Lampu ruang tamu itu selalu menyala redup setiap malam. Bukan karena rusak, tetapi karena Inez yang memilih tidak mengganti bohlamnya. Cahaya kuning lembut itu membuat malam terasa lebih akrab—dan lebih sepi.
Di bawah lampu itu pula, ia menunggu sesuatu: keberanian.
Keberanian untuk bicara pada seseorang yang sejak sebulan lalu terasa seperti tamu di rumah sendiri—Darsa, suaminya. Satu-satunya laki-laki yang ia pilih ketika hidup membelah jalan menjadi dua. Satu-satunya yang pernah ia percayai mampu menjaga hatinya, lalu tanpa sadar membuat jarak.
Hari itu, jam hampir menunjukkan 22.00. Di luar hujan rintik, menaburkan suara seperti jari-jari kecil mengetuk genteng. Sepi menyelinap ke tiap sudut rumah.
Inez menarik napas panjang. Hari ini ia ingin bicara. Tidak lebih. Tidak kurang.
Satu peristiwa kecil yang tak boleh ia tunda lagi: menyampaikan perasaannya, sebelum semuanya membeku selamanya.
Darsa masih di dapur, menyelesaikan cangkir teh untuk keduanya.
Hanya ada mereka berdua di rumah itu—dua manusia yang dulu bisa tertawa bahkan hanya karena satu kata, tapi kini saling diam seperti tetangga yang jarang jumpa.
Inez memejamkan mata sebentar. “Malam ini… kita harus selesai,” gumamnya.
Darsa datang membawa dua cangkir. Suaranya datar, tipis, seperti hanya setengah sadar berada di ruangan itu.
“Tehnya masih panas. Hati-hati.”
Inez mengangguk. “Makasih.”
Darsa duduk di hadapannya, tapi tetap terasa jauh. Jauh bukan karena jarak bangku, namun karena jarak yang sejak lama dibangun tanpa sengaja. Jarak yang tidak pernah mereka ukur, hingga suatu hari menyadari keduanya berdiri di dua ujung yang berbeda.
Inez mengangkat wajah. “Kita bisa bicara?”
Darsa ragu. Hanya dua detik. Tapi detik itu cukup untuk memberi tanda bahwa ia juga takut.
“Bicara tentang apa?” tanyanya.
“Semua yang mengganjal.”
Darsa terdiam. Inez tahu, ia sedang mencari cara untuk menolak tanpa terdengar jahat. Darsa selalu begitu: lebih memilih diam daripada membuat luka. Tapi diam juga seringkali adalah pisau.
“Aku tahu kamu capek,” kata Inez lembut. “Tapi aku perlu jawaban. Kita perlu… pulih, Dar.”
“Pulih dari apa?” suaranya nyaris tidak terdengar.
Inez menatapnya. Tatapan yang sama seperti bertahun lalu ketika mereka saling memilih.
“Dari kita.”
Konflik kecil namun tajam itu pun dimulai: percakapan yang selama ini mereka hindari.
Inez tak ingin membuka semua masa lalu. Ia tidak berniat menyusun drama. Ia hanya ingin satu hal: kejelasan.
“Kita jarang bicara. Kamu pulang terlambat terus. Kita makan pun sendiri-sendiri. Aku mulai merasa seperti orang asing di rumah ini.”
Darsa mengusap pelipisnya. “Kerjaan lagi banyak. Kamu tahu.”
“Aku paham. Tapi kerjaan bukan alasan untuk membiarkan aku jalan sendirian di pernikahan ini.”
Darsa hendak menjawab, tapi terhenti. Ia menunduk.
Ada rasa bersalah yang menekan, tapi entah kenapa rasa itu sulit ia akui.
Inez melanjutkan, kali ini lebih tenang. “Aku ga mau menuduh. Aku cuma mau ngerti. Kamu kenapa? Apa yang kamu simpan sampai semua sikapmu berubah?”
Darsa menghela napas dalam. Dalam sekali, seperti menarik kembali seluruh tahun yang telah mereka jalani.
Lalu ia bicara.
“Aku takut gagal, Nez.”
Inez terpaku. “Gagal apa?”
“Gagal menjadi suami yang kamu butuhkan.”
Kejujuran itu jatuh begitu sederhana namun mengguncang. Seperti embun yang diam-diam menjadi hujan.
Inez menunduk, menahan perasaan yang tiba-tiba menebal di dada.
“Kamu ga pernah gagal,” katanya pelan.
Darsa menggeleng. “Kamu ga tahu apa yang aku rasakan setiap pulang. Aku lihat kamu makin kuat, makin mandiri, makin sibuk dengan tulisanmu. Sementara aku… aku mulai tenggelam dalam kerjaanku sendiri. Aku takut kamu ga butuh aku lagi.”
Inez menutup mulut. Terkesiap.
Ia tidak menyangka. Selama ini ia menduga macam-macam: bosan, jenuh, atau mungkin Darsa kecewa padanya. Tapi bukan ini.
“Kenapa kamu ga bilang dari awal?”
“Susah,” Darsa menjawab. “Kamu itu cahaya, Nez. Sementara aku… sering merasa cuma bayang-bayang di belakangmu.”
Lampu ruang tamu meredup oleh keluhan listrik yang naik turun, tapi bagi Inez, kata-kata Darsa lebih meredupkan dunia.
