Hujan turun perlahan malam itu. Butirannya mengetuk jendela kamar mungil seorang anak berusia tujuh tahun bernama Aruna. Lampu tidur berbentuk bintang menggantung di sudut meja kecil, memancarkan cahaya lembut kekuningan.
Aruna terbaring di ranjang kayu, memeluk erat boneka kelinci lusuh pemberian ibunya. Mata kecilnya sembab, pipinya masih basah oleh air mata. Ia menatap langit-langit, seolah mencari sesuatu yang hilang.
“Ibu… jangan tinggalkan aku,” gumamnya lirih, suara seraknya pecah.
Sejak siang tadi, rumahnya dipenuhi pelayat. Orang-orang berbaju hitam berbaris memberi ucapan belasungkawa. Semua mengatakan hal yang sama, bahwa ibunya—Saras, wanita lembut dengan senyum hangat—sudah pergi “ke tempat yang lebih baik.”
Tapi bagi Aruna, dunia jadi terasa asing. Ia hanya tahu satu hal, 'Ibunya tidak lagi ada di sampingnya'.
Ayahnya, yang sejak tadi duduk lunglai di ruang tamu, terlalu larut dalam kesedihan. Ia tidak masuk ke kamar putrinya malam itu. Jadi Aruna sendirian, terjebak dalam sunyi dan rasa kehilangan yang begitu besar. Ia menangis, hingga akhirnya lelah dan matanya terpejam.
Di balik hujan, ada semilir angin masuk dari jendela yang sedikit terbuka. Angin itu seolah membawa nyanyian samar—suara yang begitu dikenalinya.
“Semilir angin bernyanyi…
Tetesan hujan bermelodi…
Daun menari ke kanan ke kiri…
Menikmati lagu ini…” Aruna mengernyit dalam tidurnya. Suara itu begitu jelas. Itu suara ibunya.
Dalam mimpi, ia melihat dirinya masih kecil, duduk di pangkuan Saras. Sang ibu mengusap rambut hitamnya lembut, lalu menunduk mengecup keningnya. “Lelaplah tidur wahai sayangku…” bisik Saras, matanya penuh kasih. “Doa ibu selalu menjagamu.”
Aruna meraih tangan ibunya dalam mimpi itu, takut kehilangan lagi. “Ibu jangan pergi! Aku janji akan jadi anak baik. Jangan tinggalkan aku…”
Saras tersenyum, matanya basah. Ia menepuk pelan pipi putrinya. “Anakku… bahkan ketika kau tak bisa melihat ibu, ibu selalu ada di hatimu.”
Di dunia nyata, tubuh Aruna menggeliat gelisah di ranjang. Bibirnya berbisik pelan, seolah mengikuti suara ibunya.
“Bintang-bintang kecil jatuh… membuat berharap… Bulan bersinar seakan melihatnya… membuatnya tak takut malam…”
Tangannya masih memeluk boneka kelinci, namun senyum tipis muncul di wajahnya untuk pertama kali sejak siang tadi.
Arwah Saras berdiri di sisi ranjang, wujudnya samar, berpendar seperti cahaya lembut. Ia menunduk, mengecup dahi Aruna yang lembap oleh keringat. “Jangan menangis lagi, sayangku. Jika kau menangis, ibu pun sedih,” bisiknya. “Tersenyumlah… karena senyum itu adalah kekuatanmu.”
Keesokan harinya, Aruna terbangun dengan mata bengkak tapi hati sedikit lebih tenang. Ia masih merasa hangat di dahinya, seolah benar-benar ada kecupan yang tertinggal di sana.
Di meja belajar, ia menemukan sebuah buku catatan yang biasa dipakai ibunya untuk menulis resep makanan. Anehnya, di halaman terakhir ada tulisan yang belum pernah dilihatnya:
"Jangan takut malam, Aruna. Jika kau merindukan ibu, nyanyikanlah lagu kita. Ibu akan selalu mendengarnya."
