"Apa benar berita ini Kinara?" tanya Valena terkejut melihat Kinara yang tertunduk.
Mata Kinara terpejam, dadanya naik turun. Ekspresi lelah dan kemarahan yang tertahan nampak jelas dari wajahnya. Kinara mengangguk pelan setelah menarik nafas panjang.
Berita beberapa tahun lalu saat ia masih bekerja di Kantor Berita Jayra. Berita yang akhirnya membuat Kinara harus mengundurkan diri dari posisi Kepala seksi yang baru beberapa jam sebelumnya di umumkan pimpinannya, dan 4 tahun mengabdi disana.
"Tapi itu bukan disengaja kak, dia di jebak mantannya Aldo," tukas Sheila membela.
"Dijebak?" dahi Valena mengernyit nampak tak percaya.
Kinara menceritakan kejadian malam penghargaan yang membuatnya kehilangan keperawanan karena pengaruh obat bius dari mantan Aldo yang menggila karena Aldo lebih memilih Kinara.
"Lalu, Siapa ayah janin itu?" tanya Valena lagi.
Sheila menatap Kinara, ia berharap Kinara memberitahu yang sebenarnya.
Kinara tertegun, "Orang yang tak ku kenal Kak," jawab Kinara.
Kening Sheila mengernyit, "Kenapa kamu rahasiakan lagi? Biar saja kak Valena tahu," protes Sheila.
"Jangan Sheila, dia sudah sejauh ini," bujuk Kinara menenangkan. Kinara sangat tahu bagaimana Aldo suaminya bekerja keras dan mengalami banyak penolakan dan hinaan hingga akhirnya bisa berhasil dan sesukses ini. Sheila mendengus kesal.
Meski mereka tak menyebut siapa, Valena bisa menebak siapa orang yang dimaksud Sheila dan Kinara.
"Apa itu Aldo?" tanya Vanela menatap mereka bergantian.
"Tenang saja Kinara, aku akan jaga rahasia itu. Tapi kenapa kamu masih peduli dengannya? Bukannya kamu sudah mengharapkan perpisahan darinya?" tanya Vanela heran.
Vanela masih tak habis pikir, Kinara masih rela membela dan melindungi suaminya yang sudah berciuman dengan juniornya di acara reuni kampus beberapa hari lalu sampai berniat berpisah dengan Aldo.
"Berita masa laluku yang beredar luas seperti ini, pasti dia akan terseret. Aku tak mau dia kehilangan semua yang sudah dia usahakan selama ini. Aku juga tak tega, aku tak bisa membencinya, rasa cintaku lebih besar dari itu semua. Biarlah perceraian ini melindunginya." Kinara tertunduk makin dalam.
"Lalu kenapa Kamu masih memaksa untuk bercerai kalau cintamu lebih besar?" Tanya Vanela lagi.
"Dia mengakui kesalahannya soal ciuman itu. Meminta maaf dan membujukku untuk tidak menggugat cerai. Tapi kesimpulan ku, dia tidak mengelak saat Sonya menciumnya, berarti dia juga tertarik dengan Sonya. Aku lihat jelas bagaimana gestur,dan mimiknya selama berbicara dengan Sonya saat acara di hotel waktu itu. Aku yakin mereka sama-sama tertarik kak. Untuk apa aku bertahan saat hatinya sudah bukan untukku?" terang Kinara.
"Mungkin dia hanya terpikat sesaat Kinara, sebenarnya saat dia mengakui kesalahannya dan meminta maaf dia berarti tak sepenuhnya sudah beralih hati dari mu," jawab Valena.
Kinara menghela nafas. Saat ini ia hanya berharap orang tuanya tak mengetahui masalah yang ia hadapi saat ini, terutama Bapak. Kinara khawatir sakit jantung Bapaknya kumat lagi.
Handphone Sheila berdering lagi, ia berpindah tempat untuk menjawabnya.
"Kinara, sebaiknya kamu bicarakan lagi dengan Aldo soal penyelesaian kabar ini. Dia juga harus bertanggung jawab. Jangan kamu sendiri yang menanggungnya," tegas Vanela.
Kinara akhirnya mengangguk, ia tahu Vanela tulus memberikan saran untuk Kinara karena usia pernikahannya lebih lama dibanding Kinara.
