Hari ini, Kota Berta dalam suasana yang cerah. Festival Makanan yang diadakan setiap setahun sekali akan dirayakan dalam waktu seminggu. Semua orang menanti-nanti festival makanan tahun ini dengan antusias. Di sebuah taman bunga di dekat tempat festival, seorang gadis remaja tampak sedang berjalan-jalan, menikmati embusan angin pagi yang menerpa wajahnya. Ia adalah Ashley Virgo, salah satu dari banyaknya orang yang menantikan festival makanan tahun ini. Saat ini, Ashley sedang berjalan-jalan sambil mengamati orang-orang yang sedang mempersiapkan tempat festival.
"Semua orang sangat menanti-nantikan festival makanan tahun ini, semoga saja festivalnya berjalan dengan lancar!” Ashley bergumam, sesekali matanya melirik langit yang ditutupi beberapa awan gelap. Diperkirakan akan terjadi hujan deras selama beberapa minggu, itulah sebabnya Ashley menjadi sedikit khawatir. Kemudian, matanya tak sengaja terkena pantulan sebuah benda, Ashley segera menutup sebelah matanya. “Apa itu tadi?”
Lantas, pandangan Ashley mengarah pada sebuah benda berbentuk liontin yang tergeletak beberapa meter darinya. Sinar matahari pagi yang terkena pantulan cahaya dari liontin itu membuat Ashley terpaksa mendekat. Ia pun mengambil liontin itu. Bandul liontin itu berbentuk bulat, warnanya sebiru laut dan berkilau seperti permata, sedangkan rantainya berwarna putih keperakan.
Semburat merah muda menghiasi pipi Ashley. Ia terpana kala melihat liontin itu yang teramat indah. Sesaat, Ashley berpikir, siapakah yang membuang liontin ini?
Memandang sekitarnya, Ashley menyadari bahwa hanya dirinya seorang di taman ini, sebab sebagian masyarakat sedang mempersiapkan tempat festival makanan. Setelah itu, Ashley menyimpan liontin itu di dalam tas kecil yang dibawanya, kemudian melangkah menuju rumahnya.
“Sebaiknya, aku simpan saja liontin ini. Kalau pemilik liontin ini mencari liontinnya, aku akan mengembalikannya, biasanya akan ada pengumumannya,” gumam Ashley.
***
Ashley telah sampai di rumahnya. Hal pertama yang menyambutnya ialah kesunyian yang mendalam. Tak ada siapa pun di rumahnya. Ashley beranggapan bahwa papanya telah berangkat bekerja, sedangkan mamanya kemungkinan sedang membeli kebutuhan dapur. Kemudian, Ashley melangkah menuju kamarnya.
Setibanya di dalam kamar, Ashley duduk di meja belajarnya seraya memerhatikan liontin berwarna biru yang telah berada di tangannya. Mata hitamnya meneliti liontin itu dengan intens, bahkan tak berkedip sedikit pun.
“Apakah tadi adalah imajinasiku?” Ashley bertanya pada dirinya sendiri. Tatapannya masih mengamati liontin itu. Seberkas cahaya berputar-putar di dalam liontin itu, kemudian menghilang, setelah itu kembali muncul. Seketika Ashley terbelalak. “Aku tidak berimajinasi!” serunya dengan nada terkejut.
Ashley bangkit dari kursinya, kemudian mengamati liontin itu dengan saksama. Seberkas cahaya yang ada di dalam liontin itu kian membesar. Terkejut, Ashley tak sengaja menjatuhkan liontin itu ke lantai. Ketika liontin itu terjatuh, cahaya berwarna putih yang teramat terang keluar dari sana, menutupi penglihatan Ashley.
Ashley panik, namun ia tak bisa bergerak, kemudian dirasakannya tubuhnya seperti sedang disedot oleh suatu benda. Satu hal yang tidak diketahui Ashley, ia ditarik masuk ke dalam liontin itu.
***
Kelopak mata Ashley bergerak akibat cahaya matahari yang menyengat wajahnya. Perlahan, Ashley terbangun dengan tangan yang menutupi bagian matanya, setelah itu ia duduk. Lama terdiam, Ashley memerhatikan sekitarnya. Dunia yang aneh menyambut kedatangannya. Tanaman-tanaman di sekitarnya berbentuk aneh dan hampir semuanya berukuran raksasa.
“Apa, apa yang terjadi padaku?” tanya Ashley sembari berusaha mengingat kejadian yang baru saja menimpanya. Setelah mengingat-ingat kembali, Ashley menyadari bahwa kedatangannya di dunia aneh ini berkaitan dengan liontin berwarna biru yang ditemukannya di taman bunga tadi. Kemudian, Ashley mencari liontin berwarna biru tadi, hingga matanya tak sengaja bertatapan dengan sebuah benda yang terkalung manis di lehernya. Liontin berwarna biru. Mendapati liontin yang ditemukannya di taman bunga tersemat di lehernya, Ashley tak mampu berkata-kata, ia sedang bingung. “Bagaimana liontin itu bisa ada di leherku?”
Beberapa saat kemudian, Ashley bangkit dari tempatnya dan mulai menjelajahi lingkungan sekitarnya. Ashley memandang sekitarnya dengan pandangan takjub. Seumur hidup, ia tak pernah melihat tanaman dengan batang berwarna-warni. Rerumputan di sekitarnya juga tampak unik, ada yang berbentuk bulat dan ada yang seperti rumput biasa, namun memiliki warna beragam. Jalan setapak yang dilewati Ashley terlihat rapi dengan batu-batu berwarna putih. Langit di atasnya juga cerah. Hewan-hewan kecil yang tampak menggemaskan dengan bentuk dan warna yang beragam menyambutnya. Ashley tertawa, ia menyukai tempat ini.