Aruna memeluk buku itu, air matanya menetes lagi, tapi kali ini bukan karena hancur, melainkan karena merasa ibunya masih ada.
Sejak saat itu, setiap malam sebelum tidur, Aruna menyanyikan bait-bait lagu yang pernah dibisikkan ibunya. Kadang ia merasa angin di jendela ikut menari, kadang cahaya bulan terasa menatapnya penuh kasih.
Hari-hari berjalan. Ayah Aruna perlahan bangkit dari kesedihannya, mencoba kembali bekerja. Namun, di balik semua itu, ada kekosongan yang sulit terganti.
Hanya Aruna yang tahu bahwa Saras tidak benar-benar pergi.
Setiap kali ia merasa rapuh, setiap kali ia menangis, suara ibunya selalu datang di sela hujan atau dalam mimpinya.
“Ku doakan engkau selalu bahagia… Hidup bahagia tanpa diriku…”
Aruna menolak kalimat itu. “Tidak, Bu. Aku ingin bahagia bersama kenanganmu. Aku akan menjaga setiap doa yang kau tinggalkan untukku.”
Tahun-tahun berlalu. Aruna tumbuh menjadi remaja yang kuat dan lembut hati. Ia pintar menyanyi, mungkin karena sejak kecil terbiasa mendengar lantunan doa ibunya.
Setiap kali ia naik ke panggung sekolah untuk menyanyi, ia membawakan lagu pengantar tidur itu. Teman-temannya bilang lagu itu indah sekaligus menyedihkan, tapi bagi Aruna, itu adalah cara untuk menjaga ibunya tetap hidup dalam dirinya.
Kadang, setelah menyanyi, ia melihat siluet samar seorang wanita di antara penonton, tersenyum bangga. Hanya sesaat, lalu menghilang. Aruna tahu itu ibunya.
Suatu malam, ketika Aruna berusia tujuh belas tahun, ia kembali bermimpi. Ia berdiri di taman yang dipenuhi cahaya bulan. Saras datang, mengenakan gaun putih sederhana, wajahnya seperti dulu—hangat dan lembut.
“Aruna,” katanya lembut, “kau sudah tumbuh besar. Ibu bangga padamu.”
Aruna memeluknya erat, tak ingin melepaskan. “Jangan pergi lagi, Bu. Aku masih butuh Ibu.”
Saras tersenyum dengan mata berkaca-kaca. “Ibu selalu di sisimu. Tapi sekarang, kau sudah kuat. Kau sudah bisa berjalan dengan kakimu sendiri.”
Air mata Aruna jatuh. “Tapi aku tak ingin melupakanmu.”
Saras mengusap pipi putrinya. “Kau tak akan pernah melupakan. Karena kasih ibu, meski tak terlihat, akan selalu berdiam di hatimu.”
Dan sebelum wujudnya perlahan memudar, Saras kembali menyanyikan bait terakhir,
“Janganlah menangis, ku akan sedih…
Janganlah menangis, nanti ku tak rela pergi…
Tersenyumlah sayangku…
Ingatlah aku selalu di hatimu…”
Aruna terbangun dengan pipi basah, tapi hatinya damai. Ia tahu, malam itu adalah pertemuan terakhir dalam mimpi.
Ibunya sudah benar-benar beristirahat, tenang, karena tahu putrinya bisa melanjutkan hidup.
Bertahun-tahun kemudian, Aruna menjadi penyanyi. Setiap konser, ia selalu menyelipkan lagu pengantar tidur yang diwariskan ibunya. Lagu itu tidak pernah masuk tangga lagu populer, tapi selalu membuat orang-orang yang mendengarnya menangis dan tersenyum sekaligus.
Karena di balik lirik sederhana itu, ada cinta seorang ibu yang abadi. Dan setiap kali Aruna menyanyi, semilir angin selalu berbisik di telinganya, seolah suara ibunya ikut bernyanyi bersamanya.