Seingat Lulu, ia sedang berdebat dengan Damian di acara pool party sahabatnya. Bahkan ingatan cengkraman Damian pada lengannya pun masih terasa. Lalu, entah kenapa saat ini ia terbaring di ruang inap dengan kepala yang berdenyut hebat.
"Sadar?" Mendengar suara familiar yang begitu menyebalkan baginya, Lulu perlahan menggerakkan kepalanya, menatap bingung pada Damian yang duduk di sofa yang tak jauh darinya.
Damian bangkit lalu menghampiri Lulu yang masih menatapnya penuh tanya. Ia hanya diam memperhatikan wanita itu sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Dahi Lulu mengerut dalam, seolah isi kepala kecilnya itu bekerja begitu keras mengingat kejadian sebelum mereka berada di tempat ini sekarang.
"Lo udah nggak sadar selama empat hari," jelas Damian masih terus mengamati perubahan ekspresi wajah wanita itu dengan saksama.
Telapak tangan Lulu mendarat di atas kedua mata dan dahinya yang mengerut, menggeram pelan. Damian tidak tahu itu geraman kesal atau kesakitan, yang jelas ia tidak perlu khawatir lagi karena gadis itu sudah sadar.
"Sakit?" tanya Damian singkat. Lulu hanya mengangguk seraya menurunkan tangannya untuk melihat Damian lagi.
"Kamu siapa?" Pertanyaan Lulu yang begitu lirih itu membekukan Damian untuk beberapa saat sebelum pria itu menarik salah satu ujung bibirnya penuh intrik.
Damian mendekat dan mengulurkan tangannya, membelai lembut pipi chubby milik Lulu. "Gua tunangan lo."
Mendengar kebohongan Damian, sontak kedua mata almond milik Lulu membola hampir keluar dari tempatnya. "Tu-tunangan? A-aku?"
Salah satu ujung bibir Damian semakin naik. "Ya, Sayang. Gua tunangan lo. Damian. Lo lupa?"
"Gua panggil dokter dulu buat cek keadaan lo," lanjut Damian setelah mengecup lembut dahi Lulu yang mengerut dalam.
Rahang Lulu terjatuh saking syoknya.
Damian tersenyum puas sebelum benar-benar pergi untuk memanggil dokter.
~~~
Ini hari ketiga setelah Lulu sadar, akhirnya dokter mengizinkannya keluar dari rumah sakit.
Berkali-kali Lulu mencuri pandang pada Damian yang saat ini menyetir di sampingnya. Berusaha mengutarakan sesuatu, namun ragu.
"Kenapa?" tanya Damian yang rupanya menyadari kegelisahan Lulu, salah satu tangan besarnya sedari tadi tampak nyaman beristirahat di atas salah satu paha sekal Lulu, seolah menunjukkan kepemilikannya pada wanita itu.
"Itu ... sebenernya aku mau tanya ini dari kemarin." Lulu memberikan jeda saat Damian menoleh singkat ke arahnya sebelum fokus ke jalan lagi.
"Kata kamu, kita udah tunangan. Tapi, kenapa nggak ada cincin?" tanya Lulu yang berusaha membongkar akal-akalan Damian yang memanfaatkan keadaan dirinya yang 'amnesia'.
Dengan tenang, Damian melontarkan senyum pada Lulu. "Cincinnya ada di gua, Seng. Terakhir kali, lo buang karena salah paham, ngira gua selingkuh sama sekretaris yang sebelumnya."
Lulu menutup mulutnya tidak menyangka. "Aku yang buang?"
'Gila, dia pinter banget ngarang ceritanya,' batin Lulu syok. Dia tahu, Damian itu bukan pria suci, baik-baik, yang selalu jujur. Tapi, ia juga tidak menyangka jika Damian seburuk ini.
"Ya, lo yang buang. Dan lo juga selalu kabur dari penthouse ke apart lama lo setiap kita ribut," bohong Damian sangat lancar seolah-olah itu merupakan kebenarannya.