***
Perjalanan Ashley memakan waktu yang cukup lama, hingga matanya menangkap bangunan-bangunan unik dengan warna-warna cerah. Ashley melebarkan senyumnya. Dilihatnya beberapa orang berlalu-lalang di depannya. Namun, yang membuat Ashley merasa aneh, pakaian-pakaian yang dikenakan orang-orang di depannya terlihat berbeda dengan yang dikenakan orang-orang di dunianya. Apakah ia masih berada di bumi?
Tenggelam dalam pikirannya, Ashley tak menyadari bahwa semua pasang mata memerhatikannya. Orang-orang itu melihat pakaian Ashley yang tampak berbeda dan asing, mereka kemudian berbisik-bisik, sebelum akhirnya salah satu dari mereka menghampiri Ashley.
“Permisi.” Seseorang menyapa Ashley. Dia adalah seorang laki-laki berambut pirang dengan mata berwarna ungu. Ashley tersadar dari lamunannya, ia balik menatap orang itu. “Anda terlihat asing. Apakah Anda berasal dari daerah ini?”
Ashley terdiam. Bahasa asing yang bisa dimengerti olehnya membuat Ashley membeku sejenak, ia kemudian dengan ragu mengangguk.
Laki-laki itu terdiam sejenak, kemudian berkata, “Jika Anda ingin menetap di daerah ini, Anda harus mendapatkan izin dari Yang Mulia Ratu. Saya akan mengantarkan Anda menemui beliau.” Ia pun berbalik dan melangkah. Ashley tak berkomentar dan memilih mengikuti laki-laki itu.
Setidaknya, aku harus mengetahui dunia apa ini, batin Ashley.
***
Di sepanjang jalan ada banyak tanaman-tanaman dengan bentuk dan warna yang beraneka ragam. Bangunan indah beberapa meter di depan Ashley tampak memesona, menjulang tinggi ke langit. Warna-warna cerah menghiasi bangunan itu. Berpuluh-puluh prajurit tampak di sekeliling bangunan tersebut. Ashley terpana kala menatap bangunan itu. Tak diragukan lagi, bangunan itulah yang disebut kerajaan. Sesampainya di dalam kerajaan, semua pasang mata menatap Ashley dengan penasaran, sedangkan Ashley hanya menanggapi mereka dengan senyuman.
“Memberi hormat pada Yang Mulia Ratu Russhell.” Laki-laki yang menuntun Ashley menuju kerajaan terlihat membungkukkan badannya pada seorang wanita paruh baya yang duduk di singgasana berwarna merah, Ashley melihat warna singgasana itu dicampuri emas dan permata-permata indah lainnya. Melihat laki-laki itu membungkuk, Ashley memutuskan mengikutinya dengan membungkuk ala seorang putri kerajaan yang sering dilihatnya di film barbie. Suara laki-laki itu kembali terdengar. “Yang Mulia Ratu, ada seorang wanita memasuki wilayah Kerajaan Penyihir tanpa izin dari Anda, saya berpikir bahwa dia tersesat, jadi saya membawanya menemui Anda. Keputusan berada di tangan Anda, apakah Anda ingin memberinya izin tinggal di wilayah Kerajaan Penyihir atau tidak.”
Ashley tersentak. Pikirannya tertuju pada kalimat laki-laki itu yang mengatakan bahwa saat ini ia berada di Kerajaan Penyihir, sesuatu yang mustahil terjadi di dunianya.
Ratu Russhell, pemimpin Kerajaan Penyihir, memandang Ashley dengan teliti, kemudian matanya tertuju pada sesuatu yang berada di leher Ashley. Sebuah liontin berwarna biru dan berkilau layaknya permata. Tiba-tiba Ratu Russhell berdiri, kemudian melangkah menghampiri Ashley.
“Angkat kepalamu,” perintah Ratu Russhell kepada Ashley. Laki-laki yang tadi bersama Ashley lantas berdiri tegak, berpikir bahwa sang ratu ingin melakukan sesuatu pada wanita yang dibawanya, sedangkan Ashley mengangkat kepalanya dengan ragu. Mata hitam Ashley dan mata ungu Ratu Russhell bertemu. Sesaat keduanya terdiam, saling memandang satu sama lain. Tak lama kemudian, Ratu Russhell bersuara. “Mata hitam, rambut hitam, dan wajah itu. Siapa sebenarnya dirimu?”
Ashley tidak tahu harus menjawab apa. Namun, ketika melihat wajah wanita asing di depannya, Ashley memberanikan diri menjawab daripada membuat sang ratu marah, “Nama saya Ashley Virgo.” Bahasa asing yang tak dikenal Ashley keluar dengan lancar dari bibirnya, ia bahkan hampir tak memercayai hal itu. “Saya tersesat. Saya tidak tahu kalau saya memasuki wilayah Anda tanpa izin. Saya minta maaf.”
“Bukan itu yang ingin kudengar.” Tak disangka, Ratu Russhell mengatakan hal lain, membuat Ashley mengerutkan alisnya. “Wajahmu, mengapa begitu mirip dengan kakakku?”
