Jam 10 pagi para siswa sudah berkumpul dilapangan sekolah.
"anak-anak silahkan naik ke bus masing-masing" ucap Ibu Susi
Semua siswa mulai naik ke bus masing-masing. Perjalanan mereka hanya membutuhkan waktu 30 menit. Sesampainya disana mereka langsung membangun tenda, setelah itu mereka istirahat. Jam 1 siang mereka berkumpul di lapangan, mereka memakan bekal yang tadi mereka bawa untuk makan siang karena belum ada persiapa. kayu bakar untuk masak.
Jam 3 sore mereka dikumpulkan. Ibu Susi selaku pembimbing dalam kegiatan perkemahan ini menginstruksikan para siswa untuk mencari kayu bakar. Jam 5 sore mereka sudah harus kembali ke bumi perkemahan. Ibu Susi juga membagi mereka menjadi beberapa kelompok.
Jeni dan keempat temannya berjalan mendekati hutan, mereka hanya mendapatkan beberapa kayu dan ranting.
"kita mencar aja yuk" usul Fani.
"jangan Fan, ntar ada apa-apa" ucap Gita.
"daripada gini gak akan nemu kita" ucap Fani. Dimas, Raka dan Jeni mengangguk tanda setuju.
"yaudah gini aja, gue sama Jeni, kalian bertiga" ucap Dimas.
"oke, kita arah sana" ucap Raka menunjuk arah barat.
"yaudah kita kesana" ucap Dimas menunjuk selatan.
"1 jam lagi kita ketemu disini, kalau dalam 1 jam diantara kita gak ada yang balik cepat lapor ke Ibu Susi atau guru lainnya" ucap Raka. Mereka semua mengangguk.
Mereka mulai berjalan ke arah yang tadi mereka pilih. Setengah jam mencari Dimas dan Jeni mendapatkan cukup banyak ranting dan kayu. Matahari pun mulai menurut.
"Dim, gue rasa cukup deh segini, kita balik aja yuk" ucap Jeni.
"lewat sini" ucap Dimas.
Mereka mulai berjalan. Namun semakin mereka menjauh yang tadinya penuh dengan suara binatang kini mulai sunyi.
"Dim, kita gak salah jalan kan?" tanya Jeni. Dimas pun berhenti diikuti oleh Jeni. Jeni mengedarkan pandangannya.
"kok makin kesini makin sunyi yah Dim?" tanya Jeni lagi. Dimas melihat sekelilingnya. Saat melihat kebelakang ada 3 orang yang sepertinya Dimas kenal. Mereka berjalan berlawanan arah dengan Dimas dan Jeni.
"Jen gue kayak kenal" ucap Dimas sambil menunjuk 3 bayangan yang semakin menjauh.
"Dim itukan Raka, Fani sama Gita, ayo kita ikutin" Jeni langsung menarik Dimas mengikuti ketiga temannya. Namun semakin dikejar malah semakin jauh bukannya mendekat. Jeni pun berhenti.
"kenapa semakin dikejar mereka semakin menjauh?" tanya Jeni.
"kita coba ikutin lagi Jen" ajak Dimas. Mereka pun mengikuti ketiga teman mereka. Saat mendekat, Dimas mencoba meraih Raka namun tiba-tiba ketiganya hilang begitu saja.
Dimas dan Jeni melihat sekelilingnya mencari ketiga teman mereka. Karena ketakutan Jeni meletakkan kayu yang tadi ia dapatkan ketanah. Jeni menggenggam erat tangan. Dimas juga meletakkan kayu yang didapatkannya ketanah.
"Dim, gue takut" ucap Jeni. Dimas mencoba mencari lagi namun tidak ada siapa-siapa. Tiba-tiba mereka berada di dalam sebuah ruangan yang gelap, hawa panas menyelimuti mereka. Jeni menutup matanya sambil berteriak.
"aaaaaa....."
Jeni langsung bersembunyi dibalik tubuh Dimas. Dimas melihat sekitarnya dan betapa terkejutnya ia saat mendapati ketiga temannya tergeletak tak berdaya dengan tubuh yang penuh dengan darah. Sontak saja Dimas teriak karena terkejut.