"Aku pamit dulu ya, aku ada janji ketemu Reno. Yakin semua ada jalan keluarnya, yang penting pikirkan matang-matang," tambah Vanela sembari memeluk Kinara.
"Kinara aku pamit juga ya, Rere menangis terus tiba-tiba demam kata Nanny," ujar Sheila memeluk Kinara.
Sheila dan Vanela akhirnya pergi meninggalkan Kinara sendiri dengan pikiran kalutnya.
***
Aldo dan Robert sudah menunggu kedatangan Kenny Sanjaya Ketua Komunitas pengusaha besar sambil berbincang di resto ruang private yang dipesan Aldo.
"Halo Selamat Siang Robert," sapa Kenny. Seorang wanita berjalan dibelakangnya yang ternyata itu Sonya.
Aldo dan Sonya bertemu mata dan tiba-tiba merasa canggung.
"Wah Nona Sonya ternyata juga ikut," ujar Robert menyapa Sonya yang juga putri Kenny.
"Pak Kenny perkenalkan ini Aldo Nugraha, Pimpinan PT Glow Star Tech." Aldo menyalami Robert dengan senyuman terbaiknya.
"Selamat siang Aldo, senang bisa berkenalan. Ternyata ini yang ingin dikenalkan Robert. Saya akui, mata Robert cukup jeli melihat orang yang punya potensi besar," puji Kenny pada Aldo.
Kenny berani memuji Aldo karena melihat sendiri ketulusan Aldo mengantar Sonya dalam kondisi mabuk ke apartemennya semalam.
"Tentu Pak Kenny, saya jamin pak Kenny tidak menyesali pilihan saya," ujar Robert bangga.
Saat Aldo bersalaman dengan Sonya, ada rasa yang tak bisa ia jelaskan dalam hatinya. Rasa kikuk, canggung, malu, kecewa semua menjadi satu. Begitu juga dengan Sonya, perasaan malu dan canggung lebih dominan terlihat.
Perbincangan mereka cukup lancar. Kenny beberapa kali merasa takjub saat mendengar Robert menceritakan capaian Aldo. Begitu juga dengan Sonya. Perlahan dalam hatinya, Sonya merasa ada orang yang lebih dari Jamie, pacarnya.
"Kalau boleh tahu Aldo sudah menikah?" tanya Kenny tiba-tiba.
"Saya sudah menikah Pak, dan memiliki putra kembar berusia 5 tahun," jawab Aldo. Kenny dan Sonya terkejut, Sonya tak pernah mendengar soal itu.
Ada raut wajah kecewa dari keduanya. "Istri Aldo ini kebetulan model dari butik istri saya Pak Kenny, saya juga baru tahu beberapa hari yang lalu," tambah Robert.
Kenny dan Sonya makin takjub mendengarnya, seolah tak menyangka istri Aldo ternyata bukan orang biasa.
Pukul 14.00 mereka berpamitan. Sepanjang jalan menuju parkir Kenny tak henti-hentinya merasa kecewa sambil menatap Aldo.
"Seandainya belum menikah, Papa pasti akan jodohkan dia padamu Sonya." Sonya pun merasa begitu. Dia akan senang hati menerima Aldo, tapi Sonya hanya bisa mengulum senyum.
***
Setelah mengantar Robert, Handphone Aldo berdering. "Halo Ma," sapa Aldo sambil tetap menyetir.
"Aldo apa kamu bersama Kinara?" tanya Hilda cemas.
"Aldo diperjalanan ke kantor Ma, baru selesai makan siang dengan calon investor. Ada apa Ma?" tanya Aldo heran mamanya tiba -tiba menghubungi.
"Jadi kamu belum tahu berita soal kehamilan Kinara yang dulu sudah tersebar?" Tanya Hilda.
"Apa? Bagaimana bisa?" tanya Aldo heran. 'Bukannya Kantor Berita Jayra Utama berjanji menjaga karyawannya tidak ember kesana kemari soal itu?' benak Aldo.
"Sebaiknya kamu segera hubungi Kinara, mama khawatir dengannya, Nak," minta Hilda.
"Ya Ma, Aldo tutup dulu." Aldo beralih mencoba menghubungi Kinara tapi tak kunjung di angkat.