“Kakak?” ulang Ashley, cukup terkejut kala mengetahui bahwa wajahnya mirip dengan saudari sang ratu.
“Ya,” balas Ratu Russhell sambil menatap Ashley dengan dalam. “Oriella Estelle.”
Deg! Degup jantung Ashley berpacu lebih cepat daripada sebelumnya. Matanya sontak membulat, tak percaya mendengar perkataan Ratu Russhell. Oriella Estelle, itu adalah nama mamanya.
***
Singkat cerita, Ashley diizinkan tinggal di wilayah Kerajaan Penyihir. Zayden, laki-laki berambut pirang yang menuntun Ashley menuju istana tadi, membawa Ashley berkeliling di sekitar wilayah kerajaan. Ini adalah pertama kalinya Ashley diperlihatkan keajaiban sihir, itu sangat menyenangkan, tetapi tetap saja Ashley masih memikirkan apa yang terjadi tadi ketika berada di aula kerajaan. Ashley tidak tahu mengapa nama saudari sang ratu serupa dengan nama mamanya.
“Nah, tempat berkeliling yang terakhir adalah akademi kerajaan, namanya Akademi Sihir Bintang.”
Lamunan Ashley seketika pecah kala mendengar suara Zayden. Ia pun menatap bangunan akademi yang berada di depannya dengan pandangan takjub. Beberapa murid akademi yang berlalu-lalang menatap Ashley dan Zayden bagaikan melihat sepasang malaikat yang turun ke dunia fana. Ngomong-ngomong, sebelum Ashley berkeliling, ia terlebih dahulu mengganti pakaiannya seperti yang dikenakan Zayden. Ashley memiliki rambut dan mata berwarna hitam, jadi dia terlihat mencolok di kerumunan orang-orang, karena di dunia ini sangat jarak ada orang yang memiliki rambut dan mata seperti Ashley. Lebih mencolok lagi, Ashley pergi ke akademi bersama Zayden, salah satu orang terpopuler di Kerajaan Penyihir. Yah ... sebagian besar karena paras wajahnya yang bisa dibilang rupawan, dan sebagian lainnya karena kemampuan sihirnya yang terbilang hebat.
“Apa boleh kita masuk ke sini?” tanya Ashley, kini mereka berjalan beriringan menuju aula akademi.
“Tentu saja boleh,” jawab Zayden dengan percaya diri. “Aku adalah salah satu murid terbaik di akademi ini, jadi tidak apa kalau aku sesekali mengundang temanku ke sini.”
“Ya, ya. Aku memang temanmu,” balas Ashley.
Kemudian, mereka mulai berkeliling akademi hingga langit pagi menjelang malam. Setelah itu, Zayden mengantar Ashley kembali ke kerajaan. Menurut perintah Ratu Russhell, selama Ashley berada di wilayah kerajaan ini, ia akan tinggal di kerajaan, tepatnya di kamar untuk tamu. Sebelum memasuki kamarnya, Ashley melihat seseorang berjalan mendekatinya, Ratu Russhell.
“Selamat malam, Ashley,” Ratu Russhell terlebih dahulu menyapa.
“Selamat malam juga, Yang Mulia Ratu,” balas Ashley sembari membungkuk, kemudian berdiri dengan tegap. “Apakah ada sesuatu yang mengganggu Yang Mulia Ratu?” tanyanya dengan sopan.
“Aku ingin meminta bantuanmu,” kata Ratu Russhell, mengejutkan Ashley. Tatapan mata sang ratu berubah, ekspresi di wajahnya tampak memohon, sedangkan suaranya terdengar lirih. Kata-kata selanjutnya yang diucapkan Ratu Russhell semakin mengejutkan Ashley. “Kumohon, bangunkan putriku dari tidurnya. Tolonglah, Ashley. Kumohon, bangunkan putriku yang sedang tertidur selama lebih dari seratus tahun.”
***
Pagi yang cerah datang menyambut Ashley. Perlahan, ia membuka kelopak matanya, memandangi langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong. Segera, perasaan rindu pada mama dan papanya menyergap Ashley, mengitari perasaannya. Ini bukan mimpi. Ashley berpikir bahwa semua yang terjadi padanya adalah mimpi belaka, namun pemikirannya salah. Ia sedang tidak bermimpi. Ini nyata.
Sekarang, Ashley berada di Kerajaan Penyihir, sedangkan dunia tempatnya berada saat ini dinamakan “dunia sihir”. Ya, sihir itu ternyata memang ada. Hanya saja, tempatnya bukan berada di dunia manusia, melainkan di dunia sihir. Teman barunya, Zayden, juga adalah seorang penyihir, elemennya adalah api. Dari semua orang yang ada di dunia ini, hanya Ashley yang tidak memiliki sihir. Namun, mengapa sang ratu meminta bantuannya?
Memikirkan kembali apa yang dikatakan sang ratu padanya kemarin malam, Ashley merasakan sesuatu di hatinya, sesuatu yang membuatnya tak bisa menolak permintaan Ratu Russhell. Tatapan mata, ekspresi wajah, serta suara lirihan yang ditujukan Ratu Russhell padanya, itu jelas adalah ekspresi seorang ibu ketika melihat anaknya dalam bahaya, namun ia tidak bisa menyelamatkan anaknya padahal ia adalah seorang pemimpin kerajaan yang dihormati rakyatnya. Betapa menyakitkannya.
