Bagi seorang muslim, investasi akhirat adalah pilihan utama untuk mencapai kesempurnaan dalam keimanan, bukan semata mata hanya untuk menuju surga-Nya Allah SWT. Hal ini dirasakan oleh seorang pemuda yang tanpa lelah mencari bekal untuk akhiratnya kelak.
Pemuda itu bernama Qasim , seorang pemuda yang hidup sebatang kara dan membuka luas pintu hatinya untuk tetap tabah dalam menjalani pahitnya kehidupan. Perjalanan merupakan rutinitasnya sehari-hari karena ia tidak memiliki tempat tinggal. Tidak hanya itu saja ,dia harus menerima pahitnya segala perbuatan keji dari masyarakat sekitar ,mulai dari fitnah, cacian, makian hingga kekerasan yang dialami Qasim selama perjalanannya
Di suatu hari, gemercik air turun dari langit dikala suara azan subuh berkumandang . Masjid adalah tempat tujuan utama Qasim ketika hendak menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim. Namun, Masjid juga sebagai tempat berteduh dan tempat peristirahatan baginya. Jika hujan sudah berhenti ,maka Qasim akan melanjutkan perjalanannya tanpa tujuan entah ke mana .Qasim berniat ingin berhenti di suatu Masjid megah yang terletak di desa Makmur . Masuklah ia ke bagian wudu dan toilet laki-laki untuk menyucikan dirinya .
Ia pun salat berjamaah di Masjid tersebut ,ketika selesai salat ,Qasim hendak keluar dari Masjid, akan tetapi, langkahnya terhenti karena melihat ada ceramah setelah salat berjamaah tadi. Qasim pun duduk kembali ke safnya dan siap mendengarkan tausiah dari penceramah. “Ingatlah wahai saudara-saudariku siapkan diri untuk menabung amal dan investasi akhirat, karena kita tidak tahu kapan kita masih sehat, kita tidak tahu kapan kita masih hidup dan kita tidak tahu kapan kita masih memiliki harta” ucap penceramah itu. Setelah ceramah berakhir ,Qasim pun mendekati ustaz penceramah tadi dan berkata “assalamualaikum ustaz ,aku ingin bertanya, apa saja yang dapat kita lakukan untuk investasi akhirat ya ustaz?” ucap Qasim serius dengan wajah yang sedikit lelah dan pucat. Ustaz itu tertawa kecil sambil tersenyum dan memberikan sebungkus nasi kepada Qasim lalu pergi begitu saja tanpa berkata sepatah kata . Sampai-sampai Qasim tidak bisa mengucapkan terima kasih atas pemberian sebungkus nasi darinya.
Ia masih penasaran jawaban dari pertanyaannya tadi dan menatap sebungkus nasi pemberian dari ustaz tersebut. Sebenarnya, Qasim memang belum makan apa pun dari tadi dan perutnya sangat keroncongan karena belum diisi. Lalu , ia pun menuju keluar Masjid untuk makan dan hendak melanjutkan perjalanannya ,tapi seorang bapak menghampirinya dan berkata “siapa namamu anak muda? Apakah kamu mau tinggal di Masjid ini? Masalahnya saya kewalahan menjaga Masjid ini karena saya ada pekerjaan lain . Saya Ali ,pengurus dari Masjid ini, jika kamu mau, tinggallah di sini insya Allah kamu betah dan mendapatkan rida-Nya Allah. Tetapi , Qasim berkata “saya Qasim pak, saya hanya seorang pendatang di desa ini. Saya mau pak, namun saya takut jika sesuatu terjadi pada Masjid ini dan saya takut jika warga di sini tidak akrab dengan saya ” .“Itu merupakan tanggung jawabmu anak muda ,kamu harus memegang amanah ,niatkan dalam dirimu hanya karena Allah SWT”. Mendengar ucapan pak Ali ,hati Qasim tergoyahkan untuk meninggalkan rutinitas perjalanannya . Qasim pun setuju untuk tinggal di Masjid yang megah itu. Ketika pak Ali sudah pergi meninggalkannya sendiri di Masjid itu, ia pun menyantap nasi bungkus pemberian ustaz tadi dengan lahap . Seekor kucing berlari mendekatinya karena kelaparan. Dengan sepenuh hati ,ia pun membagi nasinya dengan kucing tersebut . Sehingga mereka berdua kekenyangan .
