Ada banyak cara Tuhan mempertemukan dua orang: lewat kebetulan, lewat keinginan, atau… lewat kehilangan.
Tapi malam itu, Dara belum tahu bahwa kehilangan kecil yang ia bawa selama dua tahun terakhir—sebuah kenangan yang selalu ia sembunyikan—akan membawanya kembali pada seseorang yang sudah ia hapus dari doa-doanya.
Nama orang itu: Raka.
Nama masa lalu yang ia kira tak akan pernah ia sebut lagi.
Namun hidup selalu lucu. Ia menutup pintu rapat-rapat, hanya untuk menemukan seseorang itu tetap terselip di celah-celahnya.
Dan cerita ini dimulai dari sebuah bangku taman dekat sekolah. Bangku yang dulu sering mereka duduki bersama—lalu ditinggalkan oleh keduanya, tanpa pamit, tanpa penjelasan.
"PERTEMUAN PERTAMA YANG KEDUA"
Sore itu, hujan turun tipis-tipis seperti keberanian yang belum jadi. Dara duduk di bangku taman, memeluk ranselnya, menunggu hujan reda. Matanya masih sembap setelah dimarahi ibunya hanya karena nilai ulangan turun beberapa angka.
Ia merasa sudah berusaha. Tapi tak ada yang mempercayainya.
Saat ia menunduk, sepasang sepatu berhenti tepat di depannya.
Suara yang lama tak ia dengar, akhirnya kembali mengetuk pintu yang sudah lama ia kunci:
“Kamu masih suka nahan nangis di tempat umum?”
Dara mendongak.
Jantungnya sontak melonjak tak karuan.
Raka.
Orang yang dulu pernah ia sayangi diam-diam. Orang yang pergi dari hidupnya tanpa sepatah kata pun. Orang yang dulu membuat hari-harinya penuh warna—lalu mendadak memudarkannya.
“Kenapa kamu di sini?” suara Dara nyaris patah.
Raka tersenyum tipis. Wajahnya sedikit berubah, tapi matanya masih sama: tenang, hangat, dan penuh sesuatu yang Dara tak berani terjemahkan.
“Aku nunggu hujan juga,” jawabnya pelan.
Lalu, seakan sadar Dara tak percaya, ia menambahkan, “Dan… mungkin aku juga nunggu kamu.”
Dara menatapnya tajam.
“Dua tahun kamu hilang. Sekarang muncul dengan kalimat se–sweet itu?”
Raka menghela napas. “Aku nggak hilang, Dar. Aku cuma… pergi.”
“Tanpa kabar.”
“Karena kalau aku pamit, aku takut nggak jadi pergi.”
Dara menggigit bibirnya. Emosi yang ia tahan meletup pelan.
“Raka, kamu nggak boleh seenaknya. Kamu pergi waktu aku paling butuh kamu. Kamu—”
“Ssst.”
Raka duduk di sampingnya.
Suara hujan menyatukan mereka yang pernah terpisah.
“Aku tahu,” katanya lirih. “Dan aku minta maaf.”
Sunyi.
Canggung.
Tapi jantung Dara justru tak mau diam.
“Kenapa balik?” tanya Dara akhirnya.
Raka menatap langit yang mengirimkan hujan lembut.
“Aku pulang.”
"Kadang, orang yang pernah pergi bukan datang untuk mengulang cerita, tetapi untuk memberikan penjelasan yang dulu tidak sempat terucap. Kita tidak selalu tahu alasan di balik kepergian seseorang, karena setiap orang menyimpan pertarungan yang tidak terlihat. Jangan terburu-buru membenci—karena tidak semua luka berasal dari niat jahat."
"LUKA YANG TAK TUNTAS"
Keesokan harinya, Raka muncul lagi. Dan besoknya lagi. Dan lagi.
Ia kembali seperti seseorang yang ingin memperbaiki semua yang ia rusak. Awalnya Dara menolak, tapi setiap kali ia ingin marah, cara Raka menatapnya membuat suaranya tumpul.
“Dara,” ucapnya suatu sore di perpustakaan.
“Aku tahu kamu kecewa. Tapi izinkan aku jelasin.”
Dara menutup bukunya.
“Baik. Jelasin.”
Raka menarik napas panjang.
