Pada abad ke-20, di salah satu bagian bumi, berdiri dua kerajaan besar: Kerajaan Delialion dan Kerajaan Genalio. Sejak dahulu, kedua kerajaan ini hidup berdampingan dalam damai, dipimpin oleh raja-raja yang menjalin persahabatan turun-temurun.
Di Kerajaan Delialion yang dikenal indah dan tenteram, hiduplah seorang gadis bernama Kiana Lion, putri sulung keluarga bangsawan bagian pertahanan. Di usianya yang ke-18 tahun, Kiana tumbuh menjadi sosok yang bukan hanya cantik, tapi juga ramah dan dicintai rakyat. Darah bangsawan mengalir dalam dirinya, namun kesombongan tak pernah menyentuhnya. Ia justru membagikan kebahagiaan kepada rakyat yang berada di bawah lindungan ayahnya, Jenderal Lion, sang kepala pertahanan timur.
Sejak kecil, Kiana bersahabat dengan seorang pemuda dari Kerajaan Genalio bernama Riano, yang kini berusia 19 tahun. Meski berasal dari kalangan rakyat biasa, hubungan mereka tak terhalang oleh status. Mereka tumbuh bersama, mengenal dunia dari sisi yang sederhana dan tulus.
Keluarga Lion, dikenal sebagai “Singa dari Timur,” adalah penjaga garis depan kerajaan. Mereka dikenal sebagai pelindung tanah air, pemberani, dan tak pernah membangkang perintah Raja. Maka ketika raja baru naik takhta—menggantikan raja lama yang sakit-sakitan—keadaan pun berubah drastis.
Hanya lima hari setelah penobatannya, raja baru memanggil seluruh bangsawan pertahanan ke istana, termasuk Jenderal Lion dan Kiana. Rapat yang awalnya tampak seperti pertemuan biasa berubah menjadi mimpi buruk ketika sang raja menyatakan bahwa Kerajaan Delialion akan memulai perang melawan Kerajaan Genalio.
Ruangan sontak hening. Para bangsawan terdiam, syok. Bagaimana mungkin dua kerajaan yang selalu hidup berdampingan kini saling menghunus pedang?
Kiana tertegun. Perasaannya kacau. Ia membenci perang. Lebih dari itu, ia takut—takut kehilangan Riano, sahabatnya. Ayahnya, yang begitu setia pada kerajaan, hanya bisa mengangguk pasrah, menuruti titah sang raja baru.
Setibanya di rumah, Kiana memohon agar ayahnya membujuk raja untuk membatalkan perang. Tapi sang ayah menolak. “Perintah raja adalah mutlak,” ucapnya tegas.
Kiana tahu, keluarga Lion memang mendidik anak-anaknya sebagai pemimpin perang sejak usia delapan tahun. Ia pun dilatih, meski sebagai anak perempuan yang paling disayang, tak ada pengecualian dalam disiplin keluarga.
Malam itu, Kiana menerima surat dari Riano, dibawa oleh merpati pos. Surat itu mengajaknya bertemu di Danau Kunang-kunang, tempat rahasia mereka sejak kecil.
Diam-diam, ia mengenakan jubah hitam dan menunggang kudanya menuju danau tersembunyi itu. Sesampainya di sana, Riano sudah menunggunya.
“Hai, ada apa? Kenapa mendadak?” tanya Kiana sambil tersenyum.
“Kau pasti sudah dengar kabar itu, bukan?” sahut Riano datar.
Kiana menatap bingung. “Kabar apa?”
“Perang. Antara Delialion dan Genalio.”
Hati Kiana mencelos. “Bagaimana kau tahu?! Itu baru saja diumumkan… bahkan belum sampai ke rakyat.”
Riano terdiam sejenak, lalu menjawab, “Aku dengar dari temanku di kalangan bangsawan pertahanan.”
Kiana menerima jawabannya, meski ada keraguan kecil di hatinya. Ia duduk bersandar di pohon, wajahnya murung.
“Ya… aku tahu. Dan ayahku menyuruhku ikut perang. Aku tidak mau. Itu tempat kelahiranmu, Riano. Aku tak ingin menghancurkannya.”
Riano mendekat, berjongkok di hadapannya, dan mengelus rambut Kiana yang sebahu. “Aku juga tak menginginkan perang ini. Aku berharap kedua raja kita bisa berubah pikiran.”