Setelah itu, Ashley bangkit dari tempat tidurnya, kemudian berjalan menuju kamar mandi.
“Aku tidak bisa membiarkan Ratu Russhell hidup dalam penderitaan selama seratus tahun lebih,” gumam Ashley dengan nada meyakinkan. “Mungkin, inilah alasan liontin aneh ini membawaku ke sini, yaitu untuk menyelamatkan seorang putri kerajaan.”
***
Saat ini, Ashley berada di ruangan yang sama dengan Ratu Russhell, tempat di mana sang putri kerajaan tertidur pulas tanpa ada niatan bangun sedikit pun. Ruangan di sekeliling Ashley dipenuhi dengan warna ungu muda, yang katanya Ratu Russhell adalah warna kesukaan sang putri. Paras sang putri menyerupai Ratu Russhell, sehingga dapat dikatakan bahwa sang putri adalah versi mini Ratu Russhell.
“Penyihir hebat dari berbagai kerajaan datang ke sini atas permintaanku untuk menyembuhkan putriku. Sayangnya, hampir semua di antara mereka tak ada yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada putriku. Namun, seorang penyihir yang memeriksa putriku mengatakan bahwa dia terkena kutukan, tapi penyihir itu juga tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi,” jelas Ratu Russhell, memberitahukan pada Ashley apa yang diketahuinya.
Ashley bungkam seribu bahasa kala mendengar penjelasan sang ratu. Kutukan. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa dimengerti Ashley. Di dunianya, kata itu hanya dipercayai oleh beberapa orang. Jika memang benar bahwa sang putri terkena kutukan, lantas bagaimana caranya Ashley mematahkan kutukan itu, dengan dirinya yang hanya seorang manusia biasa tanpa adanya kekuatan sihir?
“Saya mengerti,” balas Ashley setelah beberapa menit terdiam. Ia kemudian melanjutkan, “Saya akan berusaha semaksimal mungkin. Kalau begitu, saya pamit undur diri.”
Lalu Ashley melangkah pergi dari sana, sepasang kakinya berjalan menuju perpustakaan kerajaan. Memang, Ashley tidak memiliki sihir. Namun, ia memiliki akal yang cerdik. Bagaimanapun, liontin aneh yang tersemat di lehernya seharusnya memiliki kekuatan misterius yang kemungkinan akan berguna kala digunakan Ashley untuk menyembuhkan sang putri.
***
Rak-rak buku tentang sejarah ditelusuri Ashley. Meski begitu, ia tak dapat menemukan satu pun buku yang berkaitan dengan liontin berwarna biru di lehernya. Ashley pun memutuskan duduk di kursi perpustakaan. Tangan kanannya menopang dagunya, kelopak matanya tertutup, sedangkan otaknya berpikir dengan keras, hingga tak sadar bahwa seseorang duduk di sebelah kirinya.
"Hei. Kau terlihat murung.” Suara seseorang yang dikenal Ashley menyentak pikiran gadis itu. Kelopak matanya langsung terbuka. Ashley pun menolehkan kepalanya, menatap orang yang menyapanya sedang tersenyum dengan lebar. “Apa kau merindukanku?”
Seketika Ashley menatap Zayden dengan datar. “Tidak,” balasnya tanpa perasaan. Mata hitam yang indah itu menyipit, memerhatikan Zayden dengan teliti. “Kenapa kau ke sini? Seingatku, kau pernah mengatakan kalau kau tidak suka membaca buku, tapi sekarang kau berada di sini, di perpustakaan.”
Zayden hanya tersenyum, kemudian memperlihatkan sebuah buku pada Ashley. “Aku ke sini karena ingin mengembalikan buku yang kupinjam.” Ashley melotot kala melihat sampul buku itu, sedangkan Zayden tidak memerhatikan ekspresi terkejut Ashley dan memilih melanjutkan perkataannya, “Buku ini sangat keren. Sepertinya, kau juga harus membacanya.”
Pantas saja buku ini tak bisa kutemukan, ternyata dipinjam Zayden! batin Ashley dengan skeptis.
Zayden, yang telah selesai berbicara, memerhatikan wajah Ashley. Sebelumnya wajah itu terlihat kosong, sesaat kemudian binar mata bahagia tampak di mata hitam Ashley. Wajah gadis itu terlihat cerah.
“Kyaaa! Zayden! Kau penyelamatku!” Ashley tiba-tiba berseru dengan gembira. Tanpa sadar, kedua tangannya direntangkan, dan tubuhnya jatuh ke pelukan Zayden. “Terima kasih banyak!” serunya dengan bersemangat, mengabaikan peraturan perpustakaan kerajaan yang melarang adanya kebisingan.
Zayden membeku di tempat, tidak bisa bergerak. Setelah itu, Ashley menarik dirinya dari Zayden dan segera mengambil buku yang diperlihatkan Zayden tadi, kemudian membacanya tanpa memerhatikan keanehan pada ekspresi laki-laki di sampingnya.
Sementara itu, Zayden yang masih membeku akhirnya tersadar. Ia menatap Ashley dengan linglung, sebelum akhirnya pulih dari kesadarannya. Seketika wajahnya memerah, sedangkan degup jantungnya berpacu lebih cepat daripada sebelumnya. Ini aneh. Zayden tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sepanjang hidupnya.
***
Setelah selesai membaca buku yang dipinjam Zayden, Ashley mendapatkan dua petunjuk.
