Nama ku, Serayu.
Sejak kecil, aku senang menyusun kata-kata seolah sedang menata sebuah berlian diatas tiara yang indah. Bagi sebagian orang, menulis mungkin sekadar hobi, tetapi bagiku menulis adalah cara untuk berbicara juga mengungkapkan rasa.
Malam selasa, tepatnya di sebuah apartemen kecil pinggiran kota Paris, aku akan bercerita tentang seseorang yang pernah singgah sebentar dalam hidupku. Ia yang menghadirkan tawa, membawa cinta lalu menggores luka. Seseorang yang datang bersama angin, lalu pergi meninggalkan sunyi.
Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas sebelas SMA, di sebuah desa kecil yang berada tak jauh dari pesisir laut. Hidupku sederhana—pagi berangkat sekolah dengan sepeda, sore membantu Ibu di dapur, malam belajar sambil mendengarkan suara ombak yang tak pernah lelah datang dan pergi.
Aku masih ingat dengan jelas, hari selasa kala itu, guru memperkenalkan siswa pindahan.Desas-desusnya ia merupakan anak kota. Yah, begitu semua anak di sekolah menyebutnya. Rapi, sopan, tapi terlalu tidak meyakinkan untuk disebut rajin. Kebetulan sekali, ia duduk di bangku kosong yang ada di sebelahku. Dan sejak saat itu pula, hidupku mendadak terasa berisik.
Laki-laki yang memperkenalkan dirinya dengan nama Lintang itu tak pernah membawa alat tulis, lebih parahnya lagi ia jarang memperhatikan guru yang sedang menjelaskan di depan. Alhasil ketika ada ulangan mendadak dirinya akan langsung gelagapan lalu meminjam catatan materi padaku. Hal itu terjadi seakan kami sudah menjadi teman dekat.
“Boleh pinjam bukunya?” tanyanya waktu pelajaran berlangsung.
“Tidak bisakah kamu lihat dari tempatmu?” sahutku ketus.
Ia terkekeh kecil. “Berbagi itu ganjaran pahalanya besar sekali, kamu tak ingin mendapatkan pahala yang belimpah?”
Aku mendengus, berpura-pura tidak peduli. Aneh padahal aku kesal kepadanya tapi kenapa, jantung ku malah berdegup tidak karuan.
“Terserah saja”
Sejak hari itu kami selalu beradu mulut untuk hal-hal kecil semacam,siapa yang lebih cepat mengerjakan tugas,siapa yang lebih sering datang terlambat,bahkan soal siapa yang paling malas saat waktu pelajaran dimulai.Pada akhirnya kami memang jadi teman, dekat. Ia selalu punya cara membuatku kesal namun anehnya, aku tidak pernah benar-benar ingin menghindarinya.
Suatu sore, saat hari libur, aku melihatnya di tepi pantai. Ia berdiri menghadap laut, melempar batu kecil satu per satu ke ombak yang pecah di karang.Aku menghampiri, dengan perasaan penuh tanda tanya—penasaran.
“Kamu sepertinya seorang pecinta laut, benar?”tanyaku.
Ia menoleh sekilas. “Ya, Laut di sini beda.”
“Maksudnya?”
“Lebih jujur,” jawabnya santai. “Kadang tenang, tapi tetap menyimpan badai.”
Aku terdiam sejenak, lalu tanpa sadar bertanya, “Kamu memang
aneh,ya.”
“Begitu katanya,” ujarnya sambil tersenyum.
Ia menatapku sesaat lalu bertanya, “Ah! Aku lupa dengan namamu siapa, bisa tolong sebutkan?”
Aku mengerling malas. “Padahal sudah lebih dari 1 minggu jadi teman sebangku, ternyata kamu masih tidak hafal dengan namaku.”
“Lupa itu manusiawi.”
Aku menghela napas. “Namaku Serayu. Serayu Nayanika,” ujarku singkat.Ia mengulang pelan, seolah menimbang-nimbang bunyinya.
“Cantik.”
Aku terkejut, lalu spontan berkata,“Apa?”
Ia tertawa kecil. “Namanya. Tidak dengan orangnya”
Aku memutar bola mata. “Dasar menyebalkan.”
“Katamu juga, aku kan memang aneh,” balasnya ringan.
Kami saling berpandangan sejenak—antara rasa jengkel ku dan atmosfer canggung yang tiba-tiba muncul. Tetapi setelah itu, entah kenapa, suasana jadi lebih hangat. Lintang bercerita tentang hiruk pikuk kota, dia juga berbagi kisah kenapa harus pindah ke desa kami. Dengan semangat aku menyimaknya. Waktu seakan berhenti tatkala aku memandangi wajah tenang laki-laki bertubuh jangkung itu, pertama kalinya ia berbicara serius dan ternyata hal itu bisa membius rasa jengkelku.
Semesta seakan telah mengatur suasana di hari itu, ombak berdebur pelan, angin laut menerpa lembut, tawa terdengar diantara aku dengan Lintang dan untuk pertama kalinya, kami tidak saling bertengkar.
***
Hari-hari setelah itu berubah secara perlahan. Ia mulai menungguku di gerbang sekolah tak jarang juga berpura-pura meminjam pensil hanya agar bisa berbicara. Aku menanggapinya dingin, tapi diam-diam menunggu kebiasaan uniknya setiap pagi. Aku sama sekali tak menyadari jikalau, saat itu aku sedang terhanyut dalam jebakan rasa.
Aku ingat suatu sore ketika kami berteduh di bawah atap warung kecil saat hujan deras tiba-tiba turun.
Ia menatap jalanan yang basah lalu berkata pelan,“Kalau nanti aku harus kembali ke kota, kamu tetap mengingat ku atau, tidak?”