Aldo akhirnya putar setir pulang ke apartemennya. Aldo khawatir Kinara makin terpuruk dengan tersebarnya berita itu. Perasaan bersalah makin bertambah - tambah dalam hati Aldo.
***
Kinara menatap kembar yang begitu menikmati es krim dihadapan mereka. Ia memakai masker untuk menutupi Identitasnya. Untung saja banyak yang tidak menyadari kalau itu dia.
Kinara merasa bersalah pada kembar setelah memikirkan keinginannya untuk bercerai dengan Aldo. Makanya ia ingin menebus rasa bersalah itu dengan membuat mereka merasa senang.
Handphone nya bergetar, ia melihat 'My Lovely Husband' di layar. "Ya Halo." sapanya.
"Sayang kamu dimana?" tanya Aldo panik berdiri di ruang tengah apartemen mereka.
"Aku di Kafe Es krim sama anak-anak, kenapa?" tanyanya santai.
"Kalau begitu aku tunggu di apartemen, segera bawa anak-anak pulang ya. Kita bicara sebentar," minta Aldo lembut dengan perasaan lega.
"Ayo habiskan es krimnya, Papa menunggu di apartemen," ajak Kinara. Kembar bersemangat, mereka berlomba menghabiskan es krimnya.
"Papa..Papa..Kami tadi menghias kelas, Armand memompa balon yang baaaanyaak sekali," cerita Armand sambil merentangkan kedua tangannya setelah sampai di apartemen mereka.
"Arnold juga bikin hiasan gantung yang di gunting itu Pa terus ditarik jadi boneka yang panjang," Arnold tak kalah bersemangat bercerita.
Aldo mendengar dengan seksama dan menimpali celoteh mereka. Kinara duduk di kursi meja makan sambil tersenyum melihat kebahagiaan anak-anak nya saat bertemu dengan Papa mereka. Situasi yang sangat jarang ia lihat akhir-akhir ini.
Hati Kinara luluh, ia merasa tak tega memisahkan kembar dari Aldo. Matanya berkaca-kaca sambil menarik nafas panjang.
***
Kembar asyik bermain di kamar berdua. Kinara dan Aldo duduk di sofa ruang tengah. Aldo menenangkan Kinara yang begitu terpukul dengan berita itu.
"Kamu sudah melakukan sesuatu?" tanya Aldo.
"Aku sudah minta Bryan mengecek IP pengirim nya, dan memastikan siapa yang menyuruh. Dia juga bersedia membantu meredam berita itu tapi masih belum ada kabar." Kinara tertunduk sambil memainkan ujung bajunya.
"Aku tadi sempat berpikir, mungkin perceraian kita nanti bisa jadi solusi supaya berita itu tidak melibatkan mu, cukup aku saja. Seperti waktu itu," ujar Kinara dengan hati kalut.
"Perceraian? kenapa mengungkit itu lagi?! Aku sudah bilang tidak akan menandatanganinya. Kita pikirkan cara lain ya, sayang," bujuk Aldo.
"Kamu yakin tidak menyesal tidak mengejar Sonya? Kamu mau dengannya kan?" tanya Kinara menahan kesal.
"Siapa bilang aku mau mengejarnya? Itu khilaf Kinara. Aku laki-laki normal dan wajar kalau tergoda," kilah Aldo.
Kinara terdiam. Suara notifikasi pesan masuk ke handphone nya.
B : [Pelakunya Tiara.]
K: [ Oke. Bantu aku cari kelemahannya. Bagaimana dengan meredam nya?]
B :[Ketenaran suamimu cukup membuat ku kesulitan, kecuali suamimu sendiri yang melakukan Klarifikasi.]
K: [Oke, aku tunggu info soal tiara setelah itu baru aku transfer.]
"Apa itu dari informan mu?" tanya Aldo penasaran.
Kinara mengangguk, "Tiara pelakunya. Sepertinya dia juga punya informan yang mencari informasi soalku. Apa ada sesuatu yang mencurigakan tentang Tiara? Aku butuh alat untuk menyerang nya."
Mendengar ucapan Kinara, Aldo tersenyum. 'Kinara yang tangguh kembali,' batinnya.
"Aku tidak terlalu memperhatikan gerak geriknya akhir-akhir ini. Aku terlalu fokus dengan pekerjaan. Lalu soal meredam bagaimana?" tanya Aldo.
