Suatu pagi, langit mendung menggantung di atas kepala, ketika Rania berdiri di sebuah taman kecil dekat area parkir, ia meremas kertas resep yang harus ditebus. Hatinya seakan retak dan hancur, saat mengingat kembali adegan mesra antara suaminya dengan seorang wanita berambut panjang yang duduk di tepi ranjang pasien tadi pagi.
Suara desahan dan panggilan sayang wanita itu masih terngiang di telinganya.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Untuk apa aku di sini, bukankah dia sudah menceraikanku lewat pesan di akun media sosial."
"Oh, ayolah Rania ... Jangan bodoh. Dimas tidak mencintaimu lagi." Rania bermonolog sambil memukul dadanya yang sesak.
Satu tahun terakhir sikap Dimas memang berubah, dia menjaga jarak dengannya. Tidak lagi ada kemesraan, kehangatan, bicarapun sekedarnya. Hanya kalimat dingin dan fungsional tentang tanggung jawab, kegiatan di kesatuan dan tagihan.
Hingga suatu malam, kabar buruk itu datang. Dimas jujur jika wanita di masa lalunya kembali, cinta itu bersemi lagi seperti musim yang terus tumbuh dan pasti akan datang mengisi hari-hari Dimas.
Bagi Dimas, pernikahan dengan Rania hanyalah jeda untuk menunggu Rosa sadar bahwa cinta mereka tidak dapat terpisahkan.
Tapi Dimas lupa, ada wanita yang mengobati lukanya, menemaninya di saat semua orang berpaling darinya karena terlilit hutang ratusan juta, ada hati yang tulus mencintainya dari SMA hingga kini — Rania, istri sahnya.
Rania berjongkok di antara mobil yang terparkir, ia menangis sepuasnya. Menumpahkan segala isi hatinya.
Sementara di dalam mobil yang terparkir, seseorang mendengar semua keluh kesah Rania yang diucapkannya dengan lirih. Lelaki itu memperhatikan semuanya, sejak Rania berlari meninggalkan kamar rawat Dimas sambil menangis, berjalan ke apotik dengan langkah goyah hingga saat Sangga ingin kembali ke kantor, Rania menangis di samping mobilnya sambil berjongkok.
Lelah meratapi nasibnya, ditambah lagi kakinya mulai kesemutan. Rania bangkit dan bergegas meninggalkan rumah sakit dengan dada bergemuruh. Cinta Rania pada Dimas masih ada, meski tidak pernah memiliki tempat di hati Dimas.
Rania berdiri di sebuah halte untuk berangkat ke kantor. Wajahnya masih pucat dan matanya sembab setelah hampir satu jam ia menangis di parkiran rumah sakit.
Sebuah mobil berhenti di depannya. Kaca mobil turun, menampilkan wajah si pengemudi.
"Bu Dimas, mau kemana?"
"Eh, komandan. Saya ... Saya mau ke kantor, Dan," jawab Rania gugup sambil menyeka sisa airmata.
"Ayo masuk, sepertinya kita searah. Lagian langit sudah mendung sebentar lagi turun hujan," ajak lelaki yang memiliki wajah kharismatik itu.
"Tidak usah, Dan. S-saya naik angkutan umum saja," tolak Rania dengan gestur yang sopan.
Komandan Sangga Yudha bergeming. Hingga suara klakson tidak sabaran dari mobil di belakang membuat Rania terpaksa naik ke dalam mobil komandan dengan perasaan gugup.
"Harus dipaksa gitu ya? Baru mau nerima tawaran saya."
Lelaki yang bernama Sangga Yudha Prawira itu terkekeh sambil mengusap dagunya.
"Maaf," jawab Rania tertunduk malu.
"Bagaimana kondisi praka Dimas, sudah membaik? Kakinya sudah bisa berjalan pakai tongkat, bu?" tanya Sangga
"Sepertinya belum komandan, masih menunggu hasil rontgen besok siang, setelah itu dokter akan kasih keputusan sudah bisa dilepas gip-nya atau belum."
"Hasil penyelidikan, malam itu Dimas kecelakaan bersama seseorang, bu Dimas tahu siapa orangnya?" tanya Sangga nadanya penuh selidik seraya melirik Rania yang tertunduk. Rania hanya menggeleng lemah.