"aaa...aaa" Jeni yang mendengar teriakan Dimas semakin ketakutan.
"Dim, kenapa? ada apa?" tanya Jeni penasaran namun ia tidak membuka matanya karena takut. Dimas merangkul tubuh Jeni mencari jalan keluar.
"Dim, ada apa? jawab Dim" ucap Jeni sambil mengikuti pergerakan Dimas tanpa membuka mata.
"shttt, tenang Jen, tenang" bisik Dimas. Jeni yang penasaran pun memberanikan diri membuka matanya. Sama seperti Dimas Jeni teriak dan langsung menangis. Jeni memberontak ingin mendekati ketiga temannya.
"jangan Jen, jangan kesana" ucap Dimas menahan Jeni. Dimas menarik Jeni sambil mencari jalan keluar, sangat sulit sekali mencari jalan keluar sambil menahan Jeni apalagi disin gelap, hanya sedikit cahaya dari lampu yang ada di atas ketiga temannya tadi karena lampu itu juga Dimas dan Jeni dapat melihat ketiga teman mereka.
"Fanii!" Jeni meneriaki nama ketiga temannya sambil menangis.
Akhirnya Dimas menemukan jalan keluar, Dimas langsung membuka pintu itu dan menarik Jeni menjauhi rumah itu. Jeni berhenti dan melepaskan genggaman Dimas.
"lo jahat Dim, itu teman kita, ayo tolongin mereka" Jeni ingin mendekati kembali rumah tadi. Ternyata itu hanya sebuah rumah kecil, ada huruf KR di atap rumah itu yang ditulis dengan darah segar. Tapi kenapa tadi sangat sulit menemukan jalan keluar.
"Jeni jangan" Namun Jeni nekat mendekat. Mau tidak mau Dimas mengikuti Jeni. Namun seorang kakek-kakek tiba-tiba muncul menghalangi mereka.
"kalian sudah masuk kesini, kalian tidak akan bisa kembali dan teman kalian tidak akan selamat jika kalian tidak menemukan 7 tangkai bunga mawar hitam, waktu kalian hanya 1 jam" ucap Kakek itu dan tiba-tiba ia menghilang. Jnei mendekatkan diri pada Dimas karena kaget.
Langit mulai menggelap. Bagaimanapun caranya mereka harus menemukan mawar hitam. Dimas dan Jeni mulai berjalan mencari bunga itu. Saat mereka berjalan tiba-tiba saja mereka berada dipadang rumput yang sangat luas. Dimas dan Jeni hanya terdiam.
"Dim, ayo Dim waktu kita cuma sejam gue gak mau mereka bertiga kenapa-napa" Dimas mengangguk lalu berjalan beriringan dengan Jeni.
Mereka terus berjalan mencari namun yang mereka temui hanya rumput, rumput dan rumput. Saat mereka mencari tiba-tiba suara yang mereka kenali muncul.
"hanya satu cara untuk menemukan bunga itu dan hanya kalian yang bisa menemukannya, waktu kalian tinggal 20 menit lagi" Jeni mencari wujud dari suara itu namun nihil. Dimas pun mengajak Jeni untuk mencari lagi bunga yang kakek itu inginkan. Semakin mereka menjauh rumput yang mereka lewati semakin meninggi. Kini rumput itu sudah di lutut mereka. Udara juga semakin dingin Jeni menggosokkan kedua tangannya. Sedangkan Dimas memasukkan tangannya di kantong hoodienya. Namun Dimas menemukan sesuatu didalam sana, sebuah benda kecil yang dingin, karena dingin Dimas menjauhkan tangannya namun saat Dimas menjauhkan tangannya benda itu semakin mendingin, dingin dari benda itu menembus hoodie yang dipakai Dimas. Dimas pun mengambil benda itu yang ternyata sebuah batu membentuk huruf K. Dimas berhenti diikuti oleh Jeni.
"kenapa Dim?" tanya Jeni. Dimas memperlihatkan batu tadi kepada Jeni. Jeni memegang batu itu namun batu itu sangat panas, Jeni pun menarik kembali tangannya. Dimas bingung melihat Jeni.
"aw panas" ucap Jeni sambil meniup tangannya.
