"Nonaku, jangan lupa lipat dulu selimutnya sebelum beranjak dari tempat tidur. Aku mencintaimu,"
Seketika setelah membuka kedua mata, gadis itu melihat sederet pesan yang tertulis di atas sticky notes berwarna biru. Lembaran kecil itu tertempel pada lampu duduk milik si gadis. Winona—gadis itu tersenyum dan mengangguk. Beberapa detik kemudian tubuh kecil itu beranjak dan mulai merapikan tempat tidurnya.
"Ah... Sepertinya sebentar lagi aku akan mati kehausan," ujar Nona yang kemudian berjalan menuju dapur. Tepat di pintu kulkas, sebuah kertas catatan kecil juga tertempel apik.
"Kamu tidak lupa janjimu, bukan? Tidak ada minuman atau makanan dingin dipagi hari. Harus makan nasi pada siang hari. Tidak boleh ramen meski lapar tengah malam. Jaga kesehatan Nonaku,"
Seulas senyum mengembang dari wajah Nona. Gadis bermata cokelat itupun mengurungkan niatnya untuk membuka lemari pendingin. Tangannya meraih sebungkus roti dan selai di atas meja. Sembari menyusun selai cokelat di atas bagian roti, ia melangkah mendekati kalender. 26 Januari, hari spesial milik lelakinya.
"Kamu sudah bangun? Tadi Kafka sudah mengantarkan kuenya," Sebuah suara tiba-tiba saja membuyarkan Nona. Ibu gadis itu tampak menangkup sebuah kotak berwarna putih dengan aksen pita di bagian atasnya.
"Iya bu. Aku akan pergi menemui dia setelah ini," jawab Nona yang kemudian bergegas menghabiskan rotinya agar bisa segera bersiap untuk menemui lelakinya.
"Ini, Samudera sangat suka ini. Ibu titip untuknya ya," wanita paruh baya tadi mengulurkan sebuah permen cokelat kepada Nona tepat setelah meletakkan kotak putih tadi di atas meja makan.
"Iya bu. Samudera pasti sangat suka ini," Nona menyambut beberapa buah permen dari tangan sang ibu.
Ia kemudian meletakkan permen tadi di atas meja dan segera membersihkan diri. 'Aku ingin tampil sangat cantik untuk kamu hari ini,' ujar gadis itu dalam hati sembari mengalirkan air ke atas tubuhnya.
Nona sudah selesai dengan mandinya. Aroma wangi dari sabun semerbak dari badannya. Gadis itu kemudian membuka lemari pakaiannya dan memilah-milah baju.
"Aku tidak terlalu suka Nonaku memakai ini. Bukankah ini terlalu pendek?"
Catatan kecil tertempel pada gantungan baju yang digunakan untuk menggantung sebuah gaun pendek berwarna biru muda. Nona mengangguk, kemudian mengembalikan gaun kecil itu ke dalam lemari. Ia mengambil sebuah sweater berwarna cokelat muda. Catatan kecil dengan tulisan tangan yang sudah sedikit usang kembali gadis itu temukan.
"Pakai ini saat kamu ingin menemuiku, ya? Penampilan paling sederhanamu adalah bagian yang paling aku suka. Aku mencintaimu, Nonaku."
Nona menyapukan riasan tipis di atas wajahnya. Diakhiri dengan mengoleskan perona bibir berwarna koral, gadis itu selesai bersolek dan telah siap menemui lelakinya. Ia menyelempangkan sebuah tas kecil dan memasukkan beberapa barang di sana termasuk permen cokelat titipan sang ibu tadi.
"Hari ini mungkin sedikit terik. Pakai topi ini supaya kepalamu terlindungi. Permudah tugasku untuk menjagamu, Nona. Jangan sakit karena aku akan jauh lebih sakit saat Nonaku kesakitan."
Nona membaca catatan kecil di atas topi yang berwarna senada dengan sweaternya saat ini. Matanya mengerjap pelan dibarengi dengan helaan nafas panjang. Ditenggerkannya topi cokelat tadi di atas kepala. Tangan kanannya meraih kotak kue dan kakinya mulai melangkah meninggalkan rumah.
"Dasar manusia bawel itu," ucap Nona saat ia kembali menemukan sticky note di atss sepedanya. Sudah ratusan kali ia membaca catatan-catatan itu. Ribuan kali ia mengeluh. Dan jutaan kali ia tersenyum senang karena pesan-pesan manis itu.
Dengan penuh semangat Nona mengayuh sepedanya untuk menuju ke rumah kecil lelakinya. Senandung ringan muncul dari mulut gadis itu. Tidak sabar untuk sampai ke tujuan dan melepaskan rindu. Sebuah tangan melambai dari kejauhan. Rose berdiri tepat di jalur sepeda hingga Nona harus menghentikan laju sepedanya.