"Bu Dimas, kalau ada yang ingin diceritakan, bisa temui saya di kantor. Saya tidak ingin ada keluarga anggota saya yang sedang mengalami masalah tidak bisa diselesaikan dengan baik. Mengerti maksud saya, bu Dimas?" suara Sangga rendah dan penuh penekanan.
"Mengerti, Dan. Semoga kami bisa selesaikan masalah ini dengan baik."
Mobil berhenti di depan lobi kantor BUMN, tempat Rania bekerja. Sangga melarangnya turun sebelum ia membukakan pintu. Sebuah perlakuan yang tidak pernah ia terima dari siapapun apalagi suaminya, Dimas.
"Pulang nanti hati-hati di jalan," ucap Sangga menatapnya lekat, penuh perhatian.
Kata-kata itu sederhana, tapi tidak pernah sekalipun Rania dengar dari bibir lelaki yang menjadi cinta pertamanya, Dimas.
Setengah hari itu ia jalani dengan perasaan hampa, kesedihan terus menggelayut di dadanya, perasaan tidak lagi berharga di mata suami seringkali datang diam-diam berbisik menghinanya dan menghancurkan jiwanya dari dalam, meruntuhkan segala keyakinan bahwa cintanya yang tulus pada Dimas akan bersambut setelah pernikahan.
Jam pulang kantor adalah situasi yang paling dibenci Rania, dimana ia merasa rumah semakin asing untuk disebut 'tempat pulang'. Tidak ada hati yang menunggunya datang, ia akan merasakan kesepian sepanjang malam seperti hari-hari sebelumnya, setelah kejujuran Dimas diungkapkan enam bulan lalu.
*
*
Waktu berlalu...
Di minggu pagi yang cerah, sebuah mobil berhenti tepat di halaman rumah dinas. Rania menghentikan kegiatannya menyapu halaman, tubuhnya seketika mematung saat yang keluar dari mobil adalah suaminya, Rosa dan dua orang wanita paruh baya. Senyum ibu mertuanya merekah sambil menggandeng wanita paruh baya tersebut. Senyum yang jarang sekali diberikan pada Rania.
Rosa dengan sigap membuka kursi roda, lalu memapah Dimas sambil saling melempar senyum, tatapan mereka begitu dalam, seolah menyatakan sebuah kebenaran di antara mereka ada cinta yang mengikat.
"Mas, pulang kok nggak ngomong sama aku?" Rania melempar sapu lalu menyongsong kepulangan suaminya.
"Buat apa? Memang kamu perduli?" Tanyanya dengan nada ketus.
"Tentu saja aku peduli, aku istrimu."
"Istri? Kamu lupa kalau aku sudah menjatuhkan talak padamu?"
"Mas, jangan sembarang mengatakan talak. Saat itu kamu bercanda, kan? Kita sedang baik-baik saja, tidak pernah ribut." Ia mengambil alih kursi roda, namun Dimas menepis tangannya.
Dimas mendengus kasar, "Nggak perlu, biar Rosa yang melayaniku. Kita memang tidak pernah ribut, tapi aku bosan dan muak padamu." Ucapan Dimas membuat langkah Rania terhenti.
Rosa menaikkan dagunya, seolah berada di atas angin.
Dimas menatap Rania dengan tajam sambil menunjuk ke arahnya. "Kamu selalu sibuk kerja, kamu tidak pernah peduli padaku!"
Kalimat yang Dimas lontarkan seolah cara memanipulasi keadaan yang sebenarnya terjadi di depan ibu mertuanya dan Rosa. Rania tidak ingin diam saja, dia harus angkat bicara.
"Mas, selama ini aku bekerja karena cicilan kita banyak. Siapa yang membayarkan semua hitangmu Kalau aku tidak peduli padamu. Tapi sikapmu selalu dingin padaku. Pesanku sudah satu minggu tidak ada yang kamu balas," cecar Rania seraya mengikuti mereka masuk ke dalam rumah.
Ibu mertuanya mencekal lengan Rania, "sudah jangan ganggu Dimas, kamu bikin malu tahu gak sih! Kalau kamu bantu bayarin hutang itu wajar karena kamu ikut menumpang di rumah dinas anakku. Buatkan kami minum dan siapkan cemilan, sebentar lagi keluarga kami mau datang menyambut kepulangan Dimas."