Sesampainya mereka di penthouse milik Damian, Lulu kembali dibuat terkejut karena Damian seniat itu untuk berpura-pura sebagai tunangannya.
Mulai dari semua pekerja yang mengenalinya sampai printilan barang-barang wanita yang tersanding dengan barang-barang pria itu, semua tersedia dan tertata dengan baik.
"Damian?" panggil Lulu saat pria itu menyiapkan makan siang, obat, dan suplemen yang diresepkan dokter untuknya dengan begitu telaten.
'Dia acting-nya menjiwai banget deh. Serem banget,' batin Lulu.
Wajah ngeri wanita itu berubah menjadi senyum lurus saat Damian mengalihkan perhatian padanya.
Salah satu sudut bibir Damian terangkat lalu menggelengkan kepala pelan sebelum memberi gestur pada Lulu untuk mendekat dengan jari panjangnya.
Damian menepuk-nepuk pahanya, lalu menggiring Lulu untuk duduk di pangkuannya. "Sekarang makan dulu, habis itu baru istirahat, tidur siang."
"Aku bukan balita yang harus tidur siang," keluh Lulu tidak suka.
Damian tidak menghiraukan, ia justru mulai menyuapi Lulu. Lengannya yang lain melingkar dengan nyamannya di pinggang wanita itu. Salah satu sudut bibirnya kembali terangkat saat melihat ekspresi wajah Lulu yang mengerut saat merasakan sayuran hijau yang paling dibencinya.
"Ngga enak," keluh Lulu masih dengan ekspresi yang mengerut lucu.
Damian tertawa, membuat Lulu terdiam karena terpesona dengan pria itu. Waktu seolah berjalan lambat, dan atmosfer di sekitarnya seolah menjadi filter yang membuat Damian terlihat begitu tampan di matanya.
Tanpa Lulu sadari, satu porsi besar habis olehnya sendirian. Bahkan sayuran yang merupakan makanan yang paling dibencinya pun berhasil masuk ke dalam perutnya.
~~~
Sudah hampir seminggu Lulu tinggal bersama dengan Damian. Makan, berbelanja, date, cuddle, nonton, hingga tidur bersama. Namun hingga saat ini, ia masih tidak menemukan alasan mengapa Damian berpura-pura menjadi tunangannya.
Lulu melihat cincin berlian yang tersemat di jari manisnya saat ini. Yang 'katanya' merupakan cincin pertunangan yang mengikat dirinya dengan Damian.
'Kenapa dia harus berbohong sejauh ini?' pikir Lulu.
Saat sedang asik memikirkan hal tersebut, suara pintu utama terbuka berhasil mengalihkan perhatian Lulu sepenuhnya.
Tubuh berisi Lulu bergerak cepat menghampiri Damian yang masuk dan limbung hampir terjatuh. Wanita itu sedikit mengendus saat indra penciumannya mendapati aroma alkohol dari tubuh Damian.
Dengan susah payah Lulu memapah tubuh Damian yang dua kali lipat lebih besar dari tubuhnya. "Beraaaattt!" keluh wanita itu sedikit merengek.
Salah satu sudut bibir Damian terangkat dan menciumi cuping telinga Lulu, membuat wanita itu merengek dan mengomeli pria itu.
Tidak kuat memapah tubuh Damian ke kamar, Lulu menjatuhkan tubuh besar nan berotot itu ke atas sofa. Kedua tangan wanita itu berada di pinggang dengan napas terengah.
"Kamu minum ya?!" Lulu mulai mengoceh, mengomeli pria itu, "Kamu tau nggak sih, Damn nian! Kamu tuh badannya guuedeee, beeeraaaat! Tau nggak?! Punya badan gede, harusnya otak kamu gede juga, 'kan?! Bisa mikir harusnya, 'kaaann??"
Salah satu sudut bibir Damian terangkat tinggi mendengar rentetan omelan Lulu, seolah-olah itu musik yang begitu menyenangkan hatinya.