Kata-kata itu menenangkan Kiana. Ia tiba-tiba memeluk Riano. Riano terkejut, tapi perlahan membalas pelukan itu dengan canggung.
“Maaf… aku tiba-tiba memelukmu…” ucap Kiana dengan pipi memerah.
Riano memalingkan wajah. “Tidak apa….”
Wajah Riano mulai memanas. Kiana panik. “Kau demam?!” katanya sambil menyentuh dahi Riano dan membandingkannya dengan dahinya sendiri.
“Bukan… ini hanya suhu dingin. Kau tahu kan, tubuhku memang seperti ini saat kedinginan,” jawab Riano cepat.
Kiana mengangguk. “Ah iya, sekarang sudah tengah malam. Aku harus pulang sebelum ketahuan.”
Riano mengantar Kiana ke kudanya. “Hati-hati. Sampai jumpa.”
“Bye, Riano!” teriak Kiana riang sambil melambaikan tangan, lalu menunggangi kudanya pergi.
Begitu Kiana menghilang, wajah Riano berubah serius. Ia berbalik, menatap gelap hutan.
“Aku tahu kau di sana. Keluar, sebelum aku habisi.”
Dari bayangan pepohonan, muncullah seorang pria berbaju gelap yang langsung membungkuk. “Salam, Yang Mulia Raja Muda Genalio.”
Ya, inilah identitas asli Riano: Riano Genalio, pangeran pewaris tahta Genalio, yang menyamar sebagai rakyat biasa.
“Berani sekali kau membuntutiku,” kata Riano dingin.
“Saya hanya menjalankan tugas sebagai pengawal bayangan, Yang Mulia. Apalagi dengan kabar perang ini—saya khawatir.”
Riano menghela napas. “Baiklah. Tapi pastikan, tidak ada orang lain yang mengikutiku.”
“Tidak, hanya saya, Yang Mulia.”
“Bagus,” ucap Riano lalu berjalan pergi, diikuti pengawalnya yang kembali menghilang dalam gelap.
Keesokan harinya, Kiana kembali memohon kepada ayahnya.
“Ayah, mohon… bicaralah pada Raja. Cobalah…”
Ayahnya menghela napas berat. “Kiana, kamu tahu keluarga kita tidak bisa menentang kerajaan.”
“Tapi setidaknya cobalah bicara! Siapa tahu Raja berubah pikiran…”
Sang ayah akhirnya menyerah, terutama setelah melihat air mata anak perempuannya mulai menetes. Ia tak ingin dimarahi istrinya karena membuat Kiana menangis.
“Baiklah… Ayah akan mencoba,” katanya akhirnya.
Kiana memeluk ayahnya bahagia. “Terima kasih, Ayah!”
Sementara itu, di Istana Delialion, dua pemuda bertemu dalam ruangan tertutup.
“Hentikan niat gilamu ini, Denial! Batalkan perang!” bentak pemuda yang lebih muda.
Di hadapannya, duduk santai Denial Delialion, raja muda Delialion yang baru saja naik tahta.
“Jika kau menyerah mengejarnya, mungkin aku akan mempertimbangkannya,” jawab Denial enteng.
“Gila! Kau sudah gila, Denial!”
“Ya! Aku gila! Karena dia hanya menganggapmu saudara, RANIO GENALIO!”
Ya, dua pemuda ini—Denial dan Riano—bukan hanya raja muda dari dua kerajaan, tapi juga rival dalam cinta. Mereka mencintai orang yang sama: Kiana Lion.
Ranio menahan emosi. “Kalau kau benar mencintainya, kau tidak akan membuatnya menangis!”
Denial terdiam. Ada keraguan singkat di wajahnya.
Akhirnya ia berkata, “Baiklah. Aku juga tidak ingin dia terluka.”
Ranio nyaris lega, sampai Denial melanjutkan, “Tinggal kita buat peraturan: tak ada yang boleh melewati perbatasan tanpa izin.”
Ranio mengepalkan tinju. “Sumpah, aku gantung kau terbalik di jurang kalau kau masih terus seperti ini!”
Perdebatan mereka terus berlanjut. Tapi kabar baiknya, kedua kerajaan mengumumkan bahwa perang dibatalkan. Dunia terselamatkan… untuk sementara.
Namun cinta, persaingan, dan rahasia masih menyelimuti hubungan antara dua kerajaan itu. Dan Kiana Lion… masih berada di tengah pusaran takdir yang belum selesai.