Banyak yang berubah, saat dagu menengadah menantang langit atau langit berikut bumi menjadi saksi dan melontarakan jawab. Ah…bukan, rasanya mereka hanya basa-basi. Buat kepala tertunduk merasa malu. Berdiri diantara siap dan tidak siap. Berdiri di tengah tanda tanya? Menambah kerinduan hati yang mendalam. Pola-pola itu masih beterbangan. Terangkai indah di mimik wajah Arja. Teringat jelas masa itu. Pakaiannya yang rapi, bersih, harum, gagah, tampan mempesona. Serba klimis dan licin. Sejauh yang ia tampilkan adalah gambaran bathinnya. Begitulah adanya, tanpa ada unsur neko-neko. Karena menghargai apa yang dititipkan padanya bukan karena siapa dirinya. Ratusan tangan tak akan bertepuk sebelah tangan saat mendengarnya. Apalagi setelah bertemu dengannya.
Menggelar kisah emas berkilauan. Potret jiwa pemuda pengekor masa depan. Angannya setinggi ia melempar toga hitam yang ia kenakan. Sayangnya Arja jatuh sebelum melempar. Siapa yang tidak terpikat? Datangnya membuat mahluk bernama manusia tak berkedip. Yang selama ini selalu dicari-cari mengiringi hidup. Karenanya bisa nikmati hidup dengan berfoya-foya. Pertemuan itu di typing room resto Interiornya mewah dengan kesan romantis. Tenang tak akan ada yang mengganggu. Meja telah dipesan. Resepionis mencatat kedatangannya sebagai tamu undangan.
Permainan baru dimulai. Apakah yang lawan inginkan? Benar-benar tertata rapi. Celah-celah percakapannya mengandung politik. Dari awal memang terkemas dalam kesepakatan bisnis. Empat belas bulan yang lalu itu terjadi. Franklin menawarkan proposal kerja sama. Guen, istri Arja tak tahu apa-apa soal itu. Hari itu Arja tergesa memutuskan. Ikatan telah dibuat. Jati diri yang ia jual bukan karya. Karna mata uang yang tak ternilai banyaknya. Lajunya cepat tanpa terjal, serasa indah dilewati. Malangnya budaya Arja. Nasibnya terabaikan oleh jiwa yang ditemani. Oleh orang yang bermental krupuk. Pantas Arja Nampak sibuk. “Qatar” huruf-hurufnya di design apik. Red background and white font. Sang istri mempergokinya. Terus terang Guen penasaran. Upayanya mencari tahu tercium aroma mencurigakan. “Village, apa Qatar itu nama desa? When, dimana?” “X” Jawab Arja diam dan hanya tanda itu yang ia berikan. Yeah hanya itu. “Zonk” kata Guen memahami .
Meninggalkan tempat tersebut dan melupakannya. Tumpukan tugas kampus. Pasti tidak senang jika diganggu. Mengurangi konsentrasi dan menghambat pengerjaan. Menganggap semua baik-baik saja sambil menutup pintu perlahan. Terlalu bingung untuk membuat sosok Arja bahagia. Moodnya hanya untuk dunia yang digeluti. Presepsi salah akibat kesal. Namun nalurinya meengatakan bahwa respon seseorang tergantung cara orang itu memperlakukannya. Menyimpulkan bahwa ada diri yang salah, maka harus ada yang mengalah. Yang Arja inginkan pastilah sama dengan yang Guen harapkan. Lalu prasangka baik dibuktikan tuhan, sejak niat itu ada. Bingkisan cantik diatas meja dapur. Ada surat kecil didalamnya. Hadiah itu istimewa karena suratnya. Dengan komunikasi orang bisa tahu suatu hal bahkan banyak hal.
Cukup sederhana pintanya. Mulai dari cabe, bawang merah, bawang putih, saus, garam, kecap dan nasi, semua bahan diracik. Dipadukan dalam sajian sedap. Untuk dihidangkan pada pemesan. Tanpa lauk, hiasan, atau lalapan.. Semenjak itu Arja mulai bercerita. Tugas-tugasnya amatlah berat. Sebab yang dihadapinya lebih keras. Membutuhkan tenaga ekstra untuk memecahkannya. Dari batuan besar menjadi serpihan kecil-kecil. Kalau sedang lelah ia berhenti dan mengumpulkan seadanya yang diperoleh. Upahnyapun tak banyak. Satu karungnya Cuma Rp2000.