Ibu dan anak sama saja, selalu berhasil membuat hati Rania terluka. Rania menelan kecewanya sendirian. Sudah tidak sanggup lagi melawan.
Ditengah kesibukannya membuat minuman dan menyiapkan cemilan, sebuah kalimat lagi-lagi menampar wajahnya dengan keras.
"Minggu depan adalah hari yang bagus untuk hari pertunangan Dimas dan Rosa, jeng Wulan."
TUNANGAN?!
PRANG!
Cangkir yang ada di tangan Rania terhempas menimpa kakinya. Air teh panas yang tertumpah di kakinya tidak lagi ia rasakan panas, karena hatinya lebih mendidih dari air teh yang baru saja ia seduh.
Rania berlari keluar rumah, menyelamatkan hatinya yang semakin retak dan ... hancur!
Rania terus berlari tanpa tahu tujuan, tanpa alas kaki, memakai daster lusuh dengan tatapan kosong dan penuh luka.
Sebuah mobil berhenti tepat di sampingnya. Tiba-tiba sepasang tangan kekar merangkul dan membawa tubuh Rania masuk dalam pelukannya. Rania terisak lemah tak berdaya.
Lelaki itu membawanya masuk ke dalam mobil, lalu membawa Rania ke sebuah dermaga agar Rania bisa menjerit, melepaskan segala sesak di dadanya.
Senja mulai jatuh di dermaga, cahaya keemasan menyentuh wajahnya yang masih sembab. Namun, napasnya mulai teratur, tubuhnya yang sejak tadi gemetar kini lebih tenang dan lebih rileks.
Sangga mengambil kakinya yang mulai bengkak kemerahan karena tersiram air panas. Dengan telaten dan lembut, ia mengoleskan salep luka bakar lalu membungkusnya dengan kassa steril. Ia duduk di samping gadis itu, setelah memasangkan sendal dan membetulkan jaket miliknya yang membungkus tubuh ringkih Rania.
"Apa yang ingin kamu lakukan setelah ini, Rania?" tanya Sangga lembut.
"Aku tidak tahu, Dan. Setelah nenek meninggal, hanya mas Dimas yang ada dalam hidupku. Jika bercerai dengan Dimas, aku akan hidup sebatang kara, aku tidak memiliki tempat tinggal. Aku takut."
"Tidak cukupkah kesepianmu selama ini? Enam bulan bukan waktu yang singkat, Rania. Katakan cukup untuk penderita ini. Kamu harus bahagia. Hatimu, dirimu sangat berharga. Kamu berhak dicintai secara utuh. Kasih sayang, perhatian dan cinta tulusmu berhak mendapatkan balasan yang sama dari orang yang sudah mengikatmu dalam sebuah pernikahan."
"Bagimana jika setelah bercerai denganku mas Dimas lebih bahagia, aku akan lebih hancur dari hari ini." Rania menunduk begitu dalam.
"Kita buat hari ini menjadi neraka pertama baginya, kamu mau bekerjasama denganku?" tanya Sangga dengan kilatan penuh misteri di matanya.
"Apa yang komandan rencanakan?"
Sangga mengulurkan tangannya untuk membantu Rania bangun. "Kita selesaikan malam ini."
Mereka pulang ke rumah dinas dengan mobil yang berbeda. Rania memakai jasa angkutan online, sementara Sangga memakai mobil dinasnya.
Mobil angkutan online yang Rania kendarai telah sampai di depan halaman rumahnya. Rumah dinas itu sudah dipenuhi para tetangga yang siap membidikkan kamera pada pasangan selingkuh yang berani berlaku mesum di sebuah lingkungan militer. Mengabadikan suara desahan di balik dinding kamar yang seharusnya hanya milikinya.
Beberapa tetangga langsung memeluk Rania dengan wajah prihatin dan ikut menangis merasakan penderitaan yang Rania terima.
"Sabar ya mba Rania, biar bapak-bapak yang gerebek kelakuan mereka." Rania diseret menjauhi rumah itu agar tidak histeris.
Suara desahan pasangan sejoli yang tengah asik memadu kasih di dalam kamar, sudah terekam beberapa kamera ponsel rekan kerja Dimas.