Menurut buku yang dibaca Ashley dengan judul “The Great Blue Pendant”, liontin aneh yang terkalung di lehernya saat ini ialah liontin milik Ratu Aneira Candace Estelle, ratu kerajaan pertama yang memimpin Kerajaan Penyihir, menggantikan ayahnya yang pensiun dari tanggung jawab sebagai seorang raja. Para bangsawan maupun rakyat sering memanggilnya dengan sebutan “Ratu Candace”.
Liontin biru seperti permata itu pertama kali dibuat oleh seorang penyihir agung sebagai hadiah ulang tahun sang ratu. Itu bukan benda biasa, melainkan sebuah benda dengan kekuatan sihir yang menakjubkan.
Di medan perang, Ratu Candace nyaris meregang nyawa selama lebih dari lima kali, tetapi liontin itu melindunginya, berkat itu juga tak ada yang berani bermusuhan dengan Kerajaan Penyihir.
Seratus tahun kemudian, ketika Ratu Candace turun dari posisinya dan digantikan oleh anak laki-lakinya, liontin itu tidak pernah diperlihatkan lagi. Ratu Candace juga tidak memberi alasan yang jelas perihal liontin itu. Kemudian, generasi selanjutnya yang menduduki takhta meregang nyawa secara beruntun. Anehnya, hanya para pemimpin pria yang kehilangan nyawanya, sedangkan Ratu Casiphia Estelle, pemimpin wanita kedua setelah Ratu Candace, tidak pernah mengalami kecelakaan apa pun yang berkaitan dengan nyawanya.
Sejak saat itu, Kerajaan Penyihir mengubah aturan pemegang kekuasaan tertinggi, isinya menyebutkan bahwa anak laki-laki dari keluarga kerajaan maupun bangsawan penyihir lainnya dilarang menduduki takhta kerajaan. Aturan itu dibuat dan diberlakukan agar mencegah adanya tragedi kematian para raja dari generasi sebelumnya.
Kalau dipikirkan kembali, Ashley merasa bahwa ini sedikit aneh. Sejak kemunculan liontin itu, tatanan pemerintah kerajaan perlahan berubah.
Kemudian, wanita yang memimpin kerajaan berikutnya ialah Ratu Oriella Estelle, saudari Ratu Russhell. Diperkirakan bahwa kemakmuran rakyat kerajaan penyihir selama masa kepemimpinan Ratu Oriella berlangsung selama lima tahun, karena tak lama kemudian Ratu Oriella diturunkan dari takhtanya dengan tidak hormat. Alasannya juga tidak begitu jelas. Setelah itu, saudarinya, Russhell Estelle, menggantikan posisi Oriella sampai sekarang.
Kesimpulannya, petunjuk pertama yang didapatkan Ashley adalah keajaiban dan kutukan yang ada di dalam liontin biru itu. Mungkin, liontin itu memberi kutukan pada para raja sebelumnya tanpa adanya penjelasan sedikit pun.
Beralih pada petunjuk kedua yang ditemukan Ashley.
Berdasarkan buku "The Great Blue Pendant”, ada beberapa halaman di sana yang menjelaskan mengenai macam-macam “berkah” dan “kutukan”.
Pada kasus anak perempuan Ratu Russhell, Ashley mengetahui bahwa sang putri terkena kutukan “larangan”, di mana seseorang mengabaikan larangan yang dibuat oleh Ratu Candace. Setelah terkena kutukan larangan, orang itu akan tertidur selama beratus-ratus tahun sampai menunggu seseorang mematahkan kutukannya, kasusnya sama dengan yang terjadi pada sang putri.
Setelah menemukan alasan mengapa sang putri tak kunjung bangun dari tidurnya, Ashley segera menemui Ratu Russhell.
***
“Apa? Kutukan larangan?” Ratu Russhell tampak tidak memercayai perkataan Ashley. Mata ungunya membola. Melihat ekspresi tak percaya dari sang ratu, Ashley segera menjelaskan pendapatnya secara rinci. Setelah mendengar penjelasan Ashley, pandangan sang ratu terlihat kosong. “Tidak. Putriku tidak mungkin terkena kutukan larangan .... Ini pasti tidak benar. Aku tidak percaya semua ini....” Kedua bahu Ratu Russhell bergetar, Ashley segera memapah sang ratu menuju sebuah kursi yang berada di dalam kamarnya. Ya, saat ini Ashley berada di kamar Ratu Russhell.
“Yang Mulia, Anda tidak boleh rapuh seperti ini,” kata Ashley, menasihati Ratu Russhell. Jemarinya menyentuh wajah wanita itu, kemudian keduanya saling tatap. Ashley memandangnya dengan tegas. “Saya tidak percaya bahwa ratu kerajaan ini sangat mudah dipengaruhi. Bagaimanapun kondisi mental Anda, Anda tidak bisa menunjukkannya di hadapan orang lain, itu akan berpengaruh dengan reputasi Anda. Bagaimana jika Tuan Putri terbangun, dan menemukan ibundanya dalam keadaan terpuruk?”