"Nona, kamu mau menemui Samudera 'kan? Aku sudah ke sana tadi tapi melupakan ini. Tolong sampaikan kepadanya," jelas Rose tepat setelah Nona menghentikan sepedanya. Ia meletakkan sebuket kecil bunga di dalam keranjang yang ada di depan sepeda putih Nona.
"Dasar pikun. Tidak mau ikut ke sana saja dan memberikannya sendiri?" Nona mengerlingkan mata, tidak percaya dengan temannya yang sangat pelupa itu.
"Tidak. Aku tahu kamu ingin berdua dengannya," goda Rose.
"Haha, ya sudah menyingkir dari jalanku. Samudera pasti sudah menungguku sekarang," kata Nona yang kemudian melambaikan tangannya sebelum kembali mengayuh pedal sepedanya.
"Hati-hati di jalan. Semoga kamu tidak menangis terlalu lama," kata Rose nyaris berbisik. Ia memandangi Nona yang mulai menjauh dan hilang dari pandangan. "..., menangislah sebentar saja," lanjut Rose lagi.
Nona berhenti tepat di sebuah bangunan yang cukup besar. Ia membawa kotak kue di tangan kanan dan buket bunga di tangan kiri. Ia memasuki gedung tersebut dan langsung menuju ke tempat Samudera, lelakinya berada.
Sesampainya di sana, Nona duduk di lantai dan membuka kotak kue yang sudah dilengkapi dengan lilin. Gadis itu meletakkan buket bunga titipan Rose di depan foto Samudera yang menampilkan senyuman manis milik lelaki itu.
"Samudera jelek, aku datang. Apakah hari ini aku cantik?" Nona mulai menyalakan lilin dan memejamkan mata. Ia menganyam jemarinya dan mulai membisikkan doa di dalam hati.
Sebulir air mata lolos dari pelupuk Nona. Diakhiri dengan senyuman, gadis itu membuka matanya kembali dan meniup lilin di atas kue ulang tahun tadi. Ia memandangi wajah tersenyum lelaki kecintaannya itu selama beberapa saat.
"Selamat ulang tahun sayangku. Terima kasih sudah melindungiku dan melindungi ribuan orang lainnya. Aku akan selalu mencintaimu," lirih Nona tanpa melepaskan pandangannya dari wajah sumringah Samudera.
Gadis itu mengambil secarik kertas lusuh dari dalam tasnya. Ia membuka lipatan kertas yang tampak kusut di sana sini. Sebuah surat dari lelakinya beberapa bulan yang lalu.
***
'Teruntuk Nonaku tercinta. Dari tuan pejuang yang rindu ingin pulang.
Hari ini aku mendapat kesempatan lagi untuk menulis pesan untuk wanitaku tercinta. Hari ini sangat melelahkan. Kamu tahu? Beberapa ledakan membuatku terbangun. Malik dan Agung, aku tidak bisa menemukan mereka di sebelahku lagi.
Sesekali aku ingin menunjukkan kelemahanku kepadamu. Boleh, kan?
Kondisi saat ini membuatku tidak tenang. Aku terlalu takut untuk kembali tidur, teralu takut memikirkan apapun. Haha, bahkan tadi pagi aku menangis. Tapi wajah Nonaku menghapuskan ketakutanku. Terima kasih banyak, ingatan tetang senyumanmu membuatku bisa tersenyum lagi.
Mathias saat ini juga sedang menulis surat sama sepertiku. Dia menangis terlalu kencang dan hanya mampu menulis satu kata per menit. Aku rasa ledakan selanjunya akan menggagalkan dia menulis surat hahaha...
Ah, tintaku hampir habis. Nona, tolong jangan menangis lagi setelah ini. Maaf karena aku belum bisa memelukmu lagi karena tugasku masih belum selesai. Tapi doaku selalu memelukmu. Seperti halnya doamu yang selalu memelukku setiap waktu.
Tinta milik Mathias sudah habis dan sepertinya dia masih harus menulis beberapa kalimat lagi. Jadi aku akan memberikan penaku kepadanya.
Yang terakhir, terima kasih sudah menjadi wanitaku. Aku bahagia sudah memilihmu. Dan, aku sangat mencintaimu.
Dari yang selalu merindukanmu,
Samudera'
***
Nona menahan air mata sekuat yang ia bisa. Ia tersenyum setelah membaca surat usang itu. Sepucuk surat dengan tulisan yang berantakan dari seorang tentara. Dengan kata-kata seadanya, membawa arti yang jauh lebih besar dibandingkan ribuan puisi karangan pujangga ternama.
Tulisan tangan itu adalah tulisan tangan terakhir dari Samudera. Sebelum beberapa bulan yang lalu ia dinyatakan gugur dalam perang. Seorang lelaki pemberani yang terlihat dingin namun memiliki kelembutan hati yang luar biasa.
"Aku juga sangat mencintaimu," pungkas Nona yang kemudian melipat kembali surat tadi.