Keringat bercucuran, badan menyebarkan bau menyengat. Mencari tempat berisikan air. Melunturkan tanah yang melekat. Jika selesai, maka teman-temannyapun ikut menepi. Mengeringkan tubuh dan berlanjut permainan. Menyusuri jalan, memetik ciplu’an, main egrang, obak sodor, selopan dan lain sebagainya.
Sampai hari mulai petang. Pulang melewati rumah pak RT. Burung-burungnya cantik dan berkicau merdu. Tengok leher terpukau. Hanya sepintas dan kembali pada jalan yang lurus. Krucuk..krucuk…terdengar suara ribut berdemo. Entah apa asal musababya. Mungkin banyak kalori terbakar. Energipun mengosongkan perut. Tak tersisa kecuali ampas-ampas yang harus dibuang. Baru saja kaki menginjak teras rumah. Seakan angin membentuk jari menggelitik hidung. Menyeret tubuh, menata piring. Lezatnya nasi goreng di saat lapar. Jarang-jarang bisa makan seperti ini. Itupun sudah lebih dari cukup. Irit, tanpa apapun sudah nikmat.
“Maafin emak Le…biasanya Cuma ini, buat makan saja susah, apalagi nyekolahin kamu”. Keluh Emak menyalahkan diri. “Walah Mak…gimana to? Anak sendiri gak disekolahin kok nyekolahin anak orang banyak”. Kala itu malah bapak yang meneteskan air mata. Mengusap tangannya, membelai rambut Arja. Menambahkan nasi ke piring Arja. Mengambilkan polpen juga kertas. Tapi Arja, apa yang harus dilakukan dengan dua alat itu. Ia justru menggambar bukan belajar. Lalu mengirimkannya ke rumah pak RT waktu isya’. Beliau menaggapinya ramah. Anak umur 9 tahun yang menyodorkan gambar. “Kamu anaknya Qamar” “Bukan, tapi Tika, kan Emak yang melahirkan”.
Pak RT tersenyum lepas sembari mengamati konsep yang diberikan Arja. Arja sendiri menunjuk ke arah rumah burung yang rusak. Dia menjelaskan detail gambar. Merayu agar rancangan itu diterima. Kemudian pak RT masuk dan mengambil sarung tenun untuk ditukar dengan ide Arja. Begitu senang, Arja langsung menjabat tangan pak RT. Anehnya setelah itu Arja mengangkat kedua tangannya menolak imbalan “Saya terima, tapi tunggu dulu sampai pekerjaan saya selesai”.
***
Satu pekan berlalu waktupun tiba dengan karya yang utuh dan lebih real. Terinspirasi dari keindahan alam Indonesia. Di tempat yang sama pak RT menunggu lengkap dengan sarung tenunnya. Kali ini Arja menerima tapi tak mau menyerahkan sangkar burung yang dibuatnya. “Ini upah konsep, lalu karya sebenarnya anda beli berapa?”
Jauh ke masa depan, keseimbangan harus diperoleh. Arja bisa membalik lawan dengan strategi laghwun- santai melalaikan- usai sudah permainan, Arja memanggil dan menggiring kawan-kawanya ke tanah lapang. Merayakan kemerdekaan, memberi hormat dihadapan mereka. Dan menyanyikan lagu kebangsaan.
Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darhku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku
Hiduplah negeriku
Bangsaku rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badanya
Untuk Indonesia raya
Indonesia raya merdeka-merdeka
Tanahku negeriku yang kucinta
Indonesia raya merdeka-merdeka
Hiduplah Indonesia raya
Sama persis dengan berdirinya Arja sekarang. Di Qatar Indonesian School, London, 17 Agustus 2016. Selamat Ulang tahun Guen dan tanah airku. Kupersembahkan pada almarhum Bapak dan Emak di Indonesia yang ku rindukan. (Miss fai @www.tabatsuma.blogspot.com)