Keesokan harinya, Qasim sibuk membersihkan Masjid ,mulai dari pekarangan ,lantai Masjid hingga ke bagian wudu dan toilet. Setelah selesai membersihkan semuanya , ia melihat sebungkus nasi di lantai depan Masjid . Ia heran ,dari mana asal sebungkus nasi tersebut . Ia melihat di bagian bungkusnya terdapat tulisan untuk Qasim ,lalu ia mengambilnya dengan senang hati tanpa ragu. Tetapi, ia bingung ,siapa yang memberinya sebungkus nasi itu. Ia curiga bahwa sebungkus nasi itu diberi oleh ustaz semalam. Tanpa pikir panjang ,ia pun duduk dan membuka nasi itu seraya berkata “alhamdulillah ,hari ini bisa makan nasi”. Namun ,ia melihat seorang anak sedang memulung sampah yang ada di samping Masjid. Qasim menghampirinya dan berkata “dek, kamu sudah makan belum? Ayo kita makan bareng!”. Anak itu pun mengangguk dan mereka pun makan berdua . Ia pun bersyukur atas apa yang diberikan Allah SWT kepadanya. Tetapi dalam pikirannya ia masih curiga apa jawaban dari pertanyaannya kemarin yang belum dijawab ustaz.
Setiap hari Qasim selalu menyapa warga yang ada, baik dari kalangan orang tua , anak-anak hingga para pemuda lainnya yang ada di desa Makmur, sehingga warga di sana sangat akrab dengan Qasim, setiap hari orang-orang memberinya makanan dan setiap hari pula Qasim berbagi sebungkus nasi dengan orang-orang dan hewan-hewan yang kelaparan. Ia tidak pernah menduga bahwa ia akan merasa bahagia atas hal itu, ia juga merasa memiliki keluarga yang utuh pada saat tinggal di Masjid yang megah itu. Tak hanya itu, terkadang Qasim sangat membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan lainnya ,sehingga ia meminjam uang kepada salah seorang warga desa itu dan terkadang warga memberinya tanpa diganti.
Setelah salat isya ,Qasim membersihkan Masjid dan bersiap-siap untuk tidur . Akan tetapi ,Qasim melihat kembali sebungkus nasi yang tergeletak di teras depan Masjid. Ia pun mengambilnya dan membawanya ke dalam Masjid . Tapi ,tak lama kemudian ada seorang pengendara motor yang berhenti di depan Masjid. Qasim pun bergegas menghidupkan lampu dan menyambut bapak tersebut . “assalamualaikum nak , saya ingin duduk saja di sini dan berzikir serta bertawakal” ujar bapak itu dengan wajah yang penuh kesedihan dan kegelisahan.“ waalaikumsalam silakan pak, bapak kenapa ?” ucap Qasim dengan perhatian. “Saya tidak tahu bagaimana cara mendapatkan uang dengan cepat ,saya butuh uang untuk istri saya yang koma di rumah sakit” ucap bapak itu dengan kesedihannya. Mendengar hal itu Qasim tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa menyuguhkan sebungkus nasi untuk bapak tersebut “pak ,masalah itu bapak pikirkan nanti saja ,sekarang bapak harus tenang agar bisa menghadapi masalah ini pak, maafkan saya karena saya tidak bisa membantu bapak dengan uang ,saya juga tidak punya penghasilan ” ujar Qasim menenangkan bapak itu. Lalu mereka pun makan berdua . Disela-sela makan ,bapak itu berkata “sebagai balasan rasa terima kasih saya ,saya ingin memperkerjakan kamu di warung makan saya ,kamu mau tidak?”. “ Alhamdulillah terima kasih pak, terima kasih banyak” ucap Qasim yang begitu senang dan terharu karena akhirnya ia sekarang bisa menghasilkan uang sendiri tanpa memakai uang orang lain.
