang teramat sangat. Rahma mengembalikan gelas berhias batu batu cantik berkilauan itu kembali pada pemiliknya.
"Apa kamu ingin ikut denganku?" tanya pria itu.
"Kemana?" Rahma penasaran akan diajak kemana dirinya.
"Ke tempat yang tidak akan pernah kamu sesali. Tidak ada lagi rasa sakit, kesedihan, dan kesusahan yang dapat kamu rasakan, yang ada hanya kemudahan dan kebahagiaan. Dimana semua makhluk menginginkan menjadi salah satu penghuninya."
"Iya aku mau. Aku juga sudah lelah disini."
Pria itu menjulurkan satu tangannya pada Rahma. Rahma pun menyambut tangan itu. Menuntunnya sampai ke sebuah jembatan yang sangat lebar dan panjang hingga tak terlihat ujungnya. Ketika kakinya akan melangkah ke atas jembatan itu suara seorang anak laki laki memanggil namanya menggema ke penjuru tempat asing itu.
"Bunda, jangan pergi!"
"Aska putraku?" Rahma langsung berbalik menjauhi pria tadi sambil mencari cari keberadaan anaknya di hamparan kebun Bunga itu.
"Bunda jangan tinggalkan aska!"
"Bunda tidak kemana mana Nak, kamu dimana Sayang?"
"Kembalilah Bunda, Aska menunggumu!"
"Aska kamu dimana Nak? Aska?????" Rahma berteriak kencang memanggil nama anaknya.
Nit nit nit nit nit nit anggap saja itu bunyi suara monitor yang menunjukkan detak jantung Rahma yang kembali berdetak normal. Sontak Aska, Bi Sumi, dan Pak sopir menjadi lega. Dari balik kaca jendela ruangan Rahma dirawat mereka bertiga mengucapkan puji syukur teramat dalam kenapa Sang Pencipta.
Hari demi hari kesehatan Rahma semakin membaik. Beliau sudah bisa berjalan sebentar sebentar dibantu oleh suster dan terkadang ditemani anaknya. Mungkin ini yang dinamakan keajaiban dari sedekah. Daya tahan tubuh Rahma semakin membaik hingga sistem metabolisme dalam tubuhnya kembali normal. Menekan penyakit yang selama ini beliau derita. Gelap sudah menjadi terang. Rahma dan Aska bisa menjalani hari harinya berdua lagi dengan penuh kebahagiaan tanpa meninggalkan kewajiban mereka sebagai manusia kepada Sang Pemilik Segala galanya.
TAMAT
Hidup itu adalah sebuah anugerah. Walaupun jika itu hanya tinggal sedetik lagi harus tetap kita syukuri. Melakukan yang terbaik kepada sesama manusia seperti sedekah. Tentu dengan selalu menjalankan kewajiban sebagai manusia pada Penciptanya. Semoga amal amal yang baik membawa kita kepada kebahagiaan yang sebenar benarnya. Cepat sembuh Kak Siti, jangan putus asa, tetaplah berharap kesembuhan meski kemungkinannya hanya sedikit. InsyaAlloh amal baik seperti bersedekah bisa jadi jalannya menuju kesembuhan. Tetap semangat ya Kak. Buat dek Haikal jangan lupa jadi anak yang sholeh ya. Salam hangat dari Author 💜