“Aku pindah karena Papa sakit. Kami harus ke luar kota untuk terapi. Kondisinya cukup parah waktu itu, aku… nggak punya keberanian buat cerita ke siapa pun. Termasuk kamu.”
Dara mematung.
“Kalau kamu bilang dari awal, aku bakal ngerti,” ucapnya pelan.
“Aku takut kamu ikut sedih,” jawab Raka. “Aku takut kehilangan kamu waktu itu… dan ternyata aku malah kehilangan kamu karena aku takut.”
Air bening menyentuh mata Dara.
Bukan karena sedih, tapi karena lega.
Dara berpikir ia sudah membenci Raka.
Ternyata ia hanya merindukan cerita yang tak pernah selesai.
Mereka kembali dekat. Pelan-pelan. Tanpa janji. Tanpa definisi.
Sampai suatu hari Raka mengatakan sesuatu yang membuat dunia Dara berhenti berputar.
“Dar… aku cuma punya waktu dua bulan.”
"RAKA PERGI UNTUK DATANG...DAN AKAN PERGI LAGI"
“Apa maksudnya?” Dara membeku.
Raka menunduk.
Hening panjang menyusul sebelum ia akhirnya bicara:
“Papa sembuh, tapi aku yang sekarang sakit.”
Dara merasakan tubuhnya dingin.
“Nggak lucu, Rak.”
“Aku nggak bercanda.”
Senyumnya miris. “Ada masalah di jantungku. Bukan yang parah banget, tapi aku harus operasi… di luar negeri.”
Dara menatapnya dengan mata bergetar.
“Kapan kamu pergi?”
“Dua bulan lagi.”
“Berapa lama?”
“Nggak tahu.”
“Dan kamu datang ke aku… untuk apa?”
Raka mengangkat wajahnya.
Tatapannya benar-benar jujur.
“Untuk pamit. Tapi kali ini… aku pengen pamit dengan benar.”
Dara menutup mulutnya.
Dadanya menggigil.
“Aku datang bukan untuk bikin kamu sedih,” lanjut Raka. “Aku datang karena kamu adalah satu-satunya yang rasanya selalu… rumah. Dan kalau pun aku harus pergi lagi, aku pengen kamu tahu itu.”
Airmata Dara jatuh.
Raka menghapusnya dengan lembut.
“Kenapa harus sekarang?”
“Kenapa kamu balik hanya untuk pergi lagi?”
“Kenapa harus aku yang kamu libatkan?”
Semua kalimat itu menggumpal di tenggorokannya.
Ia marah—tapi ia juga takut kehilangan.
Ia sakit—tapi ia juga tahu ia tak sanggup membenci.
Raka tersenyum kecil, seakan paham apa yang tak mampu Dara ucapkan.
“Aku nggak minta apa-apa. Aku cuma mau menghabiskan waktu yang tersisa… sama kamu.”
Dan akhirnya Dara mengangguk.
Karena hati tak pernah benar-benar bisa menolak seseorang yang pernah ia izinkan masuk.
"Komunikasi adalah jembatan yang menghubungkan dua hati. Banyak hubungan hancur bukan karena kurangnya rasa sayang, tetapi karena terlalu banyak hal yang tidak berani diungkapkan. Kejujuran mungkin menyakitkan, namun ketidakjujuran sering menggores lebih dalam."
"DUA BULAN YANG TERASA SEUMUR HIDUP"
Dua bulan itu menjadi dua bulan paling indah dalam hidup Dara.
Mereka berjalan ke toko buku kecil dekat sekolah.
Makan es krim rasa favorit yang dulu sering mereka beli.
Duduk di atap rumah Raka hanya untuk melihat matahari terbenam.
Dara mencatat semuanya dalam ingatan, seolah ingin merekam Raka serinci mungkin.
Ia takut suatu hari nanti kenangannya memudar.
Sementara itu Raka…
Raka selalu memperhatikan Dara seperti seseorang yang sedang jatuh cinta untuk kedua kalinya.
Namun, meski mereka tertawa bersama, ada sesuatu yang selalu menempel di antara tawa itu:
ketakutan.
Dara takut Raka pergi.
Raka takut Dara terluka.
“Raka,” ucap Dara suatu malam, “kalau kamu nggak balik, gimana?”