Aku tertawa kecil. “Untuk apa aku mengingat orang menyebalkan seperti dirimu?”
Ia tersenyum samar. “Baiklah, semoga benar begitu.”
Lalu aku mengejeknya, karena dia terlihat cemberut begitu mendengar jawabanku. Berakhir aku yang harus kembali dihantam kekesalan akibat kembali terkena keusilan Lintang. Tanpa sadar ternyata, di hari itu secara tak langsung dia benar-benar mengisyaratkan sebuah perpisahan.
Beberapa bulan kemudian, ia benar-benar pergi. Tanpa pamit, tanpa pesan. Kata guru, keluarganya pindah mendadak ke kota.
Hari terakhir kami di sekolah, bangkunya kosong. Meja di sebelahku terasa dingin, seperti sisa hujan yang belum sempat kering.
Malam itu aku menulis surat. Panjang, penuh hal-hal yang tidak pernah sempat kuucapkan kepada Lintang. Tapi surat itu tidak pernah kukirim. Aku hanya menyimpannya di antara buku catatan, bersama sisa rasa yang perlahan tenggelam bersama waktu.
Ketika hari kelulusan tiba tepat satu tahun kemudian, di saat semua orang bersuka cita atas pencapaian mereka, aku terdiam. Bukan karena tidak berbahagia di hari kelulusanku namun, pikiranku terkenang akan seseorang. Lintang, aku merindukannya. Apa dia di sana juga sedang merayakan kelulusan? Apa yang ia rasakan? Apakah dia juga, merindukan teman lamanya?
Atau mungkin, dia yang melupakan aku.
***
Tahun demi tahun telah berlalu. Aku pindah ke kota besar, menapaki karier sebagai seorang penulis naskah sebuah film layar lebar maupun drama-drama terkenal. Hidupku ramai, tapi kesunyian kadang datang tanpa permisi menyelinap di antara tumpukan skenario yang sedang aku pikirkan.
Suatu sore, di sebuah kafe tempat aku biasa menulis, seseorang memanggil namaku. Aku menoleh dan waktu seolah berhenti.
“Halo, Serayu”
Ia berdiri di sana, dengan senyum yang masih sama, mata yang masih teduh, tapi kini penampilannya jauh lebih dewasa. Lintang kembali, dengan tubuh yang lebih tinggi.
Kami bertegur-sapa, menanyakan kabar, lalu berbicara sangat lama. Akhirnya aku menceritakan bagaimana masa sekolah dikelas 12 akhir yang penuh dengan tugas dan ujian, serta kehidupan di desa yang damai seperti biasa.
Lalu, ia juga bercerita tentang apa yang ia lewati setelah kembali ke dalam bisingnya kota. Tentang sekolahnya yang tak menyenangkan layaknya di desa, dan juga adanya beberapa kasus perundungan yang terjadi disana. Kami kembali tenggelam dalam wacana sederhana, canda serta tawa, seperti waktu dulu.
Semua tampak hangat, sampai ia berkata,
“Serayu, aku akan menikah beberapa bulan lagi.”
Aku membeku. “Oh…”
suaraku hampir tidak terdengar. Senyum palsu terukir di bibir ku, sebisa mungkin aku membuat mimik wajah terlihat ikut bahagia mendengar kabar itu. Meski apa yang kurasa adalah, tak kuasa untuk membendung air mata.
“Selamat, ya.”
Ia tersenyum lembut seraya menarik cangkir minuman yang telah terhidang di atas meja, “Terima kasih.”
Aku tidak bisa lagi berkata-kata. Perasaanku bercampur menjadi satu. Aku bahkan belum sempat berkata bahwa selama bertahun-tahun aku tidak pernah melupakan nama Lintang, seperti yang pernah ia tanyakan kepadaku dulu. Serayu belum sempat melampiaskan rindu yang sudah lama dia pendam kepada Lintang. Mendengar kabar memilukan itu, aku bisa apa? Hilang harapanku untuk bisa mendekap laki-laki pertama yang berhasil menghancurkan kerasnya hatiku. Meski begitu, aku tidak boleh egois. Apa pun pilihan Lintang, ku anggap merupakan jalan sekaligus takdir terbaik yang semesta berikan untuknya.
Kami berpisah sore itu. Aku pulang dengan langkah yang ringan tetapi hati terasa berat, layaknya seseorang yang menahan tangis di tengah guyuran hujan.
Beberapa hari kemudian, aku ditunjuk perusahaan yang menaungiku untuk menulis sebuah naskah baru. Tentang dua orang yang saling menyukai, tapi tidak pernah sempat untuk saling memiliki.
Saat menyelesaikannya, aku sadar akan suatu hal. “Aku tidak sedang menulis cerita fiksi, melainkan tentang Serayu dan Lintang.”
Dan kini, ketika aku mengetik baris-baris ini di bawah langit Eropa, aku mengerti bahwa kadang cinta diciptakan hanya untuk dikenang.Beberapa rasa mungkin hanya datang sekali, tetapi malah begitu membekas di hati.
Aku menatap ke arah jendela. Salju turun perlahan di luar sana. Aku menutup laptop, meneguk teh hangat dan tersenyum tipis.“Terima kasih sudah datang, Lintang” bisikku pelan.
“Meski hanya membawa cerita singkat, yang akan selalu aku ingat.”
Lalu, kita sudah sampai pada garis akhir cerita ini. Aku hanya bisa menceritakan sampai disini, karena sampai kini diriku masih belum menemukan jalan pulang dari masa lalu.
Ku harap, yang membaca tak terjebak pada bayangan semu yang ada di waktu dulu. Layaknya sebuah novel, sampai jumpa pada prolog baru, yang akan dimulai setelah epilog selesai.
˚ ༘♡ ·˚꒰SELESAI꒱₊˚ˑ༄