Ia meraih tangan suaminya. “Darsa, kamu bukan bayanganku. Kamu rumahku.”
Darsa menatapnya. Untuk pertama kali malam itu, mata mereka saling mengunci tanpa ragu, tanpa benteng.
“Kalau kamu rumahku,” Darsa berkata lirih, “kenapa rasanya aku yang paling sering pulang terlambat ke hati kamu?”
Inez tersenyum hambar. “Karena kamu takut mengetuk pintunya.”
Hening. Tapi bukan hening asing. Hening yang membawa pemahaman.
Inez menarik napas. “Dar, kita ga boleh begini terus. Rumah ini kecil, tapi jarak kita lebih luas dari kota.”
Darsa terdiam, merenungi kata-katanya.
Inez melanjutkan, dengan suara yang mulai bergetar:
“Kalau kita mau bertahan, kita harus saling lihat. Saling bicara. Saling jujur. Kita cuma butuh satu malam aja buat mulai ulang. Dan… aku pilih malam ini.”
Darsa mengangkat wajahnya. Ada cahaya kecil kembali muncul di matanya. Cahaya yang hampir padam selama beberapa minggu terakhir.
“Apa kamu masih mau mulai ulang sama aku?” tanya Darsa.
Inez tertawa kecil. “Kalau aku ga mau, aku ga akan nunggu kamu di ruang tamu setiap malam.”
Hujan di luar mulai deras. Seperti mendesak dunia mengakui bahwa malam itu penting.
Darsa memindahkan kursinya, duduk lebih dekat.
“Nez… maafin aku. Aku terlalu sibuk menilai diriku sendiri sampai lupa menilai perasaanmu.”
“Aku pun sama,” Inez mengaku. “Aku sibuk menunggu kamu berubah tanpa berusaha ngajak kamu bicara. Kita berdua salah.”
Darsa menatapnya lama, sebelum berkata:
“Kalau kita mulai ulang… apa yang harus kita lakukan?”
Inez mengarahkan pandangannya pada cangkir teh yang sudah mulai dingin. “Kita mulai dari hal paling kecil.”
“Hal kecil?”
“Misalnya,” Inez tersenyum lembut, “duduk berdua di bawah lampu yang sama.”
Darsa ikut tersenyum. Senyum yang pudar beberapa waktu lalu, kini perlahan kembali seperti garis tipis fajar di ufuk langit.
Malam berjalan, tapi mereka tetap duduk di sana. Diam. Bicara. Diam lagi. Tapi diam kali ini tidak menyakitkan. Hanya sepi yang menenangkan, sepi yang membiarkan kata-kata mereka bernapas.
Konflik di antara mereka bukan tentang perselingkuhan, bukan tentang masalah besar.
Hanya satu hal: takut kehilangan, yang diam-diam membentuk jarak.
Dan malam itu, mereka kembali saling menemukan.
Darsa mengusap tangan istrinya. “Apa kamu masih sayang sama aku?”
Inez tersenyum kecil. “Kamu tanya begitu seolah jawabannya pernah berubah.”
Darsa tertawa kecil.
“Kadang aku cuma butuh denger.”
Inez menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. “Dar, cinta itu bukan soal besar atau tidaknya kamu. Bukan soal kamu berhasil atau gagal. Cinta itu soal pulang. Dan aku selalu pulang ke kamu.”
Di luar, hujan menepuk jendela seperti tepukan halus pada bahu, mengiringi keheningan yang hangat.
Lampu ruang tamu bergetar lagi, tapi tetap bertahan, seperti hubungan mereka: redup, tapi tidak pernah benar-benar padam.
Setelah beberapa lama, Darsa bicara lagi.
“Aku ga mau jarak itu muncul lagi.”
“Kita jagain bareng. Tapi kalau nanti salah satu dari kita mulai menjauh lagi… kita tarik kembali, ya?”
Darsa mengangguk.
“Itu janji?”
“Janji.”
Inez menatapnya, memastikan kata itu bukan sekadar suara, tapi tekad.
Dan malam itu menjadi saksi perubahan kecil yang besar.
Karena terkadang, cinta tidak membutuhkan perjalanan panjang. Tidak butuh drama besar. Cukup dua orang yang mau duduk bersama, menanggalkan ego, dan mengakui luka masing-masing.
Ketika jarum jam menyentuh angka 12, Darsa berdiri dan mematikan lampu.
“Hari ini kita tidur lebih awal,” katanya.
Inez mengangguk.
“Tapi besok… kita sarapan bareng, ya?”
“Bareng,” jawab Darsa mantap.
“Kamu ga lembur?”
“Engga,” katanya sambil menggenggam tangan istrinya lebih erat. “Rumah ini butuh aku dulu.”
Mereka berjalan ke kamar, langkah beriringan, hati lebih ringan.
Dan lampu ruang tamu itu—yang selama berminggu-minggu menyinari jarak—kali ini padam dengan tenang, seolah tahu tugasnya untuk hari itu selesai.
"Cinta yang dewasa bukan tentang seberapa sering kita bahagia, tetapi seberapa berani kita mengakui rasa takut. Hubungan tidak rusak oleh badai besar, melainkan oleh keheningan yang tidak dijembatani. Ketika dua hati berani bertemu di tengah, sekecil apa pun usahanya, cinta akan menemukan jalannya kembali."
-SELESAI-
Terima kasih sudah membaca✨