“Aku bakal balik,” jawabnya yakin.
“Janji?”
Raka tersenyum miring.
“Aku janji akan berusaha. Tapi kalau Tuhan punya rencana lain… aku harap kamu tetap hidup dengan bahagia.”
Dara memalingkan wajah.
“Kamu ngomong apa sih?”
Raka hanya menatap bintang.
Diam.
Namun diamnya berkata lebih banyak daripada kata-kata.
"Waktu yang sedikit bisa terasa lebih berarti daripada waktu yang panjang namun hampa. Bahagia tidak selalu soal durasi, tapi soal kadar syukur di dalamnya. Ketika kita tahu seseorang mungkin pergi, kita belajar mencintai lebih lembut, lebih tulus, dan lebih utuh."
"KEBOHONGAN YANG TERLALU MANIS"
Seminggu sebelum keberangkatan, Raka menghilang.
Tidak muncul di sekolah.
Tidak membalas pesan.
Tidak menjawab telepon.
Dara panik.
Ia berlari ke rumah Raka, hanya mendapati ibunya menangis di depan pintu.
“Raka… masuk rumah sakit, Nak.”
Suara ibunya bergetar.
“Dia pingsan…”
Dara merasakan lututnya melemah.
Ia langsung berlari ke rumah sakit.
Begitu pintu ruang rawat dibuka, ia menemukan Raka terbaring lemah, selang infus menjuntai di tangannya.
“Raka!” seru Dara sambil menahan tangis.
Raka membuka mata pelan, lalu tersenyum.
“Kamu datang.”
Dara langsung memeluknya.
“Kenapa kamu nggak bilang?” suaranya pecah.
“Kamu janji mau pamit baik-baik. Kamu bohong.”
“Aku nggak mau kamu sedih.”
Raka mengusap kepala Dara.
“Dan aku… nggak mau kamu lihat aku kayak gini.”
“Bodoh,” isak Dara.
“Kalau kamu sakit, aku mau ada. Kamu ngerti nggak?”
Raka mencium puncak kepala Dara.
“Aku ngerti… sekarang.”
Hening.
Lalu tanpa diduga, Raka berkata,
“Dara… kalau aku pergi sampai lama… jangan nunggu aku.”
Dara menatapnya tajam.
“Nggak. Aku bakal nunggu.”
“Dara—”
“Aku nunggu.”
Raka menghela napas.
“Kalau kamu nunggu, aku harus balik, ya?”
Dara mengangguk.
“Aku nggak akan maafin kamu kalau kamu nggak balik.”
Raka tertawa pelan.
Dan saat itu, Dara merasa seluruh hidupnya berada di ruangan itu, di samping laki-laki yang dulu ia sayangi, ia benci, ia rindukan… dan kini ia takut kehilangannya lagi.
"Terkadang seseorang berbohong bukan karena ingin menyakiti, tapi karena ingin melindungi. Namun seberapa manis pun alasan sebuah kebohongan, ia tetap meninggalkan luka. Pelajaran pentingnya adalah: jangan menanggung semuanya sendirian. Ada orang yang ingin menemani, jika kita memberi kesempatan."
"KEBERANGKATAN"
Hari keberangkatan tiba.
Bandara terasa seperti tempat yang diciptakan khusus untuk air mata.
Raka datang dengan jaket abu-abu favoritnya.
Wajahnya pucat, tapi sorot matanya tetap sama—yakni penuh alasan bagi Dara untuk jatuh cinta lagi dan lagi.
“Kalau nanti kamu baik-baik saja di sana…” Dara berhenti, suaranya bergetar.
“Tolong balik. Yang lain terserah. Tapi balik.”
Raka menatapnya lama.
“Mau tahu alasan aku harus balik?”
“Apa?”
“Kamu.”
Dara menggigit bibir agar tidak menangis lagi.
Raka mengusap pipinya.
“Dara…”
“Ya?”
“Aku sayang kamu.”
Kalimat yang Dara tunggu selama dua tahun.
Kalimat yang datang tepat di saat ia tak tahu bisa tersenyum atau justru menangis.
“Aku juga…” suaranya hampir hilang.
“Aku juga sayang kamu.”
Raka memeluknya erat.
Lalu ia pergi.