"panas? ini dingin Jen, mana ada panas"
"itu panas Dim... Awww dingin dingin" Jeni meraba saku celananya dan mendapatkan batu yang sama dengan Dimas yang membentuk huruf R. Jeni bingung dengan ini semua.
"ini maksudnya apa?" tanya Dimas, Jeni menggeleng pelan.
Lama mereka berdiam Jeni pun teringat sesuatu. Jeni mengarahkan tangan Dimas kedepan. Lalu Jeni meletakkan batu yang ia pegang di atas batu yang Dimas pegang. Awalnya tidak terjadi apa-apa namun tidak lama cahaya merah keluar dari batu tersebut. Cahaya itu sangat terang, warna merah dari cahaya tersebut persis seperti warna merah darah yang ada di atap rumah tadi. Dimas dan Jeni menyipitkan mata mereka. Tidak lama cahaya itu hilang bersamaan dengan batu itu yang melebur lalu menghilang. Saat mereka membuka mata kini mereka berada di tengah-tengah tumbuhan bunga mawar hitam. Yang tadinya padang rumput kini berganti menjadi tanaman mawar hitam yang sangat banyak sampai mereka sendiri sulit berjalan karena takut merusak mawar itu.
"Dim cepat ambil" ucap Jeni. Dimas dan Jeni memetik bunga sesuai dengan yang diminta oleh kakek tadi. Saat mendapatkan tujuh tangkai mawar hitam mereka kembali lagi ke dalam ruangan tadi dengan sendirinya. Namun anehnya ketiga teman mereka sudah tidak ada disana, disana kosong benar-benar kosong. Yang tadinya lantai terkena darah kini bersih tanpa noda. Jeni menatap Dimas bingung begitu sebaliknya.
Tiba-tiba muncul kotak kaca dibawah lampu, entah kenapa mereka berjalan sendiri mendekati kotak itu. Lalu 7 tangkai bunga mawar hitam tadi mereka masukkan kedalam kotak kaca itu. Dan tiba-tiba semua menjadi gelap sangat gelap. Dimas maupun Jeni tidak bisa melihat satu sama lain.
"Dim, Dim lo dimana jangan tinggalin gue Dim, Dimas!" teriak Jeni sambil meraba-raba mencari Dimas. Dimas pun juga mencari Jeni.
"Gue disini Jen, lo tenang yah"
Beberapa menit mereka dalam kegelapan kini mereka berada dipinggir hutan. Mereka saling pandang, mereka melihat sekeliling, dari tempat mereka berpijak sudah terlihat kumpulan tenda didepan mereka. Mereka berdua pun mendekat ke area perkemahan. Sesampainya disana semua sedang berkumpul dengan raut wajah panik. Fani, Raka, dan Gita langsung menghampiri Dimas dan Jeni. Jeni dan Dimas bingung kenapa teman mereka berada disini dan mereka bertiga baik-baik saja.
Fani dan Gita memeluk Jeni sambil menangis. Sementara Raka merangkul Dimas. Yang lainnya ikut mendekati mereka.
"kalian kenapa bisa ada disini?" tanya Jeni bingung.
"Jen, kalian udah dua hari gak pulang, kalian nyasar kemana? maafin gue karena ngusul buat mencar andai aja gue ngikutin ucapan Gita semuanya gak akan terjadi" jelas Fani. Jeni dan Dimas saling pandang mereka benar-benar bingung dengan semua ini.
"kalian bukannya..." ucap Dimas menggantung.
"kita kenapa?" tanya Raka penasaran.
"sudah anak-anak teman kalian baru saja pulang, sebaiknya biarkan dulu mereka istirahat dan yang lainnya ikut istirahat, sore nanti kita lanjutkan kegiatan kita yang tertunda" ucap Ibu Susi. Yang lain pun bubar bersama Ibu Susi menyisakan kelima siswa tersebut.
"kalian gapapa kan? kalian kemana aja? gue takut banget kalian kenapa-napa" ucap Gita.
Jeni dan Dimas saling pandang. Mereka seakan berbicara lewat tatap mata. Biarlah ini menjadi rahasia diantara mereka. Jeni memandang kedalam hutan, sekelebat bayangan lewat sangat cepat membuat Jeni takut dan langsung mengalihkan pandangannya.