Di zaman sekarang, banyak kasus perselingkuhan antara pasangan suami istri terjadi, mulai dari kalangan artis hingga rakyat biasa. Elara, yang selalu mengikuti berita terbaru di internet, merasa muak dengan pemberitaan yang tayang setiap hari.
"Hah... aku sampai merasa tahun ini seperti ajang perlombaan selingkuh ter-epik 2025," keluh Elara.
Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Elara, yang sudah siap, segera melangkahkan kakinya dan berangkat bekerja. Elara bekerja di sebuah apotek. Meskipun ia hanya lulusan SMK jurusan farmasi, Elara bersyukur masih ada yang mau menerimanya bekerja kala itu.
"Pagi, Kakak, Ada yang bisa saya bantu?" sapa Elara ramah, menjalankan sesuai standar operasional prosedur (SOP) di tempat kerjanya.
"S-saya mau cari obat, Kak, yang bungkusnya warna hijau, terus bentuknya bulat kecil" ucap pembeli itu.
"Maaf sebelumnya, Kak, apa Kakak masih menyimpan sisa bungkus obatnya?" tanya Elara hati-hati.
"Waduh, sudah saya buang, Mbak. Masa Mbak enggak tahu nama obatnya? Saya sudah langganan, lho, beli obat di sini," protes pembeli itu.
"Di sini banyak, Kak, obat dengan bungkus warna hijau. Kalau begitu, keluhan Kakak hari ini apa, ya?" tanya Elara lagi, berusaha memastikan jenis obat yang diinginkan oleh pembeli.
"Mana saya tahu, Mbak. Saya disuruh beli sama ibu saya, dia bilang sebutin aja warna bungkusnya nanti petugasnya pasti tahu, gitu," kata pembeli dengan nada ketus.
"Maaf, Kak, kami tidak bisa sembarangan memberikan obat hanya berdasarkan warna bungkusnya, karena setiap obat memiliki efek yang berbeda," jelas Elara sabar.
"Kalau gitu bilang dong dari tadi! Buang-buang waktu saya saja!" ucap pembeli itu kesal, lalu bergegas pergi keluar dari apotek.
Elara menahan rasa kesal di lubuk hatinya. Melayani pembeli obat seperti itu rasanya dua kali lebih menyebalkan daripada melayani pembeli yang mengandalkan kata - kata, "Kamu tidak tahu siapa saya?"
Waktu pun berlalu, dan waktu pergantian shift kerja akhirnya tiba. Elara pulang ke rumah setelah shift pagi selesai, ia merasa terlalu lelah untuk hari ini.
Sesampainya di rumah, Elara melanjutkan tugas kuliahnya, karena berasal dari keluarga menengah ke bawah, ia memang harus kuliah sambil bekerja. Untungnya, perkuliahan yang diambilnya bersifat daring (online), jadi Elara tidak perlu datang ke kampus untuk mengikuti pembelajaran dari dosen.
Hal itu Elara lakukan selama delapan semester hingga akhirnya ia lulus dengan gelar Sarjana (S-1) farmasi. Di umurnya yang ke-25 tahun, Elara ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang S-2, dan ia berencana mencari beasiswa di Tiongkok.
Elara pun mulai mencari tempat les bahasa Mandarin dan semakin giat belajar demi mencapai keinginannya itu. Tepat setelah tiga bulan belajar bahasa Mandarin, Elara berinisiatif untuk mendaftar beasiswa ke Tiongkok. Sudah tiga kali ia gagal sebelumnya. Elara berharap ada keajaiban besar dari Tuhan untuk dirinya kali ini.
"Rara, aku lihat di Beijing ada pendaftaran beasiswa internasional, lho! Coba daftar sana," ucap Lala, sahabat dekat Elara.
Elara menghembuskan napas berat, merasa tidak yakin untuk mencoba lagi.
"Huftt, aku enggak yakin, deh. Sudah tiga kali aku gagal, semangatku sudah hilang," ucap Elara lesu.
"Mana tahu kalau tidak dicoba? Ini website-nya," bujuk Lala.
Elara mengakses website yang diberikan oleh sahabatnya itu. Untuk kali ini, ia tidak berharap banyak. Jika diberi kesempatan itu, Elara akan sangat bersyukur.
Ting!
Notifikasi pesan berbunyi di telepon genggam Elara.
"Rara, look at this!"
Elara yang melihat ponselnya itu, berteriak terkejut dengan pesan yang masuk ke emailnya.
"Ini beneran, kan, La? Bukan modus penipuan terbaru?" tanya Elara memastikan.
"Of course! Sudah terverifikasi, cuyyy! Congrats, Sis, perjalananmu akan dimulai!" ucap Lala penuh semangat.
Lala sangat bahagia atas berita dari sahabatnya itu, lalu mengajaknya pergi ke restoran terdekat.
"Hari ini aku yang traktir! UNTUK MERAYAKAN AWAL MULA KARIER ELARA ! UHUYYY!"
Lala yang terlalu gembira hari ini tidak bisa menahan keinginannya untuk menceritakan ke semua orang. Prinsip Lala adalah, "Pokoknya semua orang harus tahu apa yang terjadi padaku hari ini."
Setelah melakukan aksi tersebut, Lala merasa menjadi pusat perhatian, lalu terdiam menahan malu.
"Emm, hehehe, maaf, maaf..." ucap Lala canggung.
Elara hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli. Mereka pun memesan hidangan yang ada di tempat itu. Tak lama kemudian, Lala berbicara lagi.
"Eh, habis ini ke mal, yuk? Kita beli persiapan keberangkatanmu ke Beijing."
"Tapi kan masih dua minggu lagi, La," ucap Elara
"Lebih cepat lebih baik. Lagipula nanti aku yang bayar lagi," tawar Lala.