"Ah, mas Dimas!"
"Rosa, kamu tidak pernah berubah, selalu memuaskan, aah!"
Bruak!
Pintu kamar ditendang beramai-ramai. Pemandangan memalukan terpampang di depan mata. Dimas dan Rosa kaget bukan main, mereka berusaha menutupi tubuhnya dengan selimut, namun gagal.
Alih-alih mengagalkan perselingkuhan mereka, nada provokasi meminta mereka melanjutkan kegiatannya. Hitung-hitung menonton adegan secara live dan gratis.
Bukti sudah didapat.
Laporan segera dibuat.
Satu bulan setelah itu, keputusan cerai dan pemecatan Dimas sebagai seorang prajurit ditandatangani pimpinan.
Upacara pelepasan tanda pangkat dan tanda jasa diwarnai tangisan pilu keluarga Dimas dan Rosa. Apa artinya Dimas tanpa pangkat dan baju loreng yang selama ini dibanggakan keluarganya.
Kini lelaki yang merasa paling tampan itu hanya seorang 'pecatan'. Belum satu hari Dimas menjalani hidup sebagai pengangguran, Rosa dan keluarganya sudah memutuskan hubungan. Mereka tidak mau lagi disangkutpautkan dengan segala hal tentang Dimas, termasuk hutang di pinjaman online karena kecanduannya pada aplikasi judi.
Satu minggu kemudian ...
Rania duduk di depan meja pengadilan agama untuk mengambil surat cerai yang dikeluarkan hari itu. Saat keluar dari gedung pengadilan agama, wajahnya sumringah penuh kebahagiaan. Seseorang di dalam mobil sudah menunggunya dengan sabar dan tatapannya lembut penuh cinta.
"Bagaimana sayang, apa ada kendala?" tanyanya seraya mengelus pipi Rania dengan ibu jarinya.
"Nggak dong mas, lancar tanpa hambatan. Terima kasih atas bantuannya selama ini, tanpa dukungan mas selamanya aku akan menjadi perempuan lemah yang berlindung dibalik meja kerja hanya untuk bisa bernapas dengan bebas atau menangis di atas bantal setiap malam."
"Sekarang kamu punya aku, andalkan aku, menangislah di dadaku saat kamu sedih, kamu lelah dan saat kamu patah." Sangga mengecup lembut punggung tangan Rania.
"Bagaimana lamaranku tahun lalu, apa sudah bisa kamu jawab hari ini?"
"Mas Sangga sih datangnya telat, aku sudah nikah dengan Dimas, mas Sangga baru menyatakan cinta."
"Trus sekarang gimana? Apa cintaku bisa kamu terima?"
"Emh ... Terima nggak ya?!" Rania mengetuk-ngetuk pipinya seolah sedang berpikir. Sangga cemberut melihat keraguan Rania.
"Tentu aku terima dong! Siapa sih yang nggak mau sama lelaki karismatik, pangkatnya lebih tinggi dan baik seperti mas Sangga Yudha Prawira. Ayo lamar dan nikahi adek, bang!" ucap Rania manja
"Hahaha ... Kamu imut banget kalau lagi begitu. Aku nggak nyesel harus nunggu satu tahun untuk mendapatkanmu, sayang." Sangga melabuhkan kecupan berkali-kali di punggung tangan Rania.
"Ngomong-ngomong sejak kapan mas Sangga jatuh cinta padaku?" tanya Rania, sorot matanya menuntut jawaban.
"Sejak kamu membawakan es teler ke kantor untuk acara buka puasa bersama dengan prajurit, hati mas langsung teler saat itu juga, dek!" rayu Sangga mengatakan sejujurnya.
"Ihh nggak jelas banget deh!" Rania memalingkan wajah menyembunyikan wajah merah merona.
Perjalanan paling sunyi telah Rania lewati. Kesabaran Rania menerima ketidakadilan, dibalas Tuhan dengan perasaan cinta yang manis dari Sangga. Kali ini cintanya bersambut, keluhnya didengarkan, sedihnya diberikan pelukan, Rania dirayakan dengan cinta yang tulus dan sepenuh hati.
Terima kasih sudah membaca cerpen pertamaku. Tulisan ini aku dedikasikan untuk GC 'Rumah Menulis'
Salam, Aksara_Dee.