Damar menatap nanar gadis yang sedang duduk di bawah pohon.
Gadis itu sedang meraba- raba sebuah buku, nampaknya gadis itu sedang membaca huruf -huruf braile.
Itu semua salahnya, karena perbuatannya di masa lalu, yang membuat gadis itu sekarang tidak bisa melihat.
Rambutnya berponi , dengan alis yang hitam tebal, dan dulu, Damar menyebut gadis itu dengan sebutan " Cewek garang".
Sebuah kesalahan yang besar, yang mungkin tidak akan bisa di maafkan, kalo si Gadis garang, atau keluarganya tahu ,bahwa sebenarnya dia lah yang menyebabkan semuanya terjadi.
Kini dia hanya tertunduk pasrah, dan bertekad ingin selalu menjaga dan menemani kemanapun gadis itu akan pergi.
Tak masalah baginya, kalo dia sudah mengorbankan kariernya yang sebagai seorang dj terkenal, tak masalah juga, jika dia tidak jadi mengikuti audisi , melewatkan kesempatan menjadi seorang model ataupun anggota boyband top, karena wajahnya yang tampan dan tinggi badannya yang sesuai kriteria.
" Firman..."
Rupanya Gadis Garang itu kini memanggilnya, itulah sebutannya kini, yang sebetulnya bukan namanya. Terpaksa dia berbohong dan menjadi pelayan pribadi si Gadis Garang tersebut, untuk menebus dosanya.
" Iya" jawabnya, sembari berjalan mendekat dan mengambilkan tongkat besi yang tergeletak di bawah kaki si Gadis Garang.
" Terima kasih" ucap si Gadis Garang tersebut, yang sebenarnya namanya adalah Titha.
Damar ingin memapah Titha berdiri, tapi gadis itu segera menolaknya.
" Tidak Usah, aku bisa sendiri" , cewek itu memang keras kepala dan cewek yang mandiri.
Sedikit demi sedikit, Titha mulai berjalan, dan Damar mengikuti dengan setia di belakang.
Beberapa anak kecil berlarian, lalu mereka mengelilingi Titha, sambil mengecoh ketika Titha sedang berkonsentrasi berjalan.
" Orang buta...Orang buta.." hina anak anak itu.
Damar segera melerai dan mengusir mereka.
Langkah Titha menjadi tidak bersemangat. Damar mendekat ke Titha, cewek itu meneteskan air mata, terdiam sambil tertunduk sebentar, lalu kemudian mengahapus air matanya, dan tersenyum semangat lagi.
Damar menyukai sikap Titha yang seperti ini, dia adalah gadis yang tangguh yang sudah sejak dulu dia kenal.
Tanpa Sadar, tangannya begitu saja terulur ,mengelus puncak kepala Titha. Titha memandang ke atas, karena hembusan nafas Damar berada di atas kepalanya, dan memudahkan Titha mengetahui dimana dia berdiri sekarang.
" Firman, terima kasih, sudah perhatian padaku."
Damar sebenarnya ingin membalas ucapan Titha, tapi karena dia sudah mengaku tidak dapat berbicara, terpaksa hanya bisa menelan kata katanya.
" Damaaarrr..., sedang apa kamu.." suara teriakan dari teman dekat Damar, dan mereka baru saja bertemu setelah 2 tahun, karena temannya pergi meneruskan sekolah di luar negeri.
Suara panggilan itu, sontak membuat Damar dan Titha terkejut.Damar bingung bagaimana akan bertindak.
Temannya Damar itu berlari dan sekarang sudah di antara mereka.
" Hai...gimana kabarmu?" tanyanya ,sambil menepuk bahu Damar.
" Wah...kamu tambah keren aja,..gimana nge Dj nya, lancar?, kapan kapan aku diajak dong, sekalian di ajarin..."
" Oh iya ..katanya kamu mau keterima ikut audisi boy band, wahhh..beres nich,...aku bakal bangga punya teman artis..heheehe ...."
Damar matikutu, tidak dapat menjawab ataupun menghentikan atau memberitahu kalo dia sedang berpura pura memainkan orang yang tunawicara.
Sepertinya kebohongan Damar, sudah tercium oleh Titha,..
Kini Gadis Garangnya pergi dengan berjalan menuntun tongkatnya.
Damar akhirnya tidak bisa menutupi lagi identitasnya, dan terpaksa harus mengaku, berbicara terus terang.
" Titha..., Titha tunggu..."
" Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan, aku tahu sekarang kamu itu siapa, ..tidak disangka kamu tega ..ya..., kamu bohong padaku...kamu puas sekarang ...lihat aku yang tidak bisa melihat seperti sekarang ini..." Maki Titha marah, di susul kemudian bibirnya tertawa kecut
" Heh ......aku ucapkan selamat padamu....selamat.. kamu yang menang."
*flasback ke kejadian semula*
Damar dengan tergesa gesa membawa mobilnya, karena dia hampir terlambat mengikuti audisi, karena kecerobohannya dia menabrak sebuah mobil pengangkut cairan disinfektan, dan tidak di sangka ,Titha akan menyebrang lalu berpapasan dengan mobil yang oleng itu dan cairan disinfektan menyiprat mengenai kedua matanya.
*flasback selesai*
***
Beberapa minggu kemudian, Damar hanya bisa merasa semakin bersalah ,tapi dia tidak dapat lagi melakukan apa apa untuk menebus kesalahannya.
Damar melakukan aktivitasnya dengan hambar, karena rasa bersalah terus menghantuinya.
Suatu hari, setelah pulang bekerja, Damar sengaja melewati rumah Titha. Rumah itu terlihat sepi, dan mobil ayahnya juga tidak terparkir di garasi. Damar langsung tahu, kedua orang tua Titha sedang bebergian.
Damar akan membawa mobilnya pergi, setelah tadi berhenti cukup lama.
" Tolong...."
Suara teriakan dari lantai atas, membuat Damar mengurungkan niatnya.
Damar langsung masuk dengan mendobrak pintu depan, dan segera berlari ke kamar Titha.
Rupanya Titha dalam bahaya, tangan Titha diikat ditiang dekat jendela kamar, kedua perampok sedang melancarkan aksinya mengeledah laci ,lemari atau tempat tempat yang mereka sangka tempat itu tempat menyimpan uang.
Dengan ketrampilannya bela diri yang Damar pelajari sejak sekolah dasar , dia mampu meringkus dua penjahat itu dengan susah payah. lalu melaporkannya ke pihak berwajib.
Damar membuka tali yang mengikat Titha, lalu kemudian memeluk erat badan perempuan itu.
" Kamu tidak apa apa kan ,tha,...mana yang terluka..." ujarnya dengan nada khawatir.
" Hiks..hiks....." Titha hanya mampu mengeluarkan sesegukannya.
" Jangan Khawatir, sekarang penjahatnya sudah di bawa ke kantor polisi."
" Maafkan Aku ya...maafkan atas kesalahanku yang sudah membuat kamu tidak bisa melihat." ujar Damar kemudian, meminta maaf.
"he em" Titha membalasnya.
kini Damar merasa lega, karena Titha sudah memaafkannya, tapi Damer berjanji akan menebus kesalahannya itu dengan ingin menjaga Titha seumur hidupnya.
***