"Nggih, Ndoro," balas Elara bercanda.
Mereka melanjutkan kegiatan makan mereka, mengisi tenaga sebelum "bertempur" di mal.
"Yuk, Ra, kita berangkat!"
Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka ke mal untuk membeli perlengkapan persiapan Elara ke Beijing. Setelah selesai memilih, tibalah mereka di kasir dan adegan rebutan membayar pun dimulai.
"Sudah, Ra, aku saja yang bayar. Hari ini aku traktir kamu seharian," ucap Lala sambil menyodorkan kartu ATM-nya.
"Enggak, enggak! Tadi kamu sudah bayar makanan, sekarang giliranku!" ucap Elara sambil menggeserkan kartu ATM milik Lala.
Dengan kecepatan cahaya, Lala mengambil kartu ATM milik Elara dan memasukkannya ke dalam tasnya.
Ting!
"Sudah terbayar, ya, Kak, ini belanjaannya," ucap kasir.
"Ih, Lala! Kok kamu lagi yang bayar? Aku kan enggak enak!" protes Elara.
Lala pun mengeluarkan kartu ATM milik Elara dari dalam tasnya.
"Nih ATM-nya. Kan sudah kubilang, hari ini aku full bayarin kamu," ucap Lala santai.
Mata Elara berkaca-kaca melihat kebaikan sahabatnya ini, hingga menyebabkan setetes air mata jatuh di pipi Elara.
"Sstt, sudah, jangan nangis. Cengeng tahu, cup cup cup," ucap Lala menenangkan.
"Makasih, yaa, love you sekebon," ucap Elara sembari memberikan simbol hati menggunakan jari tangannya.
"Too. Yuk, pulang," balas Lala.
Elara hanya membalasnya dengan anggukan. Lalu mereka pulang ke rumah mereka dengan bahagia.
Tepat dua minggu kemudian, suara bising keramaian hingga tangis pilu keluarga bergema di seluruh bandara. Ada yang tidak rela ditinggalkan anaknya pergi, ada juga yang bahagia dengan kepergian anaknya demi meraih cita-cita.
"Rara, semua sudah siap, kan? Berkas-berkas? Surat-surat? Ini itu?..."
"Semua sudah siap, Lala sayangku," ucap Elara kepada sahabatnya.
"Hati-hati, ya. Nanti kalau sudah sampai di Beijing, langsung kabari aku. Pokoknya aku adalah orang pertama yang harus kamu kabari!" pesan Lala.
"Iya, iya. Sudah, ya, nanti keburu terbang pesawatnya," ucap Elara.
Melihat sahabatnya yang akan berangkat, Lala berlari hendak memeluknya sembari menangis kencang. Saat Lala ingin menyentuh bahu Elara, seketika Elara perlahan menghilang sedikit demi sedikit. Lala yang melihatnya pun terkejut lalu berteriak memanggil nama sahabatnya itu.
"RARA! RARA! DI MANA KAMU?"
"HALO, APAKAH ADA ORANG DI SINI?"
Seketika, sekitar bandara menjadi sepi, tidak ada satu orang pun. Tiba-tiba telinga Lala berdengung dengan kencang yang menyebabkan nyeri kuat di kepalanya, serta suara-suara aneh mengelilinginya.
"TIDAK! BUKAN AKU PEMBUNUHNYA! BUKAN!"
"JANGAN KATAKAN ITU LAGI, KUMOHON!"
Suara-suara aneh itu masih tetap mengelilingi Lala, hingga angin kencang menerpa dirinya dan ia terlempar jauh lalu terjatuh di hutan belantara seorang diri. Rasa panik yang menimpa membuat dadanya terasa sesak, keringat bercucuran, dan napas yang tidak beraturan membuatnya lemas. Lala merasa bahwa mungkin ini adalah ajalnya. Lala yang sudah mempasrahkan diri memejamkan matanya, lalu suara berat bergema memanggil namanya.
"Lala! Bangun, Lala! Hey, Sayang, bangun!"
Merasa mengenali pemilik suara tersebut, Lala terbangun dengan keringat bercucuran.
"Kenapa? Hey? Mimpi buruk lagi?"
Lala yang ditanya hanya termenung menatap sekelilingnya, kepalanya masih terasa nyeri untuk mencerna apa yang terjadi.
"Bukannya tadi aku di bandara? Lalu, bukannya ada angin kencang hari ini? Rara? Di mana dia?" ucap Lala dan langsung beranjak dari tempat tidurnya.
"Hmm, sudah kuduga kamu terus memimpikan hal itu!"
"La, dia tidak nyata! Itu hanya alter ego-mu yang kamu buat saat kamu di-bully di kampus!" ucap seseorang yang ternyata Riko, suami Lala.
"Tapi Rik..."
Belum selesai Lala berbicara, Riko langsung memeluk Lala dengan erat lalu membisikkan sebuah kalimat.
"Kamu tidak membunuhnya, dia dan kamu adalah satu. Lupakan masa lalu, ayo mulai bangkit bersamaku untuk menuju masa depan kita yang cerah. Tenang saja, aku akan selalu ada di sisimu."
Lala hanya menganggukkan kepala dengan lemah. Ia teringat jika dulu saat kuliah ia sangat susah mendapatkan sahabat dekat dikarenakan sifatnya yang pemalu. Lala yang selama kuliah merasa kesepian hingga akhirnya membuat dirinya membentuk karakter "Elara" demi mendapatkan seorang teman, dan akhirnya bertemulah Lala dengan Riko, teman sekaligus pasangan hidupnya saat ini.
Tamat.
guys ini karya pertama ku, tolong dikoreksi yaaa, terimakasih reader's 💝