"Oh iya, dia tidak bisa mengatasi nya kali ini. Dia menyarankan membuat Klarifikasi, bagaimana?" tanya Kinara.
Aldo tertegun, 'Klarifikasi bagaimana yang tidak mengancam mereka berdua?' tanyanya dalam hati.
"Kinara bagaimana pendapat mu kalau klarifikasi ku begini?" tanya Aldo. Ia lalu menerangkan konsep klarifikasinya.
"Baiklah, aku setuju. Memang sulit untuk mengelak, buktinya terlalu kuat. Kecuali dengan caramu, sepertinya akan berhasil," ujar Kinara.
Aldo kemudian duduk di balkon apartemen nya yang tenang. Mengatur Kamera handphone dan memperbaiki penampilannya.
Kinara sengaja membiarkan Aldo membuat klarifikasi sendiri supaya ia bisa lebih leluasa untuk berbicara. Kinara sudah berpesan tidak perlu menimpali komentar atau menjawab pertanyaan. Fokus mengklarifikasi, supaya pembahasan tidak semakin jauh.
Aldo menyalakan tombol on pada video. Kameranya mulai merekam.
"Halo selamat sore, maaf mengganggu waktu rekan-rekan sekalian. Saya disini ingin mengklarifikasi berita yang baru tersebar hari ini soal istri saya Kinara," Aldo menarik nafas panjang.
"Terkait berita itu memang benar, dan saya mengetahuinya sebelum memutuskan menikahi Kinara. Saya anggap itu adalah masa lalu istri saya dan saya bisa menerimanya. Karena cinta saya padanya begitu besar." Aldo tersenyum.
"Kenapa dia hamil pun bukan karena kehidupan liar. Saya tahu dengan sangat baik Istri saya bukan wanita seperti itu. Ia sebenarnya korban pelecehan dan dijebak menggunakan obat oleh orang yang iri dengannya. Selain itu, istri saya sebenarnya mengalami keguguran saat itu karena menjadi korban tabrak lari, jadi tidak benar jika ia melakukan aborsi," lanjut Aldo.
"Saya sangat berharap rekan-rekan membantu saya meredam hal ini. Setiap orang punya masa lalu, tapi bagi saya yang terpenting adalah masa depan. Mohon kebijaksanaan rekan-rekan sekalian menyikapi ini dengan menghormati privasi orang lain. Saya yakin tidak ada yang mau masa lalu kelamnya di umbar. Begitu juga dengan keluarga saya."
"Saya minta maaf jika ini memunculkan spekulasi yang tidak perlu dan terima kasih untuk rekan-rekan yang sudah memberikan dukungan untuk kami sekeluarga. Selamat sore."
Aldo mematikan live konferensinya di media sosial. Komentar dan like seketika menyerbu akun media sosialnya.
Kinara menghampiri Aldo dan memeluknya. "Maaf sayang kamu harus mengalami hal ini lagi. Beri aku kesempatan memperbaiki semuanya ya," ujar Aldo lembut.
Kinara mengangguk, "Maafkan aku juga sudah terpancing emosi sampai bersikap kasar padamu. Aku juga terlalu cepat menyimpulkan dan menolak mendengarkan penjelasanmu." Kinara mempererat pelukannya.
"Aku lebih memilih kamu pukuli daripada kamu abaikan Kinara. Kamu berhak marah, karena aku memang salah. Sekarang jangan bahas perceraian lagi ya. Kita bicarakan baik-baik kalau ada masalah. Aku merindukan Kinara yang berpikir logis seperti dulu," terang Aldo.
Kinara mengangguk, ia sadar terlalu sensitif dan selalu cemburu berlebihan semenjak menikah dengan Aldo. Seolah takut kehilangan. Kinara yang dulu cuek dan bersikap santai berubah posesif.
Aldo tak pernah menyalahkan perubahan sikap itu karena ia juga tahu bagaimana orang-orang terkadang bersikap berlebihan padanya, meski sudah menikah. Itu respon alami seorang istri yang bisa ia terima.
Aldo melepas pelukannya, mengecup bibir Kinara, lalu menatapnya sambil tersenyum. Kinara tersipu. Keduanya kembali berpelukan, makin erat. Mereka bahagia menyambut rasa cinta yang baru. Bahagia di ujung senja.
#Event Menulis Cerpen GC Rumah Menulis