Keesokan paginya ,Qasim pun bersiap untuk pergi bekerja sebagai pelayan di warung makan yang tak jauh dari Masjid megah . Qasim bangun dari jam 3 pagi hingga berangkat ke warung pada jam 7 pagi. Pada saat jam istirahat kerja tiba, bapak Joko memberi sebungkus nasi kepada seluruh karyawannya yang telah bekerja ,ketika pak Joko memberi Qasim sebungkus nasi, ia berkata “hari ini kamu bekerja dengan bagus , jika kamu butuh sesuatu langsung bilang ke saya saja ya ,Qasim!” . Qasim mengangguk pelan sambil membuka sebungkus nasi pemberian pak Joko, ia pun mencicipi nasi bungkus itu. Betapa terkejutnya ia , ketika merasakan sebungkus nasi itu sama persis dengan rasa sebungkus nasi pemberian ustaz di pengajian yang lalu. Ia curiga bahwa sebungkus nasi itu berkaitan dengan pak Joko dan ustaz. Qasim pun langsung bertanya kepada pak Joko “pak, saya mau tanya, bapak kenal dengan seorang ustaz penceramah di Masjid megah itu? Saya rasa dia adalah pelanggan di warung bapak ini !” ucap Qasim dengan penuh penasaran. “ dari mana kamu tahu Qasim?” ujar pak Joko. “Karena sebungkus nasi yang pernah beliau berikan kepada saya sama rasanya dengan sebungkus nasi yang bapak berikan “ jawab Qasim dengan wajah berkerut. “Memangnya ada urusan apa kamu dengan pelangganku itu?” Qasim menjawab “aku hanya bertanya, apa saja yang bisa dilalukan agar saya bisa investasi akhirat? Ustaz itu hanya tersenyum dan tertawa tipis mendengar pertanyaan dari saya itu ”. Pak Joko menjawab “pantas saja ustaz itu hanya tersenyum dan tertawa kecil mendengar pertanyaan darimu itu, kamu coba cari sendiri sajalah apa jawabannya ”. Setelah mendengar saran dari pak Joko ,ia masih kebingungan dan masih penasaran apa jawaban yang sebenarnya . Ketika matahari akan tenggelam ,ia bergegas menuju Masjid karena pekerjaannya telah siap di hari itu. Ia melihat pak Ali yang sepertinya tengah menunggu kepulangan Qasim . Sesampainya Qasim ,ternyata benar, ia menunggu kepulangan Qasim dari kerja . Tanpa basa basi pak Ali bertanya “kenapa kamu mau bekerja dengan pak Joko? Dan kenapa kamu meninggalkan Masjid ini sendiri?” . Mendengar hal itu, Qasim sedikit gugup dan takut . Tetapi ia pun mulai bicara “pak Ali, maafkan saya karena kelalaian dan kurangnya saya menjaga amanah darimu, tetapi saya tidak ingin lagi dibebani oleh bapak dan warga yang ada di desa ini, tempat tinggal sudah cukup bagi saya. Hitunglah pak, sudah berapa banyaknya kalian memberi saya kemudahan dan penghidupan yang layak. Hari ini adalah hari pertama saya bekerja di tempat itu pak Joko”.
Tetapi, pak Ali menegaskan kepada Qasim “saya bolehkan kamu bekerja di sana tetapi ,kamu juga harus bisa disiplin saat berada di Masjid. Jangan lupa tentang tanggung jawabmu di sini,” . Qasim pun mengangguk pelan dan meninggalkan pak Ali sendirian di depan Masjid. Ketika azan Magrib berkumandang, ia pun segera menyiapkan diri untuk melaksanakan salat Magrib berjamaah . Ketika akan keluar dari kamar, Qasim melihat imam salat di Masjid adalah ustaz yang kemarin, berapa tercengangnya Qasim melihat itu. Tanpa pikir panjang, Qasim pun menuju saf dan melaksanakan salat Magrib berjamaah dengan khidmat. Ketika selesai salat, zikir dan doa ,kini saatnya untuk mendengarkan pencerahan . Hal itulah yang dinanti nanti oleh Qasim , ia akan lebih banyak bertanya dan akan lebih banyak berpikir dari sebelumnya. Ketika selesai pencerahan , Qasim pun menuju ustaz itu dan berkata “assalamualaikum wahai ustaz, saya tak akan panjang lebar bertanya kepadamu, saya hanya ingin tahu apa jawaban dari pertanyaan yang saya berikan kepada ustaz kemarin ,saya berharap agar ustaz menjawabnya sekarang dan terima kasih atas sebungkus nasi yang selalu engkau berikan kepada saya walaupun ustaz sudah lelah bersembunyi ,namun saya tahu siapa yang memberi sebungkus nasi tersebut”.