Saat langkahnya menjauh, hati Dara ikut retak—namun di sela-sela retakan itu, ada satu hal yang tumbuh: harapan.
"Perpisahan mengajarkan kita bahwa keberanian tidak hanya diperlukan untuk bertahan, tetapi juga untuk melepaskan. Ada orang yang harus kita relakan pergi, bukan karena kita tidak peduli, tetapi karena kita ingin mereka berjuang untuk kembali. Melepaskan bukan kalah; melepaskan sering kali adalah bentuk cinta paling besar."
"SURAT YANG TIDAK PERNAH TERKIRIM"
Tiga bulan berlalu.
Tak ada kabar.
Dara menunggu setiap hari, meski ia tahu itu menyakitkan.
Sampai suatu sore, ibunya Raka datang ke rumah.
“Dara… ini buat kamu.”
Ia menyerahkan sebuah amplop putih.
“Itu… surat dari Raka.”
Dara membukanya dengan tangan gemetar.
Surat itu bertanggal H-1 sebelum keberangkatan Raka ke bandara.
**Untuk Dara,
Kalau kamu baca ini, berarti aku sudah di perjalanan… atau kamu sedang menunggu kabar yang belum juga datang.
Ada satu hal yang tidak pernah sempat aku bilang.
Aku tidak hanya pergi untuk operasi. Aku pergi karena aku ingin kamu belajar sesuatu yang tidak bisa kutunjukkan kalau aku tetap ada.
Kamu harus belajar bahwa mencintai seseorang bukan berarti menggenggamnya terlalu keras.
Kadang melepaskan juga bentuk cinta.
Jangan nunggu aku.
Tapi kalau kamu tetap nunggu…
aku akan kembali.
– Raka**
Dara menangis membaca surat itu.
Namun yang membuatnya benar-benar hancur adalah kalimat terakhir dari Ibu Raka:
“Dara… Raka belum bisa kabari kamu karena… ia masih koma.”
Dara hampir jatuh.
“A… apa?”
“Operasinya berjalan lama. Ada komplikasi. Tapi dokter bilang kemungkinan sadar itu ada. Dan… saat ia pingsan terakhir kali, nama yang ia sebut cuma satu.”
Dara menatap dengan napas terhenti.
“Nama kamu.”
"KETIKA HATI MENEMUKAN JALAN PULANG"
Enam bulan kemudian.
Dara duduk lagi di bangku taman yang dulu menjadi saksi semuanya.
Ia membawa buku catatan kecil—buku yang ia isi setiap hari untuk Raka, meski ia tak tahu apakah Raka bisa membaca semua itu suatu hari nanti.
Sore itu, hujan turun tipis-tipis seperti pertama kali mereka bertemu kembali.
Dara memejamkan mata.
Dalam hatinya, ia berdoa:
“Tuhan… kalau Raka memang bukan untukku, tolong buat ia setidaknya kembali hidup. Itu saja.”
Saat ia membuka mata, seseorang berdiri di depannya.
Seseorang dengan senyum yang sangat ia kenal.
Raka.
Wajahnya lebih pucat, tubuhnya lebih kurus, tapi tatapannya tetap hangat—tatapan yang sudah ia rindukan setengah mati.
“Kamu…” suara Dara tercekat.
“Kamu sadar?”
Raka tersenyum.
“Kamu kangen aku?”
“Raka!” Dara langsung memeluknya sambil menangis.
“Aku kira kamu—”
“Aku janji balik, kan?”
Raka tertawa pelan.
“Susah banget mati kalo masih ada yang nungguin.”
Dara memukul pelan dadanya.
“Jangan bercanda soal itu!”
Raka memegang kedua pipi Dara.
“Dara…”
“Ya?”
“Aku pulang.”
Dan untuk pertama kalinya, sejak dua tahun lalu, hati Dara terasa lengkap—seperti kepingan puzzle yang akhirnya menemukan tempatnya.
"Harapan adalah rumah terakhir dari hati yang hampir runtuh. Terkadang, yang kita tunggu memang kembali; bukan karena takdir semata, tetapi karena doa yang terus kita bisikkan. Ketika hati berhasil pulang, kita belajar bahwa kesabaran dan ketulusan tidak pernah sia-sia."