Kesal karena merasa dibuat lelucon, Lulu melepas sandalnya untuk memukuli Damian.
Kali ini Damian tertawa. Alih-alih kabur atau menghentikan Lulu, ia memeluk dan membiarkan Lulu memukulinya.
"Ih, kamu sedeng ya? Malah ketawa!" Kesal, Lulu mendorong Damian menjauh sekuat yang ia bisa.
Dan berhasil, Damian kembali terjatuh ke sofa dengan senyuman miring khas miliknya. Tampak puas melihat Lulu yang begitu kesal dan bersemangat memukulinya.
"Mandi! Mandi! Kamu tidur di luar kalau nggak mandi!" omel Lulu lagi sambil berusaha menggulingkan tubuh besar Damian.
Damian kembali tertawa dan merangkak menjauh. "Ok, ok, i'm taking shower, happy, woman?"
Setelah memastikan Damian masuk ke kamar mandi, Lulu pergi ke ruang kerja Damian untuk mengambil tab pria itu. Sambil bersenandung, Lulu mencari tab pria itu, senang karena memikirkan akan melakukan drama marathon di kasur setelah ini.
Dahinya mengerut saat mendapati kotak beludru kecil bertulisan tinta spidol yang entah kenapa begitu familiar.
Mengambil posisi nyaman, Lulu duduk di kursi kerja Damian seraya membuka kotak tersebut.
Dahinya mengerut dalam-dalam saat mendapati; testpack; foto USG; surat-surat; serta laporan medis yang bertuliskan nama lengkapnya—Lupi Cordelia—, tanggal kejadian, dan diagnosa 'keguguran spontan (spontaneous miscarriage)'.
Detak jantung Lulu menjadi begitu cepat hingga napasnya terasa tercekat, kedua tangannya bergetar hebat saat tsunami memori menghantam dirinya.
Permusuhan dirinya dan Damian sejak kecil yang berubah menjadi romansa panas setelah menginjak kursi perkuliahan; pertunangan mereka; kehamilan dirinya; rencana pernikahan mereka; dirinya yang keguguran.
Lulu berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Rasa sakit di kepalanya kalah telak dengan rasa sedih dan sakit hatinya. Luka yang sebelumnya terbenam dan tertimbun kembali menganga lebar.
Suara benda jatuh dan longlongan kesakitan Lulu, sontak membuat Damian terbirit-birit menuju ruang kerjanya.
"Sayang!!"
Dengan cepat Damian merengkuh tubuh Lulu yang bergetar hebat. Air mata meluruh tanpa bisa ia tahan karena kembali mendengar tangisan wanita tercintanya yang menyayat hati.
"Anak aku!!"
Damian mengusap air mata di kedua pipinya sebelum kembali menenangkan Lulu. "Shh iya, Sayang. Anak kamu, anak kita. It's okay. Lulu, hey, Sayang ...."
Damian berusaha menangkup kedua pipi chubby milik wanita tercintanya itu dengan tangan bergetar. Ia akui, dirinya sendiri pun tak sanggup bila terus-terusan melihat Lulu 'mati' berkali-kali seperti ini.
"Hey, hey, Sayang ... Look at me! Look! Breathe, Sayang ... Breathe." Tangan besar itu menepuk-nepuk pipi Lulu, mati-matian untuk menyadarkan wanita itu.
Membutuhkan waktu yang cukup lama buat Damian membuat Lulu keluar dari pikirannya dan bisa mendengarkan kata-kata pria itu yang berusaha menenangkannya.
Damian mengusap lembut punggung sempit Lulu sambil membisikkan kata-kata yang tak hanya menenangkan wanita itu, namun menenangkan dirinya juga, mengajak Lulu memaafkan diri mereka, dan menguatkan wanita itu untuk terus melanjutkan kehidupan mereka, menerima takdir yang sudah terjadi, dan mengikhlaskan semua yang sudah hilang.
~Tamat~
[Aku tunggu like dan riview-nya kawan-kawan💕]