Ustaz itu pun mendekatinya dan berkata “apakah kamu sudah tahu jawaban dari pertanyaanmu itu? Saya hanya ingin jawaban dari dirimu sendiri”. “Pertanyaan itu khusus untukmu ustaz, jadi bagaimana caraku menjawabnya sendiri?” Ucap Qasim dengan keheranan. Namun ustaz itu menggeleng dan menyuruhnya untuk duduk sejenak “kemarilah engkau anak muda, duduklah sejenak. Lakukanlah apa yang engkau lakukan besok dan jangan lakukan sesuatu atas dasar yang kamu lakukan dengan mengharapkan sesuatu sedangkan kamu tak merasakan syafaatnya ” ucap ustaz ,agar Qasim bisa mengerti dan paham dengan kata-kata yang barusan diucapkannya. Ternyata , Qasim pun mengerti maksud dari ustaz tersebut “Allahuakbar! Saya paham ya ustaz, jadi ,jika kita ingin menabung untuk investasi akhirat jangan harapkan itu semua tetapi lakukanlah dengan hati yang baik dengan hanya mengharapkan rida-Nya Allah SWT. Dengan begitu ,sempurnalah pahala kita dan kita akan merasakan syafaatnya” ujar Qasim dengan panjang lebar dan bahagia. Ustaz yang mendengar hal itu pun merasa senang ,ketika ia mendengar Qasim menjelaskannya dengan panjang lebar dan tegas. Ia pun berkata “jadi, sekarang kamu sudah sadar berapa banyak manusia yang kamu bantu dengan sebungkus nasi itu ?” . Qasim menjawab “ itu semua tak lepas dari sebungkus nasi yang engkau berikan ustaz, jika tidak ada sebungkus nasi itu dengan apa aku akan mengetahui jawaban atas pertanyaanku kemarin?” namun, ustaz menyanggah bahwa sebungkus nasi itu adalah pemberian darinya “di hari kita bertemu ,sebungkus nasi itu aku berikan karena sebungkus nasi itu memang untuk para jamaah dan imam ketika menyelesaikan ibadah di Masjid ini dan aku tidak pernah memberikanmu sebungkus nasi lagi setelah itu” ucap ustaz dengan tersenyum dan sedikit tertawa. Qasim pun keheranan dan panik “jadi, siapa yang telah memberikannya kepada ,ustaz?” .
Tiba-tiba ,pak Ali dan pak Joko menghampiri Qasim seraya berkata “Qasim ,terima kasih telah menjaga dan merawat Masjid ini dengan baik, kamu juga telah memberi makan kucingku yang sudah bilang selama 3 hari” ucap pak Ali dengan gembira dan penuh senyuman. “aku juga berterima kasih kepadamu Qasim, kamu telah memberi saya makan ketika saya tidak nafsu makan dan kamu bersedia membantu saya untuk menjadi seorang pelayan di warung makan saya, padahal kala itu warung saya tak ada yang suka karena beredar bahwa bahan makanan yang saya buat tidak bersih, sehingga tidak ada pelanggan yang ingin mampir ke sana” ucap pak Joko. “lalu ,siapa yang memberi saya sebungkus nasi dua kali sehari?” ujar Qasim keheranan. Pak Ali menjawab “saya meletakkan sebungkus nasi di lantai depan Masjid, saya sering terburu-buru ketika memberinya kepadamu karena saya ada urusan yang mendadak” . “saya yang memberimu sebungkus nasi di hari kedua karena ,memang saya sedang berbagi sebungkus nasi itu kepada warga setempat, tetapi ,ternyata kamu juga malah ikut berbagai dengan orang yang lalu lapang di depan Masjid” ucap pak Joko. Qasim pun bahagia ketika semua masalah telah terpecahkan dan ia pun berterima kasih kepada semuanya.
Lakukanlah sesuatu dengan ikhlas jangan lakukan sesuatu dengan mengharapkan sesuatu ,harapkan saja rida-Nya Allah SWT karena itu akan membuat hatimu menjadi lembut dan teguh atas pendirian yang kamu miliki serta kita akan merasakan syafaat Allah baik di dunia maupun di akhirat.