Mendengar nasihat Ashley, Ratu Russhell merasa bahwa beban yang berada di pundaknya perlahan menghilang. Wanita itu mengangguk dan tersenyum. “Kau sama persis dengan kakakku. Aku yakin kalau kalian adalah orang yang berbeda, tapi aku selalu merasa bahwa kalian adalah orang yang sama,” ucap Ratu Russhell dengan lembut, ucapan seorang gadis di hadapannya persis dengan apa yang dikatakan kakaknya ketika ia dinobatkan menjadi ratu, sedangkan saudarinya diusir dari dunia sihir. Ratu Russhell pun menggenggam tangan Ashley. “Terima kasih banyak sudah mau membantuku. Aku pasti akan membalas kebaikanmu.”
Ashley hanya tersenyum sebagai tanggapan. Jika ia berhasil membangunkan sang putri dari tidur panjangnya, maka ia akan meminta dipulangkan ke dunianya. Namun, sebelum ia dipulangkan, Ashley berharap bisa mendengar cerita tentang bagaimana Oriella diturunkan dari takhtanya dengan tidak hormat.
***
“Ashley!” Ashley membalikkan badannya ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Di belakangnya, Zayden melambaikan tangannya disertai senyum lebar di wajahnya, kemudian berlari menghampirinya. “Kau mau ke mana?” tanya Zayden setelah melihat Ashley mengenakan pakaian yang sama dengan yang dikenakannya sewaktu pertama kali datang ke dunia sihir.
“Aku akan mematahkan kutukan Tuan Putri, lalu pulang,” jawab Ashley. Sejujurnya, sewaktu di perpustakaan, Ashley memberitahukan kejadian yang menimpa anak perempuan Ratu Russhell pada Zayden. Setelah itu, Zayden mengatakan bahwa ia akan ikut membantu Ashley.
Zayden yang mendengarkan kata “pulang” terucap dari bibir Ashley, segera melebarkan matanya. Ekspresinya tampak terkejut. “Pulang?” ulangnya. Ashley mengangguk sebagai balasan. “Pulang ke mana?”
“Ke tempat di mana aku tidak bisa kembali lagi ke sini, dunia asalku.”
“A-apa? Kau sungguh akan meninggalkan tempat ini? Meninggalkan Kerajaan Penyihir untuk selamanya?” tanya Zayden dengan beruntun.
“Ya,” jawab Ashley, ia kemudian menemukan ekspresi aneh di wajah Zayden dan segera bertanya, “Kenapa?”
Tiba-tiba, Zayden menggenggam kedua tangan Ashley dengan erat. Matanya menatap gadis itu dengan pandangan memohon. “Kumohon, jangan tinggalkan aku. Kalau kau pergi, lalu aku akan bersama siapa? Siapa yang akan menemaniku? Siapa yang akan bersamaku?”
“Eh?” Ashley mengerjap, tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Zayden.
Melihat Ashley tampak bingung dengan ucapannya, wajah Zayden mengeras. Ia pun menarik tangan gadis itu ke arahnya, sedangkan tangan yang satunya memeluk pinggang gadis itu. Wajah keduanya perlahan berdekatan.
“Aku tidak ingin kau pergi. Aku ingin kau selalu bersamaku, mendampingiku. Aku ingin kau ada di hidupku. Jadi kumohon, jangan pergi!”
Ashley tidak mampu berkata-kata. Ekspresi yang ditunjukkan Zayden tampak menyedihkan. Namun, ia tidak bisa memilih antara Zayden dengan orang tuanya. Bagaimana dengan mama dan papanya? Apakah mereka akan baik-baik saja? Tapi, jika dia pergi, bagaimana dengan Zayden?
Setelah beberapa saat terdiam, Ashley akhirnya berbicara. “Zayden, maafkan aku, aku harus pergi. Orang tuaku menungguku pulang,” katanya dengan lirihan. Seketika wajah Zayden mengekspresikan kekecewaan yang mendalam. Ashley pun menyentuh wajah laki-laki itu, mata keduanya bertemu. “Tapi, aku berjanji akan menemuimu suatu saat nanti. Aku berjanji akan kembali lagi ke sini. Setelah itu, keputusan ada di tanganmu, apakah kau ingin menyambut kedatanganku atau tidak. Jadi, jangan bersedih lagi, ya.”
Secercah harapan melintas di mata Zayden. “Kau berjanji? Kau tidak berbohong, ‘kan?” tanyanya dengan antusias. Ashley mengangguk sebagai balasan. Setelah itu, Zayden bertanya lagi, “Kapan?”
“Suatu hari nanti,” jawab Ashley seraya tersenyum.
***
Hari yang dinantikan Ratu Russhell telah tiba.
Saat ini, Ashley, Ratu Russhell, dan Zayden berada di ruangan yang sama, kamar sang putri. Gadis yang seusia Ashley masih tetap sama dengan yang dilihat Ashley sebelumnya, hanya saja sang putri mengenakan pakaian yang berbeda, yaitu gaun formal yang biasanya digunakan ketika kerajaan mengadakan perjamuan. Ratu Russhell mengenakan putrinya gaun itu agar harapannya tercapai, yaitu putri tercintanya terbangun dari tidur panjangnya. Jika itu terjadi, maka kerajaan akan benar-benar mengadakan pesta perayaan.
“Yang Mulia Ratu, Zayden, mundur sebanyak lima langkah,” kata Ashley, menginstruksikan kedua orang itu. Ratu Russhell dan Zayden langsung mengikuti instruksi Ashley. Setelah itu, Ashley menyelimuti bandul liontin biru itu dengan telapak tangannya, membungkusnya, sembari berucap, “Wahai Penyihir Agung dan Ratu Candace yang terhormat, dengan liontin biru yang ada di tanganku, aku, Ashley Virgo, meminta berkah dari kalian, buatlah Tuan Putri Kerajaan Penyihir terlepas dari kutukannya!”
Segera, cahaya yang beraneka ragam layaknya pelangi keluar dari liontin biru itu, menyinari pandangan semuanya. Ashley menutup matanya dan fokus mengerahkan sihir liontin itu pada sang putri.
Sebelumnya, Zayden telah mengajarinya bagaimana caranya mengontrol sihir suatu benda, ketika Ashley mencobanya, ia hampir pingsan kala mengetahui bahwa dia, yang hanya seorang manusia biasa, bisa mengontrol sihir suatu benda hanya dalam sekali percobaan.
Setelah sesi latihan, Ratu Russhell menemukan sebuah buku di ruang rahasia kerajaan tentang mematahkan kutukan seseorang dengan liontin biru milik Ratu Candace. Karena liontinnya sudah ditemukan, Ashley langsung mempelajari buku itu dengan saksama. Akhirnya, ia menemukan mantra sihir yang bisa mematahkan kutukan sang putri.
Dan berakhirlah mereka di kamar sang putri.
Cahaya-cahaya dengan warna yang berbeda itu mengelilingi sang putri, Ashley berusaha keras membuat cahaya-cahaya itu masuk ke tubuh sang putri guna mematahkan kutukannya, sedangkan Ratu Russhell dan Zayden berdoa untuk keselamatan Ashley dan sang putri.
Butuh waktu beberapa menit agar cahaya-cahaya itu memasuki tubuh sang putri, hingga kemudian sebuah cahaya yang amat terang menyelimuti Kerajaan Penyihir.
Setelah cahaya terang itu meredup, kelopak mata sang putri bergerak, diikuti dengan jemarinya yang ikut bergerak. Orang pertama yang bereaksi adalah Ratu Russhell, ia segera menghampiri putrinya dan memeluknya, sedangkan Ashley jatuh pingsan, untungnya Zayden dengan sigap menangkapnya.
Sang putri yang telah tertidur selama seratus tahun lebih akhirnya terbangun. Pesta perayaan pun dilangsungkan dengan meriah.
***
Pesta perayaan malam lalu disambut dengan antusias oleh semua rakyat Kerajaan Penyihir. Tokoh utama pesta perayaan itu adalah Ashley, yang dinobatkan sebagai “Putri Agung” Kerajaan Penyihir oleh Ratu Russhell. Putri Maurice, anak perempuan Ratu Russhell, mengucapkan terima kasih banyak pada Ashley waktu itu. Keduanya pun menjalin pertemanan.
Setelah itu, pesta dansa dimulai. Putri Maurice berdansa dengan seseorang yang disukainya sedari dulu, seorang kesatria penyihir yang mengabdikan dirinya pada kerajaan, sedangkan Zayden terlebih dahulu menarik tangan Ashley dan mengajaknya berdansa. Ashley tidak bisa menolak, jadi dia menyetujui ajakan Zayden. Pesta perayaan itu berlangsung dengan kegembiraan.
Sekarang, pagi yang cerah menyelimuti Kerajaan Penyihir. Ratu Russhell, Putri Maurice, Zayden, dan semua rakyat berbondong-bondong mengucapkan selamat tinggal pada Ashley. Orang yang paling tidak merelakan kepergian Ashley tentu saja Zayden, ia memeluk Ashley untuk waktu yang lama dan bahkan hampir meneteskan air mata, untungnya Ashley dengan pelan menenangkannya.
Perpisahan hari ini diisi dengan air mata.
Ashley berdiri di ambang portal, menatap semua orang, kemudian melambaikan tangannya. “Selamat tinggal, semuanya!” ucapnya dengan seruan. Senyuman yang menawan terlihat di wajahnya. “Aku pasti akan kembali!” lanjutnya, sebelum akhirnya memasuki portal sihir yang dibuat oleh Ratu Russhell.
Setelah itu, Ashley menghilang dari pandangan semua orang, diikuti dengan portal sihir yang juga menghilang.
***
Ashley muncul di depan gerbang rumahnya, ia segera berlari menuju pintu, membukanya, kemudian berseru, “Aku pulang!”
Tak berapa lama kemudian, seruan Ashley disambut oleh seruan lainnya yang datang dari arah ruang tamu.
“Ashley!” Papa dan mamanya berseru, menghampirinya, kemudian memeluknya.
“Mama! Papa! Ashley merindukan kalian!”
Keluarga kecil itu pun saling berpelukan, menghilangkan rasa rindu yang ketiganya rasakan. Setelah cukup lama berpelukan, mama Ashley pun memandang putrinya.
“Seharian ini kau ke mana saja, Ashley? Mama mencarimu ke mana-mana, tapi Mama tidak menemukanmu,” ujar Oriella dengan nada khawatir, mama Ashley.
Papa Ashley, Louis, mengangguk, membenarkan perkataan istrinya. “Ya. Kau ke mana saja, Ashley? Kalau kau tidak muncul, mungkin Papa dan Mama akan benar-benar menelepon polisi,” katanya. Raut wajah cemas tampak di wajahnya.
Ashley tidak menyembunyikan apa pun dari orang tuanya. Ia pun menceritakan pengalamannya di Kerajaan Penyihir, dimulai dari ia yang menemukan liontin milik Ratu Candace dan bagaimana ia mematahkan kutukan Putri Maurice. Oriella maupun Louis serentak tak bisa berkata-kata. Mereka hanya memandang Ashley. Setelah Ashley selesai bercerita, Oriella meyakinkan dirinya sendiri untuk jujur pada putrinya. Ia pun memberitahukan sebuah kebenaran yang telah diketahui Ashley dari Ratu Russhell.
Mantan ratu Kerajaan Penyihir, Oriella Estelle, adalah mama Ashley. Lima tahun setelah masa kepemimpinannya, Oriella diusir dari dunia sihir karena diketahui menjalin hubungan dengan seorang manusia, yang bernama Louis, papa Ashley. Peraturan Kerajaan Penyihir melarang adanya hubungan seperti itu, itulah sebabnya Oriella diturunkan dari takhtanya secara tidak hormat dan memilih tinggal di dunia manusia bersama Louis melalui ikatan pernikahan.
Setelah mendengar cerita mamanya, Ashley sama sekali tidak kecewa. Baginya, kebahagiaan mamanya lebih penting dari segalanya. Kemudian, Ashley menatap orang tuanya dengan intens. “Mama, Papa,” panggil Ashley. Pasangan suami-istri itu pun menjawab panggilan Ashley dengan kata deheman. Ashley terdiam beberapa saat, kemudian berkata, “Ashley punya permintaan.”
***
Sebulan sudah berlalu sejak Ashley meninggalkan Kerajaan Penyihir. Semuanya masih tetap sama. Hanya saja, perasaan Zayden yang berubah.
Setiap hari, ia hanya duduk termenung di tempat di mana ia dan Ashley pertama kali bertemu. Setelah duduk cukup lama di sana, Zayden akan pergi ke Akademi Sihir Bintang, belajar di sana, kemudian pulang ke rumahnya dengan perasaan kosong. Hidupnya selalu seperti itu sejak dulu, tetapi sekarang Zayden merasa kesepian.
Sama seperti hari-hari sebelumnya, hari ini Zayden juga duduk termenung di tempat itu. Angin berembus, membuat poni rambutnya sedikit berantakan akibat terkena terpaan angin yang melewatinya. Zayden menghela napas, merasa bosan. Ketika ia akan pergi dari sana, seseorang menepuk pundaknya. Zayden dengan malas berbalik. Namun, kala melihat siapa yang menepuk pundaknya, Zayden mematung.
“Hai. Lama tidak bertemu, Zayden.” Orang itu tersenyum ke arahnya. Suaranya yang selalu dirindukan Zayden akhirnya terdengar. Rambut hitam itu bergoyang terkena angin. Mata hitam indahnya memandang Zayden dengan intens.
Waktu terasa berjalan sangat lambat. Zayden, yang telah pulih dari keterkejutannya, memandang gadis itu, kemudian berdiri. Mereka saling tatap selama beberapa menit, sebelum akhirnya Zayden menerjang gadis itu dengan pelukan.
“Ashley!” serunya dengan nada gembira. “Kau kembali!”
Ashley membalas pelukan Zayden, kemudian membalas, “Tentu aja, aku akan kembali. Lagi pula, aku sudah pernah berjanji padamu. Sekarang, apakah kau menerima kedatanganku?”
“Tentu saja!” jawab Zayden dengan cepat. “Aku selalu menunggumu, jadi mana mungkin aku melepaskanmu setelah kau datang.”
Ashley tersenyum kala mendengarnya, ia sudah mengetahui hal itu dari dulu. Kemudian, dirasakannya tubuhnya dipeluk dengan erat oleh Zayden, Ashley pun menepuk pundak laki-laki itu. “Tapi, bisakah kau melepaskanku? Aku kesulitan bernapas,” pinta Ashley.
Zayden dengan cepat menggeleng. “Tidak! Biarkan aku memelukmu lebih lama!” balasnya dengan nada penolakan, sedangkan Ashley hanya bisa membiarkan Zayden memeluknya tanpa berniat melepaskannya.
Di belakang Ashley, empat orang berdiri, wajah mereka menunjukkan senyuman bahagia. Oriella, Louis, Ratu Russhell, dan Putri Maurice memandang Ashley dan Zayden dengan penuh kebahagiaan. Mereka menganggap bahwa hari ini adalah hari yang paling membahagiakan daripada hari-hari sebelumnya.
Permintaan Ashley waktu itu ialah tinggal bersama dengan Ratu Russhell di Kerajaan Penyihir. Saat itu, Oriella tidak yakin bahwa ia akan diterima kembali di sana. Namun, Ashley meyakinkan wanita itu dengan mengatakan bahwa semua orang merindukan Oriella Estelle, mantan ratu Kerajaan Penyihir.
Dengan demikian, Oriella memutuskan kembali ke Kerajaan Penyihir, ia membawa Ashley dan Louis menggunakan portal sihir untuk menuju ke sana, dan disambut dengan ramah oleh Ratu Estelle dan Putri Maurice. Rakyat kerajaan juga menerima Oriella kembali, dikarenakan peraturan yang melarang kaum penyihir menjalin hubungan dengan manusia sudah dihapus.
Kedamaian dan kebahagiaan Kerajaan Penyihir akhirnya kembali. Tak peduli rintangan sulit yang menanti mereka di masa depan, mereka akan menghadapinya bersama-sama.
“Mengakhiri sebuah kisah memang lebih bagus jika berakhir dengan bahagia.”
SELESAI.